Weekly Photo Challenge : Summer Lovin’ with Ondel-Ondel


Summer has come!
But without winter because we never know how snowy the winter!
Just hotter and hotter, though sometimes it rains sporadically as the unclear climate caused by El Nino.

How’s your summer? We’re still fasting..the summer lovin’ is just with those two ondel-ondel of Jakarta.

In the past, it’s performed for defeating devils, but now it has become Jakarta’s cultural icon. I took these at Jakarta Old Town, in the very hot afternoon…enjoy it.

DSC06759

 

DSC06760

Enjoy Jakarta!

Location : Fatahillah Museum, Jakarta, Indonesia

6 Komentar

Filed under postaday, weeklyphotochallenge

(Weekly Photo Challenge) : Containers/ Peti Kemas


I took this photo when I was walking around to Sunda Kelapa Old Harbour, Northern Jakarta. It was 1 pm and the harbour was little bit quiet except several workers were taking a rest in one side, while in the other side, they were still busy to their job. Loading and unloading goods for being delivered to any parts of Indonesia.

Sunda Kelapa harbour is located in northern Jakarta and it is where Jakarta starts into a larger and larger city.

These containers have been abandoned, they stayed there till unknown time…maybe till they’re converted into coral reefs or recycled into simple house. I don’t know

 

Location : Sunda Kelapa, Jakarta, Indonesia

For this week’s challenge

DSC03273

4 Komentar

Filed under Foto, Jakarta, postaday, Sundaystills, weeklyphotochallenge

Weekly Photo Challenge : Relic of Old Banten


For this moment, I’d like to share this relic for you.

This is the ruins of Kaibon palace. Kaibon means ‘motherly’ which derived from ‘ibu’ (ee-boo) or mother. It was home of Sultan Syafiudin (1809-1813) and his mother, Ratu Asyiah also lived in the palace. However, after Banten Sultanate dismissal by Netherlands Indie governor in 1816, this palace was functioned as regency house till 1832 when It was demolished. It has become national heritage and located in Kroya, Kasunyatan village, Kasemen, Municipality of Serang, Banten.

Special for this challenge

DSC05027

Relic 1

DSC05032

Relic 2DSC05040Relic 3…which one is you?

2 Komentar

Filed under English, Foto, postaday, weeklyphotochallenge

(Opini) : Membagi Solidaritas, Membelah Solidaritas


Saat ini kita telah menjelang separuh bulan Ramadhan, dimana kita harus menahan diri untuk makan, minum , bergosip dan amarah serta memperbanyak amal ibadah. Namun di saat yang sama, kita juga telah menyelesaikan salah satu hajatan besar yang akan menentukan nasib bangsa ini ke tahap berikutnya, yakni pemilihan presiden. Perang fitnah, caci maki alias baku hujat semenjak kampanye hingga jelang pencoblosanpun sangat mendominasi mulai dari alam nyata hingga dunia maya yang menurut saya semakin mengerikan. Di media sosialpun perang itu sangat kencang, hingga sayapun harus melakukan unfollow terhadap posting teman-teman yang bersifat provokatif dan menyudutkan. Bahkan banyak teman yang meng-unfriend satu sama lain hanya karena memiliki pandangan yang berbeda.

Setelah pemilupun, kedua belah pihak saling mengklaim kemenangan. Bahkan banyak dagelan yang saya saksikan, dari hasil hitung cepat yang berbeda versi dari lembaga survei-lembaga survei yang entah kredibel atau abal-abal. Tak perlu saya sebutkan, karena pasti masyarakat Indonesia sudah tahu dagelan tersebut. Saya termasuk yang golputer, alias golput karena terpaksa, namun apapun hasilnya saya tetap doakan semoga presiden yang didapat ini merupakan anugerah dari Tuhan, apa tidak capek dengan kondisi yang begini-begini terus?

Maaf kalau kepanjangan point pertama, sekarang saya lanjutkan ke point kedua, yakni tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung di Gaza, Palestina. Saya menyaksikan baik di jejaring sosial maupun media massa semua sedang seru-serunya menayangkan detik-detik penembakan rudal Israel ke Gaza, dan begitu juga sebaliknya. Ada yang siaran langsung, ada juga yang relay dari stasiun televisi lainnya. Foto-foto korban Gaza dari yang asli sampai yang rekayasa bergentayangan di jejaring sosial. Padahal terus terang, saya sangat jengah ketika banyak yang share foto-foto dan berita yang belum jelas juntrungannya itu. Hingga saya mengungkapkan rasa jengah saya di status saya sendiri di facebook dalam banyak kesempatan.

Aksi solidaritas di Bundaran HI yang dihadiri capres Prabowo, maupun yang di Tugu Proklamasi oleh simpatisan capres Jokowi serta aksi penggalangan dana plus pengiriman relawan ke Gaza sudah cukup menggambarkan betapa pedulinya bangsa kita terhadap tragedi yang dihadapi bangsa Palestina, khususnya yang di Jalur Gaza. Dari masa ke masa, konflik antara Palestina dan Israel terus berkesinambungan bagaikan lingkaran setan yang seolah tak ada habisnya. Semenjak berdirinya Israel sampai terbaginya Palestina. Share tentang Gaza juga bagus untuk mengguggah rasa solidaritas, namun kita sangat sering melebih-lebihkannya hingga harus membagi foto-foto yang diklaim dari Gaza, namun banyak yang diantaranya palsu atau direkayasa dari foto seperti tragedi di Suriah.

Solidaritas, solidaritas dan solidaritas. Sebagai sesama Muslim, pasti kita akan marah dan sakit bila salah satu saudaranya tersakiti. Namun demikian, setelah sekian lama dan mungkin seiring usia, saya kian realistis karena konflik Israel-Palestina ini bukan konflik antar agama, namun lebih pada faktor politik dan kemanusiaan dimana banyak pihak asing bermain dipihaknya. Sementara kita sibuk berteriak-teriak solidaritas Palestina, kita lupa dengan realita yang ada justru tidak jauh dari kita sendiri…bangsa sendiri!

Bangsa Indonesia sedang dalam ambang transisi dari presiden satu ke presiden lainnya. Bangsa ini juga sedang terpecah karena pilihan yang berbeda dan celakanya saling menjatuhkan dan memfitnah. Itu sangat berbahaya bagi bangsa yang masih berusia jelang 69 tahun ini. Anak bangsa kita di kawasan-kawasan terpencil, perbatasan bahkan tetangga kita sendiri masih sangat membutuhkan bantuan kita sebagai sesama anak bangsa. Mental hipokrit, koruptif, manipulatif, nepotis, oportunis dan lain sebagainya terlalu mengurat dan mengakar, ditambah sentimen-sentimen bernuansa SARA masih menjerat negeri berpenduduk hampir seperempat milyar ini. Intoleransi terhadap keberagaman bahkan dalam satu agama saja masih menjadi makanan empuk bagi pihak-pihak yang ingin memecah belah negeri ini. Itu ancaman yang harus kita perhatikan selain bersolidaritas dengan bangsa Palestina maupun peran membantu mereka.

Saya bukan menggembosi atau anti terhadap solidaritas anda. Solidaritas anda sangat bagus, karena menunjukkan kepedulian besar. Namun yang perlu dilihat adalah, ketika anda mencaci maki Israel, otomatis anda juga mencaci maki dan menghujat Muslim yang menjadi warga negara Israel juga. Saya hanya mengingatkan, karena di dalam Israel sendiripun banyak yang anti dengan pemerintahannya, termasuk Yahudinya sendiri. Anda juga harus berhitung berapa banyak cendekiawan Yahudi yang justru menolak Israel. Hanya kalah dengan media yang lebih pro.

Solidaritas ini harus kita bagi dan belah menjadi beberapa bagian. Satu bagian untuk bangsa Palestina dan bangsa-bangsa yang tertindas atas nama kemanusiaan, sedang satu lagi dan ini yang terpenting adalah solidaritas dengan bangsa sendiri yang masih membutuhkan uluran tangan dan penanganan kita. Penjajahan bangsa sendiri lebih menyakitkan daripada dijajah bangsa lain, karena kita tergerogoti dari dalam. Kemerdekaan hakiki itu yang masih harus kita capai. Letakkan satu solidaritas pada mereka, dan pada saat bersamaan letakkan solidaritas kita pada bangsa ini.

Betapa indah bila kita mampu mengatasi persoalan bangsa ini, meskipun harus tertatih-tatih. Mental jajahan ini harus segera kita kikis sebagaimana revolusi mental yang digaungkan oleh Jokowi selaku capres nomor dua. Revolusi yang selalu dikait-kaitkan oleh pihak lain sebagai komunis hingga beliau dituduh PKI. Perubahan pola pikir dari diri kita sendiri itulah yang terpenting, dan diwariskan kepada anak-anak bangsa yang sedang kritis. Mari kita cintai tanah air kita dulu, karena cinta tanah air juga sebagian dari iman, dan ketika bangsa kita makin menguat, maka kita akan mampu memberi pengaruh besar kepada bangsa lain dan suara kita akan lebih tergaung dan didengarkan oleh dunia.

Ingat, perbaiki internal kita dulu. Baru perbaiki eksternal kita. Jangan terbalik.

Solidaritas ini harus dibagi, di satu sisi kita solider dengan nasib Palestina tanpa pandang agama karena Palestina tidak hanya dihuni Muslim, namun juga pada bangsa sendiri, tetangga sendiri yang membutuhkan kita.

Ini hanya sekadar opini saya, terinspirasi dari kejengahan saya akan kondisi yang terjadi baik di media massa, kenyataan maupun media sosial saat ini.

 

Save Indonesia!
Save Palestine!
Peace Palestine and Israel!
Peace for The World!

4 Komentar

Filed under Opini, postaday

(Me and Indonesia) : Unity in Nation, Diversity in Language


DSC06904

I was on the way from Purwokerto to Tasikmalaya three days ago, from Purwokerto to Karangpucung, I could still hear Banyumas Javanese spoken on the bus. It is a unique Javanese dialect spoken in Banyumas regency and its surroundings, Central Java. However, when the bus was leaving Karangpucung to Cimanggu, the language gradually changed into Sundanese, that’s why in the bus three languages were spoken : Banyumas Javanese, Sundanese and Bahasa itself. Surprisingly, there was a lady who spoke Sundanese when she was telephoning, but then she spoke Banyumas Javanese to her little cuddly son with Sundanese accent.

It is just a very tiny simple of how diverse our linguistic situations here.

Even when I went shopping to Kelapa Dua traditional market, Tangerang, I could hear various languages spoken in one marketplace. Sundanese was spoken in one edge, the egg sellers spoke Minangkabauan, some others spoke Javanese until Acehnese, Bataks and many more languages. I  tend to speak Bahasa or Javanese depends on the situation (though I also understood other languages).

DSC06893

In other situations, I can also see many signboards even roadsigns written in vernacular besides Bahasa or even local scripts like in Bogor, Bandung, Purwokerto, Solo, Yogyakarta till Malang. As well as other cities and provinces like Aceh and Riau which use Malayo-Arabic scripts, Lampungic, Makassarese and many more writing systems.

DSC05095

As a big family house, Indonesia is home of many speeches. Maybe they eat too much tongue steaks..no…but naturally my country is rich of languages and not boring at all. I can imagine if I lived in a very homogeneous place where you speak the same language, same customs, same group from being delivered till being sent to the eternity…for me it’s rather boring!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

How many languages are spoken in Indonesia nowadays? Some sources said, there are 500 local languages spoken (it doesn’t include various Chinese dialects spoken among some Indonesian Chinese), but according to Language center of National Education Department in 2008, there are more than 746 languages spoken in 17,508 islands, but not all have been exposed as there are many unidentified languages particularly in The Moluccas and Papua islands. Some languages are unfortunately heading to their extinctions. Some have only a few speakers and even only one person especially in Eastern Indonesia.

Linguistically, I am proud of my country as it is one of the most diverse besides India and Papua New Guinea in languages. May it is the most crowded country in speech..hehehe. The largest one is Javanese, the next is Sundanese and later is Malay/Bahasa Indonesia itself. Even in some places, you can find deadly different languages spoken at two neighbouring villages. For me, how amazing Indonesia!

But sadly, those diversities have been threatened gradually by our own national language. There are around 50 languages which will be vanished sooner as many of them switch their language to another one or Bahasa. or because of inter ethnic marriage and the family decide to speak to their children Bahasa as win-win solution. Local curriculum at school should be re-developed in order to preserve the languages. There have already been local curriculum for local language teachings, and needs to be developed in the future.

As Indonesian, we should be proud of our linguistic richness, as language is source of everything and from language we learn many things from culture until science. Without language, there’s nothing in this world. We can do many actions to preserve our mother tongue as what Bengali’s defend in 1952 till it is celebrated as Mother language’s day. By preserving our language, it means we defend our culture.

A strong nation is a nation who can keep their language.

Loosely translated from the original article here

IMG_7372

 

Bambang Priantono

 

Tinggalkan komentar

Filed under English, Kisah, postaday

Weekly Photo Challenge : Contrast- Kontras


DSC06712

This is my first photo posting after weeks I took my hiatus again. I was challenged in this week’s because I have got several photos related to the contrast. But I only share one for this moment. Yeach…combination between dark, sunshine and its reflections…you can see here. What a contrast.

Special for this week’s challenge 

Location : Mandiri Museum, Jakarta

Tinggalkan komentar

Filed under Jakarta, Perjalanan, postaday, weeklyphotochallenge

(Aku dan Indonesia) : Ika Bangsa, Bhinneka Bahasa


DSC06904Tiga hari lalu saat saya sedang berada dalam bis jurusan Purwokerto-Tasikmalaya, ketika masih berangkat dari Purwokerto hingga Karangpucung, Cilacap saya masih mendengar bahasa Jawa Banyumasan ramai dipertuturkan dalam bis. Sebentuk dialek Jawa yang khas ini menjadi asosiasi khas bagi warga asal Karesidenan Banyumas itu. Namun kemudian ketika memasuki Karangpucung arah Cimanggu, sedikit demi sedikit mulai naik penumpang yang menggunakan bahasa Sunda, sehingga bis itupun terdengarlah tiga bahasa. Jawa Banyumasan, Sunda dan Indonesia. Bahkan seorang ibu yang duduk di belakang sayapun ketika bertelepon menggunakan bahasa Sunda, namun ketika berbicara dengan anaknya justru dengan bahasa Banyumasan dengan aksen Sunda.

Hal ini hanya contoh kecil dari betapa beragamnya bahasa yang dipertuturkan oleh bangsa kita.DSC06893

Bahkan saat saya berbelanja di Pasar Kelapa Dua, Tangerangpun, suasana multibahasa sangat terasa. Di satu sudut, bahasa Sunda ramai diperbincangkan, penjual telur kadang berbahasa Minang, sudut pasar lainnya bahasa Jawa terdengar, kadang juga terselip percakapan bahasa Batak, Aceh hingga Betawi. Kalau saya sendiri lebih menggunakan bahasa Indonesia atau kadang Jawa, tergantung siapa yang sedang saya hadapi.

Di situasi lainnya, ketika saya berjalan-jalan ke berbagai kota di Pulau Jawa, saya menemukan banyak spanduk atau keterangan yang ditulis dalam bahasa atau dialek setempat, dan beberapa daerah di Indonesia juga menggunakan tulisan selain Latin untuk nama jalannya, seperti yang saya temukan di Bogor, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Solo hingga Malang. Demikian juga beberapa wilayah Indonesia lainnyapun menggunakan aksara lain seperti aksara Arab Melayu di Aceh dan Riau, aksara Lampung, Makassar ataupun aksara Bali. Sangat beragam dan kaya sekali kita.OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jika diibaratkan dalam satu rumah, Indonesia ini wadah bagi berbagai macam warna lidah. Bukan karena kebanyakan makan lidah sehingga bahasanya beragam (seperti yang pernah saya baca dalam kutipan komik Asterix di Belgia), namun secara alamiah bangsa kita ini sangat kaya dengan kebahasaan. Jujur apa yang akan terjadi bila kita tinggal di sebuah negeri yang sangat homogen dalam kebahasaan, dimana bahasa yang dituturkan dari ujung ke ujung sama semuanya? Tentunya hal tersebut bagi saya pribadi sangat membosankan dan tidak ada kejutan-kejutan budaya yang menarik.

Berapa jumlah bahasa yang dituturkan di Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini? Ada sumber yang menyebutkan sekitar 500an bahasa, namun menurut penelitian Pusat Bahasa Depdiknas tahun 2008, Indonesia memiliki lebih dari 746 bahasa yang terserak di 17.508 pulau (saya tidak tahu pasti apakah bahasa-bahasa Cina seperti Hokkien, Hakka dan Teochew juga termasuk), dan itupun belum semua dapat dipetakan karena kendala geografis. Itupun belum semua bahasa khususnya di Indonesia Timur (utamanya lagi Papua dan Maluku) dapat dipetakan, karena disamping kondisi geografis, jumlah penuturnyapun sangat sedikit, bahkan ada yang tinggal beberapa orang dan terancam kepunahan.

Ketika kita berpindah ke suatu wilayah di negeri ini, hal yang paling kentara pertama kali adalah bahasa. Hampir setiap anak negeri sudah barang tentu dapat berbahasa Indonesia dengan tingkatan bervariasi, dari yang pasif hingga yang menjadi penutur aslinya (yang diperkirakan mencapai 18-20% penduduk Indonesia), tetapi jika kita dapat menguasai sebagian kecil bahasa yang kita datangi, semisal untuk menawar harga, menanyakan jalan atau sekedar mengucap salam dan terima kasih, tentu akan ada kejutan serta respons yang luar biasa dari penduduk setempat.

Saya sangat bangga dengan negeri saya, Indonesia khususnya dari segi kebahasaan. Seharusnyapun demikian, karena negeri kita termasuk negara paling ramai bahasanya di dunia selain Papua Nugini dan India. Dari yang penuturnya paling besar seperti bahasa Jawa, Sunda, Melayu, Madura, Bali, Banjar sampai bahasa-bahasa di Papua yang jumlah penuturnya hanya belasan bahkan hanya satu orang. Bahkan dalam satu bahasanya sendiripun berbeda-beda dialek yang kadang hanya dipisah sungai saja sudah berbeda dialek dan bahasa.Wow, Amazing Indonesia!

Kebhinnekaan bahasa di Indonesia ini seyogyanya menjadi aset yang dapat memperkaya perbendaharaan bahasa Indonesia, selaku bahasa persatuan antar suku dan ras. Banyak kosakata indah dari bahasa-bahasa daerah yang bisa dipadu padankan dengan bahasa Indonesia sendiri. Bahkan bahasa Indonesia dengan aksen kedaerahanpun tidak seharusnya jadi bahan tertawaan, sebagaimana orang berlogat Jawa, Batak, Madura dan lain-lain yang sangat ketara, itulah kekayaan negeri yang sangat saya banggakan pada bangsa-bangsa lain di dunia. Kekayaan bahasa yang belum tentu ada di negara lainnya.DSC05095

Namun yang jadi keprihatinan saya saat ini adalah, bahasa-bahasa daerah yang unik tersebut mulai tergerus oleh dominasi bahasa persatuan. Diperkirakan ada 50 bahasa daerah yang terancam menuju ajal dikarenakan beberapa hal, seperti ketidakpercayaan diri dengan bahasanya sendiri dan kian sedikitnya penutur karena beralih ke bahasa lainnya khususnya bahasa Indonesia. Memang faktor pendidikanpun menjadi hal utama makin berkurangnya penutur suatu bahasa daerah, akan tetapi dengan muatan lokal yang lebih menekankan pada pengetahuan berbahasa daerah setidaknya akan memperlambat atau bahkan mencegah proses kepunahan bahasa tersebut.

Sekali lagi, tentunya akan sangat membanggakan bagi kita karena Indonesia sangat kaya dengan bahasa. Bahasa adalah cikal bakal semua ilmu, dan dengan bahasalah identitas budaya kita akan terlihat di mata orang lain. Bukan hanya sekadar bangga, namun juga mencari jalan bagaimana dapat melestarikan bahasa yang kita miliki, karena pepatah bijak berkata : Bahasa adalah cermin bangsa. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang dapat menjaga kelestarian bahasanya.

 

Bangga jadi bangsa Indonesia, bangga berbahasa Indonesia, bangga juga berbahasa daerah. Mari jaga bahasa kita bersama

 

 Bambang Priantono

 

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Aku dan Indonesia

 

15 Komentar

Filed under Bahasa, Kisah, Lomba Blog, postaday