(Catatan Hari Ini) : Blusukan Jalan Kaki Itu Sangatlah Sesuatu


Ada satu ritual yang dua bulan terakhir ini saya lakukan. Berawal dari sebuah ‘keterpaksaan’ karena keadaan yang mengharuskan demikian. Waktu itu saya sedang dalam suatu kondisi dimana mau tidak mau mengharuskan diri saya berjalan kaki dari rumah ke tempat kerja. Ada dua faktor yang menjadi penyebab, yakni faktor A dan faktor B. Tapi yang lebih saya tekankan adalah faktor B, yakni faktor penasaran dan pembakaran kalori, sementara faktor A biarlah jadi rahasia saya sendiri (peringatan, bagi yang tahu tidak usah bahas disini).

Tempat kost saya berada di kawasan Pendrikan, Semarang Tengah. Sementara tempat kerja saya berada di kawasan Gombel yang jaraknya 7,5 kilometer. Kalau jalannya lurus mendatar mungkin bukan masalah. Tetapi karena kontur Kota Semarang yang unik dan terbagi jadi kota bawah serta kota atas, maka perjalanannya saja sangat aduhai, terlebih bagi orang-orang kurang kerjaan yang berjalan kaki. Baik karena alasan bokek atau niat diet ekstrim tanpa repot-repot pergi nge-gym. Kalau dalam kondisi biasa, saya naik bis kota yang banyak pilihannya. Mau naik bis kota biasa/Damri yang tarifnya Rp 3000,- (terhitung dari Tugu Muda ke Jatingaleh), atau bis trans Semarang alias BRT dengan tarif Rp 3.500,- dan turun di Halte Kesatriyan.

Saya sendiri memulainya dari perjalanan pulang. Biasanya saya pulang jam 15.00 WIB atau bila ada keperluan misalnya rapat atau pelatihan, bisa sampai jam 17.00 WIB baru pulang. Perjalanan dimulai dari Gombel Lama-PLN Jatingaleh-Sultan Agung-Akpol-Kagok-Elizabeth-Gajahmungkur-Kariadi-Pasar Kembang-Tugu Muda sampai tempat kost saya. Pertama kali melakukannya, sangat melelahkan, hingga saya pegal-pegal selama beberapa hari. Namun entah mengapa, lama-kelamaan saya mulai menyukai cara seperti ini. Pergi-pulang dengan jalan kaki.

Teman saya berkomentar kalau saya ini gila. Ada juga yang berkomentar, apa gak malu jadi bahan omongan. Kebanyakan tidak percaya dengan apa yang saya lakukan. Bahkan ada yang berkata kalau saya nanti bakal dijauhi orang-orang, dengan alasan secara sosial perilaku itu tidak bisa diterima. Jelas saja saya membantah semuanya, karena toh saya tidak merugikan orang lain. Ini semua dilakukan untuk kepentingan diri saya sendiri. Memang awal mulanya sangat berat, terlebih kalau berangkat. Berangkat dari rumah biasanya setelah Sholat Subuh, sekitar pukul 04.32 WIB dimana langit masih gelap dan tidak banyak orang. Saya hanya menyikat gigi dan membawa tas berisi kelengkapan seperti baju kerja, alat mandi dan beberapa berkas yang dibutuhkan.

Perjalanan ke kantor ada tiga tantangan. Yakni tanjakan pertigaan Kariadi yang terus naik sampai halte Gajahmungkur, tanjakan setelah Don Bosco Sultan Agung dan tanjakan Jatingaleh. Yang paling berat tentunya tanjakan menuju Halte Gajahmungkur yang kalau dihitung-hitung mungkin berjarak 1-2 km, dan tentunya menguras tenaga saya. Cuma ketika saya melewati tanjakan ini, yang saya pikirkan hanya hal-hal gembira sembari menyanyi-nyanyi dalam hati (pada kesempatan tertentu malah ingat iklan Mirai Ocha yang bikin Ganbatte). Biarpun nafas rasanya mau putus, ada rasa puas alias plong ketika sampai di Halte Gajahmungkur.

Total perjalanan saya dari rumah ke tempat kerja bila dihitung memakan waktu 1 jam 15 menit tanpa berhenti. Dan sekitar pukul 05.45 WIB dipastikan sampai, meski sering keduluan dengan rekan yang bersepeda (harap maklum, kecepatan sepeda pasti lain dengan jalan kaki, kecuali jika saya punya aji kidang mamprung yang mampu lari dengan kecepatan laksana kilat). Sesampai di kantor, tentunya saya langsung mandi dan berganti pakaian dengan busana kantor. Pertama kali saya selalu oleskan kaki dan betis dengan balsem otot sehingga ada murid saya yang bertanya-tanya, “What smell is it?” Saya hanya nyengir kalau sudah ditanya soal itu.

Selama beberapa waktu, saya jadi akrab dengan balsem otot. Maklum hampir setiap hari menempuh perjalanan 15 km pulang pergi dengan jalur yang ekstrim naiknya seperti itu. Rasanya memang sesuatu sekali, lambat laun otot terbiasa dan saya rasakan betis jadi makin bulat dan mirip dengan punya abang becak (boleh dibandingkan), dan kecepatan jalanpun makin bertambah. Ditambah lagi, berat badan mengalami penurunan signifikan sehingga saya makin semangat, karena celana-celana sudah mulai melonggar setelah sempat gendut selama beberapa bulan.

Namun selain itu, saya juga dapat menikmati suasana Kota Semarang terutama atas ketika pagi. Hawa yang masih sejuk, kadang gerimis dan jalanan yang sepi. Itu seperti menjadi hiburan tersendiri. Belum lagi ketika dengan iseng saya mengambil jalan pintas memasuki kampung-kampung yang jalannya menanjak tajam. Wah, benar-benar memegalkan, tapi rasanya semua terbayar ketika melihat pemandangan yang disuguhkan. Lebih-lebih ketika saya berjalan pulang. Kadang saya menerobos melewati Akpol, dimana saya sempat kesasar dulu sebelum menemukan jalan keluarnya.

Oleh karenanya, saya selalu membawa kamera untuk mengabadikan momen-momen atau pemandangan yang bisa jadi menarik. Pemandangan Semarang dari titik tertentu ketinggian sangat keren, dan sulit ditemukan di kota-kota besar lainnya. Sehingga kadang saya mengabadikannya, terlebih jika cuaca sedang bersahabat. Sensasi petualangan blusukan dari kampung ke kampung juga sangat saya rasakan. Kadang saya cari jalur alternatif bila bosan melewati jalan besar. Jalur alternatif ini kadang lebih melelahkan karena menanjak, namun semuanya dianggap sebagai latihan kardio. Efek lain yang saya rasakan juga, saya jadi tidak mudah lelah. Hanya kalau siang dijamin mengantuk.

Efek petualangan disamping membakar kalori ini yang saya lakukan. Banyak titik-titik tertentu di Semarang yang tak terduga namun menarik. Seperti pemandangan dari kawasan perbukitan, dimana deretan gedung dan pemukiman Kota Bawah dapat dilihat, plus pelabuhan Tanjung Emas yang sibuk. Itu sudah jadi hiburan tersendiri bagi saya, apapun kondisinya. Banyak hal-hal kecil nan remeh disepanjang perjalanan, namun dapat menjadi perenungan bagi saya sendiri, dan mungkin bisa saya bagikan kepada orang lain. Saya jadi berpikir akan meneruskan kebiasaan ini, bila belum ada kesibukan lain, karena manfaatnya sangat besar dan bisa jadi membuat saya lebih dewasa dalam menghadapi kehidupan ini. Jika tidak karena kondisi tadi, tentunya saya takkan bisa melihat sisi lain kota yang saya mukimi saat ini.

Kisah ini akan berlanjut dan sangat sesuatu bagi saya.

24 Comments Add yours

  1. fauziyah junid says:

    kehidupan yang paling bermakna…
    salute Sir Bambang…
    (jadi teringat bejln kaki hanya kurang 1/2 km ke skolah…ms kecilnya..waktu pagi..wah nyaman banget..
    kongsi cerita juga…
    di skool..seorg guru chinese berbasikal ke tempat kerja,..bassikalnya..aduh..buruk banget..beliau juga mengumpul bahan2 recycle…tapi bila diselidiki..rupanya..punya anak 2 org sdg belajar di Indonesia..jurusan kedoktoran..yaaah…besarnya pengorbanan…)
    pesanan..jika sdg berduka ingat waktu bahagia..dan jika sdg berbahagia ingat waktu duka…In Shaa Allah…akan ada pengubatnya..
    sukses terus…

    1. Hehehehee…semua org punya kisahnya sendiri, tapi pasti ada makna yang diperoleh.

  2. tinsyam says:

    15 km pulang pergi.. mantap jaya.. apalagi subuhsubuh ya.. kebayang deh tanjakan kariadi ke gajahmungkur-jatingaleh, ehtapi ada jalan potong kan lewat akpol?
    pernah tuh dulu ikutan gerak jalan sehat dari banyumanik ke tugu muda.. turunan sih ya hihihi.. cepat juga..
    jadi sekarang sudah turun berapa kilo? sehat nih.. ongkos angkot bisa nabung buat beli sepeda tuh..

    1. Iya, salah satu niatnya gitu Mbak…irit hehehehee. Makasih ya..
      Udah turun 4 kilo. Lumayan balik ke berat setahun lalu.

  3. Julie Utami says:

    Wah serasa ikut dengan anda di dalam perjalanan itu pak guru! TFS bikin saya kepengin ke Semarang, terus terang saya nggak pernah ke Semarang. Saya pikir kotanya datar-datar saja……….

    Itu murid-muridnya penciumannya tajam ya hahahahaha……… hahayyyyzzzz sesuwatu sekali itu!!!!

    1. Hahayzzz….Semarang itu unik. Banyak yang bisa dilihat meski sering terlewatkan.

      1. Julie Utami says:

        Woooo……… pantesan betah di Semarang.

      2. Kotanya saja punya dua wilayah..kota bawah dan atas. Untuk ukuran kota besar di Jawa cukup ekstrim kok.

  4. gambarpacul says:

    aku nang kene ya dadi seneng mlaku cak….ning tetep kalah bantere karo wong korea……

    1. Yo maklum lah kebiasaane hehehehe

  5. aku tau seko hotel neng jl pemuda mlaku blusak blusuk ngubengi kota lama tekan tawang, bali meneh bablaske tugu muda, belok kiri bablas simpang 5 bar kui gempor trus balik hotel naksi.. 😀

    1. btw, iki cool tenan! soale aku apal banget tanjakan2e.. 😀

      semangkaa…

    2. Hehehehehehee…..iku sik ra sepiro’o je…
      Jajal hayo munggah.

  6. gw share d FB ya, boleh ga?

  7. cak nono sangaaarrrrrr!

  8. JNYnita says:

    wuah manteb… dulu aku pernah ada masa2 jalan kali untuk menuju kampus, tp cm utk naik angkot… sayangnya belum punya kamera.. tp tetep seru, aku iseng2 coba jalan baru, kadang lancar, kadang harus muter balik krn buntu.. hahaha.. aku pake pedometer saat itu, jd jumlah langkahku terhitung… rasanya enak ya Mas, pagi2 masih seger jalan kaki, pas udah sering badan jd enteng.. 🙂

    1. Hahahahahaa..Itu yang aku rasain.
      Kesasar-sasar, bahkan pas jalan buntu..eh hujan deres. Asem tenan og…tapi ternyata aku jadikan itu simbol menghadapi tantangan hidup.

  9. anotherorion says:

    nek nganggo aji digonggong kirik luwih banter maning mbang, ngalaih palentino rosi, nek udan priwen guweh?

    1. Nek udan…gampang wae…ngiyup..hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s