(Cerpen Lama) : GAMELAN SETAN


Ning nong ning gung

Ning nong ning gung

Suara gamelan itu seolah akrab dengan telingaku, tapi entah darimana asalnya. Pada saat aku berkunjung ke rumah sepupuku Darwito di pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk kota, bahkan dari jalan utamapun desanya masih diharus ditempuh dengan jalan makadam sejauh 5 kilometer. Sudah lima hari ini aku tinggal di rumah Darwito yang sederhana, namun hangat dengan keramahannya, dan dia tinggal sendirian disana karena telah yatim piatu. Pekerjaannyapun hanyalah sebagai petani sederhana, dia pernah tinggal dirumahku selama 3 tahun namun akhirnya dia memilih kembali ke desanya. Secara umum, desa tempat Darminto ini termasuk desa yang damai meskipun terkesan sangat apa adanya.

Tetapi, ada yang aneh semenjak aku datang kemari lima hari yang lalu. Setiap malam selepas Maghrib, desa ini selalu langsung seperti desa mati. Nyaris tidak ada kehidupan dan entah mengapa penduduk selalu mengunci rapat-rapat pintunya dan hanya menghidupkan lampu tempel. Aku sendiri juga heran, mengapa Darwitopun melakukan hal yang sama, menutup pintu rapat-rapat setelah Maghrib dan hanya menghidupkan lampu tempel. Memang sudah lumrah jika desa Darwito ini belum dialiri listrik, namun mengapa hanya satu lampu saja yang dihidupkan, dan itupun hanya diruang tamu dan harus dimatikan pada saat tidur.

“To, kenapa desa ini setiap habis Maghrib seperti desa mati ya?” tanyaku suatu pagi saat menikmati sarapan berupa nasi tiwul dan sayur lodeh pedas. Darwito yang tinggal sendiri karena belum menikah meski usianya sudah dipertengahan kepala tiga inipun hanya menggelengkan kepala.

Melihat sikap Darwito ini, aku kian penasaran dengan apa yang terjadi. Semua kejadian, terlebih setelah dua malam terakhir aku selalu mendengar suara gamelan yang sayup-sayup terdengar. Lembut, namun ada nuansa magis yang susah dijabarkan.

“To, kamu itu bagaimana…wong aku ini sepupumu, masak kamu nggak mau ngasih tau apa yang terjadi didesa ini.” Aku semakin penasaran, sementara Darwito hanya menunduk sambil meneruskan makannya, ada sesuatu yang disembunyikan dibalik sorot matanya.

Aku sudah mencoba bertanya-tanya kepada penduduk pula, namun jawabannyapun sama…mereka seolah enggan menjawab, bahkan di airmuka mereka aku membaca kecemasan dan keresahan.

“Jangan, den…nanti saya dapat celaka.”

Nyuwun ngapunten*, saya tidak bisa cerita.”

Nuwun sewu, saya harus ke ladang sekarang”

“Jangan saya, mas..”

Bahkan ada yang langsung masuk kerumahnya saat saya bertanya soal itu. Mengapa setiap Maghrib datang mereka langsung menutup pintu dan kenapa suara gamelan itu terdengar.

***

Ning nong ning gung

Ning nong ning gung

Suara gamelan itu lagi-lagi terdengar, terhantarkan oleh hembusan angin. Padahal setahuku tidak ada warga desa yang mengadakan pesta apalagi pesta perkawinan. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun saat aku hendak beranjak keluar dari rumah, Darwito buru-buru mencegahku.

“Din, Ojo*…nanti kamu bisa celaka.”

“Apanya yang celaka, To?” aku malah bertanya. Aku benar-benar dicengkam rasa penasaran, dan puncaknya pada malam kelima itu.

Wis tho, pokoke kamu jangan sekali-kali keluar.” Darwito berusaha mengalihkan pembicaraan.

Aku justru jengkel, karena setiap pertanyaanku selama tinggal disini selalu dibiarkan menggantung. Suara gamelan itu masih membahana, terbawa hembusan angin malam. Dan memang benar, bulu kudukku merinding, namun karena rasa penasaranku kian membuncah dan aku benar-benar harus tahu apa yang terjadi didesa ini, maka aku justru marah kepada Darwito.

“Wit, kenapa kamu selalu mengucapkan kalimat itu-itu terus?” habis sudah kesabaranku.

Darwito hanya terdiam, namun demi melihat sikapnya aku justru makin marah, dan dengan menggebrak meja aku berkata ,“Setiap aku bertanya, kenapa suara gamelan itu ada, mengapa kau malah melarang-larangku? Aku juga berhak tahu apa yang terjadi!” kutumpahkan semua kekesalanku yang menumpuk selama ini.

Darwito duduk diam, matanya menerawang kearah luar, meski jendelanya tertutup rapat. Suara kebogiro yang kudengar sayup-sayup itu rasanya kian keras, dan suasana malam kian menyeramkan karenanya. Kami semua untuk beberapa saat diam mematung. Hanya senyap yang berbicara.

“Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi disini.” Aku mendesak Darwito agar segera menjelaskan. Sudah lelah aku mendapat jawaban yang sama setiap hari, bahkan pernah aku diusir dari rumah Pak Diran, tetangga Darwito gara-gara menanyakan soal gamelan misterius tersebut.

Darwito masih terdiam seribu bahasa. Tatapan matanya nampak seperti memohon padaku. Aku mendekati Darwito dan berkata sambil menghela napas,”Sudahlah, Wit. Kalau kamu tidak mau bicara, biar aku sendiri yang cari jawabannya.” Aku sudah putus asa dan ingin jawaban segera. Suara gamelan itu masih terdengar, hingga menjelang dini hari. Aku tidak dapat tidur karena suara itu seolah menggelitik alam bawah sadarku.

Ini harus segera diselesaikan sebelum aku mati penasaran karenanya.

***

Aku menunggu saat malam kembali menjelang. Saat suara gamelan itu kembali berkumandang. Diam-diam aku keluar dari rumah Darwito tepat pukul 9 malam, kubuka pintu perlahan-lahan agar Darwito tidak terbangun. Aku sangat penasaran dengan suara gamelan yang melantunkan kebogiro itu, mengapa hampir setiap malam gamelan itu terdengar, semenjak aku datang ke kampung itu.

Aku berjalan berjingkat kearah luar rumah. Suasana desa terasa sangat mencekam, nyaris tidak ada penerangan dan hanya pijar lampu tempel yang berkerlap-kerlip disepanjang jalan kampung itu. Dan menurut Pak Sarbini, sejak seminggu sebelum kedatanganku ke kampung ini suara-suara gamelan itu selalu terdengar seolah menjadi teror yang tak berujung bagi para penduduk yang sebelumnya hidup damai itu. Angin berhembus perlahan, membawa hawa dingin yang mencekam, sementara aku sendiri berusaha mempertajam pendengaran, kuingin tahu, darimana asal suara gamelan itu.

Langit tidak berbintang, kadangkala suara lolongan serigala membahana, seolah memerikan kengerian dan kesedihan. Aku sendiri sebenarnya merinding, takut, sekaligus penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dikampung ini.

“Aku harus tahu darimana gamelan itu berasal.” Tekadku dalam hati demi mengalahkan rasa takut yang sebenarnya perlahan merajai jiwaku. Kututup pintu rumah Darminto dengan sangat berhati-hati. Senyap…tanpa kehidupan, bahkan suara jangkrikpun tak terdengar sama sekali. Aku condongkan badanku untuk mencari arah suaranya.

“Aha…itu dia!” seruku dalam hati. Takut jika Darminto terbangun. Suara hatiku mengatakan bahwa bunyi gamelan berasal dari bukit disebelah kampung. Kurapatkan jaketku dan dengan berlari kecil aku menuju Bukit yang oleh warga disebut Bukit Kalancaka. Semakin kudekati, suara gamelan itu seolah menjauh dan menjauh…Aku makin penasaran dengan hal tersebut. Namun, aku tetap mengikuti arah angin dimana suara kebogiro tadi berasal. Nada demi nada yang teralunpun sebenarnya indah, melambangkan prosesi agungnya suatu pernikahan adat Jawa. Akan tetapi, karena terdengar dimalam hari, sementara tak ada satu wargapun yang mengadakan perhelatan, serta kampung tadi termasuk jauh dari kampung tetangganya (yang memerlukan waktu 2 jam berjalan kaki), maka suasana angker itulah yang merajalela.

Kemungkinan waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam manakala aku tanpa terasa sudah sampai ke kaki bukit Kalancaka!

Bukit ini nampak angker dengan batu-batu cadasnya yang tersembul diantara rimbunnya hutan. Kata penduduk setempat, tak seorangpun yang berani menginjakkan kaki ke bukit itu bahkan disiang hari.

“Lebih baik sampeyan jangan ke bukit Kalancaka, Mas.” Kata seorang petani tua mengingatkanku pada saat aku bertanya tentang bukit tadi. Terlihat angkuh sekaligus angker.

“Menurut orang sini, jika nekad kesana berarti celaka.” Kata Darwito, yang justru mempertebal rasa penasaranku. Aku sendiri takkan percaya sebelum membuktikannya sendiri. Darwito yang dulu pernah tinggal ditempatkupun sangat paham dengan sikap keras kepalaku.

“Tapi ingat Din. Kami saja belum pernah kesana. Jadi tolong….” Darminto tak meneruskan kata-katanya. Aku bahkan sampai perang mulut dengannya karena keinginanku tadi, dan akhirnya aku pendam sendiri keinginan itu dalam-dalam menjadi sekam yang sewaktu-waktu bisa membakar lagi. Darwito nampak sangat ketakutan.

Kuperhatikan bukit Kalancaka yang sebenarnya sangat indah. Namun aku tidak begitu memperhatikannya karena lebih tertuju pada suara gamelan yang makin lama makin jelas.

Jantungku tiba-tiba berdetak dengan keras, saat langkahku makin mendekati sumber suara gamelan. Keringat dinginpun mulai bercucuran, gemetar, dan mataku yang berusaha meraba gelap.

Takut? Tentu! Tak terpungkiri

Cemas? Tidak kurang! Apa yang ada didepan sana?

Penasaran? Makin tebal!

Aku berusaha mematikan rasa takut dan cemas itu. Aku sudah bertekad untuk mengetahui apa yang terjadi dibukit Kalancaka ini! Sementara…

Ning nong ning gung

Ning nong ning gung

Suara itu kian membahana, membedah dan mengobrak-abrik sanubariku. Sebenarnya apa yang terjadi? Langkahku makin mendekati sumber suara, seolah terjadi suatu keramaian yang luar biasa. Tiba-tiba aku mendengar suara-suara manusia yang mendekat. Bergegas aku bersembunyi dibalik semak belukar. Sementara langkah-langkah kaki manusia tadi semakin jelas. Ternyata mereka adalah sosok seperti manusia yang memakai busana seolah hendak kepesta perkawinan. Ada empat orang yang masing-masing membawa seperti bungkusan. Entah apa isinya. Aku sendiri berusaha makin mendekat, seiring dengan suara gamelan yang seolah mengejekku untuk segera menemukan dirinya. Kubuntuti keempat orang yang semuanya laki-laki itu hingga harus menapaki terjalnya jalan bukit yang hanya berupa jalan tikus berbatu.

Suara gamelan itu kian membiusku…aku terus berjalan hingga disuatu titik, tepatnya disebuat tempat lapang yang terdiri dari padang rumput, aku melihat sudah begitu banyak orang disana. Mereka melihatku, namun seolah tidak memperdulikanku. Sementara suara gamelan itu semakin jelas dan kencang.

Saat aku menoleh kearah kerumunan, aku melihat sekelompok orang yang memainkan gamelan. Namun yang aneh! Hampir semuanya berwajah mengerikan! Aku nyaris saja berteriak kalau tidak ingat dengan apa pesan Kakekku sebelum pergi. “Jika engkau hendak pergi ke suatu tempat yang tak dikenal, janganlah bersuara.” Sebagian besar pemainnya mirip tuyul, dengan bibirnya yang terbalik. Ada yang memegang gong, kempul, bonang, kenong, gender, peking, slenthem, bahkan rebab juga. Semuanya memainkan tembang kebogiro yang makin kuhafal nadanya.

Tiba-tiba terdengar suara dalam bahasa Jawa yang kurang lebih berbunyi :

“Rombongan pengantin telah tiba.”

Aku sekejap menoleh, sudah ada rombongan besar pengantin dengan busana jawa yang lengkap. Sang pengantin perempuan memakai pakaian solo basahan yang anggun dengan bunga melati lengkap menghiasi sanggulnya serta cundhuk mentul yang mempermanis penampilannya. Tetapi pada saat aku melihat pengantin prianya. Aku seketika terhenyak! Jantungku serasa hendak lepas dari pembuluh besar pernafasanku.

Darwito! Tidak! Tidak mungkin! Jangan dia!

Pengantin pria tadi berwajah mirip Darwito, namun dia pucat, tatapannya kosong. Sekilas dia menatap kearahku, kosong dan sedih. Itu yang aku tangkap dari tatapan Darminto. Tidak mungkin! Wajahnya seperti Darwito!

Aku bergegas berlari meninggalkan arak-arakan pengantin tadi. Namun suara gamelan itu seolah terus mengejarku, tanpa peduli aku berlari kearah mana. Kuturuni bukit Kalancaka hingga berguling-guling. Aku terluka, tapi aku terus saja berlari. Kutoleh belakang, arak-arakan pengantin itu seperti mengejarku. Wajah mereka terlihat berdarah-darah dan matanya yang keluar, bahkan ada yang menjelma menjadi sosok kuntilanak yang terus mengejar kemanapun aku lari. Arak-arakan itu semakin ketat menempel dibelakangku seolah hendak menerkamku, aku semakin ketakutan, nafasku kian tersengal-sengal. Suara gamelan kebogiro itu tiba-tiba berimbalan dengan suara lolong serigala dan cekikikan yang sangat meloloskan sukma. Aku terus berlari, berlari dan terus berlari hingga tiba-tiba aku tersandung batu, dan terhempas ke jurang yang dalam. Aku hanya bisa terpekik…

Aaaaaaaaa……………

Badanku melayang seolah layangan yang lepas, tak berdaya

***

“Nak, bangun!” sebentuk suara membangunkanku.

Aku terhenyak ketika sepasang tangan mengguncang-guncang tubuhku. Aku seolah terbangun dari mimpi, ketika kulihat Pak Sarbini yang membangunkanku. Badanku terasa sakit-sakit. Aku ternyata tergeletak di tegalan.

“Kenapa tidur disitu Nak?” tanya Pak Sarbini. Aku berusaha bangun, namun sakit sekali sehingga dia memapahku.

Aku tersadar kalau masih ada di kaki bukit Kalancaka. Pak Jimbrong masih terus memapahku hingga sampai di sebuah dangau. Kami berduapun duduk disana, sementara aku masih teringat soal tadi malam. Dimana aku melihat arak-arakan pengantin, yang mana pengantin prianya adalah Darwito, dan aku berlari menghindari kejaran para anggota arak-arakan hingga aku terjatuh ke dalam jurang yang ternyata adalah tegalan sawah yang masih basah.

Tong-tong-tong. Terdengar suara kentongan membahana dari seluruh penjuru desa. Pak Sarbini langsung berkata “Kalau ada bunyi kentongan begini, berarti ada lelayu*. Ada yang sedho*”. Tiba-tiba aku mengkhawatirkan Darwito. Aku takut kalau terjadi apa-apa dengan dirinya setelah melihat kejadian semalam.

Pak Sarbini tanpa bicara lagi langsung mengajakku ke rumah. Sesampainya disana, sudah banyak orang berkumpul di rumah Darwito. Ada yang melafalkan ayat-ayat suci, namun ada juga yang terheran-heran…aku bergegas masuk kedalam rumah meski kakiku terpincang-pincang.
“Oh, Jangan…jangan Gusti! Jangan dia!” aku semakin cemas, bercampur rasa takut. Kutakpedulikan lagi orang-orang yang duduk bersila sambil menghadap jasad yang ditutupi kain batik dan sudah dikafani itu. Aku tidak sabar lagi untuk membuka kain penutup jenazah itu demi melihat….

“WITOOOOOOO!!!!!!”.
Dihadapanku kini terpampang jasad Darwito yang membelalak dengan tangan sedikit mengangkat keatas. Kaku dan tidak bisa digerakkan lagi. Mulutnya juga terbelalak, sementara orang-orang banyak yang berbisik-bisik mengenai sebab kematiannya. Aku menangis sejadi-jadinya. Apa ini yang kutemui di bukit Kalancaka?

Kenapa Darwito yang harus jadi korban?
Apa yang dia lakukan sehingga nyawanya hilang begitu saja?
Apakah dia meminta pesugihan disana?
Apakah gamelan gaib itu menjadi pertanda akan adanya kematian?

Tiba-tiba
Aku limbung….dan dunia menjadi gelap…suara gamelan itu terdengar lagi.

Ning nong ning gung

Ning nong ning gung

Bambang Priantono

Malang, 110706

Glosari
Nyuwun ngapunten (Jw) : minta maaf
Nuwun sewu (Jw) : permisi, maaf

Kebogiro : gending pengiring pengantin
Ojo (Jw) : jangan
Wis tho (Jw) : sudahlah
Sampeyan (Jw) : anda, kamu
Lelayu (Jw) : berita dukacita
Sedho (Jw) : meninggal, wafat

12 Komentar

Filed under fiksi

12 responses to “(Cerpen Lama) : GAMELAN SETAN

  1. Suiipp..!! Aku dadi kelingan jaman biyen sok maca majalah boso jowo Jaka Lodhang, rubrik Jagading Lelembut..🙂

  2. fauziyah junid

    2.19am (tghmlm).(br ketemu..!)
    ….waah….antara mau terus baca dgn tidak……
    i like it so much….

  3. fauziyah junid

    ada hasil penulisannya yang kadangkala agak ‘memerangkap’..sekadar ilusi tapi bisa dibawa ke alam realiti…(itu satu keistimewaan)..
    2.semakan juga tidak boleh..Bahasa Malaysia agak beda…hehehe

  4. acong

    lanjut mas bro,,, sip..

  5. asli ini cerpen serem banget, mana bacanya tengah malam smbari dgerin kebo giro,,, top dehhhh ! lanjut donk terusannya mas!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s