Sunday Stills, the next challenge : Flower Garden/ Kebun Bunga


This is the flower garden I ever visited during my adventure to Dieng Plateau more than a year ago. In a corner of Telaga Warna (Colour lake), I and my friend visited a flower garden and it was beautiful especially in the morning.

Quiet, nobody but us there till 9 a.m

Location : Telaga Warna, Dieng Plateau, Wonosobo, Central Java

Special for you

 

DSC02448

Peaceful/ Damai

 

DSC02450

Rest in peace

 

DSC02451

Do you want to go upstairs?

4 Komentar

Filed under Foto, Perjalanan, postaday, Sundaystills

(Monday’s Pictures): Panjat Pinang / Pole Climbing


Panjat pinang or pole climbing has been integral part of Indonesian cultures for centuries. It is usually held for celebrating special events such as independence day. For years it hasn’t celebrated as it fell on Ramazan and for this year, the condition returns to be ‘normal’.

The rule is quite simple, you must climb the slippery nut tree pole where on its peak there are many prizes available for you. From the cheapest like rice spoon until cellular phone or bicycle. This game is in group and all push others to the top. However it’s hard as its slippery nature, and many people fall down, but it’s the excitement of this game.

The moral value you can get here is teamworking overcome all difficulties…

Location :Kelapa Dua, Tangerang, Indonesia

 

DSC07099Go, get it

DSC07102

You’re so heavy

DSC07104

Keep smile

DSC07107

Almost done!

DSC07109

Get the prizes!

2 Komentar

Filed under Foto, postaday

(Sunday’s Note) : Happy Independence Day, My Beloved Indonesia


10547648_10152441143569335_9103012100152725117_nI have just returned home from celebrating Indonesia’s independence day ceremony in my workplace. The nuance is quite different than the last few years aback, because the independence day fell in Ramazan months and in 2014, independence day is on Sunday, where everybody should be on vacation or relaxes at home. The ceremony is a must and all institutions in entire Indonesia (except few religious fractions which consider flag ceremony is haraam). I was excited when I attend this year’s ceremony because there were many marches sung and raised up my nationalism.

69 is one step into 70, and it is the moment when our founding fathers declared our independence day at 10 a.m in Pegangsaan Timur, Jakarta. At the time, and I still remember when after 2 hours (when I was in Semarang Grand Mosque), the ulema announced our independence through his Juma cermon.

In this 69 years, Indonesia still faces various multi-dimentional problems and the most dangerous one 1908415_10203409961027313_9134356788973863357_nare political covered by primordialism and religiousity matters. There are humongous rumours and even in presidential elections rumours about one’s religiousity, ethnicity and ideology has become a good food for everyone and they can easily spread all untrue issues through social media. We, as the users also spread it without clarify or asking about the truth and can you see the results? We fight each other, I mean virtually because it occurs in virtual world, but the effect can be seen in the real life. I can see by myself when family becomes enemy because of different president choice, and everyone is able to stigmatize other as kafir because of the difference, even among the same faith. Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity) is threatened by corruptions, political evils, radical religious and also radical liberalists.

We, Indonesians,  have been liberated from colonialist for 69 years, but now we’re colonized by our10553355_10203409956987212_3426039973185120527_n own brethrens. We are still not able to express ourselves, and in some cases intolerance are still prevalent among Indonesians. I don’t want to detail it because there are so many examples you can see, either from social media or mainstream media, but once more, you should clarify first to your trusted Indonesian colleagues before concluding. Democracy is relatively new here, people are still trapped in 1998 euphoria, unlimited by scarry liberation and fitnas are overall. What Indonesians need now is a new government to restore this nation from all old mentality heritages.

We, Indonesians, need to start a new beginning as a great nation. We have got enormously natural resources, and one of the world’s most diverse society. It should be defended and developed because some Indonesians tend to consider this country form as kuffar, and they don’t want to celebrate Indonesia’s birthday. It is incorrect, because we’re Indonesians, though freedom is considered but please give your respect to our ulema, islamic students and other mujahids who had fought by their thoughts, knowledge and weapon to defend Indonesia’s independence from the agressions. As we can see, every religions has its own radical groups, but issues they published should be closed down in order to keep peaceful aura among us.

Nationalism is part of faith, we can express our love to Indonesia by many ways. Not just by attending ceremony, but also in every parts of our lives, because nationalism is side by side with our religions. I expect in this 69 years, Indonesia will be brightened, new government and new things. I also hope Indonesia will be more tolerant without leaving our local values, because whatever it is, whatever globalization effects, Indonesians will always be different to other nations, and will be like that. Maybe this is my nationalism, showing up everything Indonesia as many as I can from my own point of view. Indonesia is home for everyone, whatever religions they embrace, whatever their ethnicities and all differences are like rainbow for us.

This is our independence day
Happy Independence day, Indonesia
Dirgahayu Kemerdekaan, Indonesia

 

Tangerang, 17 August 2014

Bambang Priantono

*Those pictures do not belong to me*

 

10405590_10203409967907485_4588987941183223954_n

2 Komentar

Filed under Catatan, English, Opini, postaday

(In Bahasa Only) : Ketika Nasionalisme Sudah Dianggap Usang


Note : for commemorating the forthcoming independence day on 17th August, I post this reflection in Bahasa Indonesia. Sorry for this moment.

Ketika nasionalisme sudah dianggap usang, kira-kira apa yang anda pikirkan? Apakah anda membenarkan, ataukah menyangkalnya?
Ketika nasionalisme dianggap basi oleh sementara kalangan, nasionalisme itu salah tempat dan semakin hari semakin tergerus oleh arus informasi dan budaya yang kian membuncah seiring jaman, apa pendapat anda?
Tentunya jawabannya akan beragam, meskipun barangkali dalam hati. Tak terasa sudah 69 tahun negara kita menghirup udara ‘kemerdekaan’ setelah lebih dari 3 abad berusaha dikuasai oleh Belanda dan terkenang juga bagaimana para pemuda tak pandang dari mana latarbelakangnya turut berjuang baik dalam dana, pemikiran maupun fisik (termasuk perjuangan bersenjata dan teknik perang gerilya). Bagaimana para bapak bangsa menata fondasi bangsa ini satu persatu, setahap demi setahap dan penuh dengan onak, duri bahkan ancaman dimana-mana, tapi mereka tetap berkibar hingga akhirnya sebuah negara bernama Indonesia terbentuk. Nasionalisme yang diajarkan pada masa awal memang bertujuan untuk melawan penjajahan yang berlangsung saat itu, dan segala atribut keindonesiaanpun seperti bendera merah putih dan gaya pejuang yang sangat anti penjajahan. Nasionalisme ini kemudian masih dipegang oleh para veteran kita saat ini.

Namun seiring dengan waktu dan berkembangnya jaman, nasionalisme semacam ini lambat laun dianggap sebagai bentuk yang usang. Terlebih pasca reformasi 1998 dimana pergolakan sosial, politik dan agama mulai menunjukkan akselerasinya, nasionalisme seolah ditempatkan di pojok lemari pakaian yang lama-lama terlupakan. Nasionalisme yang menurut saya seolah semu karena hanya terlihat dalam formalitas upacara ataupun tujuh belasan belaka. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir hingga 2013, nyaris sepi semua kegiatan memperingati tujuhbelasan dikarenakan jatuh pada bulan Ramadhan.

Konflik horizontal antar warga yang terkait SARA seolah menjadi momok yang mengerikan sepanjang awal reformasi, diawali dari konflik di Ambon, Poso dan tempat2 lainnya, semuanya menjadi gambaran betapa rapuhnya bangsa ini. Isu-isu sensitif seperti Suku Agama Ras dan Antar golongan masih menjadi makanan empuk yang bisa dilemparkan sewaktu-waktu kepada masyarakat. Kondisi ini seolah kembali terulang beberapa kali di dasawarsa 2010an, seperti isu pemakaian jilbab terhadap siswi-siswi non Muslim di Padang, kemudian isu yang masih hangat yakni pelarangan jilbab di sebuah jaringan supermarket di Bali hingga saya sempat menanyakannya kepada rekan-rekan yang lebih mengerti soal disana. Ah, saat ini sentimen AGAMA kembali mengemuka, beberapa kalangan bahkan menganggap negeri ini sebagai negeri taghut dan harus dirobah total. Fitnah demi fitnah menerpa negeri ini dalam kurun beberapa bulan terakhir, dan 2014 ini sepertinya sangat berat, karena bertepatan dengan pemilihan presiden yang sangat istimewa. Istimewa kenapa? karena yang satu sangat ambisius dan satunya biasa-biasa saja saling beradu untuk duduk di kursi nomor satu negara ini. Segala cara digunakan, termasuk dengan kampanye hitam yang membawa-bawa agama dan suku segala macam. Tahu, saya paling benci isu agama dibawa-bawa dalam ranah ini. Terserah anda kata apa.

Isu-isu sensitif kini sangat mudah dilontarkan. Cukup dengan berbagi berita yang tak jelas juntrungannya di media sosial, sudah tepat untuk membuat hubungan antar kelompok memburuk dengan cepat. Media sosial sudah seperti mesin penyebar fitnah yang efektif sehingga banyak terjadi kasus-kasus seperti di Lampung dan isu di Bali saat ini. Kapan kita bisa tenang kalau sehari-hari dicekoki dengan kabar burung maya yang sering kali dilontarkan oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab ini?

Saya takut nasionalisme yang sudah dibangun susah payah oleh bapak negara kita ini hancur begitu saja gara-gara ambisi politik kalangan atas yang lebih pentingkan dirinya sendiri. Negara ini sudah cukup tercabik-cabik oleh politik, rasuah dan intrik-intrik tidak pentingnya yang justru membawa bangsa ini terpecah belah. Nasionalisme sudah usang, yang ada hanya kepentingan kelompok dan kelompoknya harus dapat porsi besar, dan meski sudah lama praktek itu berlangsung, tapi apakah kita akan diam saja dan menunggu terbelahnya bangsa ini? Radikalisme agama dan liberalisme radikal juga menjadi momok besar bagi kelangsungan bangsa ini, karena dampak yang diakibatkannya sangat terasa. Indonesia merupakan persimpangan sehingga semua pemahaman itu dapat dengan cepat masuk.

Saya memang khawatir dengan semua kondisi yang terjadi, hingga akhirnya saya simpulkan kalau nasionalisme bangsa ini harus diatur ulang. Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan saja belum cukup jika tidak ditunjang dengan kegiatan lainnya seperti kepramukaan. Pramuka juga harus dioptimalkan untuk memupuk rasa nasionalisme bangsa sejak dini. Cinta tanah air juga sebagian dari iman bagi saya. Walaupun ukhuwah Islamiyah itu tidak mengenal negara atau bangsa, namun saya tetap beranggapan saya saudara mereka dalam konteks iman, bukan negara. Terkesan chauvinis? tidak juga, karena apa guna Tuhan menciptakan kita berbeda-beda kalau dipaksakan sama oleh manusia?

Perlu ditegaskan juga, Indonesia ini super majemuk, dan itu tidak bisa disangkal.

Nasionalisme masa kini juga dapat diungkapkan dalam bentuk atribut yang sesuai dengan remaja sekarang. Daniel Mananta dengan label ‘Damn I Love Indonesia’nya sudah berhasil mengambil hati anak-anak muda dengan rancangan kaosnya yang sangat Indonesia, dan saya percaya banyak sekali Daniel Mananta-Daniel Mananta lain yang mempunyai tujuan sama, dengan banyak cara dan sesuai dengan kekinian. Nasionalisme bentuk baru, tapi juga mempertahankan kelokalan ini merupakan pekerjaan rumah bagi semua unsur bangsa Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika harus dipertahankan sampai kapanpun.

Apakah nasionalisme saya sudah diperbarui? Nampaknya harus.

Impian saya yang lain juga adalah bangsa yang cerdas dan bijak dalam menyikapi suatu isu baik di alam nyata maupun alam maya.

Selamat merayakan proklamasi kemerdekaan kita yang ke-69

Sekali merdeka, tetap merdeka!

Tangerang, 16 Agustus 2014

Bambang Priantono

6 Komentar

Filed under Bahasa, Opini

Weekly Photo Challenge : Silhouette / Bayangan


Silhouette, in Bahasa Indonesia is called ‘bayangan’ or in another word ‘siluet’ which is actually Indonesianized spelling based on its pronunciation.

Silhouette is also a great challenge for photography, and here I share some of my shadowy photos for you. The last one is wayang or puppet show which actually derives from the word ‘bayang’ or shadow. Have a nice weekend for all..

This is the challenge

DSC06713

Glam

DSC06712

Bright and dark

 

DSC06775

Which one is ‘shadow’

 

DSC06810

Wayang or silhouette puppet show

 

Tangerang, 16 August 2014

2 Komentar

Filed under Foto, Jakarta, postaday, weeklyphotochallenge

A Word A Week Photo Challenge : Create/Mencipta/Membuat – Rojak Seller


This is a culinary type which can be found in Jakarta and its surroundings. It is usually sold door to door or in the crowded places. It is made of mashed fruits which mixed with hot spicy peanut sauce and mashed in a grinder. It’s been rarely found and I met him incidentally near bus stop. The fruits are usually semi-riped. Chopped into pieces and then mashed into grinder, but with the hot and spicy peanut sauce.

We call here Rujak bebek or Rujak tumbuk or Mashed Rojak

For this challenge

 

DSC06054 DSC06051

 

 

DSC06053

 

Tangerang, 14 August 2014

16 Komentar

Filed under awordaweekchallenge, English, Foto, Jakarta, postaday

Cee’s Fun Foto Challenge : Water- Air-Banyu


Because there’s no winter here, I’d like to share about water. Water is always amazing for being photo object. But I have no much time to portray the detail. Water is source of life, no water, no life…and it can also be destroyer which can take our lives directly. Water, much alike fire, air and soil has got two sides for our lives and foundation of our civilizations. Let me explore these old photos for you

Enjoy my -watery- version of your challenge, Cee..

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

What a cool water, Temanggung, Indonesia

DSC02406

 

What a relaxing and mystical one, Telaga Warna, Central Java

IMG_7703

What a busy water, Rawapening, Central Java, 2009

12 Komentar

Filed under Ceesfotofunchallenge, Foto, Perjalanan, postaday