Semangat Bhinneka, Semangat Imlek di Santa Maria de Fatima Toasebio


img_20170128_072743

Kiong hi, Kiong hi

Ucapan selamat tahun baru dalam dialek Hokkian yang kurang lebih sama dengan Gong Xi berulang-ulang menggema di pagi yang mendung di kawasan Glodok pada hari dimana menurut kalender Tionghoa sudah masuk tahun ayam api. Sebagian besar jemaat baik tua, muda, dewasa dan anak-anak berdatangan dengan baju didominasi warna merah dan masuk ke dalam sebuah bangunan berarsitektur Tionghoa. Viharakah? Bukan, tempat tersebut adalah tempat ibadah umat Katolik, yakni Gereja Santa Maria de Fatima Toasebio yang terletak di Jalan Kemenangan III, Jakarta Barat. Nuansa perayaan imlek sangat kental, baik di pintu masuk yang dihiasi ornamen khas imlek hingga bagian dalam yang berhiaskan pernik-pernik serupa.

img_20170128_073324Para jemaat saling mengucapkan ‘Kiong hi’ atau ‘Gong xi’ saat bertemu satu sama lain. Penyambut tamu juga berpakaian serba merah khas Tionghoa dan mempersiapkan amplop angpao yang dibagi-bagikan kepada jemaat yang tidak membawa angpao. Angpao ini menurut salah satu penyambut tamu dipersembahkan untuk gereja. Misa ekaristi menyambut imlek ini sudah ada sejak Presiden Abdurrahman Wahid meresmikan Hari Raya Imlek sebagai hari libur yang diakui secara nasional. Setiap tahun temanya pun berbeda-beda, dan tema misa kali ini adalah tentang kebhinnekaan.

Misa dimulai tepat pukul 8 pagi, dimulai dengan iring-iringan romo yang memakai jubah berwarna dominan merah dengan tulisan Hanzi dibagian punggungnya, diikuti oleh anak-anak altar dengan diiringi lagu puji-pujian yang menggema di dalam gereja yang dulunya milik seorang Kapitan Tionghoa bermarga Tjioe ini. Jemaat mengikuti prosesi misa ekaristi ini sebagaimana dalam ibadat pada umumnya, hanya saja karena bernuansa imlek, maka perayaan ini menjadi unik. Kebaktian baik saat melantunkan lagu pujian rohani maupun khutbah oleh pastur dilakukan dalam dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan Mandarin.

imlek2

Suasana meriah sekaligus khidmat sangat terasa dalam misa menyambut imlek ini, ketika pastur membuka khutbah misanya yang menekankan tentang kebhinnekaan bangsa Indonesia, serta betapa pentingnya saling hormat menghormati antar umat beragama sebagai wujud kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia, apapun latarbelakang suku, agama maupun golongannya. Semua adalah sama di depan Tuhan, dan dengan semangat imlek tahun ini diharapkan semangat persatuan dalam kebhinnekaan semakin menguat dalam diri bangsa Indonesia. Jemaat menyimak dengan khidmat dan suasana terasa sangat welcome saat orang luar jemaat diperbolehkan meliput ataupun menyaksikan prosesi misa.

img_20170128_080422

Tidak ada lilin besar maupun hio yang terlihat di gereja ini, namun keriaan imlek tetap sangat kental, disamping bangunan serta interior yang sengaja dihias sesuai tema Imlek, namun beberapa ritual seperti persembahan juga menunjukkan pengaruh Tionghoa. Beberapa pasang remaja membawa persembahan. Ada yang berpakaian serba merah, berpakaian ala Betawi maupun modern semuanya membawa persembahan, termasuk diantaranya kue keranjang yang disusun dengan sangat rapi membentuk segitiga, dan diiringi anak-anak altar yang berada didepan untuk masuk gereja dan diletakkan sebagai persembahan. Dan ada lagi yang unik, dua orang jemaat kemudian membawa masing-masing satu replika uang emas berukuran besar yang dibawa juga menuju altar. Replika emas (yang melambangkan kemakmuran) itu berisi dana yang dihimpun dari umat untuk kemajuan gereja.

imlek3

Keunikan lainnya yang dijumpai dalam misa ekaristi imlek di Gereja Santa Maria de Fatima adalah prosesi pemberkatan buah jeruk yang ada di sebelah kanan altar, dan dilakukan sendiri oleh pastor utama dalam kebaktian ini, kemudian perwakilan jemaat memberikan angpao kepada pastor sebagai tanda memberikan sumbangan kepada gereja. Setelah itu dilanjutkan dengan penyerahan angpao kepada anak-anak latar dan diakhiri dengan saling mengucap selamat tahun baru. Jemaat berbaris tertib memberi salam kepada enam romo yang memimpin diiringi paduan suara yang menyanyikan lagu Gong Xi Gong Xi, suasana terasa sangat akrab dan kekeluargaan. Semua jemaat dari berbagai latar belakang dan golongan menyatu dalam nuansa imlek yang akrab, mencerminkan kebhinnekaan negeri ini yang tak dapat digantikan dengan apapun.  Ucapan Kiong Hi atau Gong Xi tetap bersahutan meski hujan perlahan kembali membasahi bumi seiring dengan bergantinya tahun.

img_20170128_091537
Perwakilan jemaat memberi salam tahun baru kepada para romo

imlek4

Nuansa Tionghoa yang sangat kuat, baik bangunan yang usianya lebih dari 4 abad maupun interior serta bahasa yang dipergunakan makin mempertegas bahwa inilah salah satu bagian dari wajah Indonesia kita. Akulturasi budaya dengan agama yang dianutpun menjadi suatu warna tersendiri yang menjadikannya unik. Kombinasi antara misa ekaristi dan perayaan Imlek inilah bagian dari mozaik bangsa kita, bangsa Indonesia yang berbhinneka tunggal ika.

 

Bambang Priantono

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog festival imlek Indonesia 2017

whatsapp-image-2017-01-14-at-08-31-37

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s