(Jelajah Vanasabha-Dihyang) : Teroka Cecandi Dieng


Jun 13, ’12 11:03 PM
for everyone
Kembali lagi dengan perjalanan saya ke Wonosobo setelah beberapa waktu vakum tidak menuliskannya. Saya berada di Wonosobo tepat di minggu pertama bulan Mei dan menginap semalam di rumah Bimo (a.k.a bimosaurus), cuacapun tidak menentu. Kadang hujan, kadangkala juga cerah meski hanya sebentar. Niat saya ke Wonosobo selain bersilaturrahmi juga mencicipi kuliner khas Wonosobosekaligus ingin tahu kawasan Dieng seperti apa.Perjalanan ke Kawasan Dieng kami mulai sekitar pukul 8 pagi dari rumah Bimo di Wonosobo. Melintasi jalan yang berkelok-kelok, dilatarbelakangi pegunungan yang sejuk. Gunung Sindoro terlihat gagah melindungi Wonosobo yang bila cuaca cerah akan terlihat jelas pemandangannya. Kawasan Dieng sendiri berjarak lebih kurang 26 km dari Wonosobo kota. Terlebih di ketinggian mencapai 2000 meter seperti itu, rasanya seperti menyaksikan film kartun karena rumah-rumah terlihat begitu kecil jika dilihat dari atas. Untuk perjalanan menyaksikan keindahan alamnya, akan saya ceritakan kemudian saja, karena seperti biasa…saya lebih fokus pada candi-candi Dieng yang konon merupakan yang paling tua dikawasan ini.


Kami sampai di kompleks Candi Arjuna sekitar pukul 10-an (kalau nggak salah lihat) dan tanpa sadar sebenarnya kami sudah masuk Banjarnegara. Tanpa tanda batas, baru tahu saat melihat papan petunjuk kompleks yang sudah menjadi wilayah Banjarnegara. Kebetulan candi paling depan yang kami datangi adalah Candi Gatutkaca. Candi-candi di Dieng ini diperkirakan merupakan peninggalan abad ke 7-8 Masehi hampir sama usianya dengan Candi Gedongsongo dan Candi Ngempon ditilik dari struktur bangunannya, dan ketika ditemukan hampir 2 abad lalu, kompleks candi ini sepenuhnya terendam air, jadi tak heran bila tanah sekitar candi lebih-lebih candi setyaki terasa lembab.

Saya sendiri kurang paham mengapa candi2 ini diberi nama sesuai dengan lakon di Mahabharata. Candi Gatotkaca berada diposisi paling depan dari kompleks candi Arjuna. Berbentuk bujursangkar lengkap dengan kalamakaranya. Kondisinya seperti candi-candi lain cukup memprihatinkan meski ramai yang datang kesana. Saya agak lama main-main ke Candi Gatotkaca ini sebelum melanjutkan perjalanan 100 meter berikutnya memasuki kompleks Candi Arjuna bersama Bimo. Dari pintu masuk yang ramai pengunjung, saya ambil foto-foto khususnya dari sisi Candi Sembadra (diambil dari nama istri utama Arjuna). Berbatur sekitar 50 cm dengan denah dasar yang juga bujursangkar dan karena adanya bilik penampil, maka candi Sembadra bentuknya seperti poligon.

Candi Puntadewa

Kemudian setelah Candi Sembadra ada Candi Puntadewa yang bentuknya agak-agak mirip Candi Sembadra kecuali ada tangga masuk yang lebih bagus…relatif lebih bagus dari Candi Sembadra. Sedangkan Candi Srikandi berada persis di sebelah Candi Arjuna. Bentuk Candi Srikandi malah kalau saya bilang termasuk memprihatinkan juga. Dan setelah itu barulah saya plus Bimo melangkah ke Candi Arjuna yang menjadi inti dari kompleks candi Dieng ini. Candi Arjuna bentuknya relatif utuh bila dibanding candi-candi tetangganya. Sedangkan dibagian depan Candi Arjuna ada bangunan lebih kecil yang disebut Candi Semar. Saat saya melongok masuk ke Candi Semar, aroma kemenyan menyeruak membuat nafas sesak.

Candi Arjuna & Semar

Candi Semar polos saja tanpa ukiran dan dilengkapi Kalamakara tanpa rahang. Saya masih membayangkan bagaimana bentuk candi itu di masa lalu. Hanya 8 candi yang masih berdiri dari sekian kompleks candi yang pernah eksis di kawasan berketinggian lebih dari 2000 meter diatas permukaan laut ini. Yeah, candi-candi yang terbengkalai meski sudah dapat perhatian dari pemerintah setempat.

Setelah puas berkeliling kompleks Candi Arjuna yang ramai oleh para pengunjung dengan segala macam gaya narjis (narsis wal najis) sehingga mengganggu saat memotret, akhirnya saya dan Bimo langsung mlipir ke arah Candi Setyaki yang jaraknya agak jauh dan rutenya becek sekali. Tanah di jalanan menuju Candi Setyaki sangat gembur sampai-sampai sepatu yang saya pakai kotor kena lumpur. Kena lumpur sih biasa saja, kalau tidak kotor kan tidak belajar (iklan banget). Sesampainya di Candi Setyaki, ternyata bingung mau masuk kemana. Becek, berair dan sulit dijangkau bagi saya, sehingga saya hanya memotret Candi Setyaki dari seberang parit.

Candi Setyaki tidak ada atapnya, dikelilingi parit yang berlumpur namun ukirannya bisa terlihat dengan jelas sampai saya ambil potretnya dengan cepat. Candi Setyaki yang saya lihat ini adalah hasil pemugaran selama bertahun-tahun. Tentunya sangat dihargai upaya semua pihak yang mengadakan perbaikan ini meskipun belum sempurna. 

Nah, setelah selesai keliling-keliling candi tersebut, saya dan bimo lagi-lagi melanjutkan perjalanan. Semula saya ingin ke Candi Dwarawati, tapi berhubung cuaca kurang menentu akhirnya kami batalkan saja kunjungan itu dan beralih ke Candi Bima yang letaknya ternyata persis di pertigaan menuju Telaga Warna. Saat sampai di lokasi Candi Bima, bukan Bima(saurus)…Bimo hanya menunggu saya di luar, sedangkan saya masuk ke dalam lokasi. Wuaawwww, saya langsung menjelma jadi orang terlebay saat itu. Hanya ada dua orang yang ada di candi, sementara diluar banyak orang berjualan.

Candi Bima

Candi Bima ini lain daripada yang lain, kenapa? karena bentuk candinya yang sangat khas. Lebih mirip dengan candi-candi di India. Mulai dari atap sampai bagian bawahnya. Sayangnya kondisi candipun tidak lebih baik dibanding candi-candi Dieng lainnya. Perlu ada perhatian lebih mendalam agar kawasan ini bisa betul-betul menjadi daya tarik bagi wisatawan dimana-mana tempat. Baik yang domestik maupun mancanegara.

Saya lihat kompleks Arjuna sudah cukup ramai, namun akan lebih baik bila pengelolaannya lebih terarah dan kolaborasi antara dua kabupaten utama pemilik Dieng yakni Banjarnegara dan Wonosobo perlu makin ditingkatkan. Sayang Candi Dwarawati belum sempat saya kunjungi. Oke, tunggu kunjungan saya berikutnya di Candi Dwarawati sekalian Tuk Bima Lukar dalam beberapa waktu mendatang.

Bambang Priantono
14 Juni 2012
Semarang

6 Comments Add yours

  1. Kapling Pertamax dimarih dulu

    *mau makan siang dulu, ntar balik lagi 🙂

  2. Candi Setyaki itu gak ada atapnya apa karena dulu belum rampung dibikin apa rusak?

    1. Ketoke rusak Mas….tapi wis lumayan timbang ndisik2e

  3. melu seneng baca info candi2 di tanah jowo. jempol mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s