(In Bahasa Only) : Ketika Nasionalisme Sudah Dianggap Usang


Note : for commemorating the forthcoming independence day on 17th August, I post this reflection in Bahasa Indonesia. Sorry for this moment.

Ketika nasionalisme sudah dianggap usang, kira-kira apa yang anda pikirkan? Apakah anda membenarkan, ataukah menyangkalnya?
Ketika nasionalisme dianggap basi oleh sementara kalangan, nasionalisme itu salah tempat dan semakin hari semakin tergerus oleh arus informasi dan budaya yang kian membuncah seiring jaman, apa pendapat anda?
Tentunya jawabannya akan beragam, meskipun barangkali dalam hati. Tak terasa sudah 69 tahun negara kita menghirup udara ‘kemerdekaan’ setelah lebih dari 3 abad berusaha dikuasai oleh Belanda dan terkenang juga bagaimana para pemuda tak pandang dari mana latarbelakangnya turut berjuang baik dalam dana, pemikiran maupun fisik (termasuk perjuangan bersenjata dan teknik perang gerilya). Bagaimana para bapak bangsa menata fondasi bangsa ini satu persatu, setahap demi setahap dan penuh dengan onak, duri bahkan ancaman dimana-mana, tapi mereka tetap berkibar hingga akhirnya sebuah negara bernama Indonesia terbentuk. Nasionalisme yang diajarkan pada masa awal memang bertujuan untuk melawan penjajahan yang berlangsung saat itu, dan segala atribut keindonesiaanpun seperti bendera merah putih dan gaya pejuang yang sangat anti penjajahan. Nasionalisme ini kemudian masih dipegang oleh para veteran kita saat ini.

Namun seiring dengan waktu dan berkembangnya jaman, nasionalisme semacam ini lambat laun dianggap sebagai bentuk yang usang. Terlebih pasca reformasi 1998 dimana pergolakan sosial, politik dan agama mulai menunjukkan akselerasinya, nasionalisme seolah ditempatkan di pojok lemari pakaian yang lama-lama terlupakan. Nasionalisme yang menurut saya seolah semu karena hanya terlihat dalam formalitas upacara ataupun tujuh belasan belaka. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir hingga 2013, nyaris sepi semua kegiatan memperingati tujuhbelasan dikarenakan jatuh pada bulan Ramadhan.

Konflik horizontal antar warga yang terkait SARA seolah menjadi momok yang mengerikan sepanjang awal reformasi, diawali dari konflik di Ambon, Poso dan tempat2 lainnya, semuanya menjadi gambaran betapa rapuhnya bangsa ini. Isu-isu sensitif seperti Suku Agama Ras dan Antar golongan masih menjadi makanan empuk yang bisa dilemparkan sewaktu-waktu kepada masyarakat. Kondisi ini seolah kembali terulang beberapa kali di dasawarsa 2010an, seperti isu pemakaian jilbab terhadap siswi-siswi non Muslim di Padang, kemudian isu yang masih hangat yakni pelarangan jilbab di sebuah jaringan supermarket di Bali hingga saya sempat menanyakannya kepada rekan-rekan yang lebih mengerti soal disana. Ah, saat ini sentimen AGAMA kembali mengemuka, beberapa kalangan bahkan menganggap negeri ini sebagai negeri taghut dan harus dirobah total. Fitnah demi fitnah menerpa negeri ini dalam kurun beberapa bulan terakhir, dan 2014 ini sepertinya sangat berat, karena bertepatan dengan pemilihan presiden yang sangat istimewa. Istimewa kenapa? karena yang satu sangat ambisius dan satunya biasa-biasa saja saling beradu untuk duduk di kursi nomor satu negara ini. Segala cara digunakan, termasuk dengan kampanye hitam yang membawa-bawa agama dan suku segala macam. Tahu, saya paling benci isu agama dibawa-bawa dalam ranah ini. Terserah anda kata apa.

Isu-isu sensitif kini sangat mudah dilontarkan. Cukup dengan berbagi berita yang tak jelas juntrungannya di media sosial, sudah tepat untuk membuat hubungan antar kelompok memburuk dengan cepat. Media sosial sudah seperti mesin penyebar fitnah yang efektif sehingga banyak terjadi kasus-kasus seperti di Lampung dan isu di Bali saat ini. Kapan kita bisa tenang kalau sehari-hari dicekoki dengan kabar burung maya yang sering kali dilontarkan oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab ini?

Saya takut nasionalisme yang sudah dibangun susah payah oleh bapak negara kita ini hancur begitu saja gara-gara ambisi politik kalangan atas yang lebih pentingkan dirinya sendiri. Negara ini sudah cukup tercabik-cabik oleh politik, rasuah dan intrik-intrik tidak pentingnya yang justru membawa bangsa ini terpecah belah. Nasionalisme sudah usang, yang ada hanya kepentingan kelompok dan kelompoknya harus dapat porsi besar, dan meski sudah lama praktek itu berlangsung, tapi apakah kita akan diam saja dan menunggu terbelahnya bangsa ini? Radikalisme agama dan liberalisme radikal juga menjadi momok besar bagi kelangsungan bangsa ini, karena dampak yang diakibatkannya sangat terasa. Indonesia merupakan persimpangan sehingga semua pemahaman itu dapat dengan cepat masuk.

Saya memang khawatir dengan semua kondisi yang terjadi, hingga akhirnya saya simpulkan kalau nasionalisme bangsa ini harus diatur ulang. Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan saja belum cukup jika tidak ditunjang dengan kegiatan lainnya seperti kepramukaan. Pramuka juga harus dioptimalkan untuk memupuk rasa nasionalisme bangsa sejak dini. Cinta tanah air juga sebagian dari iman bagi saya. Walaupun ukhuwah Islamiyah itu tidak mengenal negara atau bangsa, namun saya tetap beranggapan saya saudara mereka dalam konteks iman, bukan negara. Terkesan chauvinis? tidak juga, karena apa guna Tuhan menciptakan kita berbeda-beda kalau dipaksakan sama oleh manusia?

Perlu ditegaskan juga, Indonesia ini super majemuk, dan itu tidak bisa disangkal.

Nasionalisme masa kini juga dapat diungkapkan dalam bentuk atribut yang sesuai dengan remaja sekarang. Daniel Mananta dengan label ‘Damn I Love Indonesia’nya sudah berhasil mengambil hati anak-anak muda dengan rancangan kaosnya yang sangat Indonesia, dan saya percaya banyak sekali Daniel Mananta-Daniel Mananta lain yang mempunyai tujuan sama, dengan banyak cara dan sesuai dengan kekinian. Nasionalisme bentuk baru, tapi juga mempertahankan kelokalan ini merupakan pekerjaan rumah bagi semua unsur bangsa Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika harus dipertahankan sampai kapanpun.

Apakah nasionalisme saya sudah diperbarui? Nampaknya harus.

Impian saya yang lain juga adalah bangsa yang cerdas dan bijak dalam menyikapi suatu isu baik di alam nyata maupun alam maya.

Selamat merayakan proklamasi kemerdekaan kita yang ke-69

Sekali merdeka, tetap merdeka!

Tangerang, 16 Agustus 2014

Bambang Priantono

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. prih says:

    Terima kasih berbagi refleksi diri. Mengamini impian menjadi bangsa yang cerdas dan bijak dalam bersikap.
    Dirgahayu negara dan bangsa Indonesia

    1. Aamin…dan semoga bangsa Indonesia semakin baik dari waktu ke waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s