(Cerpen Lama) : LAPIS LEGIT


“Aaah!!” teriakku

“Mengapa pula kau tak kunjung manis?” sembari aku menggerutu didapurku yang kotor. Penuh dengan ceceran sisa telur, tepung dan loyang-loyang yang berserakan dimana-mana. Beberapa loyang diantaranya berisi lapis legit yang gagal…yah, semuanya seperti ada yang salah. Kemanisan, bantat, tawar dan…ah! Sama sekali tidak bisa menjadi andalan. Kemudian aku terduduk lesu didepan oven yang sudah kumatikan, sementara tiada seorangpun ada dirumah. Suamiku belum juga pulang sejak beberapa hari ini karena tugas diluar kota, sementara Sinta anak perempuanku sedang berada dirumah mertua karena libur sekolah. Entah mengapa kali ini aku hanya ingin menyendiri, padahal biasanya aku selalu nyaman mendengar celotehan dia ketika aku mencoba kue lapis legit ini.

Aku lama terpekur didepan oven. Bahan-bahan pembuat lapis legit masih teronggok seolah menanti untuk diolah. Namun aku hanya diam seribu bahasa. Aku tak ingin bergerak, entah sudah berapa banyak yang kuhabiskan hanya demi menemui kebantatan. Meskipun setiap hari suamiku selalu saja menghubungi aku dengan pesan-pesan singkat yang tak pernah henti, namun semua ini serasa hampa. Tak aku hiraukan pesan singkat itu, setiap dia teleponpun hanya aku tanggapi dengan perasaan sedingin kulkas.

Kriiinggg!!!!

Tiba-tiba suara telepon membelah lamunan panjangku.

Bergegas aku menuju ruang keluarga, meninggalkan dapurku yang nampak bak kapal karam. Aku angkat gagang telepon dan terdengar suara yang aku kenal.

“Ma..” suara berat yang selalu mendampingiku menyapa gendang telingaku

“Hmmm, ya. Pa” jawabku berat

“Apa kau masih membuat lapis legit itu? Lama engkau tidak pernah membalas SMSku. Aku jadi khawatir.” Suara itu terdengar penuh kecemasan. Mengingat obsesiku yang ingin membuat kue lapis legit sangat tinggi. Entah mengapa sejak setahun terakhir ini aku begitu tergila-gila dengan kue ini, meskipun selalu gagal. Seminggu lagi peringatan 1000 hari berpulangnya ibundaku tercinta. Beliau sangat mencintai dan selalu membuat kue lapis legit dalam setiap perhelatan, baik keluarga maupun lingkungan tempat kami tinggal dulu. Tanpa lelah, kala aku, dua kakak dan dua adikku masih terlelap, beliau sudah terbangun di pagi nan buta untuk mempersiapkan adonan lapis legitnya, dan aku sudah terbiasa melihat beliau berbanjir peluh mempersiapkan lapis legit pesanannya sendiri.

Rasanya memang legit, bahkan lapis legit ibu adalah yang termanis namun tidak membosankan bila kubandingkan dengan lapis legit-lapis legit lainnya. Ingatanku seketika terlempar ke masa aku masih bersama ibu dulu.

“Anti, tolong ambilkan telur yang ada di lemari makan”, perintah ibu

“Berapa butir Bu?” tanyaku meski setengah mengantuk

“Sebentar ya, ibu lihat dulu.” Ibu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari lemari pakaiannya. Terlihat beliau sedang membaca sesuatu dari kotak itu. Aku penasaran dengan apa yang dibaca ibu. Perlahan-lahan naluri kanak-kanakku merasuk dalam benak, maka aku mendekati ibu yang sedang membaca sesuatu dari dalam kotak kecil terbuat dari kulit berwarna hitam itu. Tapi…tiba-tiba ibu menoleh ke arahku.

Dia tersenyum manis, namun mengandung kerahasiaan padaku. Kemudian ibu menutup kembali kotak itu dan memasukkannya ke dalam lemari pakaiannya dan menguncinya. Lemari pakaian ibu memang tidak boleh disentuh siapapun semenjak ayah meninggal.

 

“Coba kamu ambilkan selusin, Nak.” Sambil mengelus kepalaku dengan penuh kasih. Kasih yang mengandung misteri.

“I…iya bu…” jawabku sembari berlari mengambilkan telur yang dimaksud.

“Jangan sampai pecah.” Pesan ibu

Aku hanya mengiyakan sembari mengayun langkah kecilku menuju dapur kecil. Dapur yang biasa dipakai ibu untuk memasak sehari-hari, sementara dapur yang agak besar selalu digunakan sebagai tempatnya membuat lapis legit. Ada sebuah oven tua besar yang dipakainya sejak masih muda didekat jendela, mixer keluaran lama yang merupakan hadiah perkawinan ibu dan bapak dan beberapa loyang yang juga selalu dipakai ibu. Aku mengambil telur didapur kecil dan membawanya ke dapur besar.

Sebenarnya aku tidak begitu tertarik dengan apa yang dilakukan ibu. Setiap kesempatan selalu lapis legit yang disajikan. Entah saat sarapan, bekal sekolah hingga minum teh sore dan makan malam, irisan-irisan lapis legit yang menggoda selalu hadir. Tapi entah mengapa, setiap ibu membuat kue lapis legit itu pasti aku yang disuruh menyiapkan bahan-bahannya. Selalu aku. Mengapa bukan Kak Siska, Kak Ranti atau Dwi dan Aryani, mereka sama sekali tidak pernah disuruh. Mereka pasti kan menolak dengan berbagai alasan bila ibu meminta tolong, sehingga aku yang kena. Hanya menyiapkan, sedangkan saat ibu membuatnya, aku selalu dilarang mendekat.

 

“Kau masih belum waktunya mengolah semuanya, Nak”. Terang ibu saat memasukkan loyang berisi lapis legit itu ke dalam oven. “Nanti bila tiba saatnya, kau pasti ibu ajari membuatnya.” Senyumnya yang manis mampu membuyarkan rasa kesalku yang kadang muncul . Lapis legitnya selalu membuatku dan saudara-saudaraku tenang, bahkan hingga ayah meninggalpun tak lupa lapis legit menjadi sajian yang paling dinanti para tamu. Apakah rahasianya? Aku tidak tahu.

 

Sampai akhirnya ketika aku kelas 2 SMA, ibu masih terus membuat lapis legit meski tenaganya makin hari makin melemah termakan usia. Aku hanya dimintanya untuk mengaduk telur dengan mixernya, dan hanya memasukkan bahan-bahan dari gula, tepung, hingga rempah-rempah kedalam adonan yang kemudian nanti akan dibuat berlapis-lapis. Lapisan-lapisan itu begitu rumitnya, perlu kecermatan ekstra. Ibu begitu telitinya membuat lapisan demi lapisan itu sementara aku sendiri selalu gagal. Maksud hati membuat lapis legit, menjelma menjadi lapis pahit!

 

Lapisannya tidak mau melekat!

Lapisan bawahnya terlalu keras!

Lapisan atas tidak juga mengering! Lembek!

Kegosongan!

Ahhh!!! Sangat sulit! Aku nyaris menyerah! Berkali-kali aku berusaha, namun semuanya sia-sia sampai akhirnya aku tanpa sadar membanting loyang berisi lapis legit yang gagal itu.

 

Aku terdiam. Ibupun juga. Nafasku tersengal-sengal dengan mendadak. Aku yang selama ini ingin belajar membuat lapis legit semenjak kecil dari ibu kenapa justru menyerah. “Ibu, aku menyerah!” seruku pelan sambil kembali merapikan loyang-loyang yang berserakan. Ibu hanya bisa tersenyum dan kemudian memelukku. Aku menangis dalam pelukannya.

 

“Nak, ibu mengerti. Tapi ibu percaya suatu saat nanti kau akan bisa.” Ucapnya bijak sambil mengelus-elus rambutku. Aroma spekkoekpun kian tajam mendominasi indera penciumanku. Beberapa jam kemudian, dua iris lapis legit buatannya kembali menghapus laraku. Bertahun-tahun hingga aku menikahpun, ibu tetap sajikan lapis legit itu. Bagaimanapun rasanya, karena kondisi ibu yang kian renta, aku tetap merasakan begitu manisnya kue ini.

 

Ketika ibu meninggal…hampir tiga tahun lalu. Dan ketika semuanya selesai, kami berlima terdiam diruang tamu. Tak ada satupun yang berbicara, semua anak-anak tidak diperkenankan masuk, bahkan ipar-ipar dan suamiku sendiri menunggu diluar. Tak boleh ada yang turut campur dengan urusan kami untuk saat ini. Tak lama, Kak Santi masuk ke dalam kamar ibu. Kami hanya saling berpandangan, karena biasanya bila Kak Santi pergi ke sana berarti akan ada sesuatu yang luar biasa penting. Sejurus kemudian, Kak Santi keluar dengan membawa sesuatu ditangannya. Dia kemudian membuka suara. Suara yang lembut, namun penuh dengan kedukaan.

 

“Anti.” Kata Kak Santi

“Ya Kak.” Jawabku

“Sebelum ibu meninggal, ibu berpesan padaku untuk memberikan ini.” Sambil menyerahkan sebuah benda yang kemudian membuatku terkejut. Déjà vu! Benda ini yang selama ini membuatku bertanya-tanya. Kotak kecil berukuran 10 x 10 x 10 cm berwarna hitam yang selalu dibaca ibu sebelum membuat kue lapis legitnya. Tak hanya kotak itu, ada sepucuk surat yang menyertainya. Aku hanya bisa menerimanya dengan tangan bergetar.

 

“Ti, ibu ingin kamu membacanya bila siap nanti.” Pesan Kak Santi. Sementara saudara-saudaraku yang lain hanya bisa memandangku. Seketika aku teringat lapis legit yang manis itu, semanis senyuman tulus namun penuh misteri ibu, namun kini takkan kujumpai lagi senyuman itu. Tak terasa airmataku bergulir. “Ya Allah, semoga ibu Kau terima disisi-Mu.” Dalam hati aku menjerit.

 

Dezighhhhh!!!!

Aku terbangun dari lamunan panjangku! Aroma lapis legit tiba-tiba menyeruak. Aku teringat masih menyimpan kotak dan surat itu. Buru-buru aku berlari ke dalam kamarku. Hujan diluar masih mengguyur begitu derasnya, dan setelah kubongkar-bongkar karena sudah hampir tiga tahun aku tak menyentuh pemberian ibu itu, akhirnya kutemukan. Suratnya masih utuh! Belum rusak sedikitpun. Kemudian aku kembali ke ruang tamu untuk membaca surat itu. Kurobek dengan hati-hati amplop suratnya, dan pelan-pelan kubaca satu demi satu surat yang ditulis ibuku dengan tulisan tangan yang bagiku sangat indah.

Aku siap. Kini aku sudah sedia untuk membacanya, setelah sekian lama aku terperangkap dalam diriku sendiri. Obsesiku untuk membuat lapis legit yang meresap dalam hati yang kini membuatku berani untuk membuka surat ibu.

 

Anakku sayang,

Sengaja ibu torehkan kata demi kata ini hanya untukmu. Ibu sangat menginginkan kau untuk mewarisi ibu sebagai pembuat kue lapis legit. Tetapi ibu tahu, semuanya butuh waktu. Hanya kamu nak yang benar-benar antusias ketika ibu membuat kue ini, padahal begitu sulitnya. Meski sempat menyerah, tapi ibu percaya nantinya kamu akan berhasil membuat lapis legit yang enak dan menularkan kenangan manis ini kepada keluargamu.

 

Lapis demi lapis yang ada pada lapis legit itu melambangkan kesabaran dalam berbagi. Aroma rempah yang kuat menandakan kesan indah itu akan selalu membekas, dan manisnya lapis legit menunjukkan betapa cintanya ibu kepada kamu dan saudara-saudaramu semua. Semuanya berpadu dalam kenangan manis, yang ibu harap kau turunkan kepada anak dan suamimu.

 

Bila siap nanti, ibu hanya minta tolong lanjutkan apa yang sudah ibu perjuangkan. Buatlah dengan sepenuh jiwa raga dan cinta. Cinta dan kasih semanis lapis legit itu.

Ibu

Tanpa sadar airmataku bergulir. Aku menangis sejadi-jadinya, teringat akan apa yang kulakukan selama ini. Aku lupa untuk memberi kenangan manis kepada anakku, kepada suamiku dan sekitarku setelah berpulangnya ibu. Tenggelam dalam samudera penyesalan dan kebencian pada diriku sendiri, terobsesi terus membuat lapis legit yang ujung-ujungnya gagal dan gagal lagi. Selalu saja ada yang kurang, tak seperti buatan ibu.

 

“Ibu, maafkan aku..” ditengah tangisku yang mulai mereda. Entah mengapa mataku seolah terbawa ke dapur. Aroma lapis legit itu memanggil-manggilku, lapisan-lapisan coklat dan putihnya seolah menghantarku pada rasa yang baru. Manisnya begitu indah. Rasa cinta dan ketulusan itu yang kurang kuberikan selama ini dalam pembuatan lapis legit tersebut dan…kotak itu belum kubuka! Aku baru ingat dan pelan-pelan kubuka kotak hitam tadi. Kebiasaan yang selalu dilakukan ibu setiap hendak membuat lapis legit.

Aku terkesiap!

Kotak itu ternyata hanya berisi secarik kertas yang sudah lusuh. Bertuliskan satu kalimat.

Lakukan dengan penuh cinta, manisnya akan meresap sampai dikalbu

Aku kembali menangis.

Aroma spekkoek mengiringiku dan bayangan manisnya kue lapis legit buatan ibupun menjadi kawan setiaku untuk saat ini. Kenangan yang harus kuturunkan pada Sinta, dan juga suamiku….

 

Bibirku seketika terasa manis.

 

 

 

Semarang, 28 November 2011

 

 

Advertisements

18 Comments Add yours

  1. Oooo.. ternyata berbakat jadi sastrawan juga toohh.. oke juga 🙂

    1. Hehehehee…itu cerita lawas kok
      Matur nuwun 🙂

  2. Seperti penyuluhan ya.. Tapi bergaya sastrawi….:-D
    Sangat bermanfaat buat pembaca karena menambah wawasan tentang dunia pernyamukan..:-). Orang2 Depkes mestinya belajar bersastra sama ente No…Biar mereka nggak terlalu kaku dan membosankan 🙂

    1. Maaf, ada error nih…..aku ganti di zona lain

  3. oooo.. jd commentnya dicopas ke “ciuman nyamuk” aja yaa?

    1. Gak, pas ada error….aku lupa kalau sebelum posting baru, harus nutup yg lama dulu.

  4. tiarrahman says:

    hebat Bams!
    udah banyak belum? dijadiin kumcer Bams!

    1. Sebenarnya udah banyak Om…cuma ada yang masih diproses, ada yang aku simpen dulu.

      1. tiarrahman says:

        jangan semua dikeluarin. cukup 3 ini.
        Nanti yang lain coba dimasukan ke penerbit.
        Rifki jampang kayaknya punya koneksi tuh.

      2. Iya, sebenarnya udah banyak kok…nanti kalau udah waktunya bakal coba ke penerbit kok
        Insyaallah

      3. Semoga bisa selesai semuanya ya..trima kasih banget

        Supertiel gimana nih?

      4. tiarrahman says:

        supertiel masih hiatus..

      5. Hehehehee….kayak beruang aja..hibernasi.

      6. tiarrahman says:

        beruang = berduit 😀

      7. tiarrahman says:

        sayangnya aku bukan beruang 😀

      8. Sama dong wkekekekekk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s