(Aku dan Indonesia) : Ika Bangsa, Bhinneka Bahasa


DSC06904Tiga hari lalu saat saya sedang berada dalam bis jurusan Purwokerto-Tasikmalaya, ketika masih berangkat dari Purwokerto hingga Karangpucung, Cilacap saya masih mendengar bahasa Jawa Banyumasan ramai dipertuturkan dalam bis. Sebentuk dialek Jawa yang khas ini menjadi asosiasi khas bagi warga asal Karesidenan Banyumas itu. Namun kemudian ketika memasuki Karangpucung arah Cimanggu, sedikit demi sedikit mulai naik penumpang yang menggunakan bahasa Sunda, sehingga bis itupun terdengarlah tiga bahasa. Jawa Banyumasan, Sunda dan Indonesia. Bahkan seorang ibu yang duduk di belakang sayapun ketika bertelepon menggunakan bahasa Sunda, namun ketika berbicara dengan anaknya justru dengan bahasa Banyumasan dengan aksen Sunda.

Hal ini hanya contoh kecil dari betapa beragamnya bahasa yang dipertuturkan oleh bangsa kita.DSC06893

Bahkan saat saya berbelanja di Pasar Kelapa Dua, Tangerangpun, suasana multibahasa sangat terasa. Di satu sudut, bahasa Sunda ramai diperbincangkan, penjual telur kadang berbahasa Minang, sudut pasar lainnya bahasa Jawa terdengar, kadang juga terselip percakapan bahasa Batak, Aceh hingga Betawi. Kalau saya sendiri lebih menggunakan bahasa Indonesia atau kadang Jawa, tergantung siapa yang sedang saya hadapi.

Di situasi lainnya, ketika saya berjalan-jalan ke berbagai kota di Pulau Jawa, saya menemukan banyak spanduk atau keterangan yang ditulis dalam bahasa atau dialek setempat, dan beberapa daerah di Indonesia juga menggunakan tulisan selain Latin untuk nama jalannya, seperti yang saya temukan di Bogor, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Solo hingga Malang. Demikian juga beberapa wilayah Indonesia lainnyapun menggunakan aksara lain seperti aksara Arab Melayu di Aceh dan Riau, aksara Lampung, Makassar ataupun aksara Bali. Sangat beragam dan kaya sekali kita.OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jika diibaratkan dalam satu rumah, Indonesia ini wadah bagi berbagai macam warna lidah. Bukan karena kebanyakan makan lidah sehingga bahasanya beragam (seperti yang pernah saya baca dalam kutipan komik Asterix di Belgia), namun secara alamiah bangsa kita ini sangat kaya dengan kebahasaan. Jujur apa yang akan terjadi bila kita tinggal di sebuah negeri yang sangat homogen dalam kebahasaan, dimana bahasa yang dituturkan dari ujung ke ujung sama semuanya? Tentunya hal tersebut bagi saya pribadi sangat membosankan dan tidak ada kejutan-kejutan budaya yang menarik.

Berapa jumlah bahasa yang dituturkan di Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini? Ada sumber yang menyebutkan sekitar 500an bahasa, namun menurut penelitian Pusat Bahasa Depdiknas tahun 2008, Indonesia memiliki lebih dari 746 bahasa yang terserak di 17.508 pulau (saya tidak tahu pasti apakah bahasa-bahasa Cina seperti Hokkien, Hakka dan Teochew juga termasuk), dan itupun belum semua dapat dipetakan karena kendala geografis. Itupun belum semua bahasa khususnya di Indonesia Timur (utamanya lagi Papua dan Maluku) dapat dipetakan, karena disamping kondisi geografis, jumlah penuturnyapun sangat sedikit, bahkan ada yang tinggal beberapa orang dan terancam kepunahan.

Ketika kita berpindah ke suatu wilayah di negeri ini, hal yang paling kentara pertama kali adalah bahasa. Hampir setiap anak negeri sudah barang tentu dapat berbahasa Indonesia dengan tingkatan bervariasi, dari yang pasif hingga yang menjadi penutur aslinya (yang diperkirakan mencapai 18-20% penduduk Indonesia), tetapi jika kita dapat menguasai sebagian kecil bahasa yang kita datangi, semisal untuk menawar harga, menanyakan jalan atau sekedar mengucap salam dan terima kasih, tentu akan ada kejutan serta respons yang luar biasa dari penduduk setempat.

Saya sangat bangga dengan negeri saya, Indonesia khususnya dari segi kebahasaan. Seharusnyapun demikian, karena negeri kita termasuk negara paling ramai bahasanya di dunia selain Papua Nugini dan India. Dari yang penuturnya paling besar seperti bahasa Jawa, Sunda, Melayu, Madura, Bali, Banjar sampai bahasa-bahasa di Papua yang jumlah penuturnya hanya belasan bahkan hanya satu orang. Bahkan dalam satu bahasanya sendiripun berbeda-beda dialek yang kadang hanya dipisah sungai saja sudah berbeda dialek dan bahasa.Wow, Amazing Indonesia!

Kebhinnekaan bahasa di Indonesia ini seyogyanya menjadi aset yang dapat memperkaya perbendaharaan bahasa Indonesia, selaku bahasa persatuan antar suku dan ras. Banyak kosakata indah dari bahasa-bahasa daerah yang bisa dipadu padankan dengan bahasa Indonesia sendiri. Bahkan bahasa Indonesia dengan aksen kedaerahanpun tidak seharusnya jadi bahan tertawaan, sebagaimana orang berlogat Jawa, Batak, Madura dan lain-lain yang sangat ketara, itulah kekayaan negeri yang sangat saya banggakan pada bangsa-bangsa lain di dunia. Kekayaan bahasa yang belum tentu ada di negara lainnya.DSC05095

Namun yang jadi keprihatinan saya saat ini adalah, bahasa-bahasa daerah yang unik tersebut mulai tergerus oleh dominasi bahasa persatuan. Diperkirakan ada 50 bahasa daerah yang terancam menuju ajal dikarenakan beberapa hal, seperti ketidakpercayaan diri dengan bahasanya sendiri dan kian sedikitnya penutur karena beralih ke bahasa lainnya khususnya bahasa Indonesia. Memang faktor pendidikanpun menjadi hal utama makin berkurangnya penutur suatu bahasa daerah, akan tetapi dengan muatan lokal yang lebih menekankan pada pengetahuan berbahasa daerah setidaknya akan memperlambat atau bahkan mencegah proses kepunahan bahasa tersebut.

Sekali lagi, tentunya akan sangat membanggakan bagi kita karena Indonesia sangat kaya dengan bahasa. Bahasa adalah cikal bakal semua ilmu, dan dengan bahasalah identitas budaya kita akan terlihat di mata orang lain. Bukan hanya sekadar bangga, namun juga mencari jalan bagaimana dapat melestarikan bahasa yang kita miliki, karena pepatah bijak berkata : Bahasa adalah cermin bangsa. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang dapat menjaga kelestarian bahasanya.

 

Bangga jadi bangsa Indonesia, bangga berbahasa Indonesia, bangga juga berbahasa daerah. Mari jaga bahasa kita bersama

 

 Bambang Priantono

 

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Aku dan Indonesia

 

Advertisements

15 Comments Add yours

  1. ysalma says:

    Mari, tapi generasi sesudah saya seharusnya bisa menguasai 2 bahasa daerah, sayangnya lingkungan diluar rumah tak mendukung. Kalau bhs emaknya dia ngeri artinya dikit2, bhs bapaknya msh kurang. Perlu digalakkan lg nih cinta bahasa Indonesia tp tak boleh lupa bhs daerah.

    1. Bener sekali, hanya disamping faktor gengsi, bisa juga karena pernikahan antarsuku yg mana akhirnya BI yg menjadi kompromi.

      Tetap lestarikan bahasa daerah sebagai penguat bahasa Indonesia.

  2. ayooo !!! hidup Indonesia!!! Untuk menjaga bahasa daerah kita, tentunya harus dimulai dari diri kita sendiri.
    Like deh artikelnya!

    1. Terima kasih banyak…cuma artikel yg seadanya kok.

      Tetap semangat!!!!

  3. Pakde Cholik says:

    Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan :Aku Dan Indonesia di BlogCamp
    Dicatat sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    1. Matur nuwun Pakde Cholik…

      Saya dulu juga pernah tinggal di Surabaya.

  4. Adi Pradana says:

    Like this yooo…. Jangan lupakan bahasa daerah, tapi tetap menjunjung tinggi bahasa Indonesia.

  5. f.nugroho says:

    sayangnya bahasa daerah semakin ditinggalkan. anak-anak balita sudah diajarkan bahasa indonesia daripada bahasa daerah (khususnya bahasa jawa karena saya tinggal di jogja). mengajarkan bahasa daerah sejak dini justru membentuk karakter anak. saya sepakat jika anak-anak diajarkan bahasa daerah sejak dini bahkan kalau perlu ada “kursus” bahasa daerah selama pra sekolah. 😀

    1. Hehehehe..saya malah setuju banget kalau ada kursus bahasa daerah nih. Jadi lucu kayaknya…seru.
      Bahasa itu sendiri juga menjadi penciri budaya kita, maka ayo dipertahankan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s