Friendship is (sometimes) not Forever


ImageBerteman merupakan salah satu kebutuhan atau bahkan naluri dasar manusia. Lebih-lebih manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, yang tak mungkin dapat memenuhi kebutuhannya secara sendiri tanpa bantuan sesiapa di jagad ini. Tentunya sepanjang hidup kita bakal menemui teman-teman yang berbeda-beda. Semenjak kita kenal sosialisasi untuk kali pertama dalam hidup kita (baca : masa batita) hingga nanti kala kita dipanggil oleh-Nya.

Teman kecil, teman lingkungan, teman sekolah (dari PAUD sampai SMA), teman kuliah, teman kursusan, teman organisasi, teman sekerja, teman komunitas (baik di alam maya maupun alam nyata), teman hidup dan apapun namanya, semuanya adalah teman/sahabat/belahan jiwa, atau dengan level terendah adalah rekan semata.

Ada yang berteman karena kondisi tertentu, seperti satu lokasi, satu minat, satu bidang pekerjaan, bahkan senasib dan itu takkan terelakkan. Ada juga yang berteman karena satu kepentingan, dimana setelah kepentingan itu selesai, maka selesai pula pertemanan itu sampai disini. Memang banyak sekali faktor yang mendorong terjadinya satu pertemanan tapi intinya itulah indahnya. Kadang bila benar-benar merasa cocok, perkawanan itu bisa berkembang menjadi sebuah persahabatan yang manis dan indah.

Persahabatan juga akan makin manis, bila pihak yang terlibat bukan sekedar menjadi sahabat kala senang belaka, namun juga bisa sebagai penghibur atau pencerah kala mendung menggayut salah satu pihak. Saya jadi terngiang-ngiang satu kutipan, kalau friends are forever. Tapi dari pengalaman-pengalaman yang saya dapat sendiri secara pribadi, ada yang awet sampai sekarang, namun juga ada yang hanya bertahan beberapa waktu dan terputus karena banyak sebab. Sebab itu juga banyak, karena konflik yang tak bisa ditolerir, ketidakcocokan, perpindahan tempat, dan yang penting juga adalah bertemu dengan orang-orang baru sehingga menikmati dunianya yang baru. Seiring waktu akhirnya persahabatan atau pertemanan yang semula erat lambat laun akan merenggang, bahkan kemudian secara alamiah akan terputus. Hilang tanpa kabar.

Hal itu bagi saya pribadi alamiah dan manusiawi sekali. Kalau dia menemukan yang lebih baik dan sibuk dengan dunianya yang baru, maka yang lama akan terlupakan atau setidaknya tak lagi jadi yang utama. Mencari teman itu mudah, namun teman yang benar-benar sejati itu hanya satu banding seribu bahkan sejuta dan tak semua orang bisa menemukannya. Mencari itu sulit, namun mempertahankannya jauh lebih sulit lagi. Tak hanya di dunia nyata, namun juga di dunia maya.

Memang kehilangan teman atau sahabat itu merupakan sesuatu yang menyakitkan, terlebih bila itu sudah berlangsung sekian lama. Namun demikian, dunia tidak akan berakhir dengan itu semua. Jadi, anggap saja itu sebagai proses yang harus dijalani dalam hidup. Biarkan saja dia pergi dengan dunianya sendiri, biarpun mungkin tak berkomunikasi lagi, tapi saya percaya bahwa sebenarnya kita semua saling mendoakan. Karena persahabatan yang sejati itu salah satunya adalah saling mendoakan, kendati sudah lama tak lagi bersua maupun berkomunikasi. Hanya waktu yang akan berbicara, apakah pertemanan itu bertahan lama atau tidak.

Setiap orang punya pemahamannya sendiri tentang arti teman

Namun yang paling tidak saya sukai (dan mungkin lainnyapun demikian) adalah ketika seorang teman setelah sekian lama menghilang tanpa kabar, tiba-tiba muncul kembali dalam hidup kita hanya karena ada butuhnya. Dan setelah kepentingannya selesai, dia kemudian hilang lagi entah kemana. Sikap saya dalam menghadapi kasus ini sama saja…anggap saja angin lalu dan biarkan dia lenyap. Atau bahkan setelah lama tak jumpa, sekali bertemu dia langsung ‘serang’ kita dengan menawarkan ini dan itu atau gabung ini dan itu, tanpa basa-basi sama sekali. Sederhana saja…selamat tinggal.

Dalam artian, saya juga bukan orang yang sempurna sebagai seorang teman. Saya juga mengalami hal yang sama dengan orang lain…termasuk perasaan renggang dalam satu pertemanan. Saya juga terkadang sangat sensitif bila ada teman yang tak lagi akrab dengan saya. Tapi sekali lagi, itu hanya satu proses kehidupan. Istilahnya, patah tumbuh hilang berganti dan pasti bila memang teman itu benar-benar sejati, dia akan kembali lagi suatu saat. Sama seperti komunitas yang saya ikuti selama bertahun-tahun di alam maya.

Komunitas ini begitu kuatnya karena ada rasa saling memiliki dan keterikatan, dan bahkan acap mengadakan berbagai kegiatan yang sifatnya sosial, termasuk pernah sukses membuat antologi bersama. Kerikil-kerikil baik besar maupun kecilpun sudah dihadapi bersama. Baku komentar di posting masing-masing, bahkan sampai dalam taraf hancur-hancuran alias OOT atau Out Of Topic atau Omong Omong Thok. Namun karena wadah tempat kita selama ini berkumpul dihancurkan, maka akhirnya mau tak mau terpaksalah kami pergi mencari wadah lain untuk berkumpul. Dan akhirnya kamipun tercerai berai, ada yang ke wadah A, ada yang ke wadah B dan seterusnya, sehingga intensitas ‘pertemuan’ di alam maya pun kian berkurang, bahkan kian merenggang. Tapi saya tetap percaya, suatu saat kamipun akan kembali bersama, meski mungkin tidak seperti dulu.

Kadang di alam mayapun saya temukan banyak teman-teman lama yang berseliweran dan saling add satu sama lain. Tapi…setelah itu apa? Sudah..sekian dan terima kasih. Hanya sebagai penghias jumlah contact belaka bahkan nyaris tanpa komunikasi apapun selain komentar basa-basi saja.

Memutuskan silaturrahmi dilarang dalam agama apapun, namun kadang itulah manusia. Punya ego dan gengsi. Dan semuanya itu memang kenyataan yang tak dapat dipungkiri sebagai proses hidup. Namun setidaknya ada upaya untuk menyambung kembali meski tentunya akan berbeda dengan dulu.

Saya jadi ingat ketika dulu punya sahabat, namun kala dia menikah, tentunya dia akan lebih fokus pada kehidupan rumah tangganya sendiri. Sehingga akibatnya tentu kami tidak seakrab dulu, dan hingga saya sendiri memutuskan untuk mundur dari kehidupan dia dalam artian kian menjarangkan intensitas komunikasi bahkan lambat laun terputus sama sekali.

Dan satu kata lagi, berteman itu juga butuh kecocokan dan cocok-cocokan.

.

Pendek kata, santai saja dalam menjalani semua ini. Teman itu datang dan pergi, yang lama tiada akan tergantikan dengan yang baru, dan itulah proses dalam hidup. Bila ada kesilapan kata dalam tulisan ini, saya minta maaf, karena sayapun manusia biasa yang tidak akan pernah jadi orang sempurna. Sempurna hanyalah milik Allah Sang Maha Pencipta.

Semoga persahabatan atau pertemanan yang dijalin langgeng.

Semarang 19 Januari 2012

Gambar dari google

6 Comments Add yours

  1. uni fauzia says:

    jadilah sahabat yg sering mendoakan kebahagiaan sahabatnya..walau tanpa pengetahuannya…..

  2. Julie Utami says:

    Kita masih berteman kan ya, walau nak Nono sudah hengkang dari Mp? Saya sih masih di sana lho.

  3. anotherorion says:

    mbang mbang aku utangin dong, #kasih nomer rekening, njuk ngilang maning

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s