(Return to Solo Part 1) : Car Free Day dan Bahasa Isyarat


ImageTadi pagi saya berangkat ke kota Solo sebenarnya dalam rangka main-main saja. Sudah lebih dari 2 tahun saya tidak singgah ke kota itu, malah lebih sering ke Jogjakarta malahan. Berangkat dari perhentian Sukun pukul 5.30 WIB dan kira-kira 2 jam lebih saya habiskan waktu diatas bis PATAS yang harganya tetap tidak berubah sejak dulu. Ya, 20 ribu perak saja. Tidak banyak yang berubah dari kota ini ketika terakhir kali saya kunjungi. Sesampai di Kerten, suasananya juga tidak banyak berubah. Tetap saja…dan saya pun sudah hubungi teman yang tinggal di Solo untuk sekedar menemani saya berjalan-jalan keliling kota. Saat itu sayapun langsung langkahkan kaki menuju arah Stasiun Purwosari yang jaraknya 2 km dari Kerten itu sendiri.

 ImageImageImageImage

Hitung-hitung jalan pagi sembari menghirup udara yang masih segar. Kebetulan juga sedang diadakan car free day yang sudah berlangsung lebih dari 2 tahun di kota Solo. Dan pusatnya tetap di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Saya berhenti sejenak di warung Dapur Solo yang berada di dekat Stasiun Purwosari. Kebetulan saya ngidam nasi beras merah yang sangat menyehatkan itu. Tanpa ba bi bu sih saya langsung saja ambil sepiring nasi merah, sepotong ikan goreng, perkedel, tumis pare dan sambal lombok ijo. Setelah di kasir, ternyata bayar 20 ribu rupiah untuk semuanya! Wow! Yang mahal ternyata nasinya sih hahahahahaha. Tapi berhubung sudah lapar, ya sudah saya tetap menikmati sarapan sambil melongok isi dompet.

Image

Setelah kenyang, saya lanjutkan perjalanan saya menuju PGS, karena saya sudah janjian dengan teman di sana. Tapi berhubung masih pagi dan dia baru balas SMS saya kalau akan menunggu disana pukul 9.30 WIB ya baiklah, saya jalan saja sembari menikmati suasana car free day yang ramai. Orang-orang berlalu lalang, baik dengan naik sepeda, sepatu roda, ataupun sekedar berjalan kaki. Sementara di pinggir-pinggir banyak orang menjajakan aneka makanan yang tentunya bervariasi. Apa saja ada disana, mulai dari cilok sampai dengan burger ataupun sate kere yang menjadi ciri khas Solo. Komunitas seperti pecinta anjing dan reptil banyak berkeliaran disana. Pendek kata setiap Minggu pagi mulai pukul 5 sampai 9 WIB Jalan Slamet Riyadi milik para pejalan kaki. Pengendara sepeda motorpun harus mematikan mesinnya bila melintasi daerah itu.

Dulu saat sering ke Solo, saya suka berjalan kaki dari Kerten sampai Patung Slamet Riyadi yang ada didekat PGS (Pusat Grosir Solo), kira-kira lima kilometer dan salah satu faktor yang menjadikan tulang saya kuat sampai sekarang ya sering jalan kaki itu. Nah, saat mendekati kawasan Sriwedari saya menemui sebuah stand yang sangat menarik. Stand ini milik komunitas tuna rungu dan wicara kota Solo yang membuka pelatihan bahasa isyarat secara gratis kepada pengunjung. Sayapun melihat-lihat tanda-tanda yang ada di spanduk itu. Ada versi Indonesia, ada versi internasional. Seorang pria bertanya pada saya “Apa bapak ingin tahu bahasa isyarat ini?” Saya jawab saja “Iya”. Dan singkat cerita saya diajak masuk kedalam dan dipertemukan dengan temannya yang tuna rungu.

 Image

Sejurus ada perempuan berjilbab lebar yang juga masuk. Rupanya dia juga tertarik belajar bahasa isyarat. Ternyata tidak semudah yang digambarkan, dimulai dari cara mengeja A-Z saja saya salah-salah terus. Tapi oleh pengajarnya diulang lagi sampai akhirnya saya dan ibu berjilbab tadi mengerti. A-Z diselesaikan dengan mudah. Nah, kemudian masuk sesi diajarkan kalimat dasar seperti

“Nama kamu siapa?”

Ternyata jari tengah dan telunjuk dari kedua belah tangan dipertemukan horizontal untuk “Nama”, sedang “Kamu” dengan tangan kanan seperti mendorong ke depan, sedang “Siapa” dengan jempol kanan, tapi keluar dari bawah dagu. Waduh..ternyata susah juga ya.

“Nama saya…..”

Tinggal dibalik saja. Ada beberapa kalimat yang diajarkan saat itu, mulai dari pekerjaan, asal sampai “Aku cinta kamu”. Tapi yang paling nyantol ya yang “Aku cinta kamu” hahahahahaa..

Image

Ternyata saya baru tahu kalau bahasa isyarat Indonesia ada 2 versi, yakni versi Bisindo yang dipakai umumnya oleh tunarungu Indonesia, dan CIBI (semoga tidak salah tulis) yang dikeluarkan pemerintah. Namun para penyandang tunarungu tidak nyaman dengan versi pemerintah ini, karena dianggap terlalu formal dan tidak melibatkan sama sekali mereka. Nah, mas yang mengajak saya tadi berkata kalau misalnya tidak mengerti  isyarat apa yang diucapkan para tunarungu, boleh gunakan bahasa verbal atau bahasa tulis. Itu tidak jadi soal.

Wah, saya jadi nambah ilmu baru nih. Kebetulan juga brosurnya saya simpan, jadi bisa belajar sekalian dirumah dan mungkin saya ajarkan ke siapapun yang berminat. Sayangnya waktu sudah menunjukkan pukul 9 WIB dan lapak inipun harus bubar karena Car Free Day sudah habis.

Bersambung

Bambang Priantono

7 Oktober 2012

6 Comments Add yours

  1. Semarang – Solo khan dekat, masak sampe 2 tahun gak sempat ke sana. Mungkin gak ada MPer Solo kayaknya ya 🙂

  2. Harga nasi segitu di Kota Solo yo mahal tenan tho.

    1. Kan warung lumayan gede mas

  3. nur4hini says:

    harga makanan di solo termasuk masih murah ya…., tahun 2010 pas mudik dulu, rombongan bersembilan makan nasi, minum dll gak sampai habis seratus ribu :), tapi makannya memang bukan di restoran besar, tapi di warung tenda yang banyak berjejer di sekitar PGS

    1. Tapi waktu ke sana kemarin kok warung2 depan PGS sudah bersih ya? alias gak ada lapak2nya lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s