(Saturday’s Short Story) : UJIAN NASIONAL PUTRI


Ujian Nasional Putri

Bambang Priantono

No SMS

No BBM

No Facebook

No Twitter

Pokoknya…semuanya…no! Demikian tekad Putri saat menjelang ujian sekolahnya. Dia sudah mematikan semua jalur komunikasi dan jejaring sosialnya yang selama ini menjadi kebutuhan primer setelah makan, minum, mandi dan sekolah (termasuk gaul juga sih). Putri termasuk anak paling gaul di sekolahnya. Julukan sebagai ratu twitter sudah disandangnya sejak kenal alat gaul satu itu. Apa saja yang dia lihat dan dia rasakan, mulai dari seneng sampai bete semua langsung dilampiaskan disana. Follower­nya saja sudah mendekati 100 ribu, yang mana hanya 100 yang benar-benar dia kenal.

Pokoknya, Putri selalu menghabiskan waktu senggangnya dengan main twitter. Apa-apa difollow, sampai artis idolanyapun dia mention. Saking seringnya itulah, dia menjadi populer dengan julukan tadi…ratu twitter. Bangun tidur, buka twitter. Mau makan, nge-twit dulu. Saat dikelas, apalagi saat mata pelajaran matematika, dia berkicau sambil mindik-mindik dibawah meja. Bahkan saat makan malam dengan keluarga dan hang out dengan teman-temannyapun, sempat-sempatnya tweet pic. Masih untung kalau ke WC tidak dia twit sekalian.

Tapi kali ini, Putri sudah deklarasikan ke depan teman-temannya. Bahkan sampai nyetatus dan nge-twitpun dia sudah berjanji.

Guys, selama dua minggu ini jangan ganggu gue ya. Mo konsen sama ujian dulu neh.”

“Sorry ye, mo ujian nih.”

“Habis ujian aja ya kita main lagi.”

“Jangan mention-mention ya, gue cuti nge-twit dulu.”

Semuanya sudah Putri siapkan dengan sesempurna mungkin. Ikutan bimbel? Sudah! Kurangi gaul dulu? Sudah! Online? Sudah! Kisi-kisi ujian juga sudah dipelajari semua. Bahkan tiap hari Putri merasa stress karena harus mengatur semua jadualnya.

“Pokoknya gue kudu lulus!” demikian tekad Putri saat makan siang bersama teman-temannya.

“Yakin lo gak online?” tanya Adi, sohib segengnya dengan nada tidak percaya.

“Entar kalo pada kangen gimana?” sambung Tari sembari menyeruput bakminya dengan mengeluarkan bunyi sruput.

“Beneran nih elo cuti online?” kata Dodo yang sedang menghabisi bakso super jumbonya.

Putri yang saat itu sedang makan mie goreng telur kegemarannya hanya diam. Dia sebenarnya ragu-ragu juga dengan keputusannya tadi. Tapi karena sudah terlanjur, dan pantang menjilat ludah sendiri akhirnya Putri berkata dengan nada sedikit jumawa.

“Tenang aja guys, gue pasti bisa kok. Gampang lah, gue pasti tahan deh sampe ujian habis entar.”

Malamnya, Putri sudah siap-siap belajar di kamarnya yang luas. Musik kesukaan sudah dihidupkan. Buku latihan soal juga sudah siap didepan matanya. Tumpukan buku-buku pelajaranpun telah menunggu untuk diserap isinya. Sementara sambil bernyanyi-nyanyi kecil, Putri mempersiapkan jus yoghurt dan sedikit cemilan rendah kalori. Dia sudah pasang pengumuman DO NOT DISTURB! Dipintu kamar, agar adiknya Shasha tidak mengganggu. Blackberrynyapun sudah diatur silent dan dijauhkan dari jangkauannya. Nah, Putri sudah siap belajar.

Jam menunjukkan pukul 20.00, ketika Putri mulai membuka buku pelajaran Biologi. Tiba-tiba ada suara halus yang terngiang di telinganya.

“Putri, dibuka doong.”

Putri terkejut. Suara itu seperti mendorongnya untuk meraih BlackBerrynya. “Ah tidak! Gue kan sudah janji.” Putri berusaha menepis godaan itu. Apa jadinya kalau dia ketahuan online? Pasti dia bakal jadi bahan tertawaan teman-temannya di alam maya.

“Puutriii….” Suara itu datang lagi.

“Putriiii…..” tiba-tiba ada suara lain.

“Ayo dong kami dibukaaa…” suara seperti suara lelakipun menyahut.

“Jangan biarkan kami merana…” Tidak! Ada suara lain lagi.

Putri seketika menoleh ke belakang. Dia terhenyak! Nyaris pingsan ketika ada empat sosok yang sudah menghadang.

Satu sosok seperti burung putih. Sosok berikutnya seperti huruf F, sosok ketiga sangat mirip dengan BlackBerry dan satunya seperti android. Mereka berjalan perlahan mendekati Putri.

“Siapa kalian? Jangan ganggu aku!” Putri sangat ketakutan.

“Buka kami….buka kami….buka kami!” keempatnya berulang-ulang menyebut kata itu sembari mendekat dan terus mendekat.

“Tidaaaakkk!!!!!!!” Putri melempari mereka dengan bantal, guling atau semua benda yang dia dapat jangkau.

Tapi empat sosok itu terus mendekat, menghampiri Putri.

“Mamaaaaa!!! Toloooonggg!!!!” Putri berteriak sekencang-kencangnya. Hingga akhirnya…

“Putri…Bangun!” tiba-tiba suara ibunya memanggil. Putri ternyata bermimpi. Mimpi yang sangat mengerikan.

Membuatnya semakin galau menghadapi ujian yang tinggal hitungan hari.

Sejak itu, malam demi malam selalu dihadapi Putri dengan kegalauan. Gangguan dari empat sosok yang merepresentasi jejaring sosialnya, juga ujian nasional yang akan segera dihadapinya. Dia mengorbankan banyak hal demi kelulusannya nanti. Namun momok gagal juga menghantuinya. Seperti yang pernah dia baca di berbagai media, ada siswi SMA X yang bunuh diri karena takut gagal ujian. Kemudian ada siswa SMA D di kota Dx yang stress sampai harus direhabilitasi kejiwaannya karena gagal ujian. Ratusan siswi SMA di kota Bp pingsan karena dinyatakan tidak lulus ujian. Putri melihat ujian seperti malaikat maut yang siap mencabut siapa saja yang diingininya.

“Apakah belasan ribu jam yang kutempuh untuk menuntut ilmu ini hanya akan habis karena empat hari ujian itu?” Dia bertanya-tanya dalam hati.

Kedipan lampu BlackBerrynya selalu menggoda dirinya. Pertama Putri mampu menahannya, tapi lama kelamaan dia ingin meraih BlackBerrynya itu. Bagaimana kabar teman-teman alam mayanya? Apa mereka juga sama ikut ujian nasional? Tapi tatkala dia hampir menjangkau BlackBerrynya, tiba-tiba ada suara yang mencegah.

“Tunggu!”

“Kamu siapa?” tanya Putri yang segera menarik tangannya.

“Siapa aku itu tidak penting. Aku yang mengawasi janjimu.” Kata suara tadi.

Putri seperti digerakkan untuk kembali ke meja belajarnya. Dia mulai mengerjakan lagi soal-soal try outnya ketika ada suara lain.

“Ayo Putri, mana kicauan kamu?” kata sosok burung putih yang tiba-tiba muncul.

Putri mengabaikannya.

“Statusmu yang galau itu mana?” tiba-tiba sosok huruf F ada disebelahnya. Berusaha menggoda Putri lagi untuk membuka laptop atau blackberrynya.

Putri diam dan terus melanjutkan mengerjakan soal-soalnya.

“Putriii…..ada BBM dari teman-temanmu lho.” Kata suara satunya. “Mau kunci jawaban buat ujian minggu depan tidak?” lagi-lagi suara itu merayu. “Temanmu kirim BBM tuh…ada kunci jawaban.”

Kali ini Putri tergiur dengan suara itu. “Ah, beneran nih ada kunci jawabannya? Lumayan biar gak susah-susah belajar lagi.” Kemudian Putri beranjak dari meja belajarnya. Dia menuju tempat tidurnya. Tempat menaruh BlackBerry yang sudah sekian lama dia tinggalkan. Ujian tinggal beberapa hari lagi….tapi karena gangguan demi gangguan suara itu, membuat Putri makin sulit berkonsentrasi.

Dia tak tahan lagi.

Dia ingin membuka jejaring sosialnya kembali.

Apalagi bayangan gagal ujian yang dia baca di berbagai media turut menambah kegalauannya. Soal-soal matematika yang bagaikan lingkaran setan, ekonomi yang dia takuti karena gurunya yang super galak, menjadikannya makin takut. Keringat dingin bercucuran saat dia berusaha meraih BlackBerrynya. Tangannya bergetar hebat, antara takut melanggar janji sekaligus ketakutan tidak ngeksis lagi itu yang membuatnya kian bingung. Soal ujian nasional yang sangat sulit menjadi hantu yang kian memperbesar keinginannya untuk membuka BBMnya.

“Tunggu!” kata sebuah suara.

Seketika Putri seperti melihat lima sosok yang sering mendatanginya. Kali ini ada satu lagi yang berupa sosok wanita berbaju putih. Sosok itu dirinya sendiri! Tiba-tiba juga didepan Putri sudah terpampang soal ujian matematika yang super besar! Disusul ujian ekonomi! Semuanya mendatangi Putri. Sementara itu, sosok yang mirip dirinya tadi memegang tangan kanan, sedangkan sosok lainnya memegang tangan kiri Putri.

“Buka…”

“Jangan”

“Buka…”

“jangan”. Suara itu terus menyahut sambil menarik tangan Putri. Kertas-kertas ujian itu semakin mendekat . Lantas muncul sosok berupa surat keterangan bahwa dirinya tidak lulus ujian. Tidak!!!! Tidak!!!! dan  Putri semakin ketakutan hingga terdengar suara.

“Tepati janjimu…..”.

“Alah, gak penting. Ujian bikin stress saja. Ayo Putrii..bukaaaa!”

“Jangan Putri! Kamu akan dicap pembohong kalau tidak menepati janjimu.”

“Sudahlah, kamu kan ratu twitter. Buruan bukaaa..pasti banyak yang kangen sama kamu.”

“Jangan Putri!”

“Ayooo..mariii.”

Putri semakin tersudut. Dia terus mundur dan mundur hingga disudut kamarnya sendiri. Sementara jam berdentang dua belas kali. Ditengah ketakutannya, tiba-tiba tangan Putri seperti memegang sebuah benda runcing. Pensil 2B untuk ujiannya! Putri langsung berdiri dan mengacungkan pensil yang sudah diraut itu.

“Tolong kalian semua berhenti ganggu aku!” Putri berteriak sekuat tenaga. Sosok-sosok tadi berhenti seketika. Putri sudah tidak tahan lagi dengan gangguan-gangguan yang selalu datang setiap malam. Ketika dia akan belajar untuk mengejar cita-citanya. Putri terus mengacung-acungkan pensilnya. Dia sudah muak dengan semuanya.

“Ayo Putri….buka doong!”

“Hahahahaa…tidak lulus…tidak lulus!”

“Sudaaah, buka saja BBM-mu. Ada bocoran soal lhoo.”

“Tepati janjimu Putri.”

Suara itu datang silih berganti, memenuhi otak gadis berusia 17 tahun itu hingga lama-lama emosi gadis itu tak dapat dibendung lagi.

“Sudah capek gue! Gue pengen belajar dengan tenang! Lo semua pergi!” Putri langsung melemparkan pensilnya ke arah sosok-sosok pengganggunya itu. Ajaibnya, sosok itu kemudian hilang bagai asap. Sementara pensilnyapun kemudian jatuh dan patah. Putripun melangkah ke arah jatuhnya pensil tadi.

Dipandanginya pensil itu dengan perasaan campur aduk. “Aduh, harus diraut lagi nih.”

Ujian nasional itu tiba-tiba di mata Putri menjadi tidak lagi mengerikan. Entah karena sudah penat dengan kejadian-kejadian yang dia hadapi, atau karena saking galaunya sampai akhirnya dia tidak peduli lagi.

Dipandanginya soal-soal try out dan tumpukan buku yang sudah berantakan di mejanya. Sosok-sosok yang merusak hari-hari menjelang ujiannyapun sudah pergi. Putri menarik napas dalam-dalam. Ada harapan yang muncul dan diapun teringat pesan gurunya saat menjelang pulang sekolah.

“Jangan pernah tergoda. Lakukan saja dengan kejujuran. Apapun hasilnya, kamu terima semuanya dengan semangat dan lapang dada.”

Kemudian dia seperti mendengar suara ibunya.

“Putri, jangan kebanyakan nonton TV. Beritanya tidak bagus buat kamu. Ujianmu yang penting. Ayo belajar dengan semangat ya, nanti kalau lulus kamu boleh pilih deh jurusan apa.”

Ting!!!! Putri seperti bersemangat kembali. Apalagi bayangan sebagai desainer sudah ada di depan mata. Ujian nasional, apapun hasilnya yang penting harus semangat. Tidak galau lagi. Langsung saja, Putri kembali ke meja belajarnya sambil menyambar BlackBerrynya. Dia letakkan gadget kesayangannya itu didepannya, dan menghidupkan musik kesukaannya sambil mengerjakan latihan soal untuk besok. Dia kemudian mengambil BB-nya, menekan satu nomor dan berkata.

“Halo, Tari? Temenin gue belajar dong.”

Semarang

19 –20 April 2013

13 Komentar

Filed under Bahasa, fiksi, postaday, Sastra

13 responses to “(Saturday’s Short Story) : UJIAN NASIONAL PUTRI

  1. uni fauzia

    menarik sekali..lucu juga ada…suksess..(musim exam ya?suksess buat semua student..)

  2. Aaahhh untung ngga punya BB sama Android😀

  3. chiemayindah

    waah…. bagus mas cerpennya… ternyata bisa bahasa gaol juga ni Mas Bambang…😀

  4. Ping-balik: (Saturday’s Short Story) : UJIAN NASIONAL PUTRI | bambangpriantono

  5. semoga bisa disebarkan semangat ini ke semua murid-muridmu mas🙂

  6. pergulatan anak gaol sekarang ya mas… 🙂
    tapi buat yang burung, bukannya warna biru mas?

  7. uni fauzia

    kalau di translate ke Bahasa Malaysia/Melayu..waaa..cerpen yg mantap..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s