(Cerita Fiksi Lama) : Sore di Masjid Nurul Fatimah


Masjid Nurul Fatimah.

Masjid ini berada disebuah perkampungan yang ramai. Masjid ini nampak megah, berdiri di lahan seluas 800 meter persegi, tanah wakaf milih Almarhum Haji Usman yang dihibahkan 10 tahun lalu. Sehari-hari ada saja kegiatan yang dilaksanakan di masjid ini.

Adzan berkumandang, tapi jamaah yang datang malah berkumpul di teras masjid nan dingin berdekatan dengan tempat wudlu.

Kerumunan semakin lama semakin banyak, dan tatkala didekati ternyata mereka berkumpul karena ada seorang remaja tanggung berjaket lusuh, bercelana hipster pendek dan bertopi tertidur dengan pulasnya diteras masjid. Entah sejak jam berapa dia disana dan tertidur seolah tidak ada apa-apa. Sejak tadi juga Pak Rahman, takmir Masjid Nurul Fatimah berusaha membangunkannya.

“Mas, mas, bangun” bisik Pak Rahman sambil sedikit mengguncang tubuh pemuda kurus itu

Tapi…tidak ada respon. Pemuda tadi sama sekali tidak bergeming

Ustadz Ashari juga membantu Pak Rahman

“Ssstt…bangun Mas, sudah masuk Maghrib.” sembari mengguncang bahu

Tetap saja tidak ada gerakan berarti dari si pemuda.

Sementara adzan sudah mulai berkumandang.

“Siapa sih dia?” tanya Pak Gun, warga sekitar yang berbadan tambun

“Entahlah Pak.” Jawab Pak Rahman sambil menaikkan bahunya pertanda tidak mengerti. Sementara jamaah lain terus berdatangan dan langsung mengerubung si pemuda.

“Siram saja pakai air!” seru seorang jamaah

“Masjid bukan tempat tidur!” seru lainnya

Semuanya langsung berkasak-kusuk bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Sementara sang pemuda seolah tak peduli dengan sekeliling terus tenggelam dalam tidurnya.

“Mas, bangunn!!!” seru Pak Rahman, kali ini dia mengguncang tubuh pemuda lusuh itu lebih keras.

Namun….hasilnya nihil, sementara adzan sudah mulai memasuki pamungkasnya.

“Bisa bangun tidak sih??” salah satu jamaah berjaket biru terlihat mulai kesal.

“Itu tidur apa mati?” sahut seorang wanita yang baru datang dan langsung merangsek ke kerumunan.

“Ya sudah, ayo disiram air saja. Maghrib sudah masuk.” perintah Ustadz Ashari

“Baik ustad” jawab Pak Rahman sambil mengambil segelas air di tempat wudlu. Sementara yang lain mulai membubarkan diri sambil menggerutu pasal pemuda yang masih terlihat tertidur dengan tenangnya itu. Sejurus kemudian, Pak Rahman sudah datang dengan membawa segelas air dan menyerahkannya kepada Ustadz Ashari.

“Mas, mas…bangun!” sekali lagi Ustadz Ashari berusaha

Tapi…

Si pemuda tadi justru terlihat nafasnya mulai melemah.

Ustadz Ashari seketika terkejut.

“Kowe ra popo Mas?” sambil terus mengguncang-guncang tubuh anak muda itu.

“Mas, kenapa kamu mas..nyebut mas..nyebut!!” Pak Rahman tak kalah kagetnya.

Nafas si pemuda semakin melemah

“Pak Rahman! Cepat tekan dadanya!” Ustadz Ashari. Pak Rahman buru-buru berusaha memberi bantuan pernafasan pada pemuda tadi sementara jamaah yang semula hendak sholat Maghrib seketika bubar karena kehebohan itu.

“Ya Allah..ada apa ini?” semua jamaah berseru dengan penuh kekhawatiran.

“Cepat telepon Rumah Sakit!” ada salah satu jamaah yang langsung mengambil telepon selulernya.

Tanpa diketahui para jamaah, si pemuda yang tidur tadi sudah berdiri dibelakang mereka. Dengan tatapannya yang kosong, sang pemuda hanya menatap nanar pada tubuhnya yang dikerubungi orang-orang yang berusaha membangunkannya.

Dia diam…seribu bahasa. Semakin sayup-sayup suara orang-orang itu terdengar digendang telinganya, dan terdengar suara halus memanggilnya.

“Sudah saatnya kau pergi” kata suara itu.

Si pemuda kemudian mengikuti arah suara tadi dan terus menjauh dari tubuhnya yang kini sudah membeku.

Bambang Priantono

11 Desember 2011

Semarang

Peringatan : 100% Fiksi

Advertisements

10 Comments Add yours

  1. Membayangkan kita mungkin akan seperti itu, pergi mengikuti bayangan diri yang semakin jauh meninggalkan tubuh.

    1. Suatu saat nanti Mas…

      1. Duh… kelihatannya belum siap, gimana ini kalo tiba-tiba bisa seperti itu. *merenung*

      2. Aku juga habis nulis itu dulu ya mikir gitu Mas….piye..njur piye ngono..

  2. tinsyam says:

    pernah tuh diceritain adik ada yang mati di mesjid kaya orang tidur..

  3. fauziyah junid says:

    Kalau kita pergi saat dahi kita sujud pdNya..bahagiakan..

  4. innaalillaahi wa inna ilaihi raaji’un

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s