(Cerita Kilat) : Kandang Fatimah


Note:
I wrote this story in Bahasa Indonesia, I’ll anglicise it later on.

KANDANG FATIMAH

Bambang Priantono

Malam itu hujan turun begitu deras, diselingi kilat dan gemuruh petir yang sesekali membahana, dan seluruh penduduk Desa Rojokoyopun memilih tinggal dirumahnya masing-masing. Suasana begitu mencekam, meskipun hujan mulai perlahan menghentikan aktivitasnya. Namun di rumah Mbah Roso, terjadi kehebohan. Seisi rumah berkumpul di belakang rumah tempat Mbah Roso biasa mengandangkan domba-domba peliharaannya yang berjumlah 8 ekor. Mbah Roso, lelaki berusia 70 tahun namun masih nampak kuat ini menyembelih seekor domba betina yang ternyata baru melahirkan seekor domba. Tak ayal seluruh keluarganya geger.

“Romo, ngopo gibase dibeleh? Padahal baru melahirkan.” Protes Sri, salah seorang putrinya. “Apa romo nggak kasihan kalau dia langsung disembelih begitu?” tambah Sri lagi. Sementara Mbah Roso menyelesaikan penyembelihan terhadap domba betinanya itu, anak domba yang baru lahir tadi tergeletak tanpa daya dan langsung setelah selesai langsung ditutupi selimut oleh Mbah Roso meski kata-kata bernada protes atas keanehannya terus menggema dari anak cucunya.

“Parno, ambilkan emban” perintah Mbah Roso kepada Parno salah satu anaknya. Dengan enggan Parnopun bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengambil kain emban yang dimaksud ayahnya. Sri, Rusli, Kamdi dan beberapa anak mereka hanya saling berpandangan melihat hal tersebut. Tak lama si Parno membawakan kain tersebut, dan setelah diberikan pada Mbah Roso, langsung anak domba yang masih lemah itu digendong dan diperlakukan sebagaimana bayi manusia.

“Apa nggak salah yang Romo lakukan ini?” tanya Rusli

Mbah Roso hanya diam sambil menggendong anak domba tadi.

“Romo…kenapa diam?” Rusli seolah tidak terima.

Sambil membersihkan sisa penyembelihan, Mbah Roso menoleh ke arah anak cucunya yang berkumpul di depan kandang domba. Suara mengembik kadang terdengar dari dalamnya. Domba kecil digendongan Mbah Rosopun mengembik dengan suara lemah.

“Induk domba ini sakit, kalau dibiarkan nanti dia akan menderita.” Jawab Mbah Roso memecah kesunyian.

“Sakit apa Mbah? Ani kan biasa ngasih makan dia, makannya lahap banget kok.” Kata Ani, cucu Mbah Roso yang berusia 12 tahun setelah beberapa saat lamanya diam.

Mbah Roso hanya menatap tajam pada Ani. Tatapan yang membuat Ani ciut nyalinya dan berlindung dibelakang Kamdi, bapaknya.

Kemudian…

“Aku akan beri nama domba kecil ini…Fatimah!” kata Mbah Roso

“APAA??? FATIMAH??” anak cucu Mbah Roso sangat kaget seiring dengan menggelegarnya guruh tiba-tiba. Malam kian mencekam di desa Rojokoyo. Tapi ini sangat mengejutkan, terutama bagi keluarga Mbah Roso.

“Romo sudah gila apa?” beberapa anaknya langsung berkomentar

“Kenapa harus diberi nama itu? Nama itu terlalu suci untuk diberikan pada hewan Romo.” Kata Kartini, menantu Mbah Roso yang sedari tadi hanya diam namun kemudian turut berbicara.

“Itu nama putri Kanjeng Nabi Romo, jangan dibuat mainan.” Lanjut Kartini lagi, namun Mbah Roso hanya diam saja mendengar kata-kata menantunya itu.

“Fatimah? Apa nanti nggak jadi tertawaan orang sekampung Mbah?” tanya Yuli, salah satu anak perempuan Kartini sambil ikut membuang sisa-sisa sembelihan.

“Romo sudah nggak waras!” tiba-tiba Rusli menukas karena sudah tak mampu menahan emosi demi melihat ayahnya bersikap seaneh itu.

Ditengah keributan anak cucunya itu, Mbah Roso hanya terdiam, dan langsung tanpa kata-kata membawa domba yang telah diberinya nama Fatimah itu ke dalam rumah.

“Fatimah, kamu kelihatan lemah. Maafkan Romo ya, indukmu Romo sembelih karena sudah terlalu sakit untuk menjagamu.” Bisik Mbah Roso yang kemudian meletakkan ‘Fatimah’ diatas tumpukan kain usang yang disusun seperti sarang. Disitulah Fatimah ditidurkan dan diberi susu seadanya. Mbah Roso memperlakukan Fatimah sebagaimana anak manusia pada umumnya.

“Apa Romo sudah nggak waras ya Yu, kenapa kok domba kecil itu dikasih nama Fatimah, kepriye iku?” kata Kartini pada iparnya Sri saat memasak untuk sarapan sekeluarga, kebetulan semua anak-anak Mbah Roso tinggal dirumah besar yang sudah berusia puluhan tahun tersebut.

Embuh Yu, aku sendiri ya nggak habis pikir kenapa kok Romo bisa kayak begitu.” Jawab Sri sembari merajang bawang merah.

“Aku pikir apa pantes kok nama sebagus itu dikasih pada seekor domba, coba dipikir deh Yu.” Lanjut Kartini yang saat itu sedang memasak sayur lodeh.

Sri hanya diam dan menaikkan kedua bahunya, kemudian dian melanjutkan merajang bawang merahnya sambil sesekali menyeka airmata karena kepedasan.

Sementara itu, Mbah Roso memperlakukan Fatimah sebagaimana anak manusia pada umumnya. Setiap hari diberi susu, dibersihkan dan diberikan tempat disatu sudut dirumahnya. Kemanapun Mbah Roso pergi, Fatimah selalu mengikutinya. Ke sawah, menggembala domba ataupun ke pasar, Fatimah dipastikan membuntutinya meskipun dari jarak yang agak jauh.

Apabila Mbah Roso memanggil

“Fatimah”

Selalu akan disahuti dengan suara “Mbeek”

Akan tetapi, Mbah Roso seolah lupa karena di kampungnya ada beberapa orang yang namanya sama-sama Fatimah.

“Fatimaaah” teriak Mbah Roso,

Kebetulan ada Fatimah Rekso yang sedang berjalan pulang dari pasar melintas.

Dhalem Mbah.” Sahut Fatimah Rekso sambil berlari kecil ke sumber suara. Sesampainya di sumber suara, Fatimah Rekso malah merasa keki. Karena ternyata yang menghampiri bukan cuma dia, melainkan domba kecil yang berlari-lari langsung menuju Mbah Roso. Fatimah Rekso dengan muka memerah langsung berbalik badan dengan mengomel dihati.

Dua hari kemudian juga sama, ketika Mbah Roso menanyakan perihal Fatimah pada Pak Mardi.

“Pak, tadi lihat Fatimah ora?” tanya Mbah Roso

“Tadi saya lihat Fatimah sedang menjemur pakaian disana”, sambil menunjuk seorang ibu-ibu yang sedang membentangkan sprei di ujung jalan.

Mbah Roso hanya menggeleng. “Bukan Fatimah yang itu, Pak.”

“Lantas Fatimah yang mana?” Pak Mardi kian bingung.

“Fatimaaaahh!!!” panggil Mbah Roso setengah berteriak

Fatimah yang tengah asyik menjemur pakaian itu seketika menoleh, namun bersamaan terdengar suara mengembik dari belakang rumah Pak Mardi.

“Ya Ampun Fatimaah…kamu kemana saja? Dari tadi Mbah mencari-cari kamu.” Kata Mbah Roso saat Fatimah berlari-lari menuju dirinya, karuan saja Pak Mardi dan ibu-ibu yang mendengar tadi langsung merah padam mukanya. Karena ibu yang tadi juga bernama Fatimah.

5 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s