(Cerita Kilat) : Hampir 10 Tahun


Peringatan : ini hanya sekedar fiksi, jika ada yang sama..itu hanya suatu kebetulan. Saya belum pernah ke Aceh, tapi suatu saat nanti pasti akan kesana. Maaf jika penggambarannya kurang tepat. Terima kasih.

Hampir 10 tahun aku tak menapakkan kakiku di Lapangan ini.
Semuanya tidak banyak berubah, bahkan Masjid Baiturrahman pun tetap kokoh berdiri seakan menantang kuasa alam. Yang terbukti dengan kuatnya dia menahan terjangan gelombang dahsyat yang merenggut ratusan ribu nyawa dan meluluhlantakkan semua yang dia lewati.
Tiba-tiba aku teringat dengan sosok bermata kebiruan, hidung mancung dan terselubung hijab yang sering melantunkan sari tilawah setiap saat aku datang ke kampungnya di Lamno. Dia hanya minta dipanggil Izah. Aku tak tahu banyak nama sebenarnya. Itu dia lakukan karena dia tak ingin identitas sebenarnya diketahui.
“Aku ikut pasukan Inong Balee karena keluargaku terbunuh tentera, dan aku lakukan ini untuk balas dendam.” Ujar Izah seraya menyuguhkan kopi Aceh yang pekat, sepekat malam yang mencekam di kampungmu selepas ramainya meuseukee eungkot.
“Lantas, mengapa kau putuskan untuk kembali?” tanyaku.
“Aku hanya ingin ketenangan. Lon kahe….pertumpahan darah ini sudah terlalu lama. Namun aku harus menggadai jatidiriku yang asli.” Izah hanya menerawang, seraya mengenang keluarganya yang terkorbankan selama DOM.
Aku belum lama mengenalnya. Bertemupun ketika aku bertugas menangangi para korban konflik di Seuramoe Mekkah ini. Dia sangat bersemangat meski awan menggayut di sorot matanya. Semakin lama aku semakin ingin mengenalnya lebih dalam. Perjuangannya tatkala masih di dalam hutan, hingga keahliannya memainkan senjata membuatku kian kagum dan terperangkap dalam pesonanya.
Dia selalu berkata “Lon kahe…lon kahe” dalam setiap nafasnya, lelah dengan semua konflik yang membakar di tanah kelahirannya.

Hampir 10 tahun lalu….
Saat aku dan dia bersama di Lapangan Blang Padang. Saat itulah aku terakhir kali melihatnya. Gempa dahsyat itu menghunjam dan kemudian gelombang raksasa itu datang dengan begitu cepat. Aku berusaha berlari bersama Izah, namun ombak menyapu kami. Didalam derasnya gelombang, aku merasakan tangan Izah perlahan melemah dan sekejap aku melihat dia tersenyum seolah mengucapkan selamat tinggal. Sebuah batang kayu tiba-tiba memisahkan kami…..Izah menghilang, masih hidup, ataukah bersama keluarganya kini disana…Allah Yang Maha Tahu.

Kini….Setelah hampir 10 tahun..
Aku hanya berdiri terpekur di Lapangan Blang Padang. Mengenang saat perpisahan dengan Izah. Gelombang besar itu meretaskan semua cita bersamanya, namun memberiku kekuatan untuk bangkit kembali….membangun nanggroe lon sayang. Sore makin menggayut, dan tanpa sadar airmataku bergulir. Ketika aku hendak berbalik arah, ada suara lembut yang memanggilku di belakang.
“Bang Hazril…”

Tangerang, 13 Maret 2014

2 Komentar

Filed under Bahasa, fiksi, flash fiction, Sastra

2 responses to “(Cerita Kilat) : Hampir 10 Tahun

  1. Teringat jaman Multiply dulu, sampeyan yo sering nulis cakil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s