One Gigabyte of Love, Setelah Dia Pergi


Special post but in Bahasa Indonesia :

Setelah dia pergi, semuanya berpencar-pencar, berserakan entah berada dimana. Setelah bertahun-tahun kebersamaan itu terjalin, kemudian karena suatu kuasa, dan bagaimanapun kita berjuang, pada akhirnya dia harus berakhir juga.

Saya sempatkan membaca buku One Gigabyte of Love yang sudah saya pegang semenjak hampir lima tahun yang lalu. Satu buku yang berisikan ungkapan hati dan kisah-kisah bermakna dari para pengguna dia. Pengguna setia yang meskipun datang dan pergi silih berganti, namun akan selalu ada dan karyanya tertancap kuat disitu. Dari 53 multipliers yang merupakan pengguna-pengguna awalnya, saya memetik banyak hikmah, suka, duka, tangis, tawa semuanya berbaur jadi satu. Sayapun sangat bangga bisa menjadi bagian dari buku tersebut, dan disitulah rasa percaya diri saya terpupuk untuk menuliskan kalimat demi kalimat hingga menjadi satu kesatuan artikel yang utuh. Keberanian yang terkumpul setahap demi setahap ini sangat mahal, dan mengubah saya menjadi seperti sekarang, walau masih belum paripurna.

Seperti contoh Mbak Helvy Tiana Rosa dan Mbak Asma Nadia yang terus berproses, semua itu menjadikan dorongan bagi saya untuk melakukan hal yang sama. Memang, dari segi usia kini saya tidak lagi bisa dikatakan muda, namun semangat tetap awet muda bahkan terus berkobar menanti momen yang tepat untuk tampil mengemuka. Saya masih ingat setelah peluncuran buku One Gigabyte of Love dan kemunculan Mbak Asma yang tiba-tiba di Malang, serta beberapa tahun kemudian ketemu di Semarang, ternyata beliau masih ingat dengan saya dan kami sempat berbincang meski hanya sebentar.

Ah, saya seperti melihat bayangan diri sendiri ketika membaca buku One Gigabyte of Love itu. Tak terasa beberapa tulisan saya sudah tersebar di beberapa tempat, dan beberapa kali pula saya rajin ikut lomba menulis yang beberapa diantaranya saya mendapat keberuntungan buah doa dan usaha. Kadang saya berpikir, kemana ke-53 penulis yang ada di buku itu sekarang. Beberapa diantaranya sih saya masih ketemu meski di facebook, namun yang lainnya seperti hilang ditelan bumi. Mungkinkah passion mereka sudah meredup karena kesibukan masing-masing? Ataukah mereka sudah tidak ingin lagi menulis? Ataukah minat yang sudah berubah? Saya hanya berkesimpulan bahwa itulah hidup. Tidak pernah ada yang kekal. Mungkin dulu kita pernah akrab, namun kemudian kita akan menemui diri kita sebagai sosok yang asing kembali satu sama lain.

Beberapa orang yang saya ketahui tulisannya pernah bertebaran dimana-mana, kini seolah menghilang. Karyanya tak bisa lagi saya nikmati, karena seiring pertambahan usia, ternyata seleranya berubah drastis. Yah, satu lagi…tidak ada yang abadi. Termasuk wadah tempat saya menyampah selama delapan tahun terakhir itupun harus mengakhiri eksistensinya sampai disini. Entah sedih, senang atau apa, saya hanya menanggapi kematian dia dengan datar. Apakah mungkin karena kekecewaan saya yang demikian dalam? Sempat saya mengumpat sekencang-kencangnya sebelum kemudian benar-benar menghilang dari sana. Kinipun, rasa itu masih ada. Namun dialah yang menorehkan satu keyakinan dalam diri saya, bahwa saya bisa menulis dan menginspirasi siapapun tanpa saya sadari.

Setelah dia pergi..

Kini saya berada di wadah yang baru, dan dengan teman-teman baru pula. Disini saya mengubah segalanya. Bila dulu bahasa yang dominan adalah bahasa Indonesia, kini perlahan namun pasti bahasa Inggrislah yang mulai menggeser bahasa dominan dalam wadah baru saya ini. Yang saya inginkan memang suasana baru, tanpa peduli pengunjungnya banyak atau tidak. Yang terpenting, saya bebas mengekspresikan diri saya disana, meski fitur-fiturnya tidak senyaman di tempat dia. Saya bukan berarti meninggalkan pembaca atau kawan-kawan Indonesia dengan mengganti bahasa ini, namun saya ingin lebih didengarkan lebih dari sekedar di Indonesia atau negara serumpun. Bagaimanapun sulitnya dan apapun yang saya dapat, saya sudah tidak mempedulikannya. Biarlah semuanya berjalan sesuai aturannya dan pelan namun pasti fase-fase seperti dulu akan kembali. Tentu dengan suasana yang berbeda.

Kadang saya masih berkomunikasi dengan teman-teman dari wadah lama. Namun angkatan-angkatan awal utamanya dari 2004 sudah banyak yang lenyap tak tentu rimbanya. Mungkin sebagian masih kontak dengan mereka meski di alam nyata belaka, tetapi terkadang saya merindukan masa-masa awal itu. Seiring dengan menghilangnya mereka, sayapun menemui sahabat-sahabat baru dan meskipun ada yang sudah dipanggil oleh-Nya, namun saya akan selalu mengenang mereka kendati hanya sekali dua kali saja berjumpa.

Setelah dia pergi…

Keadaan tidak pernah sama lagi. Silaturrahmi telah putus sebagian, namun masih terjalin di sebagian lainnya. Apapun yang kalian lakukan, meskipun sudah tidak lagi ngeblog, saya tetap berdoa agar semuanya baik-baik saja. Gairah saya untuk ngeblog sempat hancur lebur, namun kini semuanya kembali berjalan seperti sediakala dan bahkan sedikit lebay.

Biarkan saja dia pergi…

Karena semuanya takkan terulang…

Biarkan saja dia terkubur…

Bersama kenangan kebersamaan di masa lalu..

Songsong saja yang didepan mata…

Karena kita tak tahu apa yang menanti didepan sana.

One Gigabyte of Love…mungkin telah hilang dari mata, namun jiwanya tetap ada, dan semoga menjadi One Terabite of Love.

Selamat tinggal Multiply…

Jasamu sangat besar bagi saya…

Let me continue the spirit…

With this new home..

With new things and let me flow to see beyond

Advertisements

17 Comments Add yours

  1. ryan says:

    wah…
    di mana aja mas tulisan mas?
    One Gigabyte of Love… beli di mana nih mas kalau mau?

    1. Sudah gak ada dipasaran kok….aku ada tulisan di beberapa media sih.

  2. debapirez says:

    semua telah berubah. mari kita nikmati perubahan itu 🙂

    1. Dan seharusnya demikian.

  3. ƔŮůþss˚°º°”o˚ƔŮůþss.., move on yaaaa

    Oya juni besok launching multipers.com

    Entahlah apa akan seperti dulu ? Yang jelas semua perlu proses kan

    1. Iya, saya tahu kok…semuanya pasti butuh itu. Move on aja lagi.

    2. Julie Utami says:

      Hahahaha……. tapi kayaknya kok cuma buat emak-emak sama bapak-bapak yang anaknya masih pada pake pamper’s alias diapers sih?

      1. Iya, makanya aku ragu2 Tan..mau gabung atau gak.

  4. tinsyam says:

    kirain dia itu siapa.. empi toh..
    ku masih ada bukunya ga ya? itu dulu beli buku empeyer pertama yang ini.. tapi lupa dimana taroh.. apa ku kasih siapa gitu..

    1. Hahahaha…
      Aku masih punya lho

  5. lollytadiah says:

    cuma perubahan yang selalu ada…… mari kita nikmati…
    #sok bijaksana….

  6. RY says:

    Multiply yg ngangenin ….. hiks….
    dan buku One Gigabyte of Love kadang masih suka kubaca 🙂

    1. Semoga jadi kenangan terindah ya.

      1. RY says:

        Pastinya Mas …. 🙂

      2. Dan meskipun semuanya telah hilang.

  7. Bams Triwoko says:

    Di ‘rumah baru’ akeh tamu ‘bule’… hehehe… 😀
    Happy blogging mas… !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s