(Cerpen Lama) : KOSAKATA


Bahasa itu ibarat sungai

Dapat mengalir dengan tenang

Namun kadang mengganas

Menghempas semua yang didepannya

Salim menuliskan bait-bait puisi pendek itu diatas kertas kerjanya. Mengetuk-ngetukkan pensil diatas meja sambil sesekali menggaruk kepala keritingnya yang nampak berantakan. Dia masih harus mengurus penempahan kamar hotel bagi para klien atasannya yang akan datang besok hari. Salim merasa gelisah ketika tadi bossnya berkata

“Lim, besok siapkan meeting ya.”

Entah untuk beberapa waktu belakangan ini, Salim merasakan ada yang janggal dalam percakapan sehari-hari di kantornya. Kesemuanya berbanjir istilah-istilah asing, yang kadangkala tidak disaring terlebih dahulu. Seolah bahasa yang dipertuturkannya selama ini terserang air bah dari bahasa lainnya. Salim sendiri kerap dilanda pusing yang berkepanjangan lebih-lebih bila dia mendengarkan percakapan kawan-kawannya.

“Eh, Dini entar lunch yuk di kafe depan sana.”

Don’t worry, pasti gue dateng ke sana. Take it easy.”

‘Bon, loe entar dinner dimana?”

“Oh, gue dinner sama sekalian billiard di Roxy.”

Kosakata-kosakata yang terasa asing namun lazim dipakai. Dari negeri asing namun seolah sudah menjadi bagian dari bahasa kita sendiri. Semenjak pekan bahasa yang pernah dia ikuti dalam suatu forum sastra beberapa waktu yang lalu, dia seolah mengalami rasa khusus dalam sikap berbahasa. Banyak buku-buku bahasa yang dia baca setiap hari, kemudian dia memperhatikan berbagai sikap berbahasa yang sedang berlaku di sekitarnya.

“Aku ini kadang bingung, Nur.” Kata Salim suatu hari saat makan siang

“ Mengapa ya sekarang bahasa kita seperti kebanjiran dan  sulit dibendung.” Salim seolah beramsal.

‘Banjir apa sih? Aku malah tak mengerti?” Nur kelihatan makin bingung

“Banjir bahasa asing dimana-mana, sekarang ini coba kamu lihat.” Salim berdiri sambil menunjuk beberapa tempat.

Department store, Shopping centre, bookstore, distro, outlet factory, 50% off, dan berbagai istilah lain yang membuat Salim sendiri seolah terperangkap.

“Emang kenapa kalau istilah asing itu makin banyak? Kan nggak masalah, berarti kita sudah mulai masuk kedalam kancah pergaulan internasional.” Nur nampak acuh saja demi melihat Salim menunjuk berbagai papan nama berbagai perusahaan atau toko yang kian menjamur dilingkungan sekitar kantor Salim.

“Sudahlah Lim, ngapain loe pusingin soal kosakata. Biarin aja laghee.” Nur mengakhiri pembicaraan setelah suapan terakhir nasi goreng kambingnya memasuki kawasan lambungnya yang kian membuncit.

Namun ucapan Nur tadi justru makin mengganggu alam pikiran Salim.

***

Salim berada di sebuah benteng, dia melongok kedalamnya…namanya Bahasa Indonesia. Benteng itu berdiri diatas sebuah karang, namun karang yang rapuh. Sedang diseberangnya ada sebuah benteng yang nampak sangat kokoh, benteng yang Salim lihat bertuliskan “KATA ASING”. Salim melihat seisi benteng “KATA ASING” tadi mempersiapkan sebuah senjata. Senjata berupa meriam yang bertuliskan “ISTILAH ASING” diarahkan ke benteng BAHASA INDONESIA yang rapuh dan banyak lubang disana-sini. Meriam dari seberang benteng kemudian diledakkan, mengarah ke tempat Salim. Isi meriam tadi melesat dan menghunjam benteng yang ditempati Salim. Salim terlontar keatas dan hanya bisa berteriak…

“Aaaaaa!” Salim tersentak, dan seketika terbangun dari tempat tidurnya. Mimpi.

Salim dalam perjalanan ke kantornya membaca surat kabar. Didalam surat kabarpun banyak sekali istilah-istilah asing baik asli maupun sudah serapan bertebaran. Threshold, software, hardware, provokasi, diskursi, globalisasi, akselerasi, diskriminatif, resign, dan lain sebagainya.

Lalu di dalam televisi juga, banyak istilah-istilah asing khususnya pada nama acara-acara bertebaran, persis seperti meriam. Breaking news, top nine news, superdeal, who wants to be millionaire, Today’s dialogue, Headline news demikian seterusnya.

“Lim, ada briefing nanti jam 1, sekalian hearing lho.” Mirna sang sekretaris menyapa Salim yang sedang melangkah menuju ruangannya.

“Baik Mir, kamu kenapa hari ini? Kok seperti lesu?” Salim menggernyitkan dahi demi melihat Mirna yang sedikit mengantuk.

“Tau nich, gue lagi boring.” Mirna berkata demikian sambil buru-buru pamit karena harus menyerahkan dokumen kepada sang bos. Kembali Salim terbawa kealam bawah sadar. Kosakata-kosakata dan kosakata terpatri dalam benaknya.

“Kenapa ya dalam bahasa percakapan kita cenderung menggunakan istilah asing daripada istilah milik sendiri?” batin Salim berbicara sendiri.

Selama rapat pendek atau briefing dan dengar pendapat atau hearing, Salim hanya termangu mendengar penjelasan yang lebih mirip pidato. Terasa begitu membosankan bila mendengar bosnya berbicara. Namun sembari demikian, Salim mencatat beberapa kata-kata yang dilontarkan sang bos.

Natural, deadline, meeting, commercial, aplikasi, cancel, disfungsi, analisis, dan seterusnya.

Semua itu dicatat oleh Salim, bahkan menjelang pulang kantor, kertas berisi catatan istilah asing tersebut disimpannya dalam saku. Di jalan menuju pulang, dia temui lagi istilah-istilah asing, reservation service, guide tour, handicraft center.

“Ah, kenapa aku rasanya seperti di negeri asing? Bukan dinegeriku sendiri?” Salim masih bertanya-tanya.

Dalam relung hatinya, dia ingin mencari padanan-padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia. Bahasa yang seharusnya bisa menjadi panutan dalam pembicaraan sehari-hari. Keprihatinan Salim makin membesar, manakala bahasa Indonesia semakin hari semakin kebanjiran kosakata bahasa asing, khususnya dari bahasa yang menjadi ajang pergaulan antarbangsa. Dibidang teknologi dan ilmu pengetahuanpun merasuk istilah ini semakin dalam. Salim mempunyai kepercayaan kalau bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa yang besar. Oleh karenanya dia bergegas berlari ke toko buku. Dibelinya segera sebuah kamus besar bahasa Indonesia, dan buku karya Remy Silado yang berjudul 9 dari 10 kata Bahasa Indonesia adalah Asing.

***

9 dari 10 kata Bahasa Indonesia adalah Asing? Dibukanya buku itu bab per bab. Salim semakin takjub, ketika lembar demi lembar menjelaskan bagaimana pola penyerapan bahasa Indonesia terhadap bahasa asing, seperti kata garpu yang berasal dari garfo dan itu dari bahasa Portugis, lantas begitu banyaknya serapan dari bahasa Belanda, Arab, Persia, Sansekerta, bahkan bahasa daerah terutama sekali bahasa Jawa. Dibacanya buku itu sampai-sampai Salim tertidur.

“Siapa dirimu?” didepan mata Salim tiba-tiba ada sebuah sosok bercadar.

“Tidak perlu kau tahu, Lim.” Sosok yang samar itu berkata dalam dingin

“Tempat apa ini?” seketika disekitar Salim berubah menjadi putih, dan putih

“ Ini adalah warna putih.” Sosok itu berkata

“ Putih, sebagaimana layaknya bahasa. Bahasa sebagaimana kehidupan adalah kertas putih yang bisa menyerap apa saja.” Sosok itu meneruskan bicaranya.

Saat sosok itu mengatakan hal tersebut, tiba-tiba muncul puluhan, ratusan bahkan puluhan ribu kata asing yang seperti air bah mulai membanjiri tempat Salim dan sosok itu berdiri. Kata-kata itu semakin membanjiri Salim dan sosok tadi.

“Salim, jawab pertanyaanku dengan benar. Jika kau menjawab dengan benar maka kata-kata itu akan berkurang dengan sendirinya. Jika tidak, kata-kata tadi akan semakin menenggelamkanmu.” Sosok itu selanjutnya diam saja.

“Apa maksudmu?” Salim ragu, sementara kosakata-kosakata itu semakin mencapai pinggangnya dan naik.

“Jawablah. Apakah kita perlu menyerap kata-kata dari bahasa lain?” tanya sosok bercadar.

Salim terdiam, dia memutar otak untuk mencari jawaban. Sementara sosok tadi hanya diam.

“Kadang perlu, kadang tidak.” Salim menjawab dengan cepat.

“Mengapa kau jawab dengan demikian?” tanya sosok tadi

“Perlu, bila itu tidak ditemukan dalam bahasa kita sendiri. Tidak, bila kita bisa temukan padanannya dalam bahasa kita.” Jelas Salim

Sedikit bah kosakata asing itu mulai menyusut. Namun sosok itu terus bertanya.

“Hmmm….bila misalnya ada dua kata dengan makna yang sama. Satu asing, dan satu asli. Mana yang akan kau pilih?”

Salim kembali dihadapkan pada kegalauan. Disatu sisi, penggunaan istilah asing terasa lebih enak didengar, namun disisi lain penggunaan istilah asli juga harus diperjuangkan. Karena bagaimanapun, keaslian juga perlu.

“Aku akan pilih yang asli senyampang sesuai dengan makna kalimat.” Salim dengan tegas menjawab.

Saat jawaban itu terlontar dari lidah Salim, tiba-tiba dia tersadar dari mimpinya.

“Hhhh!! Mimpi yang aneh!” Salim duduk diatas peraduannya. Dibukanya buku tulisan Remy Silado tadi, dia tiba-tiba teringat dengan bahasa Prancis, iya, salah satu bahasa yang dikaguminya karena bentuk baku yang berusaha mencari dan menemukan kata-kata baru khas Prancis. Yang membuat Salim terkesan adalah, manakala computer dikatakan ordinateur. Berbeda sekali, namun entah kapan bahasa ini menemukan padanannya. Salim hanya terpekur, terbawa oleh lamunannya tentang banjir kosakata tersebut.  Besoknya,

“Oh iya, apa Bos sudah ditempahkan tiga kamar di Hotel Graha Chandra untuk tamu dari Thailand tanggal 5?” Tanya Salim kepada Mirna.

“What? Apa itu penempahan?” Mirna makin pusing tujuh keliling

Booking.” Salim menjawab sambil terus membuka arsip.

“Ooooo……ngobrol dong. Udah tadi gue hubungin hotelnya. Gue jadi bingung ama loe” Kemudian Mirna menelepon entah ke divisi mana.

***

“Nur, perusahaan kita dengar-dengar mau masuk bursa.” Saat makan siang dengan Nur, sahabatnya.

“Oh iya, kapan?” Nur sambil menghabiskan roti isi dagingnya.

‘Dua bulan lagi. Usaha griya tawang perusahaan kita sudah mulai maju pesat sehingga berani memulai masuk bursa itu.” Salim ikut menghabiskan mie bakso yang dipesannya.

“Lim.” Nur membuka pembicaraan

“Iya, kenapa?” Salim memandang Nur dengan penuh tanya.

“Akhir-akhir ini loe makin aneh. Bahasa yang loe pake kok makin lama makin konservatif gitu ye.” Nur menyambung tali wicaranya tadi.

Sementara Salim mendengar beberapa orang sedang bercakap-cakap dengan mencampurkan istilah-istilah bahasa Inggris, padahal setahunya banyak kata-kata itu yang sudah muncul padanannya dan kadang Salim suka tertawa kecil, boring dimaknai dengan bosan, padahal jika dia paham maka artinya adalah membosankan.

“Ya nggak juga Nur, aku hanya berusaha mempelajari bahasa persatuan kita lagi. Coba kamu lihat.” Salim mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah buku catatan kecil yang selalu dia isikan dengan kata-kata baru semenjak dia mengikuti pekan bahasa. Disodorkannya buku itu kepada Nur.

“Coba baca, Nur.” Tawar Salim.

Nur membuka lembar demi lembar buku kecil itu, sambil menggernyitkan dahinya, mencoba memilah dan menelaah tulisan-tulisan yang ada didalamnya. Ada istilah baru dan padanannya dengan yang lama.

Giling, banyak banget istilah-istilah baru ya?” Nur terheran-heran.

“Iya, aku sendiri masih menghapalkan semuanya.”

Nur membaca-baca, ada istilah griya tawang, istal, penempahan, sintas, sangkil, mangkus, pascarembang, pascamodernisme, adikarya, adibusana, ruang maya, entah berapa banyak lagi istilah-istilah yang membuat Nur pusing. Sementara Salim masih meneguk perlahan capputeano-nya. Jam istirahat akan segera berakhir.

“Yah, sebenarnya ada istilah-istilah lama yang tidak terpakai lagi. Tetapi bila dipakai terus menerus, lambat laun masyarakat akan menerimanya kok. Entah kapan.” Salim hanya berkata dalam awang-awang.

“Coba kamu baca-baca istilah komputer dalam bahasa Indonesia.” Salim berkata kepada Nur.

“Oh, tetikus? Lucu banget lho!” Nur tertawa terbahak-bahak

“Maklum saja, kita sudah terbiasa dengan bahasa aslinya. Jadi terdengar lucu.” Salim hanya tersenyum kecut.

“Barangkali kita terlambat memperkenalkannya, Lim. Bahasa bicara kan susah dikendalikan. Karena selalu berubah-ubah. Kalau nurutin bahasa baku, wah bosen banget.” Nur memandang Salim.

Salim seperti tersadar kemudian, bahwasanya bahasa wicara tidak bisa diatur-atur dengan pembakuan. Namun setidaknya, bahasa baku Indonesia wajib diperkaya dengan kosakata-kosakata baru, bisa dari bahasa Indonesia sendiri atau bahasa daerah. Seolah Salim mendapat pencerahan, bahasa akan selalu berkembang dan dia tidak ingin bahasa persatuannya kelak tenggelam oleh bahasa asing.

Salim melihat kearah papan-papan yang terpampang dijalanan dan gedung dekat tempatnya makan. Dalam khayalnya, tulisan dalam papan tersebut bukan lagi mengg unakan kata 50% off, melainkan potongan 50%. Dan dia membaca lagi dalam buku kecilnya yang bertuliskan kosakata-kosakata asli dan ‘asli’ anak negeri.

 

 

Malang, 13 Juni 2006

18 Komentar

Filed under Bahasa, Catatan, fiksi, postaday, Sastra, Uncategorized

18 responses to “(Cerpen Lama) : KOSAKATA

  1. Suka banget sama cerpen ini! Kritis dan langsung kena, tapi nggak menggurui. Bagus (y)

    Saya baru denger semua kata ini: griya tawang, istal, penempahan, sintas, sangkil, mangkus, pascarembang, pascamodernisme, adibusana, ruang maya.

    Agak susah emang memurnikan bahasa ini. Saya pelan-pelan lagi nyoba untuk berbahasa sepenuhnya, ngeganti kata background jadi latar belakang, kata go green jadi penghijauan, tapi masih bingung gimana mengajak orang lain buat memurnikan bahasa juga…

  2. Reblogged this on Portofolio Prita and commented:
    Lokal yang mengasingkan diri. Cerpen dari Pak Bambang, kritis dan menarik, dengan tema yang masih anget.

  3. Cerdas! Ini cerpen yg mengajak pembaca untuk refleksi.

  4. untuk judul postku, walau isinya bahasa indonesia, masih tetep pake bahasa inggris.. huh.. tp kadang susah sih dengan kata yang singkat tp bs merangkum isi post, dan biasanya yg bisa ya yg bahasa inggris itu.. atau aku yg memang gak khatam belajar bahasa indonesianya.. ╯︿╰

  5. fauziyah junid

    seringkali rasa bersalah andai TERguna bahasa asing dlm bhs IBUNDa..masalahnya pelajar yg pintar lebih senang faham jika menggunakan bhs asing….gimana ya…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s