Warna-Warni Perbedaan Keyakinan Itu


Oke, Tulisan ini saya buat untuk mengenang fase-fase Xenophobia yang saya alami, terutama dalam kaitan dengan perbedaan keyakinan.

Masa kecil saya dibesarkan dalam lingkungan Islam yang cukup taat, dimana hampir setiap sore saya, adik dan sepupu yang satu rumah harus mengaji dengan guru yang didatangkan ke rumah setiap harinya. Kamipun belajar keislaman, bahkan sampai sayapun disekolahkan di Madrasah Ibtidaiyah dengan segala ilmu keislaman mulai dari Aqidah Akhlaq hingga Fiqihnya. Berhubung saya tinggal di rumah keluarga besar bapak, maka saya jarang-jarang kontak dengan keluarga pihak ibu.

Saya sempat shock ketika waktu kecil saya diajak orangtua saya untuk datang silaturrahmi ke rumah Pakdhe saya yang menganut Katolik. Saya sempat menolak mentah-mentah ketika diajak kerumah mereka kala itu. Itupun ketika semuanya bercakap-cakap dirumah Pakdhe saya, saya hanya diam saja. Saya sebenarnya cukup akrab dengan sepupu-sepupu saya yang Katolik itu. Cuma ketika mengetahui perbedaan agama yang cukup curam diantara kami, sempat saya bersikap tidak suka. Iya, memang saya awalnya tidak suka sampai-sampai waktu berkunjung ke rumah Pakdhe saya itupun saya tidak suka berlama-lama. Bawaannya mau segera pulang. Jujur, saya merasa tidak nyaman dengan simbol-simbol keagamaan yang terpasang dirumahnya. Karena saya terbiasa dengan lambang-lambang agama yang saya yakini sendiri dan tatkala itu selalunya saya a priori dengan mereka. Ditambah keluarga pihak bapak saya tidak terlalu akrab bahkan kurang suka dengan Pakdhe saya yang notabene kakak kandung ibu ini, terlebih karena faktor perbedaan keyakinan ini.

Iya, saya memang sangat phobia dengan perbedaan-perbedaan keyakinan terlebih didalam keluarga besar sendiri. Karena lingkungan saya yang hanya satu agama, baik dirumah maupun disekolah, maka ketika saya masuk SMP Negeri sayapun lebih kaget lagi karena begitu banyaknya kawan-kawan yang berlainan agama. Terlebih bukan cuma Katolik yang saya temui…Protestan dan kawan beragama Hindupun saya kenal mereka semua. Awal-awalnya saya sangat canggung dan takut bila berkawan akrab dengan mereka, karena dikhawatirkan terpengaruh dengan keyakinan mereka (dan itu pernah ditanamkan pada saya sejak kecil).

Hati-hati kamu sama si A karena agamanya ini.
Hati-hati kamu sama si B karena keyakinannya itu.
Nanti kamu terpengaruh sama agama dia.
Jangan sekali-kali main sama dia, dia kan agamanya C
Waduh…saya akhirnya takut berteman dekat dengan A dan dengan B, C dan seterusnya.

Ketakutan saya akan perbedaan agama ini memang karena lingkungan saya benar-benar hanya seagama, dan ketika keluar dari lingkungan itu saya merasakan ketakutan dan stereotype saya kian menjadi. Namun ketika semakin besar, saya makin menyadari kalau perbedaan itu akan terus ada karena manusia memang diciptakan seperti itu. Bahkan yang parah, saya dengan sepupu selalu saling ledek soal agama masing-masing, dimana hal itu berlangsung sampai kami beranjak remaja.

Entah itu disebut Xenophobia atau tidak, saya juga sempat risih bila ketemu para biarawati. Kalau ketemu mereka, saya pasti akan mengambil arah lain agar tidak berpapasan. Di angkot pun kalau ada biarawati atau bhiksu yang naik saya sering menjaga jarak atau mojok agar tidak bersenggolan dengan mereka. Wah, mungkin saat itu parah sekali saya ini. Terlebih ketika SMA saya kembali masuk ke lingkungan yang satu agama.

Pandangan saya akan mereka mulai berubah, ketika saya masih kelas 2 SMA, saya berjalan-jalan disebuah toko buku terkemuka di kota saya. Saya berpapasan dengan seorang biarawati yang berbincang akrab dengan seorang wanita berjilbab. Mereka berjalan beriringan dan sepertinya mereka ini kawan baik. Dari situ kok pelan-pelan stereotype saya mulai berubah. Kenapa harus takut berkawan akrab dengan orang yang berbeda keyakinan? Soal keyakinan itu sudah urusan masing-masing. Agamamu agamamu, agamaku agamaku.

Sejak kejadian itu pula, saya mulai membuka diri saya. Saya berani berlama-lama menginap di rumah Pakdhe saya yang penganut Katolik, dan bebas berbincang-bincang dengan keluarganya tanpa saling senggol agama masing-masing. Bahkan disitu wawasan saya semakin luas. Xenophobia yang pernah saya alami selama itu perlahan-lahan juga mulai memudar. Bahkan saat kuliah saya juga pernah ikut pertemuan lintas agama dari berbagai aliran, disitu saya tidak cuma bertemu Kristen, Katolik dan Hindu, bahkan sampai Buddha, Konghuchu, aliran Hare Krishna dan Ortodoks Suriah bahkan sayapun untuk pertama kalinya berinteraksi dengan komunitas Syiah di Surabaya. Bahkan ketemu dengan suster atau Bhiksu dalam satu angkotpun kini saya sudah sangat santai. Tidak seperti dulu-dulu.

Memang perbedaan keyakinan itu ada, dan tidak bisa disangkal keberadaannya. Namun saya mulai berpandangan, bebas berteman dengan orang agama apa saja sepanjang itu tidak menyenggol dan mengganggu keyakinan masing-masing. Karena agama itu urusan dengan Tuhan, yang penting hubungan antar manusia yang harus dipelihara. Boleh setuju boleh tidak dalam soal ini.

Maaf, bila ini mengandung unsur SARA.

Bambang Priantono
7 Juli 2012
Semarang

2 Komentar

Filed under Opini

2 responses to “Warna-Warni Perbedaan Keyakinan Itu

  1. Marwan Ariono Respati

    Kalo saya sih sejak kecil gak seberapa xenofobi, soalnya keluarga tante saya juga ada yang Protestan. Waktu pindah ke Kalimantan, saya sekolah di SD Pertamina, di mana teman2 saya ada juga yang beda agama, suku pula (semua suku dari Indonesia ada di sini).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s