(Catatan Jelang Hari Pancasila) : Mengepakkan Kembali Sayap Garuda


Garuda perlambang kejayaan, keperkasaan, kekuasaan dan kegemilangan. Banyak Negara yang menggunakan simbol elang, rajawali atau garuda sebagai lambangnya. Kenapa? Karena masih bersaudara (termasuk juga burung nasar alias burung bangkai). Amerika menggunakan rajawali bondol sebagai lambangnya, sementara Meksiko menggunakan lambing rajawali menggigit ular derik. Saat saya melihat penanggalan, saya tersadar kalau ternyata tanggal 1 Juni merupakan hari istimewa meski sudah kian banyak yang mengabaikan hari tersebut. 1 Juni merupakan hari lahirnya Pancasila yang didasarkan pada kebutuhan adanya landasan dalam berbangsa dan bernegara.

Berdirinya suatu Negara tidak akan ada artinya bila dasar-dasarnya tidak terbentuk. Ibarat rumah, langsung tanpa fondasi dijamin akan cepat ambruknya. Pancasila yang berasal dari kata Panca = lima dan Sila = dasar/azas lahir dari serangkaian kompromi, mulai dari pidato Muh. Yamin hingga Bung Karno yang menyebutkan bahwa landasan yang tepat bagi bangsa Indonesia adalah Pancasila. Mencakup seluruh aspek kehidupan sosial, budaya, politik hingga keagamaan. Kendati sementara kalangan dinegeri ini menolak mengakui Pancasila sebagai azas dasar berbangsa dan bernegara, dari motivasi politik hingga agama pula.

Sementara lambang garuda dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak yang kemudian disempurnakan hingga bentuk garuda Pancasila yang sekarang ini. Peran Sultan Hamid II disini terkesan dilupakan dan jarang disebut-sebut dalam sejarah nasional, berbeda dibandingkan dengan tokoh-tokoh pahlawan lain yang turut menggagas lahirnya Pancasila. Sepatutnya kita berterimakasih kepada beliau atas mahakaryanya yang kini menghias setiap gedung sekolah dan instansi pemerintahan di bumi pertiwi.

Pancasila dengan refleksi garuda kini ibarat garuda terluka. Luka-luka yang sebenarnya disebabkan oleh ulah anak bangsanya sendiri. Konflik demi konflik terus merajalela, pengamalan ideologi Pancasila tidak lagi dianggap sebagai keharusan, padahal meskipun bukan agama, namun panduan-panduan yang ada dalam Pancasila ini juga sangat relijius. Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, bebas melaksanakan ibadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing dan mengembangkan sikap toleran terhadap pemeluk agama yang berbeda. Namun dalam kenyataannya, kini kian banyak yang terkena alergi perbedaan. Berbeda sedikit dimusuhi, dicaci bahkan dihakimi dengan berbagai merek dan cap. Indonesia adalah negeri dengan aneka warna, bahkan mengutip satu buku yang membahas tentang Pancasila (kompilasi dari penulis tentang pancasila), orang Afghanistan saja sangat kagum dengan kuatnya bangsa kita. Indonesia dengan jumlah suku bangsa melebihi 500 suku dan dengan agama yang berbeda-beda bisa hidup relatif (dicatat…relatif, bukan mutlak) rukun dan damai dalam satu rumah, sementara Afghanistan yang jumlah sukunya tidak banyak dan hampir semuanya seagama, saling bermusuhan hingga baku binasa dalam peperangan.

Menjelang hari Pancasila ini, alangkah baiknya kita sebagai anak bangsa meninjau ulang apa yang sudah terjadi selama era reformasi yang telah berjalan 15 tahun ini. Pendalaman Pancasila makin berkurang sehingga terjadi distorsi-distorsi yang menimbulkan perpecahan. Terlebih distorsi itu bermotifkan SARA (Suku Agama Ras Antar golongan), ini sangat berbahaya bagi kita. Indonesia sudah dibentuk dengan susah payah dengan menyatukan berbagai suku bangsa agama dan wilayah menjadi satu rumah. Lantas apakah rumah besar ini akan ambruk? Tentu kita semua tidak menghendaki hal itu. Garuda kita yang semula perkasa, kini malah bagaikan ayam sayur yang lemah dan tak berdaya menghadapi berbagai guncangan dan konflik anak negeri ini.

Perlu kita pertanyakan, masih saktikah Pancasila kita?

Apakah kita bisa menggandengkan Pancasila dengan globalisasi?

Untuk mengembalikan kesaktian Pancasila itu, kita perlu berinovasi dalam mempelajari dan menerapkan ideologi ini. Seperti halnya membaca suatu buku atau memahami sebuah mata pelajaran, kita tidak bisa hanya menginterpretasikannya secara letterlijk alias harfiah, namun dibutuhkan juga pemahaman content (isi). Dengan metode pengajaran Pancasila yang komprehensif, disesuaikan dengan berkembangnya teknologi serta psikologi anak muda jaman sekarang. Boleh saya contohkan, alangkah menariknya jika nanti belajar Pancasila bisa dijadikan dalam bentuk online dan lebih interaktif (saya yakin sudah ada upaya kesana, hanya menegaskan belaka), serta memperbanyak diskusi dalam kelas dengan menyelipkan pemahaman lintas budaya anak negeri. Diskusi seperti apa? Menurut hemat saya pribadi disesuaikan dengan kreativitas pengajar Pancasila itu, ditambah dengan wawasan tentang Indonesia terkini.

Pancasila interaktif dengan materi yang tidak menghakimi dan tidak membosankan itu yang jadi kebutuhan anak muda sekarang ini. E-Pancasila juga pasti saya percaya akan diakses oleh anak-anak dan yang selalu diyakinkan adalah terus belajar memahami perbedaan yang ada di negeri ini. Keseragaman yang dipaksakan bukanlah ciri khas bangsa Indonesia, Pancasila mengatur dan mengayomi sepanjang tidak keluar dari koridor persatuan dan kesatuan bangsa.

Ditulisan ini, saya mengajak pada seluruh anak bangsa untuk selalu bangga dengan Pancasila. Dengan upaya bersama, kita pasti dapat kembali menjadikannya berkibar mengepakkan sayapnya untuk mengayomi seluruh bangsa. Memang Negara kita saat ini sedang terkoyak-koyak, namun dengan kesungguhan dan keyakinan, saya percaya Pancasila akan terus berjaya. Bagaikan tua-tua keladi, makin tua semakin kuat.

Dan juga, merayakan harinya dengan berbagai cara.

Selamat Hari Jadi Pancasila.

Mari kita hormati dan junjung tinggi warisannya.

Bambang Priantono

29 Mei 2013

Advertisements

10 Comments Add yours

  1. ryan says:

    Pancasila tak pernah salah mas. Yang ‘salah’ yang menerapkannya. Kita terkadang hanya menggunakan kata demi kata sebagai slogan saja, bukan sebagai ideologi yang harusnya diterapkan dari hati ke setiap tapak kaki kita sehari-hari.
    Semoga semua menyadarinya dan menjadikan kita bangsa yang lebih baik.

    1. Maka itu, kita jangan sekedar gunakan pendekatan letterlijk, tapi juga dengan memahami isinya dan mendiskusikannya.
      Sedih sekali kalau konflik sektarian terus terjadi gara-gara penerapan yang salah.

      1. ryan says:

        mudah-mudahan bisa terselesaikan masalah2 itu ya mas.

      2. Insyaallah, kalau semua bersatu pasti bisa.

  2. Haryo Wicaksono says:

    Pancasila Dasar Negara..
    Rakyat Adil Makmur Sentosa..
    Pribadi Bangsaku..
    Ayo Maju… Maju..
    Ayo Maju… Maju..
    Ayo Maju… Maju..

  3. Pancasila diuji terus tiap tahun dan selalu kokoh. Berarti sakti 🙂

    Apik refleksine, sam.

    1. Insyaallah Mas, moga aja tambah kuat dan jaya setelah era-era yang berat ini.

  4. debapirez says:

    Saya masih sering upacara 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s