(Tulisan Malam Minggu) : Sumpah Pemuda Kita, Sumpah Sedih Kita (1)


Sumpah Pemuda kita

Sumpah Sedih kita

Mungkin terdengar sebagai suatu kejanggalan. Sumpah Pemuda sudah berlalu hampir seminggu yang lalu. Dimana pada hari tersebut kita sebagai bangsa Indonesia memperingati peristiwa berkumpulnya para pemuda se-Indonesia untuk memperkukuh komitmen mencapai persatuan dan kesatuan berbagai suku bangsa di tanahair sebagai bangsa Indonesia.

Butir pertama dari Sumpah pemuda itu sendiri sudahlah jelas, yakni KAMI PEMUDA DAN PEMUDI INDONESIA MENGAKU BERBANGSA SATU, BANGSA INDONESIA. Itu sudah begitu jelas, melepaskan perbedaan-perbedaan yang menjadi keniscayaan dalam kehidupan manusia, menyatukan pandangan dan tujuan serta menghilangkan ego-ego kesukuan, ras hingga agama dan golongan sosial lainnya demi menggapai sesuatu yang disebut MERDEKA. Merdeka dari penjajahan, membentuk bangsa yang kuat serta membangunnya hingga menjadi bangsa yang disegani dunia luar.

Jong Java, Jong Sumatra, dan Jong-Jong lainnya bersatu, bergandeng tangan dan kokoh menjadi bangsa Indonesia. Pada masa-masa itu bila saya ada disana, saya pasti akan berteriak selantang mereka “MERDEKA!”. Namun sayang, 14 tahun terakhir ini merupakan saat-saat terpelik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Konflik-konflik terus datang silih berganti, dari politik yang tak pernah selesai, saling menjatuhkan dan lempar batu sembunyi tangan dimana intrik semacam itu menjadi menu ‘makanan’ mata setiap harinya di layar kaca hingga situs-situs internet. Tauladan yang kini tiada juga menyebabkan masyarakat kita kian mengabaikan makna persatuan dan kesatuan, ditambah dengan faktor ekonomi yang selalu menjadi sebab segala konflik. Bila rakyat lapar, maka yang terjadi adalah …ah…saya tidak sanggup membayangkannya.

Konflik horizontal selalu menghantui saat ini, bahkan tak jarang menelan korban jiwa. Kebanyakan konflik itu dipicu oleh masalah sepele yang tak jarang berujung pertumpahan darah. Innalillahi wa innailaihi rojiun dan nauzubillah min dzalik. Masalah sosial, sektarian dan kesukuan makin mengemuka, kasus-kasus seperti di Sampang, Poso hingga Lampung Selatan yang masih hangat sampai detik ini menunjukkan betapa kian lemahnya semangat persatuan dan kesatuan antar sesama anak bangsa itu sendiri. Menurut saya pribadi, harus segera dicari dan diterapkan solusi yang tepat dalam mengatasi konflik yang seolah bak lingkaran setan ini.

Kita semua tidak ingin kan bangsa ini tercabik-cabik lagi? Banyak yang merasa dirinya benar sehingga menindas atau menyerang pihak lain. Ingatkah mereka akan semangat Sumpah Pemuda yang dikumandangkan oleh kakek atau nenek mereka 84 tahun yang lalu? Saya tidak yakin, karena yang lebih dipentingkan adalah perut dan perut. Apalagi tiada sosok teladan yang mampu mengarahkan, akhirnya anarki yang terjadi. Sungguh hal sedemikian sangat memprihatinkan. Kesejahteraan merupakan faktor utama yang harus dipenuhi pemerintah, karena dengan sejahteranya masyarakat maka satu masalah kan terselesaikan. Sementara untuk meredam semua konflik khususnya sektarian, seharusnya semua pihak duduk bersama lagi untuk mengkompromikan itu, tentunya secara intensif dan berkesinambungan.

Perlu diingat, bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Perbedaan suku, bahasa, agama, kebudayaan dan golongan merupakan kekayaan yang harus dipertahankan. Seperti pada semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA, berbeda-beda namun satu, kita banyak warna namun satu rumah. Sudah saatnya kita merajut kembali untaian-untaian persatuan yang mengendur dan kian mengendur ini demi terwujudnya bangsa Indonesia yang kuat dan jaya sebagaimana yang dicita-citakan para pendahulu kita.

Sumpah Pemuda Kita, Sumpah Sedih Kita

(Bersambung)

10 Komentar

Filed under Budaya, Catatan, Opini, Uncategorized

10 responses to “(Tulisan Malam Minggu) : Sumpah Pemuda Kita, Sumpah Sedih Kita (1)

  1. Larasati

    ini dimuat juga gak?? yang bikin ngenes nya pemuda sekarang lebih mengunggulkan tawuran….miris

  2. sumpah siki pemudane akeh sing alay mbang

  3. Kirimkan ke media massa, layak muat tuh.

    Iya sekarang kita malah dicerai-beraikan permusuhan antar suku, antar agama, antar sekte dan seterusnya. Dalam bicara pun kita tidak lagi mengutamakan bahasa Nusantara, sebab bahasa Indonesia sudah dirusak semau-maunya oleh generasi yang hidup sekarang, meneladani generasi saya yang juga sudah mulai ngawur ketika mudanya. Nah, menyedihkan dan mengerikan, menandakan bangsa kita seperti tak mau bersatu.

    • Aku maunya gitu Tan. Tapi aku lebih percaya kalau media blog itu lebih kuat pengaruhnya. Kenapa? Tidak berpihak dan lebih netral dari segi penulisannya, serta obyektivitasnya lebih terjaga.
      Bangsa kita kian mengerikan kok, tapi masih ada harapan kalau kita semua mau berusaha.

      Matur nuwun buat apresiasinya Tan…

      • “Aku maunya gitu Tan. Tapi aku lebih percaya kalau media blog itu lebih kuat pengaruhnya. Kenapa? Tidak berpihak dan lebih netral dari segi penulisannya, serta obyektivitasnya lebih terjaga.”

        Aku juga punya perasaan yang sama, kalau naskahku sampai di meja redaksi suatu penerbitan mesti nanti diobrak-abrik yang ngasuh media itu hihihihihi…….

        Terima kasih kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s