Dugderan, Tradisi Ramadhan Ala Semarang


Jun 25, ’12 3:07 AM
for everyone
Lawang Sewu? Siapa yang tak kenal dengan reputasi angkernya?
Gereja Blendhuk? Ramai yang tahu dan menjadi obyek favorit untuk fotografi.
Masjid Agung Jawa Tengah? Oh iya, banyak yang berbondong-bondong kesana.
Sam Poo Kong, Lunpia, Wingko Babat, Bandeng presto sampai moci? Dijamin semuanya jadi destinasi bagi siapapun yang bertandang ke kota Semarang.Tapi apa itu saja yang jadi icon khas kota Semarang?Semarang bukan sekedar semua itu karena ada satu hal yang menjadi ciri khas kota Semarang, utamanya bila menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi ini disebut sebagai Dugderan. Dugderan berasal dari kata Dug yang merupakan suara pukulan bedug dan Der yang berasal dari suara meriam atau petasan yang diledakkan. Maksudnya adalah diawali dengan tabuhan bedug dan diakhiri dengan letusan meriam atau petasan, maka akhirnya Dug dan Der disatukan menjadi Dugderan. Tradisi Dugderan ini ternyata mempunyai kisah yang menarik.

Di masa pemerintahan Bupati Semarang, Tumenggung Purboningrat pada abad ke-19, penetapan bulan Ramadhan dikalangan masyarakat berbeda-beda dan hal ini yang menjadikan Tumenggung Purboningrat prihatin. Walhasil, beliau ingin menyatukan semua elemen penetapan yang berbeda-beda tersebut.Beliau mengumpulkan seluruh warganya di Masjid Agung Semarang yang berada di lingkungan Pasar Johar saat ini, dengan mengadakan tradisi pengumuman jatuhnya bulan puasa. Tradisi ini diawali dengan pemukulan bedug yang menandakan bahwa Bupati akan mengadakan pidato bersama dengan ulama Masjid Agung tentang penetapan hari pertama bulan Ramadhan. Pidato itu disampaikan dalam bahasa Jawa Kromo Inggil dan diakhiri dengan suara dentum meriam yang terdengar seakan berbunyi Der. Biasanya meriam dibunyikan ketika menjelang adzan Maghrib berkumandang. Nah, sejak itulah tradisi Dugderan berkembang di kalangan masyarakat kota Semarang hingga detik ini.

Selama seminggu sebelum bulan Ramadhan juga diadakan pasar kaget yang hanya ada di bulan Ramadhan. Pasar tersebut diberi nama pasar Dugderan. Yang dijual bermacam-macam, mulai dari mainan tradisional seperti peralatan masak tradisional ukuran mini, mobil-mobilan, truk kayu dengan berbagai ukuran, kurma, busana muslim, makanan sampai aneka macam permainan semua tumpah ruah. Yang unik dari Pasar Dugderan Semarang ini adalah dijualnya Warak Ngendhog (artinya Warak bertelur), makhluk imajiner yang menjadi maskot kota Semarang sejak dulu. Warak Ngendhog hanya dapat dijumpai pada saat pasar Dugderan dan dulu adalah mainan favorit anak-anak Semarang kala menyambut bulan Puasa. Warak Ngendhog dijual dalam berbagai ukuran, mulai ukuran kecil sampai ukuran besar yang bisa dinaiki anak kecil. Pada pasar Dugderan 2011, Warak Ngendhog ukuran kecil dijual seharga Rp 25.000,00. Sedangkan ukuran terbesar dijual dengan harga nominal Rp 150.000,00.

Pasar Dugderan saat saya datang pertama kali di tahun 2008 dipusatkan di lapangan Masjid Agung Jawa Tengah. Kemudian di tahun 2009 masih di lokasi yang sama, sementara tahun 2010 terpecah jadi dua lokasi, yakni Pasar Johar dan lapangan Masjid Agung Jawa Tengah. Terakhir tahun 2011 lebih dipusatkan di Pasar Johar mungkin untuk alasan kemudahan.

Dugderan dimulai sehari sebelum bulan Ramadhan. Saya sudah mengikuti Dugderan ini sebanyak tiga kali, sesuai berapa tahun saya menetap di kota Lunpia ini. Tradisi Dugder ini diawali dengan pemukulan bedug oleh Bupati yang dilakonkan oleh Walikota Semarang setelah dibacakannya pidato dalam bahasa Jawa Halus yang menitikberatkan pada pentingnya persatuan dan kesatuan umat serta masyarakat terlebih menjelang bulan suci ini. Dugderan juga selalu ada yang namanya arak-arakan alias karnaval yang diikuti berbagai elemen masyarakat. Uniknya sebagian besar peserta menggunakan tema mobil hias yang sama, yakni Warak Ngendhog yang merupakan perpaduan tiga unsur pembentuk budaya Semarang, yakni Jawa, Cina dan Arab.

Arak-arakan mobil bertema Warak Ngendhog ini akan menempuh jalur antara Balaikota sampai dengan Masjid Agung Jawa Tengah (dulunya hanya sampai di Masjid Agung Semarang yang ada di Pasar Johar) dan biasanya para warga sudah berjubel di jalanan sejak siang harinya ketika acara belum dimulai. Hiasan pada mobil atau manggar yang dibawa peserta karnaval biasanya akan diambil oleh warga hingga ketika sampai di Masjid Agung Jawa Tengah, hiasan mobil sudah habis. Sayapun geli sendiri karena juga ikut mengambilkan hiasan bunga kertas itu untuk pengunjung. Rutenya pun kadang berubah setiap tahun, tapi biasanya selalu melewati kawasan Masjid Agung Semarang dan Simpang Lima dan berakhir di Masjid Agung Jawa Tengah yang diresmikan tahun 2006.
       Pidato Walikota yang memerankan bupati dan pemukulan beduk sebagai awal pawai.

Arak-arakan Warak Ngendhog inilah yang menjadi daya tarik bagi masyarakat termasuk wisatawan yang berkunjung ke kota Semarang pada saat tradisi Dugderan dilaksanakan. Warna-warni Warag Ngendhog dan bentuknya yang unik inilah yang jadi ciri khas. Unsur Cina, Arab dan Jawa menyatu harmonis dalam wujud Warak Ngendhog serta tradisi Dugderan yang menjadi pemersatu masyarakat kota Semarang khususnya ketika menetapkan jatuhnya tanggal 1 Ramadhan. Setelah ditetapkannya 1 Ramadhan oleh Ulama Masjid Agung, maka bunyi DER itu yang menjadi penandanya dan biasanya berlangsung hingga adzan Maghrib berkumandang. Seiring dengan itu, maka Pasar Dugderan secara resmi juga ditutup dan dibuka lagi di tahun berikutnya.

Saya sudah sebanyak tiga kali mengikuti perayaan Dugderan ini, sedari 2008 hingga 2011, dan yang saya lihat dalam Dugderan ini adalah semangat untuk mempersatukan berbagai kalangan yang ada di kota Semarang. Karena aneka kaum inilah yang menjadi pembentuk wajah kota Semarang sebagaimana yang digambarkan dalam wujud Warak Ngendhog (dimana Jawa, Cina dan Arab menyatu dalam setiap aspeknya).  Pembauran merupakan tema yang tepat dalam hal ini.

Tradisi Dugderan adalah salah satu bentuk kebudayaan yang terus hidup dan berkembang khususnya di kota Semarang. Pelestarian tradisi ini sudah cukup intens dilakukan dengan dijadikannya tradisi Dugderan sebagai agenda tahunan yang selayaknya menjadi atraksi wisata bagi siapa saja yang bertandang di Semarang khususnya ketika sehari menjelang bulan Ramadhan. Tunggulah seminggu menjelang Ramadhan untuk Pasar Dugderan dan sehari sebelum Ramadhan untuk menyaksikan tradisi Dugderannya! Itulah wajah Semarang yang sebenarnya dan wajah kebhinnekaan Indonesia yang harus kita jaga sampai titik darah penghabisan.

Diikutsertakan dalam perlombaan ini 

Bambang Priantono
25 Juni 2012
Semarang

Sumber : catatan pribadi
Sumber foto : dokumentasi pribadi dugder 2010 dan 2011

Tinggalkan komentar

Filed under Budaya, Semarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s