(Renungan Hari Pahlawan) : Mari Rayakan Dengan Menghapus Warisan Buruk Kolonial.


Selamat hari pahlawan bagi seluruh bangsa Indonesia.

Setiap 10 November, momen ini selalu menjadi peringatan bagi kita semua selaku bangsa Indonesia. Tatkala arek-arek Suroboyo dengan gigihnya mempertahankan kemerdekaan dari serangan pasukan sekutu beserta NICA yang mendompleng demi kembali berkuasa di bumi Indonesia, dan ribuan nyawa menjadi syahid untuk menjadikan Indonesia seperti sekarang ini. Mengheningkan cipta selama enam puluh detik, kunjungan ke makam pahlawan, upacara peringatan, terlebih di Surabaya tentu sudah menjadi agenda tahunan yang teramat penting. Kendati bukan hari libur nasional, namun setidaknya kita sebagai anak bangsa tetap patut memperingatinya.

Ketika saya masih kecil, saya selalu diceritakan tentang dahsyatnya perjuangan kemerdekaan di masa lalu oleh Eyang saya. Beliau menceritakan ketika salah satu eyang putri (nenek) saya membawa bakul. Di lapisan atas adalah hasil bumi, sedang lapisan bawahnya adalah senjata. Beliau dulu menyusupkan senjata ke para pejuang dan turut membantu di barisan depan. Kemudian kala saya masih SD, setiap tahun selalu ada sosio drama yang menggambarkan suasana Insiden Bendera di Hotel Yamato. Kuduk saya serasa merinding dan sangat terharu dengan aksi itu. Itulah yang membekas dalam diri saya hingga sekarang.

Kepahlawanan itu maknanya sangat luas. Terlebih kini ketika bambu runcing tak lagi diacungkan, ketika kini teriakan merdeka tak lagi terpekik dari mulut generasi penerus. Kepahlawanan kini bukan sekedar angkat senjata, karena kini sudah bisa dilakukan dengan angkat tuts komputer, menuliskan artikel-artikel yang mencerahkan serta mengobarkan semangat nasionalisme yang rasional (bukan nasionalisme sempit yang selama ini ternyata membelenggu diri kita). Pahlawan bagi saya adalah orang-orang yang berdedikasi tinggi di bidangnya, tak peduli dengan apa yang dia dapat karena yang dia pikirkan adalah : apa yang bisa saya berikan bagi bangsa dan negara ini? Apa yang bisa saya sumbangsihkan untuk kemajuan negara ini? dan apa yang dapat saya upayakan demi menghapus semua stigma-stigma buruk yang selama ini menjerat bangsa ini sehingga tidak maju-maju. Mungkin terdengar muluk, namun saya percaya sangat banyak orang-orang kita yang berpikiran sedemikian. Kendatipun mereka merupakan ‘silent majority’ karena tertutup oleh koar-koar segelintir anak negeri yang justru tak bangga dengan negaranya dan berita-berita di pelbagai media yang semakin hari semakin menyesakkan dada.

Salah satu yang menjadi kendala bagi bangsa kita adalah masalah persatuan. Mungkin hal ini seharusnya dibahas ketika memperingati Sumpah Pemuda, namun persoalan ini sangat penting. Perlu diperhatikan bahwa dalam kurun lebih dari sedasawarsa terakhir pergesekan antar kelompok di negeri ini semakin meningkat. Mulai dari persoalan sentimen rasial yang merupakan warisan kolonial yang berdampak pada terkotaknya kita antara pribumi dan non pribumi, sampai dengan persoalan sektarian yang menyemarakkan pemberitaan kita. Di masa penjajahan dulu, kita dikelompokkan berdasar asal usul dan ras kita. Yang tertinggi adalah orang Eropa, kemudian disusul orang asing lain seperti Cina dan Arab, kemudian pribumi baru ditempatkan dalam posisi terakhir. Hal ini dilakukan agar kita semakin terpecah belah, karena penjajah tak ingin antara kita pribumi dengan keturunan Cina dan Arab bersatu yang akibatnya akan merugikan kepentingan mereka.

Bekasnya masih sulit untuk dihilangkan, terlebih kondisi ini diperparah dengan politik asimilasi yang menyebabkan etnis Tionghoa semakin dilematis posisinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Disatu sisi mereka berbeda, namun disisi lain mereka harus membaurkan diri dengan berbagai cara seperti mengganti nama atau dengan cara lainnya. Era pasca orde baru merupakan fase dimana kebebasan beridentitas mulai ditunjukkan. Seluruh anak bangsa posisinya kini makin bisa menunjukkan jatidirinya meskipun meluntur karena politik masa lalu. Pahlawan-pahlawan pembauran, pahlawan pejuang persamaan pejuang anti diskriminasi, dan ratusan bahkan ribuan pahlawan lainnya yang berjuang untuk menghapus warisan buruk kolonial juga sepatutnya dirayakan kepahlawanannya di hari bersejarah ini. Penghapusan warisan buruk kolonial seperti pengkotak-kotakan ini membutuhkan waktu serta daya upaya yang luar biasa dari seluruh elemen bangsa, bukan hanya petinggi yang harus melakukannya, namun juga sampai lapisan akar rumput yang seyogyanya disosialisasikan kembali.

Hari pahlawan, selayaknya dijadikan sebagai ajang penghargaan setinggi-tingginya bagi seluruh pahlawan, baik yang mengangkat senjata maupun yang kini berjuang mengisi kemerdekaan ini dengan membina anak bangsa, termasuk pahlawan yang berusaha menghapuskan warisan buruk penjajahan. Pahlawan selalu ada dihati sanubari setiap anak bangsa, maka dari itu hargailah dan warisilah semangat mereka. Jawa, Sunda, Banjar, Minang, Papua, Manado, Batak, Tionghoa, Arab dan lain sebagainya semuanya sama-sama memikul tanggungjawab sebagai warga negara. Kita semua adalah warga negara Indonesia yang berhak duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Segala bentuk diskriminasi yang menghantui selama ini sudah saatnya untuk diperjuangkan agar hilang dari negeri ini. Kita tidak perlu menjadi pahlawan, karena masyarakatlah yang akan menilai. Lakukan yang terbaik apapun bentuknya demi kegemilangan bangsa ini.

Pahlawan, semangatmu akan terus kami kobarkan.

 

Bambang Priantono
10 November 2013
18.53 WIB

 

Advertisements

12 Comments Add yours

  1. nurme says:

    Selamat Hari Pahlawan.
    Di Bandung pun tadi ramai kok menyambut hari Pahlawan. Wlau hanya di Car Free Day

    Saya mengadakan lomba, siapa tau berminat
    http://nurme.wordpress.com/2013/11/09/29/

      1. nurme says:

        silahkan cek 🙂

      2. nurme says:

        sama-sama Mas 🙂

  2. tapi pada akhirnya pribumi dan arab bisa bersatu… Sementara dengan cina belanda bisa melakukan devide et infera-nya kan yaa

    1. Karena sama2 Islamnya. Belanda sengaja menciptakan seperti itu, dan eksklusifitas mereka juga sebagai dampak devide et imperanya.

      1. benar… padahal sebelum penjajah masuk negara kita, pribumi dan cina kan hidup damai. Dan bahkan banyak penyebar islam yang sebenarnya cina kan ya…?

      2. Bener, Zheng He, kemudian para sunan juga. Jadi sebenarnya semua itu rekayasa sejarah.

  3. tinsyam says:

    selamat hari pahlawan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s