(Catatan Kisah) : SENTILING alias KOLONIALE TENTOONSTELLING 1914


ImageSelama ini banyak sejarah yang tidak terungkap oleh bangsa kita. Kalau adapun, itu hanya dianggap sebagai sejarah lokal dan tak perlu seluruh anak bangsa tahu. Kadang-kadangpun hanya diajarkan sebagai bentuk muatan lokal yang porsinya kecil. Setiap wilayah di Indonesia ini sebenarnya punya sejarahnya tersendiri, yang terkadang bisa lebih heroik atau sadis dibandingkan cerita-cerita sejarah yang umum tercantum dalam buku-buku sejarah kita.

Salah satu contoh kecilnya adalah sejarah kota Semarang yang menyimpan kisah Perang Lima Hari yang sebenarnya lebih heroik dan sadis dibandingkan Serangan Oemoem 1 Maret 1949, dan satu lagi adalah….KOLONIALE TENTOONSTELLING yang diselenggarakan pada tahun 1914.

Informasi tentang peristiwa ini banyak saya dapat ketika bergabung dalam komunitas pecinta kota tua Semarang yang bernama OASE. KOLONIALE TENTOONSTELLING yang selanjutnya oleh warga lokal diplesetkan menjadi SENTILING, karena mungkin kesulitan dalam melafalkan bahasa Belanda yang baik dan benar. KOLONIALE TENTOONSTELLING diadakan dikawasan mulai dari wilayah Stadion Mugas, sampai kawasan yang sekarang jadi SMA N 1 dan SMKN 5 Semarang. Dulunya kawasan ini masih kosong, dan sebab utamanya diadakan pasar malam kelas dunia ini adalah untuk mengembangkan kota Semarang ke arah selatan, dan diawali dari wilayah Candi. Pameran ini juga merupakan titik awal untuk penataan kota Semarang ke arah yang lebih modern serta membuka akses.

Pameran SENTILING ini sendiri diselenggarakan sebagai peringatan 100 tahun lepasnya Belanda dari kekuasaan Prancis dimasa Napoleon Bonaparte. Namun yang ironis peringatannya justru di negeri jajahannya sendiri. Yah, merayakan kemerdekaan dikala negerinya sendiri menjajah bangsa lain. Ironi, namun unik. Pertandingan sepakbola setingkat PSSI juga untuk pertama kalinya diadakan di ajang SENTILING yang berlangsung selama tiga bulan ini.

Memang sejarah Semarang terkesan begitu dekat dengan kolonialisme, namun sebenarnya disitulah keunikan kota Semarang. Perlu diingat lagi, dikota inilah untuk pertama kalinya koran berbahasa Melayu berhuruf latin terbit pertama kalinya pada tahun 1860.

Generasi muda,khususnya pemuda kota Semarang seharusnya bangga karena hampir 100 tahun lalu, kota ini menjadi tuan rumah ekspo tingkat dunia. Banyak kisah yang dikandung dalam setiap bagiannya. Dan pada tahun 2014, genap 100 tahun perayaan tersebut yang ternyata juga bersamaan dengan banyak peringatan, yakni 100 tahun kota Malang, 150 tahun perkeretaapian Indonesia, hingga peringatan 200 tahun Raden Saleh yang asli Semarang.

Apakah kita sudah paham sejarah daerah kita masing-masing? Mari renungkan bersama-sama.

Ini adalah catatan kecil pengantar untuk pemahaman kita akan sebagian sejarah kecil yang seharusnya jadi kebanggaan.

Kebanggaan bersama.

Bambang Priantono

9 Desember 2012

Advertisements

31 Comments Add yours

  1. Larasati says:

    wah pasti pakdhe kesana yah??

    1. Kalau taun 2014 insyaallah

      1. Larasati says:

        wew yg tahun ini kenapa??

      2. Larasati says:

        tetap ditunggu tentang semarang nya pakdhe

  2. Memang kisah perang 5 hari Semarang tertutup publikasinya dg serangan oemoem 1 Maret Jogya. Sampeyan punya info visualisasi film perang 5 hari Semarang gak?

    1. Kalau foto2 sih ada, cuma sayang gelap semua

  3. Anehnya, SENTILING ini kok tidak ada di catatan sejarah yang umum.

    10-12 Desember 2012, ditunggu foto-foto informatif-nya ya 🙂

    1. Memang gak ada. Gak semua orang Semarang sendiri ngerti kok sejarah SENTILING ini. Insyaallah Mas, aku nebeng foto2 panitianya…kebetulan aku relawane juga.

      1. Wah, mantab tenan iki bisa jadi relawan, kalo bisa sampeyan dapetin film dokumenter-nya (kalo ada).

      2. Mumpung Mas, temenku sing nick ID MPnya Semarang Katropolitan juga bikin tesis tentang SENTILING ini, jadi dia yang bikin pameran ini bareng komunitas OASE. Alhamdulillah lah bantu2 meski sedikit.

  4. dhaverst says:

    owalah….
    lagi di rantai di sala3 Cak… durung isa nglayap….

    1. Hehehehehehe…..koyok opo wae dirante

      1. dhaverst says:

        jenenge wae kawulo alit cak…

      2. Hehehehehe..memaklumi kok

  5. Haryo Wicaksono says:

    waaa.. serangan umum 1 Maret. Ada sumber yang mengatakan kalau sebenarnya Pak Harto tidak ada kontribusi dalam serangan tersebut. Tapi yang tertulis di buku-buku sejarah SD dan SMP ceritanya lain lagi..
    ini adalah salah satu dari sekian banyak pemlintiran sejarah pada zaman Orde Baru..

    1. Sejarah itulah yang harus diluruskan…Perang Lima Hari Semarang jauh lebih heroik malahan kalau kubilang (sorry yang dari Jogja hehehe)

      1. Haryo Wicaksono says:

        Banyak yang heroik, pertempuran di Surabaya juga,,, 😉

      2. Yoiii…nek Suroboyo kan wis jelas…sampek didadekno hari istimewa

      3. Haryo Wicaksono says:

        Sampe ono semboyane, Burnas Kopen.. hahaa

  6. nenkmetty says:

    tahun 2014 gelar lapak yuk

  7. RY says:

    Tak tunggu cerita2 dari sana ya Mas Bams 🙂

  8. ibuseno says:

    Baru denger ini cerita.. makin penasaran aja Cak..
    ditunggu lanjutan kisahnya

    1. Sejarah yang tersembunyi dan seperti sengaja disembunyikan

  9. wow baru tahu gue soal sentiling? ek? :/
    hmmm ironi juga ya kalo peringatanya dipenringati di Indonesia, tapi gak apa-apalah sekalian promosi budaya.

    1. Begitulah…memang kenyataan, terlebih pada masa itu kan Eropa diguncang perang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s