(Return to Solo Part 4 ) : Sebagian Gelar Kesenian Rakyat 2012


Image“Pak, habis ini kita kemana?” tanya teman saya saat ketemu di depan PGS (Pusat Grosir Solo). Dia kebetulan mantan rekan kerja saya selama di Wearnes Education Center dan melanjutkan kuliah di UNS mengambil program pasca sarjana pendidikan bahasa Inggris.

“Kita keliling-keliling Solo saja,” Jawab saya.

“Pak Nono hapal kan jalan-jalan disini. Entar ditilang lagi.” Sepertinya Miss Afi (nama rekan saya) sanksi.

“Tenang aja, aku hapal kok jalan disini.” Jawab saya enteng.

Dengan naik scooternya, saya dan Miss Afi berkeliling kota. Pertama tentunya jalan ke Kawasan Keraton Kasunanan. Eh, pas disana ada rame-rame yang membuat saya penasaran.

“Miss, kita berenti disitu dulu ya.” Kata Saya.

Miss Afi hanya mengangguk saja. Saya baru tahu kalau ternyata dia jarang-jarang keliling Solo, justru seringnya keluar Solo seperti Karanganyar dan Sragen. Walah-walah, ternyataaa…..

Image

Saat mendatangi keramaian itu, saya melihat banyak orang-orang berpakaian abdi dalem, beberapa pemukul lesung, penari reog, topeng ireng sampai jatilan ada disana. Tenyata saya baru ngeh kalau saat itu ada gelar kesenian rakyat yang diselenggarakan tanggal 5-7 Oktober 2012. Kebetulan saya pas hari akhirnya yang diadakan di halaman gladag Kraton).

Kegiatan ini (berdasarkan brosur yang saya baca) diselenggarakan oleh PAKASA dalam rangka “mangayubagya” atau memperingati sekaligus syukuran atas diterimanya penghargaan THE FUKUOKA ASIAN CULTURE PRIZES (FUKUOKA PRIZES) bidang Seni dan Budaya untuk Dra. GRAy Koes Murtiyah M.Pd (GKR. Wandansari) yang lebih dikenal sebagai Gusti Mung pada tanggal 15 September 2012 di Fukuoka. Tentunya penghargaan ini sangat berarti, khususnya dalam pelestarian kesenian tradisi yang makin lama makin ditinggalkan oleh penggunanya sendiri.

Image
Ada Gusti Mung di sudut kiri

Di koran Suara Merdeka beberapa waktu yang lalu, khususnya artikel yang membahas penghargaan kepada Gusti Mung ini, tersirat suatu sindiran bahwa kalau di negeri sendiri seseorang harus membayar untuk menerima suatu penghargaan (tidak seluruhnya, namun oknum-oknum tertentu), sedangkan di Fukuoka, semuanya sudah ditanggung oleh pihak penyelenggara. Bahkan Gusti Mung membawa satu tim kesenian saat pergi kesana untuk lebih memperkenalkan seni budaya khususnya di kawasan Solo dan sekitarnya.

Saya tidak menyaksikan Kirab Prajurit Kraton Solo, namun hanya menyaksikan beberapa kesenian seperti Reog dari wilayah Sukoharjo, Kesenian Jatilan dari Jatinom, Klaten, Kesenian Lembu Seta dari Boyolali sampai Topeng Ireng dari Cepogo, Boyolali. Memang tidak semua kesenian saya saksikan saat itu. Cuaca sangat panas ketika saya sampai di Solo, namun bukan hambatan berarti bagi saya untuk menyaksikan even budaya yang tidak sengaja saya lihat ini. Kalau soal even budaya, dijamin radar langsung ‘on’ deh.

ImageImage

Kesenian Jatilan ditampilkan disana kok sepertinya menyindir statemen gubernur Jawa Tengah yang menyebut kalau Jatilan adalah kesenian yang jelek. Sontak saja, para budayawan dan masyarakat berreaksi atas pernyataan yang tidak pada tempatnya itu. Kendati beliau menyangkal itu, namun tetap saja kesan yang diberikan melalui media ini menurunkan nilai kharismanya sendiri. Toh, dimata saya tidak ada yang salah dengan kesenian ini. Malah seharusnya jatilan ini jauh lebih baik daripada Gangnam style yang sedang meledak-ledaknya ditiru berjamaah diseluruh dunia. Padahal, Gangnam style ini seperti gaya menunggang kuda, malah kalau diberi kuda lumping dan cambuk sama saja dengan jatilan milik kita.

Image

Beruntung sekali saya bisa melihat Gusti Mung dari dekat, karena beliau juga menyaksikan acara tersebut dengan saudari-saudarinya. Sesekali beliau beranjak dari kursinya untuk memotret, sama saja seperti penonton lainnya. Tidak perbedaan, dan memang seharusnya seperti itu. Melebur dengan masyarakat.

Saya akui dalam beberapa hal Solo banyak mengungguli daerah lainnya, meski kadang digoncang oleh konflik berbau SARA, tetapi secara umum kota ini tetap tenang dan terus jadi tuan rumah berbagai kegiatan baik bersifat regional hingga internasional. Tentu tidak ada yang sempurna, karena dunia ini tempatnya ketidaksempurnaan, Solo tetap membangun meskipun masih bolong disana-sini. Jokowi telah menanamkan sejarah baik bagi kota Solo yang dipimpinnya selama 7 tahun, dan minimal lebih tertata bahkan jauh lebih baik dibanding masa sebelumnya.

Image

Saya beruntung sekali bisa menyaksikan kegiatan budaya ini, karena belum tentu setiap saat bisa menemuinya. Semarang seharusnya semakin intensif juga berpromosi untuk menghidupkan pariwisata di wilayahnya. Diuntungkan sebagai ibukota propinsi tentunya harus diimbangi dengan makin banyaknya kegiatan berskala nasional hingga internasional.

ImageImage

Semarang dengan Solo tentunya berbeda dalam banyak hal. Semarang lebih banyak pada warisan bersejarah tinggalan Belanda yang masih tercetak manis di Kota Lama, serta budayanya yang merupakan paduan budaya Jawa, Cina, Arab dan Belanda. Pecinannya yang legendaris dan banyak lagi. Itu semua bila Semarang mampu mengembangkannya, akan setara dengan kota-kota Indonesia lainnya sesuai dengan semboyan kota Semarang sendiri. “Saatnya Semarang Setara”.

Bambang Priantono

15 Oktober 2012

Bersambung

Advertisements

14 Comments Add yours

  1. Agamfat says:

    Lha Keraton Kasunanan sendiri kerjaannya jualan gelar. Solo memang 7 tahun terakhir ini maju pesat, bahkan menyamai Yogyakarta. Walikota Yogyakarta sekarang sepertinya bakal bikin Yogyakarta kalah dari Solo

    1. He-eh, kalau dilihat2 sih Solo memang pesat sekali perkembangannya….Semoga saja setelah ditinggal Jokowi tetap maju.

  2. pembaca says:

    Artikelnya bagus. Tapi banyak ejaan dan tanda penulisan yang tidak tepat di beberapa tempat. Sangat disayangkan

    1. Wah, terima kasih banyak ya atas masukannya.

  3. Sigoese says:

    Pertamax!!
    Tanggal 26 Oktober pas Grebeg Besar motret prajurit kraton Jogja mas.. 🙂

    1. Waaahhh…harus mabur ke Jogja neh!!!!

      1. Sigoese says:

        haha.. dari pretelon Sukun nyengklak Nusantara cuma 35rb, mas..

      2. bambangpriantono says:

        Hahahahahahaa…iyo

  4. Julie Utami says:

    Wah, Solo itu betul-betul kota budaya yang menarik ya? Terima kasih sudah ngajak saya menikmati Solo. Sekarang tinggal saya diajak menikmati Pojok Lambe Etanan ‘kan?!

    Kangen karo sing iku.

    1. Sabar njih Tante..hehehehehe…masih belum mood

  5. expareto says:

    Eh.. di foto kuwi ada yang kembennya mlorot ya Mas? Hahhaaa

    1. Mosok tho? kok aku ra nyimak yooo…hehehehehehe

  6. Larasati says:

    bener2 bener pas beruntung

    1. Bener sekali…momennya pas banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s