(Catatan Bahasa) : Perbandingan Bahasa Jawa (Dialek Standar dan Arekan)


Sedikit main-main dengan kata-kata. Berikut saya tuliskan lagi antara bahasa Jawa yang baku dengan bahasa Jawa dialek Arekan (antara Jombang-Pasuruan dan antara Gresik sampai Malang). Persamaannya masih besar, hanya dalam beberapa aspek ditemukan perbedaan. Ini hanya sebagian kecil saja. Bila salah harap dikoreksi.

Mari

Jowo Standar : sembuh dari sakit

Jowo Arekan : selesai

 

Waras

Jowo Standar : tidak gila, sembuh dari sakit jiwa

Jowo Arekan : sembuh dari sakit

 

Niliki

Jowo Standar : melihat, menjenguk

Jowo Arekan : mencicipi sesuatu

 

Meh

Jowo Standar : akan (terutama di daerah tertentu)

Jowo Arekan : hampir

 

Awakmu

Jowo Standar : Badan kamu

Jowo Arekan : kamu (diatas koen)

 

Selang

Jowo Standar : selang

Jowo Arekan : pinjam

 

Asu

Jowo Standar : makian paling kasar

Jowo Arekan : makian biasa

 

Kirik

Jowo Standar : anak anjing

Jowo Arekan : kadang digunakan utk menyebut anjing juga. Dan lebih sering dipakai daripada kata asu itu sendiri.

 

Pisan

Jowo Standar : kali (bilangan) seperti sepisan

Jowo Arekan : digunakan pula untuk menyebut kata ‘juga’

 

Mangkat

Jowo Standar : berangkat

Jowo Arekan : cenderung pada ‘berpulang ke rahmatullah’

 

Tibo

Jowo Standar : jatuh (benda)

Jowo Arekan : jatuh (manusia)

 

Ceblok

Jowo Standar ; jatuh (manusia)

Jowo Arekan : jatuh (benda)

Bentuk tabel

 

 

Jawa Standar

Jawa Arekan

Bahasa Indonesia

Nyilih Nyelang Meminjam
Nyicipi Niliki Mencicipi
Wis bar Wis mari Sudah selesai
Wis mari Wis waras Sudah sembuh
Slira, Mencawak Nyambik Biawak
Asu Asu, kirik Anjing
Kanggo Gae Untuk
Mengko Engkok Nanti
Ngangkring Nyangkruk Nongkrong
Angkringan Cangkrukan Tongkrongan
Tetep Pancet Sama, tetap
Nonton Nontok Melihat
Niliki Mbesuk Menjenguk
Kari piro? Karek piro? Tinggal berapa?
Jurug, grojogan Coban Air terjun
Krakal Gragal Runtuhan bangunan
Gori Thewel Nangka muda
Jipang Manisa Labu siam
Kersen Keres Ceri
Ledhek kethek Tandhak bedhes Topeng monyet
Nda/ndes/cah/dab Jes/rek/ker Sebutan utk teman (informal)
Kamar mandi Jedhing Kamar mandi
Bangjo Lampu Setopan Lampu lalu lintas
Laci Selorokan Laci
Pagupon Bekupon, pagupon Rumah burung dara
Peso Lading Pisau
Sanajan Masiyo Meskipun
Kademen Kathuken Kedinginan
Sirsat Sirsat, moris (Surabaya) Sirsak
Mabur Miber Terbang
Montor mabur Montor muluk Pesawat terbang
Wutho Picek Buta
Badha Riyoyo Idul Fitri
Mangkat Budhal Berangkat
Nganggo Nggae Memakai, menggunakan
Mau Maeng Tadi
Diwarahi Diuruki Diajari
Mati Matek Mati
Bayi Bayek Bayi
Tuwo Tuwek Tua
Mung Mek Hanya

22 Comments Add yours

  1. Ceblok iku coro Suroboyone = Logor

  2. Akeh mas…iki mau yo error WPne

  3. Julie Utami says:

    Kamar mandi dalam dialek tengahan disebut juga “kulah” lho.

      1. Julie Utami says:

        Kulah nganggo “u” nak.

  4. Haryo Wicaksono says:

    Salah moco, tak kir mau cebok, dudu ceblok.. hahaaa

  5. matahari_terbit says:

    hooh pertama ketemu wong jawa timuran.. bingung tentang kata “mari”

    sing lara sopoo.. ekekekeke

    1. Hahahahah..padahal artinya selesai kalau disana

  6. Fachrireza says:

    Pekok =Bodoh (Jateng-an)
    Longor/Congok=Bodoh (Jatim-an)

  7. kuo says:

    Sebutan utk
    teman
    (informal) bagi boso arekan perlu ditambah “cek, beh, pek”

    1. Dan tergantung wilayah mana juga. Jes, ker, juga

      1. kuo says:

        Menurut saya semua bhs.Jawa harus diajarkan dan digalakkan sesuai di daerahnya masing-masing dari SDN hingga SMA supaya, keutuhan dan keahlian masyarakat Jawa tetap terjaga. Kasihan mas orang-orang Jawa masih banyak yang tertindas di dalam kebodohan. Ngincring……. mbut-kembut……

      2. Hehehehee…cuma itu tadi, soal terpakai atau tidaknya. Harus ada otoritas yang benar2 bisa memberdayakan bahasa Jawa dengan tepat.

  8. Gandoman says:

    tet-tetan iku yo…
    lampu setopan rek?

  9. Kamandaka says:

    Asal mula Arek berasal ketika jaman Kerajaan Singosari-Majapahit. Pada saat berdirinya Kerajaan Singosari-Malang dan Ken Arok sebagai Rajanya, ada peruntukan khusus untuk nama Arek yg berarti adalah -keturunan-. Arok memiliki arti Dewa/Tuhan sedangkan Arek berarti “Anak/Anak-dari” (Arti Ken sendiri selain memiliki banyak arti juga kental dgn makna “teritorial”). Ini adalah bentuk pembeda dari wilayah “Bocah-an” dan “Arek-an” yg mana ditambah lagi ketika jaman kebesaran Kerajaan Majapahit daerah “Bocah” adalah merupakan wilayah “Arek” tapi tidaklah sebaliknya.

    Nah, praktis jika melihat Kota Surabaya adalah kota para pendatang, dimana semua daerah berdatangan dan berkumpul; dan soal “Arek” ini adalah wujud dari keunggulan/yg-diunggulkan serta pengaruh kuat dari leluhur di jaman dulu. Wajar jika Surabaya mengamini sebutan Arek, yg mana Arek Surabaya sejatinya adalah para garis keturuanan Arek Malang asli sebagai rantau. Kalaupun ada rivalitas itu sangat dimaklumi, justru inilah bentuk dari kuatnya kontak batin antara saudara yg sebenarnya seperti hilang ingatan.

    Pelajari dan amati sejarahnya, barulah kita tarik dari Malang ke Surabaya. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa Surabaya merupakan daerah suksesor dan pewaris genetik ke-khusus-an Malang secara tidak terlihat.

    “Bukan untuk perbedaan tapi janganlah disamakan”.

    1. Oke anonymous…terima kasih atas komentarnya

  10. emyu says:

    di sini, di Surabaya, nilik’i artinya juga melihat. bersamaan dengan ndelok, nontok, ndontok (biasanya anak kecil yang pake). beda konteks beda pemakaian.
    nyambang (menjenguk)
    nggatek (memperhatikan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s