(Renungan Hari Merdeka) : Merdeka dari Informasi yang Memecahbelah


Syukur alhamdulillah kini bangsa Indonesia merayakan usia kemerdekaannya yang ke-68. Berbagai perayaan yang selama beberapa tidak ada karena selalu bertepatan dengan bulan Ramadhanpun kembali diselenggarakan, kendati masih belum semeriah tahun-tahun sebelumnya. Namun tentu rasa syukur itu dirasakan oleh seluruh elemen bangsa Indonesia yang majemuk dari segala sektor ini. Rasa syukur telah menikmati hasil jerih payah dan perjuangan para pendahulu kita, dimana semua ini sekali lagi patut dijadikan refleksi serta introspeksi diri bagi kita generasi penerus mereka.

Salah satu hakikat kemerdekaan diantaranya adalah kemerdekaan dalam menerima informasi. Di masa lalu, semua bentuk informasi diseleksi ketat dan disensor dengan penuh pengawasan, terlebih jika informasi itu dianggap membahayakan stabilitas rezim yang berkuasa. Tentu banyak dari kita yang masih ingat, tatkala di era Orde Baru, segala bentuk informasi tanpa persetujuan pemerintah akan dibredel atau dianggap subversif, dan penyebarnya akan segera di’jewer’ secara keras. Sehingga untuk memperoleh suatu informasipun harus melalui jalur bawah tanah alias rahasia.

Kemudian ketika kran ketertutupan informasi itu dibuka tahun 1998, beriring dengan jatuhnya rezim Orde Baru, semua berubah dengan begitu cepat. Teknologi yang berkembang pesat semakin mempermudah kita untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Jejaring sosial sebagai pengganti surat menyurat dan interaksi sosial secara instan menjadi pilihan paling cepat dalam menyampaikan kabar sampai gambar. Dan kesemua itu akan sampai pada penerima hanya dalam hitungan detik. Tanpa harus menunggu tukang pos datang dan gelisah seperti calon pengantin menanti dipanggil untuk keluar oleh penghulu. Facebook, Twitter, Instagram, Path, BBM hingga fitur-fitur chatting semakin canggih dan tak terasa membuat kita semakin tak berjarak bahkan dengan rekan di seberang lautan sekalipun. Semuanya menjadi mudah, dan kemerdekaan memperoleh informasi sangat dirasakan oleh bangsa ini, bahkan sebenarnya kalau saya jujur, jauh lebih bebas alias liberal dibanding negara-negara sebelah rumah sekalipun.

Sayangnya, kebebasan memperoleh informasi itu mengakibatkan banyak dari kita menjadi penyebar informasi yang menyesatkan. Banyak contoh yang bila diurai satu persatu akan menghabiskan halaman ini. Seperti tragedi Mesir atau Rohingya, ramai pengguna jejaring sosial yang dengan semangatnya menyebarkan ke rekan-rekannya, atas nama solidaritas. Namun sering terlupa adalah, tidak semua orang suka menerima informasi tersebut. Benar bila tujuan si penyebar baik, yakni mengabarkan tragedi kemanusiaan. Akan tetapi, apakah dia sudah melakukan cek dan ricek dulu sebelumnya. Karena terkadang sumber yang diambil acap kali bukan dari sumber yang terpercaya atau sebagaimana yang pernah saya ingat dari Alm. KH Zainuddin MZ, beliau berkata dalam satu seri khutbahnya, kalau kita titip uang..jangan harap lebih, kurang bisa. Tapi kalau titip omongan, jangan harap kurang, ngepas aja sudah cukup. Bisa-bisa lebih…nah itu sama dengan informasi baik lewat tulisan maupun foto-foto yang beredar.

Kemudian ada satu contoh lain, yakni menuduh seseorang sebagai penganut paham X. Tanpa pandang bulu, banyak netter Indonesia yang dengan mudah menyebarkannya ke jejaring sosial, sekali lagi tanpa diperiksa terlebih dahulu kebenarannya. Kemerdekaan menerima informasi kemudian menjadi kemerdekaan menyebarkan informasi yang diselewengkan menjadi menyebarkan informasi menyesatkan dan memecah belah. Terlebih sering kita lihat informasi-informasi berbau SARA, kebencian terhadap suatu kaum, fitnah kepada satu figur bertebaran dimana-mana, khususnya alam maya dan reaksi kita sering berlebihan, baik ikut-ikutan membenci ataupun menyebarkan langsung informasi itu. Sering kebencian yang merebak, menyebabkan banyak dari kita kehilangan akal sehat dan mudah sekali dihasut untuk melakukan tindakan-tindakan yang merugikan. Merugikan persaudaraan bahkan memecahbelah antar umat atau antar anak bangsa. Semuanya karena kemerdekaan menyebarkan informasi yang kebablasan dan tidak bertanggungjawab. Media konvensional sendiripun banyak berperan dalam menyebarkan informasi sejenis, meskipun tidak seintensif di alam maya, namun keresahan dan kegelisahan masyarakat dapat terbaca dari kian beraninya media dalam berlomba-lomba menyiarkan berita yang sangat sensitive sekalipun, dan sayangnya budaya kritis itu belum terpatri dalam budaya bangsa kita.

Budaya ber-tabayyun alias klarifikasi atau cek dan ricek masih belum tertanam kuat dalam diri bangsa kita. Kita masih dengan mudahnya menerima suatu informasi dan tanpa pikir panjang menyebarkannya, dampaknya tidak terpikirkan karena sering didorong oleh motivasi mengabarkan terlebih dahulu, padahal informasi itu masih belum jelas kebenarannya. Masih untung kalau itu benar, bila salah, bisa-bisa kita dianggap sebagai penyebar fitnah dan menyebabkan perpecahan. Perlu dipikirkan, sudah berapa banyak kasus yang terjadi akibat informasi yang sesat, berapa banyak korban yang jatuh akibat hoax? Kemudian apa sudah dipikirkan dosanya bila berita tidak benar itu tersebar dan dipercaya sehingga makin banyak pihak yang dirugikan? Sebagian berpikir demikian, tapi sebagian besar tidaklah demikian.

Lantas apakah kita bisa merdeka dari arus informasi yang menyesatkan dan memecahbelah itu? Jawabannya kembali pada kita selaku anak bangsa. Seharusnya berbagai informasi semacam demikian kian mendewasakan kita sebagai bangsa Indonesia, bukan justru menjadi kian terbelah-belah seperti yang saat ini sedang terjadi. Kemana kebanggaan kita sebagai bangsa yang besar? Apakah kita hanya menjadi bangsa yang gampang dipanas-panasi? Kita semua punya andil dalam pembentukan bangsa ini. Mentalitas tanpa berpikir ulang ini sudah saatnya ditinggalkan perlahan dalam benak bangsa kita. Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat berpikir dewasa serta cermat dalam menyikapi segala persoalan yang menghadang, termasuk dalam menyikapi berbagai informasi yang bersifat memecahbelah.

Jawabannya hanya pada bangsa dan pemimpin kita. Apakah kita sudah benar-benar merdeka? Belum! Hanya merdeka secara fisik, namun belum sepenuhnya termerdekakan dari sikap mudah terhasut. Lebih baik kita tebarkan saja informasi yang positif, mencerahkan dan menggugah diri kita untuk bertindak demi kebaikan bangsa ini, termasuk juga solidaritas atas penderitaan sesama manusia di belahan dunia lain, tanpa menambah-nambahi atau mengurangi bobot informasi yang disebarkan. Tidak berlebihan dan tidak memanas-manasi hingga bukannya persaudaraan malah perpecahan yang didapat.

Selamat memperingati hari kemerdekaan, semoga bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang lebih dewasa, obyektif dan cerdas dalam menghadapi gelombang, tantangan serta fitnah yang terus menerpa serta tetap peka dengan keadaan sekitarnya.

Bambang Priantono

17 Agustus 2013

Advertisements

11 Comments Add yours

  1. Setuju banget Bro. Tulisan ini insya Allah akan membuat kita semua lebih waspada untuk senantiasa bertabayyun sebelum membagikan informasi.

    1. Aamin…ini berangkat dari kegelisahan aja sih. Banyak fitnah bertebaran sekarang, dan semoga bisa lebih waspada jika mendapatkan informasi yang kurang jelas sumbernya.

      1. Siip….aku juga yakin tidak semua setuju dengan pandanganku. Tapi memang kenyataannya seperti itu, semoga bangsa kita cepat sadar dan mulai tanamkan budaya tabayyun kepada anak2nya.

  2. yusuf fachroby says:

    harus lebih hati-hati lagi mengenyam informasi…hhmmm

    1. Iya, jangan hanya karena ingin menjadi yg pertama akhirnya malah terjebak jadi penyebar fitnah, apalagi kalau berita itu ternyata bohong.

  3. Ryan says:

    Benar mas. Kebebasan informasinya memang bagus
    Ya… tapi kebablasan menurut saya. Sering dapat BM yg hoax. Syg sebenarnya mas. Berita yg mungkin bagus jadi dipertanyakan pada akhirnya.

    1. Benar…karena kelemahan fasilitas BM atau twitter misalnya. Hanya dibatasi sekian karakter, sehingga banyak berita yang terpotong, atau sengaja dipotong sehingga menjadi fitnah keji atau hoax. BM-BM seperti itu mah mendingan diabaikan saja. Bilang aja itu fitnah hehehehe.

      1. Ryan says:

        Hahaha. Sebenarnya bisa cek dulu mas sblm kirim. Kan google ada. Hehe

      2. Hahahahaa….makanya tabayyun..cek dan ricek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s