(Flash Fiction of the Day) : NEKROPOLIS (2)


Berdasarkan permintaan seseorang, maka cerita yang seharusnya fiksi kilat ini dengan ‘berat hati’ harus saya lanjutkan. Sambungan dari sebelumnya.

“Arkha!!!!!” tiba-tiba Asha terhentak dari ranjangnya.
Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya. Wajahnya yang cantik itu memucat. Suasana kamarnya sangat hening. Tapi hening yang dirasakannya bukan keheningan biasa. Tidak ada suara nyanyian jangkrik yang biasa menemani. Mencekam, sekaligus membuat bulu romanya merinding. Asha merasakan mimpinya itu menjadi nyata. Tumpukan-tumpukan bebatuan suram dan membentuk nisan-nisan itu masih membekas didalam otaknya.

Asha terduduk di tepi ranjangnya. Tiba-tiba mata dia tertumbuk pada foto yang terpajang dimejanya. Foto dirinya dengan Arkha, saat mereka berdua berkunjung ke pemakaman Imogiri. Kemudian disebelahnya, ada lagi foto dirinya sendiri di Wadi-us-Salam, Irak yang merupakan pemakaman terbesar didunia. Entah mengapa dirinya dan Arkha begitu menyukai jalan-jalan ke kawasan pekuburan.

“Arkha! Lo gila ya ngajak-ngajak gue ke Jeruk Purut malem-malem gini!” protes Asha ketika Arkha mengajaknya ke kawasan pekuburan yang terkenal dengan pastor tanpa kepalanya itu.
“Alah! kan ada gue…jadi aman deh.” respon Arkha sambil mengedipkan matanya. Kedipan mata yang secara diam-diam membuat Asha meleleh.

Sejak perkenalannya dengan Arkha lebih kurang enam tahun yang lalu. Asha mulai menyukai segala sesuatu yang berbau kompleks pemakaman, atau dengan bahasa latinnya disebut sebagai Nekropolis. Sebenarnya, perkenalan itu tidak sengaja. Ketika Asha sedang menghadiri pemakaman salah seorang teman kuliahnya yang tewas karena sebab yang belum diketahui.

Sosok Arkha begitu misterius baginya. Lelaki tinggi kurus dengan penampilan yang nyeleneh bagaikan seorang paranormal. Asha teringat lagi ketika Arkha hanya berdiri diam di batu nisan teman kuliahnya, Sari. Asha mendekat……namun Arkha diam seribu bahasa. Dia kemudian hanya menyebut satu kata.

Nekropolis…
Nekropolis…
Nekropolis…

Hanya kata itu yang terlontar. Asha tidak habis pikir….apa hubungannya pemakaman sahabatnya itu dengan nekropolis?

Ketika itu..hanya mereka yang masih ada di areal pemakaman.

Bersambung
29 Maret 2013

Advertisements

22 Comments Add yours

  1. Haryo Wicaksono says:

    Oh, Nekropolis ya tadi.. Baru mudheng pas baca ceritanya. Saya kira Necrophili…. wkwkwkwk :p

    1. Hohohoho……nantikan kisah selanjutnya.

      1. Haryo Wicaksono says:

        ngerti necrophili gak mas? :p

      2. Ngerti banget…gak usah dijelasno wis :p

      3. Haryo Wicaksono says:

        Ancene sampean paling paham nek masalah ngonoan.. ;p

      4. Gak usah ngono…liyane ae aku apal kok hahaha

  2. nengwie says:

    Pengingat yg baik itu mengunjungi makam, agar selalu ingat dan bersiap, jika sang maut menjemput dimana dan kapan saja.
    Cerita yg cuamik 🙂

    1. Ini yang lagi coba digali. Para penggemar nekropolis.

      Semoga senang ya..:)

      1. nengwie says:

        Eehh ciamik alias apik dan cantik maksudnya duuh tipo deh kalao pake hp 😀

      2. Hehehee..tapi juga masukan tetap diterima kok.

  3. menunggu sambungannya,,,,,, 🙂

      1. siiapppp,,,,, 🙂

  4. ryan says:

    menunggu lanjutan… (mudah2an bukan yang membuat mas berat hati… hehehe)

    1. Hahahahaha..tenang aje..aku juga seneng kok bikinnya.

      1. ryan says:

        syukurlah kalau begitu mas. 😀

      2. Dan semoga bisa cepet kelarnya..

  5. wuihhh… seru juga ngedate di pemakaman atau tempat-tempat berbau kematian. seru seru…. lanjutannya dong.

    1. Terima kasih…nanti dilanjut kok. Sabar ya..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s