(Cerpen Lama) : CIUMAN NYAMUK


Ciuman Nyamuk

“Aduh!” aku sedikit memekik. Rasa itu terjadi dilenganku. Perlahan-lahan aku angkat lenganku, aku melihat seekor nyamuk dengan nikmatnya berpestapora diatas lenganku. Warnanya? Oh tidak!! Belang! Belang! Belaaaaanggg!!!! Aku berteriak dalam sunyi.

“Oh, celaka…itu aedes aegepty “ aku merutuk dalam-dalam.

Tiba-tiba kudengar suara yang sangat kukenal menghampiri gendang telingaku.

Nginggggg, ngiiiiiiingggg, ngiiiiiiiinggggggggg!!!!

Aku melihat sapu lidi yang biasa kupakai membersihkan tempat tidur, segera kuambil dan kukibas-kibaskan ke segala penjuru mirip dengan pencak silat gaya Cimande. Namun, suara itu seperti mengejek, masih terus terdengar. Aku makin frustasi dan tak ayal segera kuambil semprotan obat nyamuk yang masih ada disudut kamar. Kusemprotkan kesegala arah hingga kamarku penuh dengan asap obat yang segera menyergap pernafasanku.

Setelah asap itu menghilang, aku melihat seekor nyamuk belang tergeletak mati.

“Apa ini nyamuk yang menggigitku tadi?” aku bertanya-tanya dalam hati. Dengan cermat kuambil nyamuk yang sudah membangkai tadi dan kuletakkan diatas secarik kertas.

Kuamati bangkai nyamuk tersebut dengan seksama. Kutatap bagian antenanya, 2 mata fasetnya, maksilaris, sayap, abdomen, kaki-kaki yang kecil namun luar biasa, dan juga proboscis…iya, bagian memanjang yang merupakan moncong penghisap nyamuk itu untuk menyedot darah dari apa dan siapa saja. Aku lihat baik-baik proboscis tadi, kuambil kaca pembesarku, seperti corong dengan gerigi yang tajam. Aku bergidik seketika, hiiiii.

Tiba-tiba aku tersadar kalau sedari tadi aku tidak mempedulikan rasa gatal pada lenganku. Segera kulihat lengan kananku, ada tanda mata yang ditinggalkan sang almarhum nyamuk disana, tanda merah yang membengkak. Terkesiaplah aku karena yang mencium lenganku tadi adalah….aedes aegepty! Oh, tidak!!! Nyamuk berbahaya itu, yang menularkan virus demam berdarah itu, yang disebut nyamuk priyayi itu, aku tenggelam dalam kepanikan yang luar biasa.

Aku buru-buru keluar kamar, saking tergesa-gesanya pintu kamar seperti terdobrakkan, dan berakibat kawan-kawan satu kosku tercengang melihatku.

“Apaan sih kok keliatan panik gitu?” Tono bertanya sembari makan mie cepat sajinya diatas meja tengah

“Kayak dikejar setan aja nih anak.” Surya juga menimpali tanpa mengalihkan matanya dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya R.A. Kartini.

Aku tidak pedulikan komentar demi komentar yang berdatangan, memang kadang persoalan kecil sering menjadi besar jika itu terjadi padaku. Ciuman nyamuk aedes aegepty telah mengganggu ketenanganku.

Kuoleskan balsem untuk menghilangkan dampak gatal gigitannya, memang hilang. Tetapi aku merasa trauma, takut seolah akan terjadi sesuatu yang buruk.

Seminggu yang lalu aku dengar kabar dari Pak Tamin, 5 rumah dari rumah kosku. Anak bungsunya, Asri masuk rumah sakit karena demam berdarah.

“Bagaimana keadaan Asri, Pak?” tanyaku sepulang kerja

“Masih belum membaik, trombositnya kurang dari rata-rata.” Pak Tamin terlihat masygul.

“Semoga Asri segera sembuh Pak.” Kataku sambil berlalu dari hadapan Pak Tamin.

Mengingat itu aku menjadi pucat. Didalam kamar aku bergelut dengan pikiranku sendiri, dalam impianku seolah terpampang diriku sendiri.

Diriku yang tergolek lemah diatas ranjang putih, dilenganku terpasang selang infus yang panjang dan aku terlihat lemah sekali. Aku jelas makin pucat, dan berlari kearah cermin, disitu aku melihat wajahku yang ketakutan dimana kemudian didepan mataku, bayanganku mengabur dan tergantikan oleh bayangku yang pucat dan penuh bintik merah, hidungku berdarah dan disudut bibirku ada darah.

“Aaaaahhh!!!!” aku ketakutan sekali, nyaris kupecahkan cermin itu jika tidak ingat itu hanya ilusi.

Malam sudah makin larut, dan setelah menyelesaikan semua pekerjaanku, aku lebih memilih segera tidur. Aku berusaha mengenyahkan gigitan nyamuk aedes aegepty tadi dari pikiranku. Detik demi detik akhirnya aku tertidur.

Tiba-tiba, aku melihat nyamuk-nyamuk raksasa sudah mengelilingiku. Mereka menatapku dengan mata fasetnya yang tajam, moncong panjangnya yang disebut proboscis itupun seolah pisau tajam yang mengkilat-kilat didepan mataku. Tapi yang aku lihat adalah bentuk mereka yang berbeda-beda, dari cara mereka bertengger. Seekor terlihat tegak pada abdomennya dan berwarna gelap, sedangkan nyamuk satunya berwarna agak coklat dengan abdomen sejajar dengan tanah. Yang disebelahnya lagi adalah nyamuk yang sangat kukenal. Belang! Iya, si aedes aegepty yang tadi menghisap darahku.

“Siapa kau?” aku bertanya dalam ketakutanku.

“Aku?” salah seekor nyamuk yang berabdomen tegak bertanya balik.

“Aku?” nyamuk yang berwarna kecoklatan sambil menatap heran pada nyamuk abdomen tegak.

“atau aku?” tanya nyamuk belang.

“Iya, kalian semua!” aku lama-lama jengkel juga.

“Aku adalah anopheles. Manusia sering menyebutku nyamuk malaria.” Kata si abdomen tegak sambil sedikit maju.

“Kalau aku, adalah culex.” Nyamuk kecoklatan maju juga.

“Dan aku, aedes aegepty.” Si belang akhirnya bergerak mendekat.

Aku semakin ketakutan, rasanya wajahku sudah hampir kehilangan rona merahnya, pucat pasi yang mengiringi, darahku rasanya sudah hampir habis mengingat ketiga ekor nyamuk seukuran diriku itu mendekatiku.

“Mau…mau apa kalian?” ditengah ketakutan akan dihisapnya darahku.

“Tenang aja kawan, kami tidak akan menghisapmu karena kami ini nyamuk jantan.” Kata si abdomen tegak.

“Yang menghisap darah hanya kawan betina kami. Jadi jangan khawatir.” Si belang juga ikut menenangkanku.

“Be…benarkah?” aku tetap ragu.

“Tenang saja teman, kami tahu kalau kau ketakutan.” Kata si abdomen datar alias culex menghampiriku.

“Kami tidak menghisap darah kok,” nyamuk anopheles berkata berusaha meyakinkanku.

“Hanya betina-betina kami yang menghisap darah.” Nyamuk culex juga menjelaskan. “Kami ini hanya menghisap sari-sari bunga, yah….tidak semua nyamuk menghisap darah asal kau tahu,..mmm..siapa namamu?” tanya anopheles balik.

“Aku…Hadi.” Kataku sambil menunjuk kearah dada.

“Oh ya, Hadi! Kamu tahu apa saja penyakit yang disebabkan nyamuk seperti kami?” culex bertanya. Sementara kedua temannya saling berpandangan.

“Aku hanya tahu sebagian,….ya, yang disebabkan oleh dia.” Kataku sambil menunjuk si belang.

“Asal kau tahu saja, kami ini para pencium maut dan itu karena manusia sendiri yang menyediakan tempat bagi kami.” Si belang berkata

“Sedangkan aku menularkan penyakit karena kalian manusia membabat habis tempat tinggalku. Coba lihat disana.” Si anopheles menunjuk sebuah tempat…tiba-tiba berubah menjadi pantai dimana bakau-bakau telah ditebang dan gundul.

“Disitulah asal kami, tapi karena kaummulah maka jangan salahkan kami bila berpindah ketempat kalian.” Anopheles seperti menitikkan airmatanya. Aku jadi teringat Fatimah, putri Pak Dullah yang sepulang dari Kalimantan terkena Malaria, entah apa jenisnya.

“Dan aku dapat kau temui dimana-mana.” Culex menambahkan..”Tapi sekali lagi, hanya betina yang menghisap darah.”

“Untuk apa para betina itu menghisap darah?” aku bertanya kembali, memang soal nyamuk ini aku begitu butanya.

“Hidup kami ini singkat, Hadi.” Si belang membuka suara. “Kami hanya hidup sebagai dewasa selama beberapa minggu saja dan hidup yang singkat itu harus kami manfaatkan sebaik-baiknya.” Lanjutnya.

Aku yang semula ketakutan dengan ketiga ekor nyamuk tadi akhirnya justru merasa ada sesuatu yang harus direnungkan.

“Kami hanya hidup untuk menghisap sari tumbuhan dan mengawini para betina kami. Dan itu harus cepat, karena sekali lagi, hidup kami singkat bahkan kami tidak bisa menyaksikan keturunan kami menetas.” Culex turut menimpali.

“Para betina pun harus melakukan ciuman maut demi hidup telur-telurnya, Hadi.” Culex kembali berujar.

“Sekitar 40-400 butir telur dihasilkan oleh betina kami, dan itu hanya bisa dilakukan dengan menghisap darah.” Anopheles bersuara.

“Termasuk penyakit yang ditularkan itu karena ciuman nyamuk betina bukan?” aku kembali bertanya, masih tenggelam dalam keraguanku sendiri.

“Iya…itu dia!”

Demam berdarah!” si belang setengah berteriak

Malaria mau yang tropikana atau yang tertiana. Ada!!!” anopheles mengangkat dua lengannya.

Kaki gajah alias filariasis, atau chikungunya!!” culex langsung mendorong kedua nyamuk lainnya hingga terjungkal.

“Kurang ajar kamu! Lihat-lihat dong!” anopheles protes.

“Hadi, mungkin bangsa kami takkan bisa dimusnahkan dari muka bumi. Tetapi selama manusia peduli dengan lingkungannya, pasti kami tidak akan menjadi masalah besar bagi kalian.” Aedes aegepty alias si belang seolah memberi petuah.

“Kami hanya jalani takdir sebagai makhluk-Nya, menghisap darah untuk hidup dan meneruskan keturunan kami, entah sudah berapa juta generasi kami hidup.” Anopheles berkata sembari menggosok-gosokkan proboscis-nya.

“Tapi seharusnya manusia wajib berterimakasih pada kami.” Culex memiringkan badannya kearahku. Suara nging pada sayapnya terdengar digendang telingaku begitu keras.

“Mengapa kami harus berterimakasih pada nyamuk?” tanyaku heran. Aku bingung, kenapa kita harus berterimakasih pada nyamuk padahal mereka jelas-jelas mengganggu kehidupan kita, menularkan penyakit yang berbahaya. Aku teringat pada Nyah Suketi yang kakinya membesar karena kaki gajah.

“Karena kamilah, maka manusia bisa menciptakan obat nyamuk, penangkal nyamuk dan macam-macamnya.” Ketiga nyamuk itu bersamaan berujar.

“Dan hidup kami sangat singkat sehingga harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.” Anopheles dengan lincahnya terbang meninggalkanku. Disusul culex dan aedes aegepty. “Hati-hatilah, karena sebentar lagi betina-betina kami akan berdatangan.” Aku tiba-tiba mendengar suara sayap nyamuk dari arah lain seiring dengan perginya para nyamuk jantan tadi. Aku bergegas lari, karena ternyata itu nyamuk betina!!! Ada lima ekor nyamuk betina yang menatapku dengan kelaparan. Seolah aku melihat nosferatu, film bisu tentang drakula yang sangat menyeramkan, proboscis para nyamuk tadi seolah berkilat-kilat siap menghisap darahku. Aku makin terkesiap ketakutan.

“Ayo teman-teman, ada makanan lezat!”

“Kejar dia.”

“Ayo cepat, ada darah segar!”

“Wah, pesta pora kita hari ini!”

Serombongan nyamuk betina itu mengejarku, aku berusaha lari namun tiba-tiba ada suara yang membangunkanku.

“Had! Hadi! Hadi!!! Bangun!!!”

Aku terkejut seolah bangkit dari mimpi yang panjang. Aku berteriak ketika ternyata yang membangunkanku adalah Surya. “Aaaaahhh, hantu!!!”

Giling loe, masak muka cakep begini dibilang hantu. Sudah sana!” perintah Surya sambil menarik tubuhku dari istana kasur. Aku bergegas bangun dan buru-buru berangkat ke kantor karena hari sudah beranjak terang.

Didalam ruangan kantorku, kurenungkan mimpi aneh yang baru saja terjadi. Aku bermain-main dengan pemikiranku yang kian bercabang karena banyaknya urusan. Aku melamunkan kehidupan nyamuk yang begitu singkat, hanya dari telur, larva, kepompong dan menjadi nyamuk dewasa yang hanya hidup dalam hitungan minggu. Dan untuk memanfaatkan singkatnya kehidupan, maka mereka harus bergegas kawin dan karenanya para betina menghisap darah seperti drakula untuk kelangsungan hidup telur-telurnya. Hidup singkat yang dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Diam-diam aku kagum pada nyamuk tadi, meskipun kekhawatiran akan terkena demam berdarah tetap ada.

“Nyamuk, nyamuk, betapa bermanfaatnya hidupmu. Aku belajar darimu” Aku hanya menggumam kecil sambil memperhatikan bekas gigitan nyamuk yang sudah mulai menghilang. Kutunggu hari-hari itu, karena katanya masa inkubasi virus demam berdarah paling lama satu minggu. Aku cemas dan seolah menanti dewi kematian mendekat. Namun, setelah dua minggu berselang, aku bersyukur. Tidak kena demam berdarah!

Demi rasa syukurku itulah kemudian aku bergegas menggali lubang untuk menguburkan barang-barang bekas yang bertumpuk dikamarku, dan dilingkungan kosku. Tak kupedulikan wajah-wajah yang memandangiku dengan tatapan aneh, sesudahnya bergegas aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan bak yang sudah lama tidak dikuras.

“Ya ampun Had, loe kemasukan apa sih kok serajin ini?” Surya bertanya padaku.

“Heran dech, kok sudah bersih-bersih sepagi ini.” Tono juga keheranan.

Aku hanya menyeringai saja sambil terus bekerja. “Daripada diem percuma, mending bantuin gue dech.” Perintahku. Seolah tersihir, Tono dan Surya ikut turun tangan.

“Aduh, inget nggak anak Pak Tamin kemarin? Kena demam berdarah.” Seorang ibu yang ditimpali ibu-ibu lainnya.

“Masak, kita sudah pesan untuk pengasepan sampai detik ini belum datang-datang?” gerutu ibu lainnya.

“Ya sudah, ayo kita bersihkan sendiri, bosan kita nungguin. Sampe keriting juga gak bakal dateng!” ajak seorang ibu berjilbab kepada ibu-ibu lainnya. “Ayo, kita bersihkan…malu sama anak-anak kos itu.”

Satu kampung seketika pada hari itu tenggelam dalam kegiatan bersih-bersih. Tidak ada air yang dibiarkan menggenang, dan sampah-sampah yang disinyalir dapat menampung air dikubur dalam tanah. Sehingga malamnya, nyaris tidak ada seekor nyamukpun yang muncul.

Dengan berbekal obat nyamuk elektrik, aku duduk-duduk kembali dikursiku sambil membaca Das Kapital. Namun konsentrasiku tidak pada buku, melainkan pada nyamuk tersebut. Ciuman nyamuk kemarin justru membuahkan hikmah dalam kehidupanku sendiri. Aku harus mengisi hari-hariku dengan melakukan suatu kebaikan, karena belum tentu aku esok hari masih hidup. Ada seekor nyamuk yang terbang diatas lampu kamarku, namun menjauh karena aroma obat nyamuk yang kupasang. Kutakpedulikan suara nyamuk yang makin samar, kuhanya bersyukur.

Bambang Priantono

(190606)

Cerpen lama, semoga bermanfat

16 Comments Add yours

  1. Seperti penyuluhan ya.. Tapi bergaya sastrawi….:-D
    Sangat bermanfaat buat pembaca karena menambah wawasan tentang dunia pernyamukan..:-). Orang2 Depkes mestinya belajar bersastra sama ente No…Biar mereka nggak terlalu kaku dan membosankan

    1. Hehehehehehee…..udah lama sih

  2. niprita says:

    Bagus ceritanya… saya suka. Keren, sarat pengetahuan tapi nggak menggurui, bahasanya enak dibaca (y)

    1. Terima kasih banyak….sudah lama saya gak nulis cerpen soalnya. Jadi stok ini yang saya keluarin heheheh

  3. wah joss iki cak… pesenne dapeettt… 🙂

    1. Hehehehe…suwun banget dah..:)

      1. hehehe
        masih di kampung halaman atau sudah kembali ke kota atlas cak?

      2. Udah balik…baru aja..:)

  4. tiarrahman says:

    ini juga bagus, Bams.
    Jadi inget novel yang kubaca waktu smp, ada tersisip tentang nyamuk 😀

    1. Wih, masih inget ya sampe sekarang…kira-kira dari sisi apa Om nyamuknya?

      1. tiarrahman says:

        ya si Bandel yang suka gangguin kena demam berdarah. Akhirnya dia baik karena si tokoh utamanya yang bantuin.

      2. Oooo….masih inget judulnya?

  5. tiarrahman says:

    tokohnya yang kena nyamuk itu yang bandel banget dan juga kirang.
    padahal kirang itu anak yang susah didapat dan anak tunggal. makanya dinamai kirang (bahasa sunda –> kurang)

    1. Hehehehehe..

      Gitu ya jadinya? aku jadi inget punya murid namanya TURAH…Turah padahal artinya sisa kalau bahasa Jawanya.

      1. tiarrahman says:

        nama ini juga bisa dijadikan tokoh cerita baru, Bams.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s