Weekly Photo Challenge : Reward / Penghargaan


Reward can be anything
Anything you get
From what you did before
It can be good
It can be bad
It can also be grey-area
Even you get a small sweet from your friend
It’s also a reward from what you did to him or her
But the most precious reward is..
You are still alive and do many things
Either for yourself or others

Love yourself, and you’ll get the rewards….right now or later
Help others, you’ll get the rewards…from God

DSC08167

Small reward but meaningful…

DSC08166

Hope

10 Komentar

Filed under Uncategorized

A Photo a Week Challenge : Saturation / Saturasi/Kadar Jenuh


The exact translation for saturation in my language is little bit ambiguous. Saturation is translated into ‘kejenuhan’ and the meaning can be ‘boredom’ as well. When I saw this challenge, I tried to modify my photos when I visited my hometown last December. It located in Malang round square (Alun-Alun Bunder), near city hall and it’s the oldest part of Malang.

Here are some saturated photos I have already done, and I hope you’ll like it then.

Salam manis dari kota Malang
Saluton de Malango urbo
Amities de la ville de Malang
Beijos da vila de Malang

DSC081074

Original photo

DSC081071

DSC081072

DSC081073Saturated photos

2 Komentar

Filed under Uncategorized

A Word a Week Photography Challenge – Play / Bermain


Play? Everybody loves it, though along the age goes by, the play can be disguised into many versions.

Last week, one of my best friends share his photo on facebook and he said, it was mine when I had a vacation in Wonosobo, Central Java. Menjer lake..yes, though it’s already two years but I still memorize the moment I spent with him. He’s such the best friend I ever had before and he will bring anybody to the surprisingly unknown places. What a moment! I miss the moment and I don’t know when I can meet him again.

In this photo, he acted as a fisherman, whereas the boat was still on the bank, then! Hahahaha..

For me, it’s play too!

Special for this challenge!

11004220_952154598162416_551527399_n

6 Komentar

Filed under Uncategorized

Weekly Photo Challenge : Rule of Thirds Part 2 – Chinese New Year Symbols


This is the second part of rule of thirds you have already posted before. I just took the photos using my phone camera, though it’s not perfect photos. Still parts of Chinese New Year celebration, I just appreciate the event and that’s why I share the special thing about it.

These are my pictures

11000562_10152863810909335_2190385811955119233_n

Lucky gold

10940474_10152863810324335_413500149625800710_nLucky symbol

4 Komentar

Filed under Uncategorized

Weekly Photo Challenge : Rule of Thirds- The Flame


DSC05084

The flame
The bokeh
The frame
The warmth
The love
The heat
The hope
The divine

For this week’s challenge

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

(Cerita Pendek) : PHOENIX MERAH PUTIH


PHOENIX MERAH PUTIH

Oleh : Bambang Priantono

Phoenix-Logo-Widescreen-Wallpaper

Note : English version will be coming soon…soon

Image credit : here

Semasa aku kecil, makco selalu mencorat-coret gambar burung phoenix di secarik kertas. Burung mitologi Tionghoa ini selalu digambarkannya dengan sangat indah, tapi kakinya terbelenggu rantai, sementara seekor garuda hanya terbang mengitari burung itu.
“Makco, kenapa engkau selalu menggambar burung phoenix itu dalam keadaan terikat?”
Makco hanya tersenyum kepadaku dan menyodorkan gambarnya padaku.
“Kau simpan saja, A Ming.” Dengan tatapan yang susah kumengerti. Makco kemudian melanjutkan aktivitasnya menjaga toko. Sementara Papi dan Mami sedang ada urusan diluar. Yang kuingat, makco juga sangat aktif dalam perjuangan kemerdekaan ketika muda dulu. Beliau dan kongcolah yang menyelundupkan senjata kepada pejuang dan barang-barang kebutuhan lainnya dan sangat mencintai tanah airnya jauh melebihi tanah leluhurnya sendiri.
Hampir setiap hari makco menggambar burung phoenix yang terikat itu dan selalu dengan ucapan yang sama, dia memintaku menyimpan semua gambar phoenix itu.
”Nanti kau akan tahu artinya, A Ming.” Selalu demikian kata makco ketika kutanya.
“Kau jangan banyak bertanya, nanti kita yang jadi korban.” Jawaban yang pasti akan kuterima. Semenjak kongco meninggal pada masa kerusuhan tahun 1965 dulu, makco menjadi sangat tertutup dan ketika ku lahir, kebiasaan menggambar itu sudah muncul.
Aku hanya terdiam tanpa bisa membantah lagi. Entah berapa banyak hingga gambar phoenix terbelenggu itu memenuhi lemariku dari hari ke hari.
Bahkan dalam angpau yang kuterimapun, makco selalu selipkan gambar itu disela-sela uang yang diberinya dengan diam-diam karena masa itu masa dimana kami dilarang mengekspresikan diri kami sendiri.
“Tidak!” aku terbangun dari tidurku.
Aku melihat burung phoenix itu terbelenggu dalam mimpiku.
Dia tidak berdaya.
Ingin bebas.
Seekor garuda besar juga hanya terbang berputar-putar disekeliling phoenix. Diapun seolah tak berdaya karena ada kekuatan besar nan kejam yang menghambat gerakannya.
Makco selalu berkata “Suatu saat kau akan tahu maksudnya.”
Ketika makcoku meninggal, dan rumah kami nyaris jadi korban kerusuhan 1998, aku diberikan sebuah buku gambar yang biasa makco pakai untuk menggambar. Dikamarku yang setengah hangus, aku membuka buku gambar itu.
Phoenix itu terbakar!
Bersama garuda disebelahnya!
Apa maksudnya ini?
Aku merasa ada kekuatan yang mendorongku untuk menggambar dihalaman berikutnya. Yang tergambar hanyalah api yang membakar garuda dan phoenix itu bersama-sama. Aku buru-buru tutup buku itu dan aku simpan kembali. Aku sangat takut, tidak bisa membayangkan apa-apa lagi.
Sayangnya, semua gambar-gambar makco entah ada dimana. Sejak kerusuhan itu, semua barang telah hangus, dan kamipun harus berpindah meninggalkan tempat yang selama beberapa generasi menjadi rumah kami. Gambar-gambar itu entah terselip dimana.
“Burung itu terbakar!”
“Phoenix itu…tidak!”
Aku hanya bisa berteriak, tapi tak mampu mencegah.
Burung phoenix itu mengorbankan dirinya. Dia membakar dirinya, api menjalar ke sekujur tubuhnya yang terbelenggu. Dia tampak pasrah dan memejamkan matanya seolah menanti-nanti sesuatu yang indah. Api semakin membakar dan saat yang sama, sang garuda membenturkan kepalanya ke penghalang tak kasat mata yang membelenggu selama ini.
BYARRRRRR!!!!
Suara seperti kaca pecah terdengar. Aku melihat sang garuda mengepakkan sayapnya dengan penuh wibawa sementara phoenix telah hilang ditelan api.
Aku hanya bisa berteriak. “phoenix! Phoenix!”
Tiba-tiba makcoku muncul tepat didepanku.
“Papi, bangun!” tiba-tiba istriku membangunkanku ditengah panikku.
Aku sontak terbangun dan duduk. Istriku menanyakan apa yang terjadi, dan aku menceritakan mimpi itu. Istriku hanya berkata. “Sudahlah ko, kenapa kau risaukan mimpi itu. Sebentar lagi imlek…kita harus siap-siap ke kelenteng nanti.”
Aku masih membayangkan mimpi itu.
Bahkan ketika bersembahyangpun aku masih mengingat-ingat burung phoenix yang terbakar tadi.
Sampai akhirnya aku tanpa sadar melihat bara-bara dalam lilin yang dipasang di klenteng itu tiba-tiba berubah. Apinya seolah menyatu membentuk sesuatu..
Sesuatu yang makin lama, makin nyata.
Membentuk sosok burung yang aku kenal.
“Phoenix!” teriakku tanpa sadar
Sosok itu makin sempurna wujudnya, burung keemasan yang sangat indah. Tapi aku melihat ada yang berbeda. Kedua belah sayapnya berwarna merah emas dan putih bersih, keduanya memancarkan sinar yang kemilau. Dia mengepakkan sayapnya berkali-kali, dan menatap ke arahku. Tatapannya mengingatkanku pada makco! Sorot itu mirip dengan makcoku yang telah tiada bertahun lalu.
“Siapa kau?” aku bertanya tapi hanya aku yang dapat mendengarkan.
Tapi dia hanya diam, dan terdengar suara seperti suara almarhumah makcoku.
“Inilah jawabannya, A Ming cucuku. Burung itu sekarang bebas. Terbang bebas bersama garuda, tanpa kekangan dan ketakutan lagi.”
Kemudian burung itu membumbung tinggi, dan dari arah berlawanan muncullah garuda yang selalu ada dalam mimpiku.
Mereka terbang berlawanan, dan kemudian beriringan. Membentuk bayangan merah dan putih yang sangat indah.
Hanya aku yang melihatnya, tapi..
“Papi, kau juga melihatnya?” Tanya istriku.
“Kau,….kau tahu burung itu?” Aku bertanya balik ditengah keterkejutanku.
Dia hanya mengangguk sambil terus menatap kedua burung yang kemudian menyatu dan hilang perlahan dari langit.
Sekembalinya kami ke rumah, aku masuk ke dalam gudang. Aku mencari alat bengkelku yang entah kutaruh dimana.
Pletak!
Tiba-tiba ada sesuatu yang menimpa kepalaku. Dengan kepala yang sedikit sakit, aku ambil benda yang menimpaku.
Buku gambar makcoku! Buku gambar yang lama hilang sejak bertahun-tahun lalu. Aku buru-buru membuka lembar demi lembarnya. Aku melihat ada gambarku, gambar api yang melalap burung phoenix dan ketika kubuka lembar berikutnya. Aku terkejut.
Ada gambar baru yang tak pernah kulihat sebelumnya.
Burung phoenix terbang bersama garuda dengan cahaya merah dan putih di sekeliling mereka!
Gambar itu seolah hidup, dan aku tak tahu siapa yang menggambarnya.
Apakah makco yang meninggalkan pesan ini? Inikah yang diimpikannya selama ini?

Tangerang, 20 Februari 2015

09.00 – 10.45 WIB

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

(Tuesday Reflection) : Gong Xi Fa Cai – Gong Hei Fat Choy


10389066_10152853454034335_3991086179798700551_nMy greeting cards

My pen is ready for fighting
It dances on the coloured and decorated papers
Cut it step by step
Though they’re asymmetric
Then it dances follow my feeling
While my eyes were seeing the samples
The samples of greetings I prepared
I cannot write it naturally
I am still learning the Hanzi
Even in two languages
Zhong wen and Gwong dung wa
But just for greeting season
I don’t care..
I wanna say greetings to their holiday
In some simple cards
With bad Hanzi
Sometimes
I laugh at myself
How can I do that
Is it insane?
I don’t think so
I used to hate Mandarin and even Cantonese
But now I’m drop dead to learn them
Whatever
I love its artistic styles
Though I still in a very basic level
Then, finally the cards had done
I had already given to them
And they reactions made me glad
I don’t need anything
Just to see them happy
In their own celebration
Far away from their homeland
Far away for teaching here
I love to see it
I will learn more

Gong xi fa cai-Kung hei fat coy
Xin nian kuai le – Sin nin fai lok

Have a best new year for all

Ngo ze zung ji zi lei de aa

Tangerang, 17 February 2015

18 Komentar

Filed under Uncategorized