(Catatan Diri) : Suatu Tantangan Pada Diri Setelah Semua Itu


Semangat..

Hanya itu yang saat ini saya butuhkan. Setelah terpuruk cukup lama, dikarenakan media tempat saya berekspresi dan menulis selama ini diambang penggusuran (dari yang katanya 1 Desember, tapi sampai saat ini belum jua hilang-hilang). Sempat pula ada yang memberi komentar yang menohok tapi sekaligus mencerahkan juga : Menulis ya menulis saja, jangan terlalu fanatik pada satu sarana. Blog atau multiply hanyalah sarana. Jadi bila terjadi sesuatu, takkan kecewa secara mendalam. Memang saya akui, multiply-lah yang menjadi dorongan bagi saya untuk menulis.

Dari belum bisa menulis apa-apa, hingga secerewet sekarang ini. Karena sarana itu pula, saya mengenal yang namanya lomba menulis, baik itu sifatnya amal atau komersial. Persaudaraan maya juga saya dapat, dimana semuanya jadi nyata. Beberapa tulisan saya alhamdulillah sempat nyasar ke beberapa media, termasuk diantaranya Femina dimana hal itu merupakan keajaiban besar bagi saya pribadi.

Saat ini saya sedang mencoba lagi bangunkan semangat menulis itu, kendati masih tertatih-tatih dan justru berniat munculkan proyek baru, yang tidak saya targetkan kapan selesainya. Yang terpenting adalah berusaha konsisten dan terus menerus berusaha. Yah, mungkin kedengaran muluk-muluk ya, tapi apa mau dikata…yang lain sudah jalan, saya harus jalan juga meski belum terjelmakan dalam bentuk buku apapun. Cuma semangat yang saya butuhkan untuk lakukan itu semua.

1. Meneruskan menghimpun catatan perjalanan dari candi ke candi yang tertunda terus menerus.

2. Optimalisasi blog http://pojoklambe.blogspot.com, yang nantinya jadi andalan saya dengan 100% menggunakan bahasa Jawa Timuran. Baru 63 posting dalam setahun terakhir, dan coba ditingkatkan.

3. Membuat cerpen sebanyak yang dimampu di waktu senggang..termasuk menerjemahkan cerpen yang pernah ditulis ke dalam bahasa Jawa Timuran.

Oke, tidak apa-apa kalau ini terkesan muluk. Tapi entah kenapa, saya jadi yakin dengan yang saya lakukan sekarang. Apakah dunia menulis ini jadi takdir saya? Saya tidak tahu. Tapi gerakan untuk kesana makin keras saya rasakan, kapan selesainya? biarlah waktu yang berbicara. Saya tidak berani menargetkan, karena lebih  baik semuanya dari hati, bukan dari paksaan atau dorongan dari luaran.

Salam, semoga saya bisa semakin aktif disini.

Bambang Priantono

3 Desember 2012

20 Komentar

Filed under Catatan, Kisah

20 responses to “(Catatan Diri) : Suatu Tantangan Pada Diri Setelah Semua Itu

  1. “Kematian bukanlah tragedi, tapi kalo ada yang mati* dalam diri seseorang maka itulah tragedi yang sebenarnya” -Emha Ainun Najib

    *matinya semangat

  2. Teruslah menulis, memang tak usah terpaku pada satu media sih.

  3. Aku jg bakal ngangenin mp, gara2 mp punya bnyk temen🙂

  4. It’s your tale that matters, not where you write it on.

  5. Goodluck cak.. ini termasuk resolusi ya🙂

  6. Haryo Wicaksono

    Semoga istiqomah cikgu..😉

  7. meninggalkan MP memang pedih mas *galebaylho* aseliiii
    btw aku malah punya 3 blog saiki, resolusine kurleb yo pengen koyo awakmu, nulis dan terus nulis😀

  8. saya baca tulisan njenengan yang cerpen terjemahan ke bhs jawa, asyik, cak, jadi kelingan Joyo Boyo, majalah langganan swargi bapak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s