Quo Vadis Festival Malang Tempo Doeloe? *Migrasi dari lapak lama*


Jun 4, ’12 12:02 PM
for everyone
Saya masih ingat ketika pertama kali Festival Malang Tempo Doeloe diselenggarakan tahun 2006. Antusiasme saya sangat membuncah karena festival yang awalnya bernama Festival Malang Kembali mengangkat tajuk Malang di masa lampau. Kalau tidak salah ingat pencetusnya adalah Yayasan Inggil yang mempunyai Rumah Makan Inggil dibelakang Balaikota, dan konsepnya sangat bagus. Kenapa konsepnya saya bilang sangat bagus? Karena yang dipilih sebagai lokasinya adalah Jalan Ijen yang legendaris, dulunya adalah pusat pemukiman orang Belanda serta menjadi icon khas kota Malang dengan jajaran pohon palem yang membuat jalan ini menjadi salah satu titik nostalgia khususnya bagi para wisatawan Belanda yang kakek neneknya dulu bermukim disana.Konsep Festival Malang Kembali (FMK) pada awalnya memang menghadirkan nuansa tempo doeloe. Jalan Ijen mulai dari Simpang Balapan sampai Kawi ditutup untuk arus kendaraan. Kemudian di malam hari semua penerangan harus dimatikan, berganti dengan penerangan tradisional seperti obor atau petromaks. Sedangkan tulisan-tulisan dengan ejaan ala ophuysen pun bertebaran dimana-mana. Lantas semua partisipanpun diwajibkan menghadirkan tema tempo doeloe dalam setiap lapaknya, dan pengunjungpun diwajibkan memakai busana ala tempo doeloe, apapun wujudnya.


Saya masih ingat sekali ketika pertama kali datang ke FMK pertama kalinya, nuansa tempo doeloenya sangat kental. Sebagian besar peserta dan pengunjung berpakaian ala tempo doeloe. Ada yang berpakaian seperti nonik dan sinyo Belanda, beryukata ala Jepang, berbaju ala petani dan mbok tani, baju pejuang, cewek-cewek berkebaya baik yang full kebaya atau cuma parsial. Semuanya berseliweran, ditambah ada dokar, pertunjukan kesenian tradisional, makanan-makanan tempo doeloe yang sudah langka plus lampu-lampu yang dimatikan. Sungguh saya sangat-sangat-sangat terkesan sampai bela-bela datang dengan busana tempo doeloe versi saya waktu itu.Kemudian dari tahun ke tahun terjadi perubahan signifikan dengan Festival Malang Kembali ini. Pengunjung mulai melanggar aturan yang ditetapkan. Di dua tahun pertama penyelenggarannya, pengunjung yang tidak berpakaian tempo doeloe dilarang masuk ke arena. Namun karena jumlah yang kian membludak, sehingga sulit sekali untuk mengendalikan kerumunan massa. Di tahun 2008 saat terakhir kali saya datang ke Festival Malang Kembali, saya siapkan busana full seperti pelajar STOVIA versi sendiri, dengan meminjam kain jarik adik saya, serta membuat udeng dari kain jarik satunya lagi. Sayangnya, tinggal sedikit yang memakai baju-baju tempo doeloe itu. Di tahun-tahun awal itu juga dipasang sawah asli lengkap dengan kerbaunya, jadi suasananya sangat mendukung. Tahun 2008 bagi saya merupakan titik mundur, karena Festival Malang Kembali kini lebih mirip pasar malam biasa.


Sudah empat kali saya tidak datang ke Festival Malang Kembali yang kemudian bertukar nama dengan Malang Tempo Doeloe. Saya masih merindukan saat bisa datang kesana lagi. Namun mendengar cerita teman-teman disana yang sudah datang di MTD, lebih-lebih yang tahun ini, kerinduan saya itu justru padam seketika. Malang Tempo Doeloe kian lama lebih mirip Pasar Malam biasa, dengan ribuan kepala yang berseliweran dan membuat kita justru pusing karena nuansa yang diinginkan hilang karena berjubelnya manusia-manusia. Sementara lapak-lapak yang adapun sudah kehilangan ‘ruh’ tempo doeloenya. Apakah penyelenggara sudah kehilangan orientasi aslinya? Wallahualam, hanya mereka yang tahu.Namun bila saya yang menjadi penyelenggaranya (dalam khayalan), tentunya nuansanya akan saya kembalikan ke Tempo Doeloe seperti awal-awal. Misal tahun pertama bertemakan kerajaan Singasari, tahun kedua tema kerajaan Majapahit, tema ketiga masa VOC, dan seterusnya. Jadi tidak melulu pakaian pejuang yang dipakai dan sesuai dengan kronologi sejarah kota Malang sendiri. Sedangkan pengunjung wajib pakai pakaian jaman dulu, dan dengan tegas dilarang masuk bila tidak memakainya. Memang aturan ini awal-awalnya bikin festival sepi, namun bila disosialisasikan sejak awal, tentu akan mengundang antusiasme masyarakat bahkan festival ini sebenarnya saya dengar sudah terasa gaungnya di mancanegara.

Pendek kata Festival Malang Kembali yang dulu bagi saya sudah hilang ke-dulu-annya. Entah bagaimana caranya untuk mengembalikan nuansa itu karena mungkin disini ekonomi yang lebih berbicara daripada idealisme. Semoga di waktu mendatang idealisme itu kembali lagi dan Malang Tempo Doeloe diarahkan sesuai dengan visi-misi pertamanya. Atau sebaiknya tidak diadakan setahun sekali, agar tidak menimbulkan kebosanan. Itu pandangan saya selaku warga Arema yang merindukan nuansa masa lampau.

Pranala tentang Malang Kembali 2008
Sinisini, sini

Bambang Priantono
4 Juni 2012
Semarang

4 Comments Add yours

  1. mamah depin says:

    eh, keren tuh. sampe pengunjungnya pake dress code.

    kmrn aku jg kecewa dateng ke pekan batik.
    udah kaya bazar biasa aja. yg pada buka stan keliatannya cuma niat jualan, ga ada edukasi soal batik (kecuali stan dr museum batik sendiri)

    1. Yeahh…tapi bener2 ujung2nya idealisme ilang..hanya duit yg dikejar..

  2. Julie Utami says:

    Oh, sing iki durung tak follow ya. Kelalen jane……
    Tak follow wae ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s