(Return to Solo Part 5) : Sejenak di Kraton Kasunanan


ImageSetelah puas melihat-lihat Gelar Budaya Rakyat yang diadakan di gerbang Kraton Kasunanan tepat di depan alun-alun, kami berdua (saya dan Miss Afi) memilih masuk ke dalam Kraton Kasunanan. Ketika hendak masuk sudah dihadang oleh petugas yang mengarahkan kami menuju sebuah gedung kecil, tempat pembelian karcis masuk yang senilai Rp 10.000,-. Kami diantar seorang ibu tua menuju dalam Kraton yang harus menyeberang jalan kecil namun ramai. Berhubung saya sudah hapal, ya akhirnya langsung jalan saja tanpa pemandu atau apapun. Dibawah sinar matahari yang lumayan terik, kami berjalan menuju Kraton Kasunanan yang juga difungsikan sebagai museum.

ImageImage

Ternyata Miss Afi belum pernah sekalipun mengunjungi Kraton Kasunanan ini. Terakhir dia kesana saat masih SD, dan itu sudah lupa-lupa ingat. Saya sudah beberapa kali pergi ke Kraton Kasunanan, jadi hafal kemana harus pergi. Saat memasuki museumpun, tidak perlu pakai pemandu atau apa. Kondisi Kraton Kasunanan juga tetap sama seperti terakhir kali saya datang dua tahun lalu. Dengan tataletak benda-benda museum yang sama, mulai dari piranti masak memasak, kereta kencana, kereta panggul yang dipakai untuk mengangkut barang pusaka, sesaji atau putri raja hingga artefak-artefak dari jaman Majapahit. Saya berlagak seperti pemandu beneran bagi Miss Afi, sekalian melatih naluri sebagai pemandu yang baik dan benar (emangnya bahasa Indonesia saja yang harus baik dan benar?)

Sebenarnya perasaan saya saat jalan-jalan ke Kraton ini sama seperti kalau jalan ke candi-candi bersejarah. Melongok masa lalu dan kadang mengulanginya lagi untuk diingat dan diceritakan. Konflik dualisme kepemimpinan dalam Kraton Kasunanan seolah tenggelam dibalik riuh rendahnya suara pengunjung. Saya jadi ingat, sampai-sampai kedua belah pihak bersitegang didepan gerbang karena tidak diijinkan masuk. Sungguh sebenarnya itu memalukan, karena disaksikan oleh masyarakat awam. Yah semoga dengan penyelesaian yang diberikan, akan membawa Kraton Kasunanan kembali memperoleh pamornya yang dulu.

ImageImageImage

Peraturan untuk tidak memakai sandal, bercelana pendek dan harus bertelanjang kaki (kecuali yang bersepatu) tetap sama seperti dulu-dulu tatkala memasuki Siti Inggil. Pasirnya yang putih kecoklatan karena konon diambil dari Pantai Selatan juga menambah misteri Kraton yang berusia lebih dari 3 abad ini. Berbeda dengan Kraton Kesultanan Jogjakarta yang Siti Inggilnya tidak boleh dimasuki, Siti Inggil Kraton Kasunanan tetap boleh didatangi pengunjung, dengan syarat tidak boleh naik ke bangunan utama dan diberi batas pengunjung. Tidak semua zona di Kraton ini boleh didatangi pengunjung. Mungkin selain untuk menjaga privasi penghuninya, sekaligus untuk mempertahankan nilai sakral dari bangunan keraton itu sendiri.

ย ImageImageImage

Well, memang keadaannya sama seperti dulu. Segala suka, duka, derita, sukaria semuanya berkumpul jadi satu di keraton yang dulunya menjadi salah satu pusat pemerintahan Jawa ini. Tinggal bagaimana kita menjaga kelestarian keraton berikut tradisinya yang sudah diturunkan selama ratusan tahun ini. Saya tiba-tiba jadi teringat dengan festival Karaton yang pernah diadakan 2 tahun lalu, dan saya benar-benar menikmati nuansa keraton, mulai dari kuliner hingga seni budayanya. Saya dan Miss Afi hanya sekitar satu jam di keraton itu dan kemudian kami lanjutkan perjalanan menuju Pura Mangkunegaran.

ImageImageImage

Bersambung

Bambang Priantono

15 Oktober 2012

Advertisements

14 Comments Add yours

  1. seniorjowo says:

    Aku kok ora iso ngeloboke foto okeh koyo kowe Bang, piye??Apik iki…

    1. bambangpriantono says:

      Jane podo wae Pakdhe sisteme…cuma kudu rodo sabar sithik.

  2. Larasati says:

    huhuhuhu cak nono mengingatkan aku pada masa silam…dulu pernah tuh foto di depan kereta kencana nyaaa….

    1. bambangpriantono says:

      Hehehehe…seru kan? aku ya seudah beberapa kali sih kesitu

  3. Sigoese says:

    Sering ke Solo tapi malah belom pernah masuk sini..
    Kalo nyangking kamera SLR bayar lagi gak?

    1. bambangpriantono says:

      Kayaknya sih gak ada tarikan biaya gitu deh…

  4. RY says:

    Solo selalu luar biasa ๐Ÿ™‚

    1. bambangpriantono says:

      Betul…dan semoga terus demikian ๐Ÿ™‚

      1. RY says:

        Siiiip :))

      2. bambangpriantono says:

        Seep dah

  5. Ini maksudnya gimana, sam:

    Konflik dualisme kepemimpinan dalam Kraton Kasunanan seolah tenggelam dibalik riuh rendahnya suara pengunjung. Saya jadi ingat, sampai-sampai kedua belah pihak bersitegang didepan gerbang karena tidak diijinkan masuk.

    1. bambangpriantono says:

      Oh gini…kan ada dua keturunan yang merasa berhak atas posisi di Kasunanan, jadi ada konflik yang sampai-sampai harus melibatkan pihak ketiga untuk menyelesaikannya Mas.

      Sempat rame kok di koran.

  6. Agamfat says:

    moga2 saja pasca rekonsiliasi pamor kerator solo jadi membaik, soalnya pamornya sudha buruk sejak tahun 40-an, karena membela Belanda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s