(Opini) : Membagi Solidaritas, Membelah Solidaritas


Saat ini kita telah menjelang separuh bulan Ramadhan, dimana kita harus menahan diri untuk makan, minum , bergosip dan amarah serta memperbanyak amal ibadah. Namun di saat yang sama, kita juga telah menyelesaikan salah satu hajatan besar yang akan menentukan nasib bangsa ini ke tahap berikutnya, yakni pemilihan presiden. Perang fitnah, caci maki alias baku hujat semenjak kampanye hingga jelang pencoblosanpun sangat mendominasi mulai dari alam nyata hingga dunia maya yang menurut saya semakin mengerikan. Di media sosialpun perang itu sangat kencang, hingga sayapun harus melakukan unfollow terhadap posting teman-teman yang bersifat provokatif dan menyudutkan. Bahkan banyak teman yang meng-unfriend satu sama lain hanya karena memiliki pandangan yang berbeda.

Setelah pemilupun, kedua belah pihak saling mengklaim kemenangan. Bahkan banyak dagelan yang saya saksikan, dari hasil hitung cepat yang berbeda versi dari lembaga survei-lembaga survei yang entah kredibel atau abal-abal. Tak perlu saya sebutkan, karena pasti masyarakat Indonesia sudah tahu dagelan tersebut. Saya termasuk yang golputer, alias golput karena terpaksa, namun apapun hasilnya saya tetap doakan semoga presiden yang didapat ini merupakan anugerah dari Tuhan, apa tidak capek dengan kondisi yang begini-begini terus?

Maaf kalau kepanjangan point pertama, sekarang saya lanjutkan ke point kedua, yakni tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung di Gaza, Palestina. Saya menyaksikan baik di jejaring sosial maupun media massa semua sedang seru-serunya menayangkan detik-detik penembakan rudal Israel ke Gaza, dan begitu juga sebaliknya. Ada yang siaran langsung, ada juga yang relay dari stasiun televisi lainnya. Foto-foto korban Gaza dari yang asli sampai yang rekayasa bergentayangan di jejaring sosial. Padahal terus terang, saya sangat jengah ketika banyak yang share foto-foto dan berita yang belum jelas juntrungannya itu. Hingga saya mengungkapkan rasa jengah saya di status saya sendiri di facebook dalam banyak kesempatan.

Aksi solidaritas di Bundaran HI yang dihadiri capres Prabowo, maupun yang di Tugu Proklamasi oleh simpatisan capres Jokowi serta aksi penggalangan dana plus pengiriman relawan ke Gaza sudah cukup menggambarkan betapa pedulinya bangsa kita terhadap tragedi yang dihadapi bangsa Palestina, khususnya yang di Jalur Gaza. Dari masa ke masa, konflik antara Palestina dan Israel terus berkesinambungan bagaikan lingkaran setan yang seolah tak ada habisnya. Semenjak berdirinya Israel sampai terbaginya Palestina. Share tentang Gaza juga bagus untuk mengguggah rasa solidaritas, namun kita sangat sering melebih-lebihkannya hingga harus membagi foto-foto yang diklaim dari Gaza, namun banyak yang diantaranya palsu atau direkayasa dari foto seperti tragedi di Suriah.

Solidaritas, solidaritas dan solidaritas. Sebagai sesama Muslim, pasti kita akan marah dan sakit bila salah satu saudaranya tersakiti. Namun demikian, setelah sekian lama dan mungkin seiring usia, saya kian realistis karena konflik Israel-Palestina ini bukan konflik antar agama, namun lebih pada faktor politik dan kemanusiaan dimana banyak pihak asing bermain dipihaknya. Sementara kita sibuk berteriak-teriak solidaritas Palestina, kita lupa dengan realita yang ada justru tidak jauh dari kita sendiri…bangsa sendiri!

Bangsa Indonesia sedang dalam ambang transisi dari presiden satu ke presiden lainnya. Bangsa ini juga sedang terpecah karena pilihan yang berbeda dan celakanya saling menjatuhkan dan memfitnah. Itu sangat berbahaya bagi bangsa yang masih berusia jelang 69 tahun ini. Anak bangsa kita di kawasan-kawasan terpencil, perbatasan bahkan tetangga kita sendiri masih sangat membutuhkan bantuan kita sebagai sesama anak bangsa. Mental hipokrit, koruptif, manipulatif, nepotis, oportunis dan lain sebagainya terlalu mengurat dan mengakar, ditambah sentimen-sentimen bernuansa SARA masih menjerat negeri berpenduduk hampir seperempat milyar ini. Intoleransi terhadap keberagaman bahkan dalam satu agama saja masih menjadi makanan empuk bagi pihak-pihak yang ingin memecah belah negeri ini. Itu ancaman yang harus kita perhatikan selain bersolidaritas dengan bangsa Palestina maupun peran membantu mereka.

Saya bukan menggembosi atau anti terhadap solidaritas anda. Solidaritas anda sangat bagus, karena menunjukkan kepedulian besar. Namun yang perlu dilihat adalah, ketika anda mencaci maki Israel, otomatis anda juga mencaci maki dan menghujat Muslim yang menjadi warga negara Israel juga. Saya hanya mengingatkan, karena di dalam Israel sendiripun banyak yang anti dengan pemerintahannya, termasuk Yahudinya sendiri. Anda juga harus berhitung berapa banyak cendekiawan Yahudi yang justru menolak Israel. Hanya kalah dengan media yang lebih pro.

Solidaritas ini harus kita bagi dan belah menjadi beberapa bagian. Satu bagian untuk bangsa Palestina dan bangsa-bangsa yang tertindas atas nama kemanusiaan, sedang satu lagi dan ini yang terpenting adalah solidaritas dengan bangsa sendiri yang masih membutuhkan uluran tangan dan penanganan kita. Penjajahan bangsa sendiri lebih menyakitkan daripada dijajah bangsa lain, karena kita tergerogoti dari dalam. Kemerdekaan hakiki itu yang masih harus kita capai. Letakkan satu solidaritas pada mereka, dan pada saat bersamaan letakkan solidaritas kita pada bangsa ini.

Betapa indah bila kita mampu mengatasi persoalan bangsa ini, meskipun harus tertatih-tatih. Mental jajahan ini harus segera kita kikis sebagaimana revolusi mental yang digaungkan oleh Jokowi selaku capres nomor dua. Revolusi yang selalu dikait-kaitkan oleh pihak lain sebagai komunis hingga beliau dituduh PKI. Perubahan pola pikir dari diri kita sendiri itulah yang terpenting, dan diwariskan kepada anak-anak bangsa yang sedang kritis. Mari kita cintai tanah air kita dulu, karena cinta tanah air juga sebagian dari iman, dan ketika bangsa kita makin menguat, maka kita akan mampu memberi pengaruh besar kepada bangsa lain dan suara kita akan lebih tergaung dan didengarkan oleh dunia.

Ingat, perbaiki internal kita dulu. Baru perbaiki eksternal kita. Jangan terbalik.

Solidaritas ini harus dibagi, di satu sisi kita solider dengan nasib Palestina tanpa pandang agama karena Palestina tidak hanya dihuni Muslim, namun juga pada bangsa sendiri, tetangga sendiri yang membutuhkan kita.

Ini hanya sekadar opini saya, terinspirasi dari kejengahan saya akan kondisi yang terjadi baik di media massa, kenyataan maupun media sosial saat ini.

 

Save Indonesia!
Save Palestine!
Peace Palestine and Israel!
Peace for The World!

4 Comments Add yours

  1. Yang kita musuhi adalah Zionist Israhell. Semoga bangsa Palestina meraih kemerdekaannya. aamiin.

    Sekalian juga lewat halaman ini saya ingin mengucapkan: Taqabbalallahu Minna wa Minkum, Mohon Maaf Lahir Batin ya, mas.
    Selamat merayakan lebaran bersama keluarga.

    1. Sama-sama Mas…lama gak nongol.
      Salah-salah kata maafin saya
      Salah-salah maaf katain saya

      1. Siip.. sama-sama, mas.
        Saya lagi mudik di Surabaya & Yogyakarta saat ini.
        Lumayan lama, makanya gak ngeblog apalagi blogwalking 🙂

      2. Aku lagi di Malang saat ini. Sabtu sudah balik Tangerang lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s