(Catatan Hari Ini) : Blusukan Pecinan Bersama Lopen Semarang


ImageSebenarnya perjalanan blusukan Pecinan kota Semarang ini bukan untuk pertama kalinya. Bahkan kalau dibilang sudah puluhan atau ratusan kali saya keluar masuk Pecinan dengan berbagai macam tujuannya. Biasanya saya berjalan-jalan sendirian atau maksimal bertiga dengan dua teman, tapi kali ini saya ikut blusukan dengan rekan-rekan Komunitas yang disebut Komunitas Lopen Semarang. Lopen sendiri berasal dari kata Lopen dalam bahasa Belanda yang artinya lebih kurang ‘jalan-jalan’ atau ‘blusukan’.

Sebenarnya rencana blusukan bareng-bareng itu diadakan tanggal 23 Februari 2013 lalu. Namun karena kendala teknis, yakni banjir besar yang melanda Kota Lama sehingga acara ini diundur Sabtu berikutnya, yakni tanggal 2 Maret 2013. Tempat berkumpulnya masih sama, yakni Kelenteng Tay Kak Sie yang lebih dikenal dengan Kelenteng Gang Lombok. Pukul 08.30 WIB, semua peserta berkumpul di depan Kelenteng untuk mendapatkan arahan kemana saja nanti harus pergi. Di depan Kelenteng yang berlumpur karena malam sebelumnya kebanjiran itu, kami tetap bercanda dan bagi yang masih baru saling memperkenalkan diri. Keakraban sudah langsung terjalin ketika kami mulai melakukan perjalanan.

Image

Untuk rute pertama, kami mendatangi sebuah bengkel di Jalan Petudungan yang baru saya ketahui terdapat Sasana Rajawali Sakti, yakni perkumpulan barongsai. Tempat ini juga sekaligus sebagai pusat kerajinan barongsai. Pak Heri Chandra (44 tahun) mengatakan kalau tradisi pembuatan barongsai ini sudah dilakoni selama 4 generasi dan kini mulai diturunkan kepada anaknya yang bernama Satya Heri Chandra. Dari beliau kami mendapat banyak pengetahuan, termasuk asal mula barongsai yang diceritakan berasal dari kejadian serangan barongsai terhadap ternak penduduk, sehingga seorang tukang kayu membuat tiruan makhluk tersebut dari bambu dengan tujuan untuk menakut-nakuti makhluk tadi.

Tahun berikutnya ditambahkan bunyi-bunyian, dimana saking takutnya dikejar-kejar masyarakat, makhluk barongsai ini terperosok sehingga salah satu kakinya pincang. Itulah yang mengakibatkan barongsai selalu mengangkat salah satu kakinya. Cerita ini sangat menarik, karena diceritakan langsung dari orang yang terlibat didalamnya. Pak Heri yang juga masih aktif memimpin pertunjukan Wayang Potehi ini juga menjelaskan banyak tentang bahan-bahan, kualitas serta perbedaannya dengan barongsai dari negeri tetangga, Malaysia. Banyak hal yang disampaikan beliau yang bernama asli Thio Hauw Liep ini, termasuk soal kurangnya kekompakan antar seniman barongsai di Semarang jika dibandingkan dengan daerah lainnya. Harapannya juga agar para seniman barongsai mendapat bapak asuh demi mengembangkan kesenian asal Tiongkok yang kini juga menjadi bagian dari kesenian Indonesia.

Tambahnya juga, dia sudah memasok barongsai buatannya sampai Sumatera dan Sulawesi, sementara kalau Kalimantan kebanyakan mengambil langsung dari Malaysia.

Image

Setelah perbincangan yang sangat membumi dengan Pak Heri Chandra ini, kamipun melanjutkan perjalanan menuju Gang Warung. Disitu kami berhenti sejenak di Apotik Sumber Sehat atau Toen Djin Tong yang juga merupakan salah satu apotik tua di Kota Semarang khususnya. Disitu sebagian dari kami bertanya-tanya sedikit tentang sejarah apotik ini. Sayangnya hanya sebentar kunjungan itu dan perjalanan kembali dilanjutkan.

Image

Kali ini kami mendatangi pusat pembuatan Bong Pai atau batu nisan yang ternyata juga merupakan usaha turun temurun. Menurut Pak Pianto Sutanto (Tan Hay Ping) pemilik usaha ini, pembuatan Bong Painya ini sudah dimulai sejak tahun 1911 dari generasi neneknya hingga kini. Jadi totalnya sudah hampir 102 tahun usia dari pembuatan Bong Pai Hok Tjoan Ho yang artinya kurang lebih beruntung dan sejahtera ini. Cerita menarik yang kami dapatkan antara lain, mereka berganti bahan batu berkali-kali mulai dari batu asal Makassar kemudian Getasan, Purwakarta, Godean dan akhirnya batu dari Kuningan, Jawa Barat. Pengerjaan batu granit lebih cepat dibandingkan dengan batu biasa, dan soal harganya itu negosiasi antara Hok Tjoan Ho dengan konsumennya jadi rahasia perusahaan. Saat perbincangan akan berakhir, ada pelanggan yang datang untuk urusan uang panjar bong keluarganya. Jadi percakapanpun terputus sejenak. Pak Pianto sempat mengungkapkan kalau generasi sekarang lebih suka menjual daripada membuat Bong Pai karena sudah enggan berkotor-kotor. Ketika saya tanya, apakah sudah ada yang akan meneruskan usahanya, Pak Pianto menjawab kalau dia tidak punya keluarga sendiri dan ada kerabatnya yang sudah siap meneruskannya.

Percakapan di gang kecil ini membuat saya terbayang akan profesi orang-orang keturunan Tionghoa di masa lalu. Kebanyakan profesi seperti pembuat Bong Pai ini dibawa sejak nenek moyang mereka berpindah dari Daratan Cina menuju Nusantara.

Image

Hari semakin terik, namun kami, Komunitas Lopen Semarang kemudian lanjut ke pusat Pembuat Rumah Akhirat yang berada di Jalan Gang Cilik dekat dengan Kelenteng Hoo Hok Bio. Saat itu sedang dibuat rumah besar pesanan untuk ritual Co Kong Tik di sore harinya. Menurut sang pemilik, Ong Bing Hok, usaha ini sudah dimulai sejak puluhan tahun silam, dan beliau adalah generasi ke-empat yang meneruskan usaha ini. Menurut penjelasannya, harga rumah-rumahan kertas ini bervariasi, tergantung dari desain serta kemampuan dari keluarga si mati. Harga satu rumah minimal 1 juta dengan ukuran tipe 36, sedangkan yang termahal bisa sampai melebihi 10 juta. Dan rumah-rumahan yang saya lihat disana adalah pesanan yang paling besar.

Nah, kebetulan kami mendapat info menarik dari Pak Ong, kalau malamnya akan diadakan ritual Co Kong Tik alias mengirim rumah di Kelenteng See Hok Kiong yang terletak di Jalan Sebandaran I. Informasi ini tentunya sangat menarik, karena jarang-jarang ritual seperti itu diadakan. Namun sayangnya dari semua teman-teman, hanya saya yang punya waktu untuk pergi kesana.

DSC00705

Perjalananpun berakhir di sebuah rumah yang kata Yogi, salah satu pentolannya menjadi tempat syuting film Tanda Tanya yang menjadi kontroversi dan tidak bertahan lama penayangannya. Rumah itu saat kami datangi sedang dibersihkan karena banjir sebelumnya, dan papan nama rumah makannyapun masih ada lho. Rumah itu berarsitektur Cina dibagian dalamnya dan sebagian terbuat dari kayu. Setelah selesai berjalan-jalan keliling empat tempat, kamipun akhirnya berhenti di Kelenteng Tay Kak Sie lagi. Sebagian nongkrong di warung Lunpia, sedang sisanya di Pujaseranya.

Secara umum, perjalanan ini sangat menarik, karena dapat membuka wawasan lagi bagi kita semua khususnya warga Semarang. Sehingga nantinya dapat menambah lokasi baru yang menarik untuk dikunjungi, sekaligus lebih mengenal Semarang. Harapannya, nanti peta titik-titik menarik Kota Semarang akan terus ditambah, sehingga tidak hanya berkisar Tugu Muda-Lawang Sewu-Gereja Blenduk-Masjid Agung Jateng dan Sam Poo Kong belaka.

DSC00716

Semoga event ini akan menambah kesadaran kita bahwa Semarang itu unik. Setahap demi setahap komunitas Lopen Semarang akan terus meneroka wilayah ini sehingga pemetaan tempat-tempat wisata dan bersejarah akan lebih banyak lagi. Sukses.

Bambang Priantono
3 Maret 2013

Advertisements

12 Comments Add yours

  1. Lihat apotek herbalnya jadi inget film Yip Man: The Legend is Born waktu Yip Man (Dennis To) berantem sama Leung Bik (Yip Chun)

    1. Hehehee..aku punya foto komplitnya. Cuma aku share pelan-pelan dulu.

      1. kurdiman tauhid says:

        mas,saya bolehkan minta foto asli tentang rumah pecinan di semarang,salah satunya saja,interior rumah di pecinan semarang,bisakah dikirim ke email saya?saya sedang menempuh kuliah jurusan desain interior di bandung,sedang ada tugas mengumpulkan foto dan arsitektur asli bangunan rumah pecinan disemarang nya mas,mohon bantuan nya,jika bisa bisa share ke email saya:kurdimantauhid@GMAIL.COM,atau sms ke 0878251908087.terima kasih.

      2. Kalau soal interiornya saya harus minta ijin dulu ke yang punya. Soalnya banyak yang saya ambil dari luar. Tapi coba saya usahakan…

  2. cindycyrilia says:

    rindu semarang.. kangen lumpia, pecel di deket bioskop jadul di simpang lima, rawon, nasi opor buat sarapan, ampyang, usus goreng di pasar johar.. 😀 Insya Allah tahun ini harus pulkam.. 😀

    1. Hehehehe..wajib doong ayooo

  3. Lopen…hakikatnya tak sedangkal judulnya itu pasti. Komunitas ini merasakan perlu melakukan dalam rangka menguntai pasel yang pernah mosak-masik di waktu lalu. Salam dan tetap semangat!

    1. Iya, pendek kata jalan2 blusukan ini sekalian belajar menatanya kembali.

      Makasih njih Pak Kris.

  4. gambarpacul says:

    Pecinan kuwi ning kota lama to?

  5. kapan aku diundang neng semarang?

    1. Yo kapan lho isone…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s