(99 Tahun Kota Malang) : MALANG NOMINOR, SURSUM MOVEOR


ImageMalang nominor (Malang namaku)
Sursum moveor  (Maju keinginanku)

Ini adalah semboyan kota Malang di masa penjajahan Belanda dulu. Diambil dari bahasa Latin. Sejak kemerdekaan, semboyan kota Malang berganti menjadi Malang Kucecwara yang berarti mengalahkan yang batil.

Kota Malang adalah kota kelahiran saya. Kota yang diapit gunung-gunung seperti Anjasmoro, Kawi, Welirang, Arjuno, Bromo hingga Semeru ini tempat saya dilahirkan, dibesarkan hingga menginjak dewasa. Tentunya saya masih ingat perubahan-perubahan yang terjadi di kota ini dari yang semula memang sangat dingin, dimana saking dinginnya sampai-sampai berbicara saja keluar asap seperti merokok, dan kini semakin hari semakin panas karena semakin padatnya penduduk serta berkurangnya lahan hijau karena dibangunnya pemukiman dan pusat-pusat ekonomi.

Image

Memang Malang sedang beranjak menuju kota kosmopolitan, dimana pembangunan disana-sini tak dapat lagi dielakkan. Daerah sekitar saya (Kendalsari) saja contohnya, ketika pertama kali tinggal disana, masih banyak sawah yang menghijau. Namun kini sawah-sawah belakang rumah saya itu sekarang sudah menjadi perumahan. Penduduk Malang memang makin hari makin banyak, terlebih reputasinya sebagai kota pelajar yang tak kalah dengan Bandung dan Yogyakarta.

Seperti yang saya sebut di atas, kota Malang memang kota pelajar. Namun ada kelebihan lain yang dipunya kota Malang. Salah satunya, karena hampir semua perguruan tinggi di sana berada di dalam wilayah Pemerintah Kota Malang dan inilah yang menjadikan Malang sangat berkans menjadi kota wisata pendidikan yang besar (asal benar-benar dikelola dengan serius).

Image

Sedangkan dari segi sejarah, kota Malang memang bagi saya seperti kota Indies. Arsitektur bangunan Indies yang mengkombinasikan unsur Belanda dan tropis lokal ini bertebaran dimana-mana, khususnya di kawasan Jalan Ijen dan sekitarnya. Hal ini juga menjadi nilai jual kota yang luar biasa, kendati sebagian bangunan sudah digusur untuk dijadikan bangunan modern. Padahal seharusnya bila pemerintah lebih peduli, rumah-rumah indies itu lebih baik dipoles saja agar lebih menarik tanpa harus mengubah seluruh arsitekturnya. Sejarah itu jangan pernah dilupakan, meskipun kita pernah mengalami pahitnya dijajah. Karena bagaimanapun Belanda juga meninggalkan jejak-jejak positif dalam sejarah bangsa kita.

Image

Saya juga sangat merindukan makanan khas Malang. Aneka kripik buah diproduksi disana, dan yang paling laris adalah kripik apel, namun yang paling kontroversial namun sedap juga adalah kripik semangka dan buah naga. Tempe Malang sampai detik ini juga saya rindukan, karena rasanya yang tiada duanya, bahkan bila dibandingkan dengan tempe-tempe daerah lainnya. Kripik tempe? Bagi saya Malanglah surganya. Para wisatawan yang datang ke Malang selalu tak melewatkan untuk beli kripik tempe, baik itu di Bu Noer ataupun sepanjang Jalan Soenandar Prijosoedarmo (d.h Bengawan Solo) dan Kampung Sanan. Ah…Angsle Malang juga bikin saya rindu…pendek kata, banyak sekali potensi kuliner kota Malang yang dapat dikembangkan selain baksonya semata.

Di usianya yang ke-99 ini, saya berharap agar pemerintah kota Malang bisa lebih peduli dengan potensi-potensi yang ada di sekitarnya. Kota Malang saja punya potensi melimpah, terlebih jika dihitung se Malang Raya. Pasti akan membawa region ini menjadi region termakmur di Jawa Timur. Itu semua tidak akan ada artinya tanpa kepedulian semua pihak, baik pemerintah, warga Malang maupun Aremania yang ada di luar Malang. Semuanya perlu memberi masukan berarti bagi tanah tumpah darahnya.

Biarpun kini saya berada di kota Lunpia, namun kebanggaan saya sebagai Arema (Arek Malang) tidak akan lekang oleh waktu. Bagaimanapun, dimanapun dan sampai kapanpun saya akan selalu merindukan kota Malang dan tetap menjadikannya sebagai kota yang patut dijadikan kebanggaan bagi semuanya.

Selamat Ulang Tahun Malangku tercinta
Semoga jelang seabad ini semakin maju dan makmurMeski kendala demi kendala menghadangmu

Malang nominor
Sursum moveor
Malang Kucecwara
Tetap aku bangga

Bambang Priantono
1 April 2013

Advertisements

43 Comments Add yours

  1. danirachmat says:

    Saya juga conta Malang Mas. Budhe saya tinggal di Malang dan banyak teman saya berasal dari Malang. Meskipun singkat-singkat tapi Malang cukup memberikan kenagan tak terlupakan. 🙂

    1. Iya, yang luar Malang saja cinta, seharusnya yang asli Malangpun demikian. Bahkan lebih, meskipun jauh dari kota asal. Terima kasih sudah mampir ya…:)

  2. Malang sekarang hawanya puanas. Ndak seperti dulu 😦

    1. Memang, itu yang disayangkan. Mbatu aja ya udah panas kok.

      1. Tul,, udah kebanyakkan perumahan kali ya

      2. Bukan kali lagi..emang iya. Seperti yang kuceritain itu..belakang rumah yg dulunya sawah skg rumah melulu.

        Mbencekno

      3. Tapi rumah disana gila, bagus2 banget. Kakak iparku di daerah Sulfat eh sekitarnya perumahan elit bo

      4. Oooo Sulfat situ toh? Emang daerah elit kalo itu.

  3. Julie Utami says:

    Wah setahun lagi jadi seabad, pasti akan ada perayaan besar-besaran ya?! Malang dan Bogor sekarang sama panasnya toch? Akibat penggundulan hutan dijadikan lahan kampus dan perumahan tuh kalau di Bogor sini.

    1. Ya sami mawon Tan sama sini….ruko2 terus perumahan2 makin menjamur. Jadi sedih ngeliatnya.

  4. uni fauzia says:

    wah…barisan pohon palma itu sama spt di sini..pohon itu perlu waktu puluhan tahun utk jd tinggi spt itu…bentuknya berbeda..sgt unik…
    indah skali…landskapnya..

    1. Pohon2 Palem itu sudah ditanam sejak jaman Belanda. Dulu tempat itu pemukiman khusus orang-orang Belanda dan diberi nama Ijen Boulevaard.

    1. Hehehehehe….yang penting bisa bercerita. Dari sisi mana saja…apalagi saya asli sana, jadi harus lebih banyak cerita.

  5. uni fauzia says:

    lihat Paris van East Java….wow..cantik!

    1. Sayangnya tambah panas.

  6. ulillala says:

    beno mung sepisan, tapi aku wis tau mrono xixixi
    ^pengen ngluyur maning^

    1. Hehehehee..kapan hayooo

      1. ulillala says:

        mbiyen buanget, yen sak iki kon ngluyur wis ora isa
        *ngoyak butuh cak*

      2. Hehehehehe..wis bedo yo

      3. Mugo iso mrono maneh yo.

      4. ulillala says:

        amin cak yen ana rejeki luwih mestine yo pengen dolan2 ning panggon sing durung tau dijujuk

      5. Aku jane yo pengen dolan nang Sumatra. Seumur hidup aku durung tau metu seko Jowo blas…sepisane malah bablas Malaysia.. hahahaa.

      6. ulillala says:

        dolano cak… bab nginep gampang
        kene murah meriah kok

      7. Insyaallah, dungakne we iso mrono…

  7. kabel listrik dan telepon “pating slawir” bikin susah kalau pengen motret bangunan

    1. Asli, kalau gak ada gitu pasti asik. Tapi diganti dengan wi-fi hahahaa…

      1. Sasi Mei yook kang? Malang Tempo Doeloe…

        *deal* *ngitung receh nggo nyepur*

      2. Insyaallah..aku Mei yo pengen mudik kok.

        Tinggalen nomermu sik.

  8. Selamat Ulang Tahun buat kota malang,,,,,,

    1. Atas nama Malang : Terima kasih..

  9. wetwetz says:

    Pernah ke gubug klakah buat metik apel sekarung waktu pulang dari bromo..

    1. Terus dijual berapa sekilonya?

      1. wetwetz says:

        aku kan baik hati, jadi aku bagi2in aja itu apel ke tetangga2…. [abis itu dimintain duit deh] 😀

      2. Namanya itu pemalakan dong. Hahahahaa…

      3. Namanya itu pemalakan dong. Hahahahaa…

  10. bundamuna says:

    Blm pernah ke Malang *so what 😀

  11. olala babies says:

    woow aq orang malang..salam kenal..
    main2 ya ke http://olalababies.wordpress.com/

    1. Salam kenal juga yaaa..insyaallah main2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s