(Today’s Short Story) : BALADA JEMBATAN WONOIRENG


Ini salah satu cerpen eksperimen saya…semoga bisa dihayati dan mohon segala masukan yang bermanfaat.

Terima kasih sebelumnya

Jembatan Wonoireng, 5 Mei

5 Mei 2012

Kupandangi jembatan yang telah ambruk itu.

Senja atau tidak, sudah tiada beda. Matahari senja yang seharusnya menyinar, tertutup oleh awan yang berjelaga hitam. Alampun perlahan-lahan meluruhkan airmatanya membasah bumi tempatku berpijak yang kian lembek. Sungai yang berada didepankupun lamat-lamat mengeluarkan gemuruh amarahnya.

Semakin besar

Semakin deras

Bak raksasa yang terganggu dari tidur panjangnya. Sementara aku hanya berdiri tepekur didepan jembatan itu. Pikiranku melayang kemana-mana. Jembatan ambruk itu hanya bisu saja, seolah tahu apa yang sedang ada dalam benakku. Tiba-tiba hujan seperti menunjukkan kekuatan maksimalnya. Diiringi guruh yang membahana, seolah amarahnya tertumpah.

Tapi, aku enggan beranjak dari ujung jembatan itu. Kubiarkan seluruh badanku basah kuyup oleh guyuran hujan yang menggila itu.

Hujan semakin deras.

Akupun tak peduli lagi.

Tiba-tiba dibelakangku terdengar suara orang berteriak. Milik seorang lelaki tua yang membawa daun pisang sebagai payungnya.

“Hadi!”

Aku menoleh ke arah sumber suara. Ternyata itu suara Mbah Mardi. Laki-laki berusia 70 tahun yang tinggal di gubuk kecil kira-kira berjarak 2 rumah dari tempat tinggalku.

“Iya Mbah? Ada apa?” tanyaku dengan suara seolah berlomba mengalahkan derasnya hujan.

“Sedang apa kamu di dekat jembatan itu?” Mbah Mardi balik bertanya sembari terus mendekat. “Ayo cepat cari tempat berteduh. Hujannya tambah deras!” serunya kemudian sambil menarik tanganku. Sebenarnya aku enggan, tapi aku menurut saja.

Jembatan penghubung desaku dengan dunia luar ini telah lama terputus. Tak lama aku dan Mbah Mardi sampai di gubuk kecilnya yang sudah ditempati sejak istrinya meninggal. Sebenarnya Mbah Mardi dulu rumahnya besar, namun karena habis terbakar karena ulah centeng Pak Dullah yang mabuk sambil bermain api beberapa tahun lalu, yang ternyata juga merenggut nyawa istrinya, akhirnya Mbah Mardipun memilih pindah ke gubuk itu. Yang sejatinya dulu bekas kandang sapi!

Sejak kebakaran itu, Mbah Mardi menarik diri. Si centeng yang jawara kampung tempat tinggalku itupun menghilang entah kemana untuk kemudian diketahui bunuh diri di jembatan yang kudatangi tadi. Sambil menghangatkan diri di perapian dengan segelas kopi panas, Mbah Mardi kembali mengulangi pertanyaannya.

“Sedang apa kamu disitu tadi, Had?”

“Ngitung hujan Mbah” jawabku sekenanya.

TUKK!!!!! Tiba-tiba Mbah Mardi menonjok kepalaku. Seketika aku seperti tersadar dari lamunanku.

“Dasar cah gemblung kowe!” sungut Mbah Mardi.

“Hehehehe…anu Mbah, aku lagi mikir.” Jawabku sembari menyeruput kopi. Rasanya pahit sekali karena ternyata Mbah Mardi lupa memasukkan gula.

“Mikir opo?” tanya Mbah Mardi

“Soal jembatan itu.” Sahutku.

Tiba-tiba sorot mata Mbah Mardi menjadi redup. Rupanya dia teringat lagi dengan kejadian bunuh dirinya si centeng beberapa tahun berselang. Sejak itu, jembatan penghubung desa kami dengan dunia luar semakin hari semakin terbengkalai. Awalnya retak-retak biasa. Tiba-tiba aku teringat kejadian-kejadian yang masih ada hubungan dengan Mbah Mardi.

“Coba kita ingat lagi Mbah. Makanya aku dari tadi diam saja di jembatan itu.” Kataku pada Mbah Mardi yang fisiknya semakin lama semakin ringkih termakan usia.

5 Mei 1994

Jembatan dari batu, semen dan sedikit beton ini diresmikan oleh Pak Dullah yang ngakunya semua pembiayaan datang darinya. Padahal dari kasak-kusuk masyarakat Desa Wonoireng, desaku, semua dana asalnya dari pemerintah daerah yang ditujukan untuk membuka keterisolasian desaku. Sebelum ada jembatan itu kami harus berputar jauh sekali untuk menuju pasar kota kecamatan. Ah…hingar-hingar peresmiannya saja diramaikan dengan pesta tujuh hari tujuh malam tepat diatas jembatan yang diberi nama Wonoireng itu. Waktu itu aku masih berusia 5 tahun.

5 Mei 1995

Jembatan itu mulai retak-retak. Mulanya hanya retak kecil, namun tetap saja dilewati oleh warga Wonoireng yang hendak ke kota kecamatan. Retaknya masih ditepi pagar jembatan. Aku sendiri malah suka berlari-lari disana.

5 Mei 1996

“Pak Dullah!” suatu hari Pak Abud datang ke rumah Pak Dullah yang notabene orang paling berkuasa di desa kami.

“Kenapa Bud?” tanya Pak Dullah dengan nada tidak senang.

“Bapak coba lihat jembatan kita.” Dengan takut-takut Pak Abud. “Padahal baru dua tahun, tapi sudah tambah retak Pak. Kita perlu perbaiki.”

“Ah! Tahu apa kau? Wong jembatan itu aku yang kasih dana dan kuat kok. Halah! Retak-retak begitu biasa saja kok! Gak usah dikhawatirkan!” bentak Pak Dullah jumawa.

“Tapi Pak….” Kata Pak Abud

“Boncel! Usir dia! Muak aku lihat dia!” dengan suara menggelegar Pak Dullah menyuruh centengnya untuk mengeluarkan Pak Abud dari rumahnya.

5 Mei 1997

Retaknya makin membesar, karena kendaraan makin sering melindasnya. Seiring dengan kian retaknya kepercayaan warga terhadap Pak Dullah. Entah sudah berapa kali warga melapor ke Pak Sanip, selaku kepala desa, tetapi dia selalu kalah dengan Pak Dullah terlebih kadang diiringi ancaman bila Pak Sanip terlalu banyak bicara.

“Tidak usah bicara lagi soal jembatan itu! Aku sudah atur semuanya!” demikian ucap Pak Dullah setiap dibahas soal itu, hingga akhirnya warga takut menanyakannya kembali.

Retak antara Pak Dullah dan warga semakin melebar. Seperti kian retaknya jembatan Wonoireng.

5 Mei 1998

“Kebakaran! Kebakaran!” bunyi kentong membahana ke seluruh kampung. Seluruh warga berhamburan keluar. Saat itu malam sudah larut, tapi Desa Wonoireng menjadi terang benderang karena bara api. Api semakin membesar, wargapun sibuk mencari air untuk memadamkan api yang ternyata melalap rumah-rumah termasuk rumah besar Mbah Mardi.

“Tolong! Tolong! Tolong istriku!” teriak Mbah Mardi histeris.

Dia tidak sadar meninggalkan istrinya yang sedang tertidur lelap, dan dalam keadaan sakit.

Teriakan Mbah Mardi terus membahana, sambil berusaha menerobos api. Tapi kemudian dicegah warga, karena bila dilakukan maka Mbah Mardipun akan mati sia-sia. Waktu itu aku masih berusia 9 tahun, dan bapakku ikut memadamkan api yang ternyata berasal dari obor yang dilempar centeng Pak Dullah ke arah rumah Pak Mardi. Dia dalam keadaan mabuk berat, dengan aroma alkohol yang memuakkan. Baru menjelang pagi, api bisa dikuasai.

Menyisakan onggokan puing, jenazah yang hangus bak arang, serta tangisan Mbah Mardi.

Semuanya terdiam…membisu dan hanya bisa memaki dalam diam. Sementara si centeng pergi entah kemana.

6 Mei 1998

Pemakaman istri Mbah Mardi yang tinggal onggokan arang itu dihadiri oleh warga. Hanya Pak Dullah yang tidak datang. Jembatan Wonoireng semakin hari semakin terbengkalai. Ketika arak-arakan jenazah istri Mbah Mardi melintasi jembatan itu, bongkahan-bongkahan kecil mulai berjatuhan ke sungai. Tiada lagi pilihan, karena pemakaman hanya ada di seberang sungai.

“Awas hati-hati!” kata Bu Saiman yang menyebarkan beras kuning.

“Iya, jembatannya seperti mau rubuh.” Sahut Pak Rasimin yang menggotong keranda jenazah.

“Makanya, jalan pelan-pelan saja.” Tukas Bu Saiman, diamini oleh warga.

Pemakaman berlangsung dengan penuh kesedihan. Jembatan Wonoireng tak jua diperbaiki. Semua akses ke kecamatan seperti dihambat oleh antek-antek Pak Dullah.

Jahat

Serakah

Itu yang dimanterakan berulang-ulang oleh warga Wonoireng.

5 Mei 2000

Waktu itu aku berlari-lari bersama Husin, Somad, Jali dan Jayeng. Kami baru saja pulang dari sekolah yang ada di kota kecamatan. Meskipun jembatan Wonoireng mengkhawatirkan, namun tidak ada jalan lain yang mudah selain melewatinya. Langit mendung pertanda akan segera hujan, sementara jembatan itu panjangnya hampir 100 meter. Ibarat tua sebelum waktunya, jembatan ini kian reyot. Retakannya kian besar.

“Sin! Kejar aku!” kataku dengan gembira sambil berlari kencang.

“O ya? Awas kowe ya!” balas Husin

“Hoi! Hoi! Tunggu aku, jangan ditinggal.” Sahut Jali.

Kami berempat berlarian menembus hujan yang turun. Tapi tiba-tiba, saat kami berada ditengah, jembatan itu terbelah seketika. Kami tidak sempat lagi menyelamatkan diri. Jembatan itu hancur dan kami berempat terjatuh ke dasar sungai yang bergemuruh.

“Tolong!” Jayeng berteriak-teriak.

Jayeng tidak bisa berenang! Aku berusaha menggapai tangannya. Namun ternyata arus sungai terlalu kuat. Aku, Jayeng, Somad dan Husin terbawa arusnya. Jali entah berada dimana. Tergulung-gulung entah kemana. Aku sendiri seperti hilang kesadaran, ketika terbangun aku berada di Desa Margowono yang berjarak 5 km dari desaku.

Jali selamat. Sementara Jayeng tewas.

Aku takkan lupa kejadian itu. Persis dengan jembatan Wonoireng yang sudah patah jadi dua.

5 Mei 2010

10 tahun sudah berlalu, aku sendiri sudah dewasa. Tapi sahabat-sahabatku telah pergi merantau, entah kapan mereka akan kembali. Aku tetap berada di desa ini, sebagai petani biasa. Jembatan Wonoireng yang patah itu kini menjelma menjadi jembatan bambu yang rapuh. Lebih mirip jembatan Tarzan seperti yang pernah aku tonton. Semua warga harus ekstra waspada bila melintas jembatan itu.

Pak Dullah telah lama mati

Mati karena terbunuh oleh centengnya sendiri yang akhirnya bunuh diri dengan menggantung dirinya di jembatan itu 2 tahun lalu.

Mayatnya ditemukan bergelantung, tepat dibekas pagar jembatan yang digadang-gadang dulunya paling kuat oleh Pak Dullah.

Tidak ada yang peduli lagi

Bahkan meminta perbaikan jembatan saja tidak.

Entah, masyarakatku makin acuh saja. Mereka memilih menempuh bahaya dengan melintasi jembatan darurat yang juga kian rapuh itu.

Termasuk aku sendiri.

“Hadi!” tiba-tiba Mbah Mardi menyadarkanku lagi. Hujan diluar sudah mulai mereda. Aku ternyata melamun atau tepatnya bermimpi.

“I..iya Mbah? “ aku merasa kikuk seketika.

Mbah Mardi hanya tersenyum. Senyuman yang menyembunyikan kedukaan.

“Entah kapan jembatan itu dibangun lagi.” Ucapnya setelah beberapa lama membisu seiring dengan melemahnya bara di perapian.

“Atau sebaiknya tidak usah saja.” Tambahnya lagi sambil menyeruput sisa kopinya.

Aku hanya diam. Jembatan Wonoireng di tanggal 5 Mei, tanggal penuh peristiwa dan tragedi.

Mungkin jembatan itu harus musnah, seiring dengan musnahnya Pak Dullah.

Semarang, 4 Januari 2013

Pukul 21:07 WIB

6 Komentar

Filed under Bahasa, fiksi, Kisah, postaday, Sastra

6 responses to “(Today’s Short Story) : BALADA JEMBATAN WONOIRENG

  1. fauziyah junid

    tahniah….cerpen yang bagus…..

  2. Suka yang ini mas….
    “Dasar gemblung kowe….”
    kata simbah Mardi

    Wwkwkwkw…….

  3. emang gambar jembatan wonoireng sekarang kek apa koq bisa jadi cerpen begini?
    *bikin penasaran.. hihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s