Millenial Marzukiana : Nostalgia Rasa Millenial


img20190113145437Mendengar nama Ismail Marzuki, saya langsung teringat dengan lagu-lagu ciptaannya yang tetap abadi dan dilantunkan dalam momen-momen patriotik. Sebut saja ‘Tanah Pusaka’ yang menggetarkan kalbu, dimana saat mendengarkan atau menyanyikannya membuat bulu kuduk merinding dan airmata serasa hendak mengalir. ‘Halo-Halo Bandung’ yang sangat patriotik dan menggugah semangat cinta tanah air, serta banyak lagu-lagu yang digubah di usianya yang hanya sampai 44 tahun ini.

Saya sendiri tidak menyangka ketika terpilih untuk menyaksikan konser besutan maestro Indonesia, Ananda Sukarlan yang berjudul ‘Jakarta New Year’s Concert 2019’. Padahal saat itu saya hanya iseng mendaftarkan diri karena sudah lama tidak mengikuti konser apapun (kadang-kadang nonton konser karawitan saja) dan baru seminggu sebelum acara diumumkan siapa-siapa saja yang mendapatkan tiket nonton konser ini. Sebagaimana yang diketahui, Ananda Sukarlan adalah komposer dan konduktor kebanggaan tanah air yang telah mendunia, setelah konsernya yang bertajuk ‘Rapsodia Nusantara’ yang menyajikan karya-karya virtuosik untuk piano solo, kini dia kembali dengan mengangkat lagu-lagu karya Ismail Marzuki yang tidak familier bagi mayoritas millenial saat ini.

Disamping sebagai pembuka tahun 2019, konser yang diselenggarakan tanggal 13 Januari 2019 di Ciputra Artpreneur Kuningan ini sekaligus sebagai wahana bagi solois-solois muda berbakat dan memperkenalkan lagu-lagu karya Ismail Marzuki dalam format konser yang indah ke kancah internasional. Kata Ananda Sukarlan, kita memperkenalkan Austria melalui karya-karya Mozart dan apa salahnya kalau kita juga menonjolkan karya maestro tanah air agar lebih dikenal dunia.

Disamping baru pertama kali saya menghadiri konser semacam ini, saya juga takjub dengan banyaknya duta besar negara sahabat yang hadir. Yang saya ingat ada duta besar Bangladesh, Perancis, Uzbekistan dan sisanya saya sudah lupa. Namun dengan dukungan Ciputra Artpreneur yang juga mempunyai museum seni yang apik dan kadang bagi saya nampak provokatif di bagian-bagian tertentu, saya merasa benar-benar jadi bagian dari pengunjung-pengunjung konser berkelas tanpa perlu merasa canggung karena musik adalah bahasa universal.

Alhamdulillah saat sepi dan belum banyak pengunjung, saya masih sempat berfoto bersama Ananda Sukarlan secara langsung walau akhirnya saya harus turun ke lantai bawah karena ternyata belum waktunya.

Konser sendiri dimulai agak sedikit terlambat dari waktunya yang dipatok pukul 16.00 WIB. Kami para blogger mendapat posisi di tribun yang strategis sehingga dapat menyaksikan konser dengan sempurna. Dibuka dengan sambutan dari Ananda Sukarlan serta CEO Kaya.Id, konser ini ternyata juga dihadiri oleh menteri luar negeri Republik Indonesia yang saya kagumi, karena dibalik penampilannya yang sederhana, tapi sangat garang dan luar biasa dalam membela kepentingan negara dikancah internasional hingga Indonesia menjadi negara yang disegani baik kawan maupun lawan.

Konser Millenial Marzukiana diawali dengan penampilan penyanyi tenor Widhawan Aryo Pradhita dan soprano Mariska Setiawan yang membawakan segmen Arias dan Intermezzi dari opera “Erstwhile” yang diadaptasi dari novel karya Rio Haminoto. Mungkin karena telinga saya yang belum terbiasa menikmati lagu-lagu opera hingga saya kurang bisa memahami maksud yang disampaikan dalam lagu tersebut. Apa yang ditampilkan bagi saya pribadi masih harus dicerna dalam waktu lama. hingga penampilan keduanya selesai, saya masih bingung, apa pesan yang terkandung dalam rangkaian lagu tadi. Percintaan? Romantisme? atau kesedihan? Mungkin saya harus banyak membaca lagi dan sering-sering datang ke konser sejenis atau memutar ulang lagu-lagu tersebut.

Nah, bagian yang paling saya suka dari konser ini adalah pembacaan narasi “Malin Kundang” oleh Handry Satriago. Tata konser yang mengiringi pembacaan kisah anak durhaka dari Ranah Minang ini membuat saya terlempar ke masa silam. Detailnya saya ingat ketika kesan debur ombak dan kasih sayang ibunda Malin Kundang terasa sampai dalam tulang sumsum saya. Dramatisasi yang epik pada saat ibu Malin Kundang bertemu dengan anaknya tapi akhirnya mendapatkan kenyataan pahit, tidak diakui bahkan ditendang sampai pingsan oleh Malin yang sudah jadi orang kaya, juga membuat perasaan antara sedih dan marah walau akhirnya lega karena Malin mendapatkan ganjaran setimpal atas kedurhakaannya. Sesi ini yang paling saya suka diantara sesi-sesi konser lainnya. Pembawaan narasi dan latar musiknya begitu menjiwai hingga saya dan penonton tanpa sadar terbawa suasana penuh haru biru dan hikmah.

Oke, setelah berjeda selama lima belas menit. Orkestra yang sebagian besar pemainnya kalau saya taksir masih berusia kisaran belasan hingga dua puluhan ini memulai kembali aksinya, Concerto Marzukiana 2 yang mengiringi violis Finna Kurniawati dengan lagu “Wanita”, “Gugur Bunga” dan “Halo-Halo Bandung”, dibawakan semuanya dengan apik serta harmoninya di telinga saya ngepas, walau kadangkala suara biola Finna Kurniawati agak tenggelam ketika bermain bersama ensembel lainnya. Pembawaan yang penuh penghayatan atas lagu-lagu karya Ismail Marzuki ini sangat diapresiasi apalagi dibawakan oleh personel Ananda Sukarlan Orchestra yang sebagian besar kaum millenial.

Setelah mengharu biru dengan permainan biola Finna Kurniawati yang memukau- dan saya selalu terkesan setelah selesai tampil selalu memberi hormat kepada Ananda Sukarlan dan pemusik disebelahnya- dilanjutkan dengan permainan harpa yang ciamik soro kata orang Surabaya (karena kalau saya baca dari biodata penampil, semuanya asal Surabaya ternyata) oleh Jessica Sudarta. Nah, untuk bagian harpa ini saya juga suka karena membayangkan sulitnya memainkan alat musik yang sudah ada sejak zaman Yunani kuno ini. Malah untuk Concerto Marzukiana nomor 3 part 1 ini saya gagal fokus ke permainan harpanya sampai tidak terlalu mempedulikan musik lainnya, karena memang disitu titik permainannya. Harpa sebagai sentralnya sedang yang lain sebagai penghias. “Melati di Tapal Batas” serasa tiada batasnya.

Kisah cinta yang indah, penggambaran seorang perempuan yang cantik dengan kesederhanaan dan menurut saya itulah kelebihan seorang Ismail Marzuki dalam memvisualisasikan alam impiannya menjadi suatu bentuk karya yang bahkan tanpa lirikpun bisa dicerna dan dikenali. Semua dinarasikan dalam bentuk memoar oleh Charles Bonar Sirait, yang masih tidak berubah banyak dibanding semasa masih sering wira-wiri di televisi di era 90an.

Konser amal ini ditutup dengan penampilan Anthony Hartono, pianis muda yang juga mendampingi Ananda Sukarlan dalam konser-konsernya. Lagu yang dibawakan juga masih dari Ismail Marzuki, Selendang Sutra dan Indonesia Pusaka, sekaligus sebagai penutup konser Millenial Marzukia yang berlangsung selama dua jam ini.

Secara umum penampilannya luar biasa dengan komposisi yang apik serta tangan dingin Ananda Sukarlan yang sudah menjadi maestro kelas dunia, tak ayal kalau jujur saya malah jadi teringat tata musik film-film Indonesia tahun limapuluhan semacam Tiga Dara (1956) dan Asrama Dara (1958), serta kadang saya malah teringat film Lewat Djam Malam (1954) serta Darah dan Doa (1950), semua rilis ketika Ismail Marzuki masih hidup.

Ada dua hal yang mungkin saya peroleh dari konser Millenial Marzukiana ini. Pertama, tentunya menyasar kepada kaum millenial yang usia maksimalnya 28 tahun saat ini dan sepertinya sudah cukup mengena, tetapi setidaknya ada kelanjutan untuk konser berikutnya yang audiensnya betul-betul dari generasi tersebut. Kedua, rasa kebangsaan dan patriotisme saya justru makin mantap terlebih pada lagu Indonesia Pusaka yang sukses selalu membuat saya merinding bangga. Plus membuat saya terlempar pada adegan-adegan film tahun 50an dulu.

Harapan saya kedepan sebagai orang awam yang kurang paham akan musik klasik, terus perkenalkan musik klasik kepada masyarakat dan gali lagi potensi musikus serta lagu-lagu karya anak bangsa yang bisa dibanggakan setara dengan Mozart maupun Chopin. Semangat dan tetap jaya!

Tangerang, 20 Januari 2019

 

 

 

 

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. Mabel Kwong says:

    This looks like such an amazing orchestrated concert, Nono. I’ve enjoyed a few of these over the years, and it’s amazing how every player has a part to play and all come together to make beautiful symphonies 🙂

    1. Hi Mabel, long time no see…since my mom’s passed away last April I haven’t written anything and just after 8 months I started again 🙂

      1. Mabel Kwong says:

        My condolensces, Nono. Sorry about your loss and hope all is well with you and your family. Wishing you well 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s