Catatan dari Festival Kota Lama Semarang 2012


ImageAcara ini merupakan salah satu agenda kota Semarang yang baru pertama kali diselenggarakan. Digagas oleh Oen Foundation (toko Oen) dan didukung oleh berbagai pihak seperti pemerintah propinsi Jawa Tengah, Pemkot Semarang, Ayo Wisata Semarang, Semarang Foundation, BPPI, Unika Soegijapranata, BPK2L dan berbagai komunitas yang ada di kota Semarang. Festival ini ditujukan untuk lebih mempromosikan kawasan kota lama Semarang yang kian hari kondisinya semakin memprihatinkan. Dari pemikiran betapa berharganya kota lama ini sebagai pusaka Indonesia, maka akhirnya diadakanlah festival ini.

ImageFestival ini membawa pengunjungnya pada nuansa tempo doeloe dimana budaya Belanda membaur dengan budaya pribumi. Dari festival inilah diupayakan agar Semarang mendapatkan penghargaan dari UNESCO yaitu World Heritage Semarang pada tahun 2020, sehingga akan diadakan setiap tahun. Kurang tujuh kali lagi dan akan didapatkanlah gelar itu. Festival ini juga dimaksudkan untuk memeriahkan “The First International Conference on Urban Heritage and Sustainable Infrastructure Development 2012” yang diselenggarakan tanggal 5-6 Oktober di Semarang bertempat di Blenduk dan Gedangan.

Image

Acara yang diselenggarakan dari tanggal 5 – 7 Oktober ini menyajikan berbagai jenis pertunjukan, mulai tarian kreasi ala Indonesia-Belanda, konser musik “Easy Listening” yang dibawakan oleh Graceful Melody, Pertunjukan kolintang oleh grup kolintang Blenduk, Musik “Tempo Doeloe” oleh Hotel Ciputra Choir, serta malam amal untuk kota lama dengan tajuk Charity Night for Blenduk Heritage yang dimeriahkan oleh penyanyi lama, Johan Untung. Untuk membeli undangannya, minimal dipatok Rp 75.000 dan maksimalnya tidak dibatasi. Malam amal yang diselenggarakan tanggal 6 Oktober 2012 pukul 19.00 WIB ini bertujuan menggalang dana untuk perbaikan kota lama Semarang yang nasibnya kian memprihatinkan. Terbukti dengan kian lapuknya struktur bangunan kuno disana karena kurang perawatan.

Disamping acara diatas juga ada seminar fotografi, kemudian rally foto serta young animators yakni pencarian bakat-bakat terbaik dalam bidang animasi untuk membangkitkan industri animasi di Indonesia. Upaya untuk membawa ke nuansa nostalgia inilah yang jadi tujuan utama festival ini.

Image

Saya sendiri datang ke festival tersebut pada tanggal 6 Oktober 2012 pukul 11.00 WIB, saat itu saya berkeliling sejenak di stand-stand makanan yang masih kosong karena pesertanya belum datang. Mendengar musik dari dalam gereja blenduk, saya langsung saja masuk kesana. Setelah menerima bulletin festival kota lama, sayapun masuk ke dalam gereja blenduk. Baru pertama kali ini saya masuk ke gereja yang dibangun pada abad ke-18 ini. Arsitekturnya sebagian besar masih terjaga keasliannya. Kursi-kursi yang tertata rapi dan pertunjukan dimulai. Sayang, saat itu pertunjukan kolintangnya baru selesai. Namun udara ber-AC didalam gereja ini membuat saya betah-betah saja duduk manis disana, sembari menyaksikan performa grup paduan suara Hotel Ciputra yang membawakan lagu-lagu nuansa nostalgia. Diawali dengan lagu soundtrack Sister Act “I will Follow Him” kemudian berlanjut ke lagu-lagu seperti “Gambang Semarang”, “Sound of the Music”, “Jangkrik Genggong” hingga medley lagu-lagu nasional dan internasional. Semuanya dibawakan dengan kompak dan menarik. Terlebih Hotel Ciputra juga mempunyai grup kroncong yang sudah terbentuk 2 tahun lalu. Sebagian pengunjung yang sudah berusia lanjut juga mengikuti lagu-lagu yang dilantunkan dengan bersemangat.

Image

Jujur saja itu untuk pertama kalinya dalam seumur hidup saya masuk sebuah gereja, apalagi gereja bersejarah seperti gereja blenduk ini. Konser ini berakhir sekitar pukul 12.00 WIB dan mendapat sambutan cukup meriah dari para hadirin disitu. Setelah itu saya keluar dari gereja dan mencari-cari makanan. Cukup banyak makanan yang ditawarkan disana, dan pesertanya dari berbagai kalangan. Mulai dari restoran Kampoeng Semarang yang bertempat di Kaligawe, Hotel Santika, Restoran Oen, hingga UKM yang menjual berbagai jenis makanan dan minuman seperti sirup jahe, sirup blimbing wuluh, lumpia, ganjel rel, hingga yang unik seperti roti isi jahe dan es krim rasa jamu.

 Image

Di depan gereja juga dipamerkan mobil kepresidenan era Soekarno yang dari tahunnya tertulis tahun 1963. Mobil ini menjadi obyek pemotretan bagi kalangan fotografer maupun pengunjung. Disebelah panggung, ada mobil khusus untuk penukaran kupon, karena untuk membeli pernak-pernik di festival tidak diperkenankan menggunakan uang tunai, maka pengunjung diharuskan menukarkan uangnya dengan kupon yang tersedia. Uniknya, kupon ini tersedia dalam bentuk uang-uangan ala jaman belanda. Dari yang senilai Rp 2.500,00 sampai Rp 10.000,00. Kebetulan sekalian dicoba saja membeli kuponnya. Kupon ini nanti yang dipakai untuk bertransaksi di lapak-lapak peserta.

 ImageImage

Festival ini juga ada acara bagi-bagi hadiah yang berlangsung secara sporadis dan spontan. Hadiahnya kenang-kenangan dari Kampoeng Semarang berupa sekaleng permen asam. Kriterianyapun macam-macam. Apa ada yang bawa kupon senilai tertentu, membawa makanan khas Semarang, tahu betul sejarah Semarang atau bisa menyanyikan lagu-lagu khas Semarang seperti Gambang Semarang? Selain itu juga ditawarkan jasa keliling kota lama Semarang, baik dengan sepeda ataupun mobil dengan tarif bervariasi antara 20 hingga 50 ribu perak.

 ImageImage

Sayangnya penataan lapak di festival ini bagi saya terkesan semrawut. Ketidakrapian tampak disana-sini, seperti penataan foto-foto, kebersihan hingga rute yang agak rumit. Seharusnya sih pada saat festival rencananya jalanan didepan Gereja Blenduk akan ditutup. Namun karena ada kendala-kendala, akhirnya tidak bisa direalisasikan penutupan jalan di kawasan Gereja Blenduk ini. Untuk tahun-tahun selanjutnya, alangkah baiknya bila festival kota lama ini mengangkat tema yang berbeda dan segar dengan konsep yang lebih tertata rapi lagi. Saya percaya pada akhirnya bila pengelolaannya lebih baik di tahun mendatang, niscaya Festival Kota Lama 2013 hingga 2020 nanti akan menarik lebih banyak wisatawan mancanegara. Jangan sampai nantinya festival ini hanya sekadar pasar malam dan nasibnya seperti festival Malang Tempo Doeloe yang diawal-awal penyelenggaraannya sangat luar biasa karena konsepnya, kini kian lama lebih mirip pasar malam biasa yang penuh sesak pengunjung dimana saking banyaknya sampai berjalan saja kesulitan karena padatnya pengunjung.

Sementara untuk tempat penyelenggaraannya bisa juga tidak di sekitar Gereja Blenduk, namun juga di titik-titik lain sepanjang kawasan kota lama. Kota Lama Semarang yang seolah tidur panjang dan kurang aktivitas ini diharapkan akan bangkit kembali. Tentunya dengan kerjasama semua pihak, baik dari pihak penguasa maupun rakyat Semarang sendiri.

Siapkah Semarang untuk mendapat penghargaan UNESCO di tahun 2020? Mulai saat inilah penilaian dilakukan.

Bambang Priantono

6 Oktober 2012

Semarang

20 Comments Add yours

  1. nenkmetty says:

    wuiiiiih asyiknya
    oleh-oleh makanannya mana?

  2. Aku do’akan tercapai penghargaannya nanti. Masih lama ya, 7 event lagi.

    Detail foto-fotone gak sampeyan upload tah? WP onok fasilitas galery, sam.

    1. Sik mas, sabar ae yowww

      1. Okey, sam Nono 🙂

      2. Sik mlajari WP iki soale..durung utak atike

      3. Gampang, sam, tinggal klik “New Post” trus ada ikon “insert image” di dalam lembar kerja, nah di situ kita bisa insert gambar / photo sebanyak-banyaknya.

      4. Oke..gampang wis..hehehehe alon2

  3. Tommy Yarmawan Said says:

    Walaupun yang pertama kali Festival Kota Lama diselenggarakan,acara cukup sukses dan perlu dievalusi dari segala aspek.Agar agenda festival ini semakin lama semakin menjadi kebutuhan bagi dunia wisata budaya kota Semarang.

    1. Dan semoga bisa lebih tertib nantinya ya..

  4. krisprantono says:

    Tulisannya bagus mas sangat positif, menarik dan membangun. Kita membutuhkan dukungan semua pihak termasuk and untuk mencapai cita cita bersama Semarang The World Heritage City 2020
    krisprantono

    1. Terima kasih ya…semoga catatan ini bermanfaat bagi semuanya. 🙂

      Salam kenal

  5. wahhh…semoga taun depan daku bisa kesana..hehe

    1. bambangpriantono says:

      Tenang,sampe 2020 kok hehehee

      1. aririndupurnama says:

        hahahahaha uyeeeehhh

      2. bambangpriantono says:

        Uye doong

      3. aririndupurnama says:

        yoyoiiiiiii

      4. bambangpriantono says:

        Hahayzz

  6. menarik sekali tulisannya… terimakasih sudah bersedia menuliskan pengalaman yang tak terlupakan… Terimakasih kami jadi bisa lebih memiliki gambaran tentang kota lama Semarang dan suasananya saat ini..
    Terimakasih liputannya Mas bambangpriantoro

    1. Sama-sama. Semoga bermanfaat
      Salam kenal ya..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s