(Tulisan) : KUTU


GARUK, GARUK DAN GARUK LAGI…

 

Entah mengapa kepalaku terasa gatal semenjak berkunjung ke rumah Mbak Wongso, eyang buyutku. Baru semalam aku injakkan lagi kaki di rumah setelah menikmati masa-masa libur panjang. Libur untuk melarikan diri dari segala macam kesibukan yang mencekik leher dan seolah menjadikanku mesin yang tak pernah tuntas bekerja.

Berjalan-jalan di hamparan hijaunya sawah, mendaki perbukitan yang menghijau, menghirup udara yang masih bersih bebas dari lalu lalangnya asap-asap kendaraan dan pabrik yang makin membunuh dengan kandungan karbon monoksidanya.

Garuk, garuk dan garuk lagi.

Kuberkaca di cermin, kuperiksa rambutku dengan seksama, kusibak dengan hati-hati setiap helainya. Ada sesuatu yang melintas di antara kulit kepalaku. Kucoba kuambil sesuatu itu dari kepala….”Ya Tuhan! Kutu!”.

Aku terperanjat setengah mati melihat makhluk kecil berkaki empat itu di telapak tanganku. Tiba-tiba aku seolah tersulut api amarah kupencet kutu itu dengan ibu jariku, “tes!” makhluk menjijikkan itu menemui ajalnya. Darah berceceran, darahku sendiri!

Terpekur di depan cermin sambil mencari-cari apakah ada saudaranya yang bercokol di atas kepalaku, berpestapora di atas kulit kepalaku, menghisap darahku. Setelah lama kucari, tak kutemukan lagi binatang menjijikkan itu.

Eh, tapi kulihat ada bintik-bintik putih yang bercokol di helai rambutku. Kuambil satu, aaarrrggghh, ternyata dia sudah meninggalkan telur di kepalaku!” aku berteriak histeris. Untung tidak ada orang.

Wah, aku bakalan malu pada rekan-rekan kerjaku kalau ketahuan berkutu begini…

Kucari-cari sebab dari mana aku memperoleh seekor kutu yang dengan liciknya membonceng dari desa Mbah Wongso. Aku mengira-ngira mengapa bisa kutuan begini? Aku sendiri tak pernah bersentuhan dengan barang-barang berkutu. Bahkan hanya mengelus anjing dan kucingpun aku berhati-hati. Takut pinjal yang bersarang bisa berpindah.

Aku langsung mengingat-ingat perjalanan ke kampung Mbah Wongso. Episode saat aku berjalan-jalan ke perumahan di kampung yang damai itu. Dari mana ya aku mendapat kutu? Rumah Mbah Wongso cukup bersih meski sederhana. Bahkan tempat tidurnyapun sangat bersih. Atau…

“Aha! Jangan-jangan dari Suhaimi, anak Mbok Darsih yang sering main bersamaku itu. Aku sama sekali tidak memperhatikan penampilan anak itu, apalagi rambut kepalanya yang lebat. Hmm..sepertinya aku tertular darinya.

Aku akhirnya sampai pada satu keputusan. Harus segera kutuntaskan telur-telur kutu yang bersarang di rambutku ini. jangan sampai orang lain tahu kalau aku pernah kutuan. Bergegas aku ambil gunting dan pisau cukur, perlahan-lahan kubabat habis rambutku helai per helai. Kucukur bersih kepalaku dengan pisau cukur hingga licin. Aku senang, akhirnya terbebas dari kutu-kutu pengganggu itu.

“Har, gile loe kenapa dilicinin tuh rambut?” tanya kawan-kawanku heran.

“Padahal cakepan rambut loe yang kemarin.” Yolanda melihatku sambil menahan senyum.

“Stres ya?” Gerry bertanya padaku.

Ah! tiba-tiba kepalaku gatal lagi! Padahal bahkan secuil ketombepun tak kujumpai. Rasanya kutu-kutu itu telah meneror imajinasiku. Ah, aku harus cari tahu sebabnya.

Bergegas aku menuju meja kerjaku, ternyata…banyak sekali dokumen yang harus dikerjakan. Dan berhubung dua minggu aku tidak masuk sehingga menumpuk. Rupanya ini sebab gatalnya otakku..Ha..ha..ha.

 

 

Bambang Priantono

Dipublikasikan di Rubrik Gado-Gado FEMINA

Edisi No 31/XL 4-10 Agustus 2012

Advertisements

16 Comments Add yours

  1. nengwie says:

    Aduuhh belum selesai bacanya, langsung garuk2 saya hehehe

    Pakai obat kutu atau paling gampang cukur pendek sekali rambutnya…
    *sambil garuk2*

    1. nengwie says:

      eiit udah plontos tooh… kebayang kalau ada kutu berjalan2 saat kepala plontos 😀

      1. Kutunya berasa main ski salju hahahahahaa

    2. Awas baca itu langsung berasa berkutu lho hehehehehehe…

      1. nengwie says:

        emang bener ya..kalau denger atau baca ttg kutu rambut, langsung garuk2 kepala 🙂

      2. Masak sih? hehehehehehe…

  2. Kutu kucing bisa pindah ke manusia ya cak? saya koq sering gendong2 kucing gak pernah kena kutu tuh kayaknya. Kenapa tuh?

    1. Tergantung kalau itu. Tergantung juga berapa lama gendong2nya dan kutunya banyak atau gak.

  3. Larasati says:

    selamat yah pakdhe bambang….

  4. Sinta Nisfuanna says:

    jangan sampai orang lain tahu kalau aku pernah kutuan >>> tapi malah ditulis neng blog! #parah

  5. Julie Utami says:

    Hah, kutuan?! Coba sini kirim alamatmu, nanti tak belikan racun kutu rambut peditox itu dan kukirim via paket ke Semarang, gimana?

    1. Hahahahahahaa….

      Udah ah, maluuu

  6. Julie Utami says:

    OOT ah, itu yang id nya pindahanmultiply bikin penasaran, bareng tak klik jebule jane mung bang Nahar hahahaha……… awas tuh pindahannya nyangking kutu sekalian, nanti bikin gatel lagi hihihihi…….

    *salamalaikum bang nahar*

    1. Wakakakakakakakak..aya-aya wae Tante ieu mah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s