(Banyumas Journey) : Suatu Hari di Curug Cipendok – Tewasnya Kameraku


ImageSelama libur panjang kemarin, saya menghabiskan waktu untuk jalan-jalan ke wilayah Banyumas. Tentunya, bertemu dengan sahabat saya, Walah alias Eko Prasetyo Adhi. Saya berangkat dari tempat kerja sekitar pukul 15.00 WIB Rabu kemarin, dan baru dapat bis pukul 16.00 WIB ketika sudah putus asa karena tidak kunjung mendapatkan travel, karena maklum libur panjang. Alhamdulillah, saya sampai di Purwokerto sekitar pukul 23.00 WIB, dijemput oleh sohib yang sudah delapan tahun ini menjadi sahabat saya.

Esoknya pas pada tanggal 1 Muharram, saya dibawa oleh dia menuju salah satu air terjun yang jadi andalan kabupaten Banyumas, yakni Curug Cipendok. Curug berarti Air Terjun, sedang Pendok artinya cincin pada gagang keris..sementara Ci-nya berarti air. Jarak Curug Cipendok dari Purwokerto kira-kira 17-20 km dan sekitar 5 km dari jalan utama Purwokerto-Wangon melalui Jalan Raya Cipendok. Air terjun ini berada dalam wilayah Desa Karang Tengah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Saya dan Walah naik sepeda motor kesana dan jalurnyapun sangat mudah untuk diakses, tapi ya itu…naik turun tidak karuan. Hahahahaha. Jalan menuju Curug Cipendok juga sangat indah, dengan hutan-hutan yang asri, sejuknya juga tak kalah dah…bahkan banyak losmen bertebaran didekat Curug Cipendok ini kendati banyak cerita miring mengenai fungsi losmen-losmen tersebut. Yah, memang nothing is perfect.Image

Karcis yang harus dibayar per kepala adalah 6000 perak. Waktu itu saya dan Walah plus parkir dikenakan biaya 13 ribu rupiah. Ya, itu bukan persoalan besar, sepanjang perjalanannya menyenangkan. Sayang cuacanya agak mendung, sehingga pemandangan yang dramatis susah didapat, ditambah kamera saya sudah sekarat alias sudah saatnya dimakamkan untuk digantikan yang baru. Jadi tak banyak yang saya jepret. Tapi ditengah2 masa akhir tugasnya itulah, saya dapat gambar-gambar yang cukup mewakili. 

Dari areal parkir, kami masih harus berjalan kaki kira-kira 1-2 km menuju air terjun. Jalanannya sudah dilapisi batu, dan kami disambut oleh pengamen yang mencari sesuap nasi dengan jual suara. Setelah itu barulah kami sampai ke tanah lapang dimana fasilitas seperti flying fox dan taman bermain tersedia, dan ketika mulai turun ke bawah, banyak warung berjajar. Curug Cipendok masihlah turun lagi. Namun sudah terlihat dengan jelas.

Subhanallah, ternyata Curug dengan ketinggian 92 meter ini benar-benar luar biasa. Percikan airnya saja sudah terasa bahkan kala kami masih ada di atas. Ternyata, selain curug utama, ada beberapa curug yang lebih kecil entah apa namanya juga mengalir di sebelah Curug Cipendok. Pendek kata, saya puas dengan menikmati pemandangan disana meskipun cuaca sedang labil bak ababil (abege labil). Sayangnya saya tidak sampai turun mendekati air terjun, karena kamera sudah harus diselamatkan, kendati sejatinya sudah dood alias mati masanya.

Berhubung sekaratnya kamera yang menemani saya selama dua tahun inilah, saya harus segera gunakan untuk bernarsis ria mulai dari jalur hingga ke curugnya, ya sebelum akhirnya harus berpisah dengan kamera itu untuk selama-lamanya. Yah, tunggu saatnya nanti akan beli lagi yang lebih baik. Olympus….terima kasih telah menemaniku mengambil gambar-gambar yang indah selama 2 tahun ini. 

Curug Cipendok, suatu hari saya akan kesana lagi.

 

Bambang Priantono

18 November 2012

Advertisements

22 Comments Add yours

  1. umarfaisol says:

    Dolan thok,, maklum bujangan :-p

    1. Selagi sik mbujang jeeee

  2. Haryo Wicaksono says:

    Wayahe tuku SLR iki Mas… 😀

  3. nengwie says:

    Lho rusak kenapa kameranya?

    1. Udah waktunya diganti

      :((

      1. nengwie says:

        achsooo…… 🙂

  4. Larasati says:

    rusak kenapa pakdhe??

    1. Udah waktunya diganti…huaaaaaa

  5. Julie Utami says:

    Wis gek ndang mundut kamera anyar ngagem gaji sing seka pegaweyan anyar. Terus mengko diagem mblayang meneh menyang Jawa Barat ya?!

  6. Beli kamera baru berarti ganti DSLR dong cak 😀

    1. Yaaa..apa mau dikata

      *Btw pada ngebahasa kamera ya, kok gak Curug Cipendoknya? hahahaha…nasiib*

      1. Julie Utami says:

        Bwahahahaha…….. ngambek nih! Lha salahnya njudulin dengan embel-embel yang penting, “tewasnya kameraku”. 😛

  7. ibuseno says:

    waktunya di lem biru itu kamera 🙂
    Air terjunnya tinggi juga ya.. kalah deh tinggi air terjun curug sawer sukabumi

    1. Hehehehehe…ya setiap daerah punya uniknya sendiri2 Teh

  8. itu artinya sudah tiba waktunya ganti dgn SLR yoo 😉

  9. agustriana ze'a says:

    curug cipendok memang indah udaranya sejuk aku pernah kesitu waktu masih smp th 86 yg lampau

    1. Waah, sudah lama banget dong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s