(Kisah Rabu) : Cerita Si Kelingking Putih


ImageKali ini saya akan posting dalam bahasa Indonesia. Sesekali tidak mengapa bukan? Saya hanya ingin cerita saja tentang apa yang saya alami hari ini. Demi mendengar kabar kalau kita bisa mencoblos dimana saja hanya dengan tunjuk KTP, sayapun dengan semangatnya mempersiapkan diri untuk esok hari. Sayapun sempat menelepon rumah untuk menanyakan apakah undangannya sudah sampai? Kata ibu, undangan sudah datang siangnya (8 April 2014). Besoknya, sekitar pukul 6.30 WIB, saya sudah bersiap untuk pergi ke TPS terdekat (di Pendopo Islamic Village) dan sesampainya disana saya menanyakan begini.

Saya : “Pak, kalau mau urus Daftar Pemilih Tambahan dimana?”
Petugas : “Bapak KTPnya mana?”
Saya : “Malang.”
Petugas : “Apa bawa surat A5?”
Saya : *Mendadak gagal paham* “Emm…surat apa Pak?”
Petugas : “Surat keterangan pemilih tetap di daerah asal.”
Saya :” Katanya bisa Pak langsung.”
Petugas : “Tapi harus bawa surat keterangan dari daerah asal, Pak.”
Saya : (mulai bete) “Lantas harus bagaimana?”
Petugas : “Lebih baik Bapak ke Kelurahan dulu untuk tanyakan soal itu. Kalau boleh, nanti balik kesini saja.”
Saya : “Baik kalau begitu.”

Saya kemudian pergi ke Kelurahan Kelapa Dua untuk menanyakan soal tersebut. Informasinya saya rasa sangat terlambat dan sosialisasinya sangat kurang bergaung. Informasinya hanya dengan tunjuk KTP, KK atau paspor sudah bisa didaftarkan. Ketika sampai di Kelurahan Kelapa Dua, ternyata yang saya dapat juga membuat galau. Intinya saya tidak bisa memilih di tempat saya tinggal saya karena faktor KTP, dan seharusnya sudah jauh-jauh hari mengurusnya. Lha, mau ngurus bagaimana kalau tidak pernah sempat? Apalagi kalau urus C5 atau A5 (apa benda itu?), pastinya akan memakan waktu dan tenaga.

Saya sempat kesal dengan semua itu, sampai akhirnya ngobrol panjang lebar dengan petugas yang ada disana. Yang berarti sudah disimpulkan kalau saya masuk golongan kelingking putih, alias GOKIL alias Golongan Kehilangan hak pILih (terima kasih buat yang memberitahu istilah ini). Sekitar jam 7.20 atau 7.30 WIB saya meninggalkan kantor Kelurahan Kelapa Dua yang sedikit sepi itu untuk kembali ke TPS kawasan Islamic Village. Meski dongkolpun, saya putuskan untuk tetap mengikuti proses pencoblosan kendati hanya sebagai penonton. Saya ketemu dengan petugas yang saya tanya disana.

Petugas : “Gimana Pak?”
Saya : “Gak papa, saya jadi penonton saja.”
Sambil senyum manis meski sebenarnya tetap menggerutu.

Proses pemilihan di TPS-TPS Islamic Villagepun saya ikuti dengan seksama meski tidak semuanya. Satu demi satu warga berdatangan dengan antusias untuk menentukan pilihannya dan meski hari semakin siang, malah makin banyak yang berdatangan. Sebagai ‘obat’ kecewa, saya malah siapkan kamera untuk memotret siapa saja yang keluar dari bilik TPS. Hampir ke setiap orang saya bilang.
“Permisi, bisa minta tolong tunjukin kelingkingnya?”
Merekapun dengan antusias menunjukkan kelingkingnya yang sudah dicelup tinta ungu, pertanda sudah menentukan pilihannya. Saya terus lakukan demikian hingga jam 9.00 WIB ketika matahari semakin menyengat panasnya. Setelah dari TPS Islamic Village, sayapun lanjutkan ke kawasan Perumahan wilayah Jalan Palem Puan, yang berada tak jauh dari BPK Penabur Gading Serpong. Antusiasme warga perumahan disitu ternyata sangat tinggi. Bahkan ada diantaranya yang sudah berdatangan sebelum petugas TPS membuka lapaknya. Sayapun melakukan hal yang sama, memotret mereka yang sudah selesai mencoblos dengan menunjukkan jari kelingking yang sudah tercelup tinta.

Miris memang, karena saya sendiri masih berkelingking putih (coklat karena kulit yang gosong) alias tidak memilih. Yah, memang saya kecewa karena sistemnya masih perlu disempurnakan lagi. Animo pemilih memang meningkat, tapi tetap saja ada yang kecewa karena soal printilan seperti masalah domisili, pengurusan yang masih berbelit dan mungkin kalau saya pikir, alangkah lebih baik jika sistem pemilihan menggunakan juga sistem online voting. Jadi bagi warga yang tidak sempat ke TPS dan kebetulan punya jaringan internet masih bisa mengakses dan mencoblos secara maya. Tapi pastinya tak ada sistem yang sempurna, karena sistem onlinepun ada kelemahannya, yakni diobrak-abrik oleh pihak-pihak usil. Serta belum banyaknya petugas yang melek IT di negeri ini (tabok kalau salah..hahaha).

Kabar yang saya dengar memang benar adanya. Starbucks menyediakan kopi gratis bagi siapa saja yang bisa menunjukkan kalau dia sudah mencoblos dengan kelingking atau jari lainnya yang bernoda tinta. Ketika saya lihat di Starbucks Alam Sutra, terlihat antrian mengular untuk yang ingin mendapatkan kopi gratis. Sayangnya saya tidak memotret karena hukum larangan memotret di dalam mall tanpa ijin. Tapi setidaknya saya berpuas hati dengan bisa mengabadikan momen bersejarah lima tahunan ini. Golput karena keadaan dan sistem yang belum benar-benar sempurna, dan saya tidak sendirian juga, karena banyak yang tidak memilih (baik karena keadaan ataupun malas ke TPS meski pegang surat undangan).

Saya cuma berharap kalau lima tahun lagi, sistem pemilu negara ini mengalami perubahan lebih berarti. Saya anggap pemilu kali ini adalah akhir dari Reformasi yang sudah hampir 16 tahun berjalan dan rasanya masih jalan ditempat. Demokrasi secara umum sudah lebih baik, tetapi penerjemahan kita yang salah mengakibatkan demokrasi diartikan sebagai tindakan semaunya, main hakim sendiri, main klaim atau ngelunjak secara politis. Gesekan demi gesekan antar warga saya rasa sangat terasa selama 16 tahun terakhir ini, khususnya gesekan sektarian yang justru akan mengancam keutuhan negara ini. Apakah NKRI tetap ada atau tidak itu kembali berpulang pada kita sebagai anak bangsa. Memilihpun jangan bak memilih kucing dalam karung, karena golput/ kelingking putih (yang katanya harom) itupun banyak sebabnya. Namun sebab terbesar adalah kemuakan masyarakat akan sosok wakil rakyat yang hanya mengumbar angin surga saat kampanye, namun kemudian malah mengingkari janjinya setelah terpilih.

Apapun hasilnya, semoga saja pemilu kali ini membawa yang terbaik bagi bangsa dan negara ini. Meskipun masuk kelompok kelingking putih, toh saya masih ingin ikut pemilihan berikutnya. Hanya saja, sosialisasinya jangan kelewat dekat dengan hari H, khususnya bagi warga perantauan sehingga tak perlu minta KPU daerah asal untuk kirim faksimili segala macam. Sistem E-vote sudah saatnya kian dimasyarakatkan, agar tidak repot serta lebih cepat diketahui hasilnya.

Salam Pemilu dari si Kelingking Putih.

 

Salam

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Okti says:

    Amin, semoga siapa pun yang terpilih nanti dapat mengemban amanahnya dengan baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s