(Sentilan Sentiling) : Pelajaran Sejarah


Di hari kedua pameran foto-foto dan artefak Koloniale Toonstelling yang diselenggarakan di SMAN 1 Semarang tadi, suasana sangatlah ramai. Banyak pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum yang berdatangan pada hari itu. Sayangnya saya hanya bisa datang di sore hari setelah kerja untuk jadi relawan yang bertugas menjelaskan tentang foto-foto yang dipajang dalam ajang pameran Sentiling ini. Memang sebagian besar foto-foto yang dipajang merupakan hasil repro yang diunduh dari berbagai sumber, namun nantinya foto-foto tersebut akan disumbangkan kepada pihak SMAN 1 Semarang, karena juga berhubungan dengan sejarah sekolah ini sendiri.

Pada tahun 1914, tanah tempat SMAN 1 berdiri menjadi bagian dari ekspo dunia terbesar dijamannya, meski SMAN 1 sendiri baru berdiri 25 tahun kemudian. Tadi saya datang sekitar pukul 15.45 WIB karena masih harus entri nilai di sekolah, dan langsung menuju ke lokasi pameran di lantai dua gedung utama SMA N 1 ini. Tanpa ba-bi-bu saat saya melongok ke bagian fashion, salah satu relawan langsung menyerahkan pada saya para pengunjung di bagian ini.

Memang jujur, saya suka sekali sejarah dan termasuk diantaranya sejarah fashion. Dengan semangat 45 saya ceritakan apa saja yang saya ketahui tentang busana masa itu, termasuk diantaranya bagian-bagian kecil dari Sentiling ini. Entah mengapa saya sangat gembira karena bisa berbagi dengan yang lain.

Alhamdulillah, ternyata banyak pertanyaan yang diajukan terutama dari pengunjung yang mahasiswa. Pertanyaannya banyak seputar hubungan antara gedung-gedung tua dengan Sentiling ini, dan kenapa harus ini yang ditonjolkan. Saya berusaha menjelaskan bahwa Pameran yang diprakarsai oleh sobat saya Titus Soepono Adji dan komunitas OASE ini bertujuan untuk memberi informasi bagi warga Semarang pada khususnya, bahwa dulu 98 tahun silam pernah diadakan satu pameran yang terbesar didunia pada masanya, dan Semaranglah yang jadi tuan rumahnya.

Tanya jawabpun sangat interaktif, karena ada imbal balik. Bahkan akhirnya ketika saya menyebut Semarang dulunya adalah Venetia van Java, beberapa orang terlihat sangat tertarik (terutama mahasiswa jurusan Arsitektur). Saya berusaha menjelaskan sesuai yang saya mampu setiap pertanyaan yang diajukan.

Memorabilia seperti kartupos asli Koloniale Tentoonstelling, dan buku-buku pinjaman kolektor berkaitan dengan Sentiling juga dapat dibaca di pameran yang berlangsung selama 3 hari ini. Para relawan menjelaskan dengan gamblang soal tetek bengek pameran bersejarah ini, sehingga para pengunjungpun sangat terbantu dan antusias. Pendek kata, semuanya bisa melek dengan sejarah Semarang yang ternyata sangat kompleks ini.

Saya pribadi membayangkan bila dua tahun lagi ada peringatan 100 tahun Sentiling yang diseleggarakan Pemkot Semarang (semoga). Tahun 2014 adalah tahun istimewa, dimana akan ada banyak perayaan seperti 150 tahun perkeretaapian Indonesia, 100 tahun kota Malang dan tentunya 100 tahun Sentiling sendiri.

Sentiling merupakan satu pelajaran sejarah yang patut dijadikan acuan, karena pameran ini meskipun kurang begitu sukses karena pecah Perang Dunia 1 menjadi titik awal pengembangan Semarang ke arah selatan. Dan meskipun penjajahan itu pahit, namun seperti Sentiling, juga ada rasa manisnya.

Bersambung

(maaf, tidak menyertakan gambar)

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. Haryo Wicaksono says:

    semoga pamerannya sukses besar cikgu 🙂

    1. Alhamdulillah lancarrr…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s