(Catatan Hari Ini) : Blusukan Semarang Memang Menarik dan Membahana


Buat saya, perjalanan itu tidak harus mengeluarkan biaya besar dan disesuaikan saja dengan kemampuan masing-masing. Bila tidak mampu pergi ke tempat-tempat eksotis nan jauh (termasuk ngelencer ke mancanegara), sebenarnya tempat sekitar kita sendiripun tanpa disadari menyimpan banyak pesona. Pesona yang sering tertutup oleh beberapa faktor, seperti kurangnya perawatan, keacuhan masyarakat sekitar yang menganggapnya sebagai hal biasa dan kalau dihitung masih banyak lagi.

Semarang, kota yang sudah saya tinggali selama empat tahun terakhir ini (Sejak Maret 2009 meski aslinya pernah 3 bulan disini pada tahun 2008) mempunyai pesona yang sangat banyak. Itu baru dalam wilayah perkotaannya. Kontur kota Semarang ini sangat unik jika dibandingkan kota-kota besar lainnya di Pulau Jawa. Terbagi menjadi dua, yakni kota bawah yang landai dan konon dulunya adalah bekas lautan dan kota atas yang bergunung-gunung. Sungguh suatu pesona yang unik.

Saya yakin, setiap orang bila mendengar nama Semarang, yang terlintas dibenaknya pertama kali tentu Lawang Sewu, kemudian Gereja Blenduk, Kelenteng Sam Poo Kong dan Masjid Agung Jawa Tengah. Semuanya itu memang yang banyak dikenal dan seolah menjadi ikon bagi ibukota Propinsi Jawa Tengah ini.

Saya sendiri tidak menghitung berapa banyak tempat di Kota Semarang ini yang sudah saya jelajahi. Selama tinggal di kota Lunpia inipun, kadang saya bisa mendatangi satu lokasi yang menurut saya unik lebih dari satu kali. Bahkan kalau perlu saya bisa blusukan hingga ke kampung-kampung khususnya kawasan tengah hingga Kota Lama.

Untuk kawasan Kota Lama ini saya punya kesan khusus kala blusukan. Bukan hanya di sekitaran Gereja Blendhuk, namun juga gedung-gedung tua peninggalan Belanda yang ada di sekitarnya, antara lain Gedung Marba dan Gedung Spiegel yang sayangnya masih belum direnovasi sehingga masih terkesan kumuh, namun disitulah nilai keantikannya (dan lebih nampak bila nanti diperbaiki). Julukan Venezia van Javapun pernah disematkan pada kota ini, karena dulunya terdapat kanal-kanal yang sisanya dapat ditemui di Jembatan Mberok (penjawaan dari Brug) dan sayangnya sudah tidak dapat diangkat lagi seperti dulu.

Dari Gedung-gedung kawasan Kota Tua, Kantor Pos, Polder Tawang, Kauman, Pecinan, Pekojan sampai Bubakan itulah yang jadi titik kota Semarang bermula. Saya tidak pernah menduga kalau akhirnya saya bisa menemukan tugu kecil didepan Kantor Pos Semarang yang merupakan penanda Kilometer Nol kota ini.

Beruntungnya, kawasan-kawasan tersebut sangat dekat dengan tempat tinggal saya saat ini. Hanya dua kilometer dan butuh waktu hanya 5-10 menit dengan naik kendaraan, baik pribadi maupun angkutan umum. Kadang saya jika ada waktu senggang sering pergi ke Kota Lama sampai Pecinan dengan alasan untuk menikmati kehidupan sehari-hari di Kota Lama, meskipun kesannya masih kumuh karena belum meratanya perbaikan sarana dan prasarana disana.

Meski demikian, saya begitu menyukai setiap detail perjalanannya. Mulai jalan-jalan ke Klenteng Tay Kak Sie alias Klenteng Gang Lombok yang dibangun tahun 1746 dan merupakan Klenteng paling besar di kawasan Pecinan Semarang, hingga Masjid Jami Pekojan dimana setiap bulan Ramadhan selalu menyajikan bubur Gujarat saat buka puasa bagi para jamaah. Atau juga setiap akhir pekan ada Pasar Semawis yang dibuka di sepanjang Gang Warung, yang menjanjikan petualangan kuliner nan seru bagi warga Semarang dan sekitarnya.

Saya pernah mengantar beberapa teman ketika mereka mengadakan kunjungan ke Kota Semarang. Sebagian besar ternyata belum pernah blusukan sampai bagian dalam Kota Lama, jadi ketika saya jadi penunjuk jalannya, saya bawa mereka ke gang-gang sempit yang sering saya jadikan jalan pintas untuk menuju ke tempat seperti Klenteng Gang Lombok atau Masjid Jami Pekojan, ataupun jika ingin nembus ke daerah sepanjang Gang Pinggir sampai Wot Gandul dimana terdapat tiga klenteng kecil disana.

Saya jadi ingat ketika menjadi pemandu salah seorang teman dari Jakarta. Dari Lawang Sewu, kami berdua pergi ke Kota Lama dengan jalan kaki. Waktu itu saya tanya, apa mau jalan kaki kesana? Untungnya dia meskipun perempuan tapi doyan jalan juga. Berhubung sudah kenal lama di sebuah jejaring sosial, maka saling percaya saja. Waktu dia minta diantar ke Lawang Sewu dan kami bertemu disana, saya malah banyak diam karena sudah bosan. Gimana gak bosan? Karena Lawang Sewu sudah jadi ‘makanan’ saya sehari-hari kalau pergi kerja, pastilah lewat gedung nan legendaris itu.

Jadi selama pemandu menceritakan tentang sejarah Lawang Sewu sambil menyusuri gedung belakang (karena gedung depan belum boleh dibuka setelah perbaikan), saya hanya diam saja. Saking seringnya saya lewat situ, sampai ada pemandu yang kenal saya dan selalu menyapa saya kalau bertemu. Nah, saya juga sempat jahil dengan menceritakan kisah seram seputar Lawang Sewu kepada teman saya tadi. Dia sampai bilang begini “Udah ah, jangan nakut-nakutin.” Setelah puas di Lawang Sewupun kami berjalan lagi sepanjang Jalan Pemuda, melewati DP Mall, Balaikota, Novotel, Paragon dan berhenti sejenak di Lunpia Mbak Lien yang merupakan keturunan langsung pencipta Lunpia Semarang. Dan sesudahnya saya ajak sampai blusukan ke Kawasan Pecinan, tepatnya di Klenteng Tay Kak Sie alias Gang Lombok. Kebetulan juga saat itu menjelang Imlek, dan banyak orang yang sembahyang saat itu. Teman saya tadi yang kebetulan berjilbab bertanya.

“Mas, boleh kan kita masuk kesana?”

Saya menjawab, “Nggak apa-apa kok. Bebas saja.” Sambil melangkah masuk ke Klenteng yang sedang ramai itu, diikuti oleh teman saya tadi.

Usut punya usut ternyata dia belum pernah masuk Klenteng, dan baru itulah dia masuk ke Klenteng, tak tanggung-tanggung di Semarang! Saya turut senang karena paling tidak bisa memperkenalkan Klenteng lain di Semarang selain Sam Poo Kong, karena Klenteng Tay Kak Sie ini juga tak kalah menariknya.

Saya hanya berharap kalau pengalaman itu jadi pengalaman yang mengesankan baginya. Saya juga sangat senang bila bisa mengantar teman-teman dari luar kota untuk menjelajah minimal kota Semarang ini, karena banyak yang bisa disaksikan disana.

Sangat membahana.

8 Komentar

Filed under Budaya, Catatan, Kisah, Perjalanan, postaday, Semarang

8 responses to “(Catatan Hari Ini) : Blusukan Semarang Memang Menarik dan Membahana

  1. di sini juga ada klenteng. ada 2. pengen masuk tapi ga berani

  2. pengen deh kapan2 blusukan semarang.. hihi

  3. wah… jadi ingat pagi2 saya jalan sendiri di sana… tapi gak tahu nama jalannya. tahu2 dah di depan Lawang Sewu aja.
    Soal Lawang Sewu – ndak berani masuk ke dalam sayanya. hehehe. Gereja Bledug cuma lewat aja.

  4. Mas masih di Semarang ya? Dulu di MP pernah bilang mau ngajakin aku keliling-keliling kota Semarang. Inget gak? hahaha *nagih*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s