(Return to Solo Part 3) : Nampang Sejenak di Bis Tingkat Werkudara


ImageSaya tidak ingat kapan terakhir kali melihat bis tingkat. Mungkin sekitar tahun 90an dulu. Saat kecil saya juga sering melihat bis tingkat saat jalan-jalan bersama keluarga ke Surabaya. Disana banyak bis tingkat kalau tidak salah mereknya Volvo. Sayang sekali saya tidak pernah naik bis tingkat, jadi seperti apa rasanya saya belum tahu. Hahahaha..

Pas setelah berprihatin ria pasal rusaknya kursi-kursi taman di sepanjang Slamet Riyadi, saya melihat ada bis merah yang melintas. Saya langsung berseru “Bis tingkat! Bis tingkat!” dan dengan katronya berlari-lari menuju arah bis itu. Tapi saking cepatnya, sayapun ketinggalan. Saya pikir naiknya sama saja dengan bis biasa. Ya sudah, saya kemudian berjalan kaki lagi menuju arah PGS dimana teman saya sudah menanti.

 Image

Menjelang perempatan Beteng, saya berpapasan lagi dengan bis merah tadi. Ada banyak orang yang mengerubungi. Sebagian diantaranya masih duduk dilantai dua bis yang saya baru tahu namanya Werkudara. Warnanya merah menyala dengan gambar wayang yang menggambarkan tokoh Werkudara atau dengan nama lain Bhima, Bima atau Bimo (tanpa saurus). Bis tingkat yang diresmikan tahun lalu ini berhenti didekat perempatan, persis diatas jalur sepur kluthuk Jaladara. Saya hanya melihat-lihat saja bis tingkat itu. Interiornya cukup nyaman, dan kapasitasnya cukup besar, tapi berhubung saya bukan petugas hitungnya ya nggak tahu berapa kapasitasnya hahahaha.

Iseng saya bertanya pada supir bis yang berpakaian seragam.

“Pak, trayeknya mana saja bis ini?”

“Keliling kota Solo mulai dari Kantor Dinas Perhubungan.” Jawab Pak Supir.

“Terus, berapa unit bis tingkat ini?” kembali saya bertanya.

“Ini satu-satunya di Indonesia, Mas.” Kata Pak Supir.

“Satu-satunya?” saya tambah bingung. “Maksud saya armadanya berapa?”

“Ya Cuma satu. Ini saja.” Sembari menunjuk bis tadi.

Halah! Satu? Ternyata bis tingkat Werkudara ini siji ndhil . Hanya satu-satunya di Solo dan di Indonesia, karena bis-bis tingkat lainnya sejak 1990an akhir sudah dipensiunkan dan menjelma sebagai besi tua entah dimana.

Image

Kebetulan momennya pas, saya sekalian minta difoto. Sekali jepret, langsung jadi. Ternyata bis tingkat Werkudara ini juga bukan ditujukan untuk angkutan umum sehari-hari. Melainkan khusus untuk tujuan wisata. Per penumpang dikenakan biaya Rp 20.000,- sekali jalan, sedangkan bila hendak carter rombongan kena tarif Rp 800.000,- (tapi menurut versi lain Rp 1 juta). Apa yang saya tulis disini berdasarkan harga di brosur yang dibagikan oleh petugas bis Werkudara. Bis inipun hanya beroperasi setiap akhir pekan. Pantas sajalah keadaannya bersih sekali..hehehehee. Saya belum sempat naik bis itu, karena keburu janjian dengan teman. Mungkin jika ke Solo lagi, saya akan coba naiki bis tingkat ini. Sepertinya asyik melihat pemandangan dari lantai dua bis.

 Image

Bersambung

Bambang Priantono

9 Oktober 2012

30 Komentar

Filed under Catatan, Kisah, Perjalanan, Solo

30 responses to “(Return to Solo Part 3) : Nampang Sejenak di Bis Tingkat Werkudara

  1. Keren Bisnyaaa. Kunjungan Malam, Pak! hehehe

  2. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa… pengeeen naeeek jugaaaa…
    kayaknya asyik deh ya,mas bambs?

  3. wib

    pas dirimu numpak, ojo ning atas cak.. ra ono supire…

  4. saya tertarik naik sepur kluthuk jaladara mas..
    cuma belom keturutan juga..

  5. Aku yo durung pernah numpak ik…padahal cedhak lho omahe😀

  6. pas mudik kemarin aku sama keluarga besar di solo yang muda2 para cucu dan cicit mau nyewa bis ini tapi ndak jadi.. katanya harus ada kapasitas minimal brp orang ya mas kalo mau nyewa…

  7. hee ?? armadanya cuma ada satu ? gak rebutan tah Cak ?

  8. flash back ke masa kecil :
    diusia mungkin 5 tahunan saya pernah punya mobil2an bis 2 tingkat warna merah kalo ndak salah, dengan fantasi masa kecil, suka membayangkan menaiki bis terebut, jadi ya… cukup lah terobati keinginan naik bus tingkat..🙂

  9. Larasati

    wah larass naek pas masih jaman bis lamaaaaaa, dulu keknya juga muter2 sekitar keraton doang….duduknya diatas hehe lebih enak kok diatas

  10. bus keduanya ada di Jakarta, karena walikota Solo pindah ke Jakarta hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s