(Kembang Lambe Malam) : Wonderful Lebaran Part 2 (Keluarga Bahaya-eh-Bahagia)


Sep 10, ’12 7:52 AM
for everyone
Nuansa lebaran heboh antara keluarga besar Suwandi masih berlanjut. Sayangnya sebagian sudah harus kembali ke asalnya seperti di Situbondo karena persiapan untuk masuk kerja. Sepupu-sepupu yang lainpun masih harus berlebaran dengan keluarganya masing-masing meski sama-sama di Malang. Sepupu tertua aslinya pada tanggal 21 Agustus itu mengajak kami untuk pergi ke kebun teh Wonosari, namun adik dan suaminya berencana mengajak ke Batu Night Spectacular. Kebetulan saya sendiri belum pernah kesana sama sekali meski sudah dibuka beberapa tahun. Sepupu asal Jakarta juga sama, jadi sekalian pergi berjamaah meluncur ke wahana yang bertetangga dengan Jatim Park dan Secret Zoo ini.

21 Agustus 2012 pukul 17.00 WIB itu rencana yang sudah disusun. Saya sendiri disuruh siap-siap dari pukul 17.00 WIB, karena anak-anak memang tidak diajak (lagi-lagi khusus orang dewasa..hahahaha). Dua sepupu juga sudah datang ke rumah sedari jam tersebut. Tapi adik saya belum ada kabar beritanya sama sekali. Ternyata mereka harus menunggu kedatangan kerabat adiknya ipar dari Madura jadi baru bisa pergi. Sampai bolak-bolak saya sms juga tapi adik saya jawab masih belum datang. Ibu saya juga siapkan lumpia sebagai bekal untuk jalan-jalan nanti. Salah satu sepupu sempat telepon adik saya, apa boleh dia ajak temannya yang ternyata tetangga belakang rumah saya. Tak lama jawabannya adalah boleh. Ya sudah, akhirnya dihubungilah tetangga saya tadi untuk menambah laskar.

Nah, walhasil ditambah sambil rebahan menunggu, akhirnya adik saya baru datang menjelang pukul tujuh. Lengkap dengan laskar mertuanya!!! Wow!! Jadi mertuanya sekaligus saudara-saudaranya datang dengan tim penuh. Kami sempat minal-minulan alias salaman sejenak dengan mereka sebelum akhirnya mlipir ke mobil. Tapi sekali lagi, adik saya paling molor. Ada saja yang ketinggalan, sampai akhirnya yang dimobil sudah keriting menunggu. Sepupu saya yang dari Jakarta ini paling heboh, disamping umurnya paling muda diantara yang berangkat (yang paling tua saya), makannya juga nyaris tidak stop. Ngemil sambil ngerumpi dan rebahan di belakang mobilpun jadi. Karena kebetulan jok belakang dilepas, jadi bisa dibuat rebahan.

Ternyata jalan ke Batu Night Spectacular (BNS) ini sangat ramai. Cuaca juga lumayan dingin, tapi buat saya dinginnya biasa saja. Jadi cukup dengan slempang saja sebagai penghangat (atau lebih tepat buat gaya-gayaan). Sesampai disana, kamipun masih direpotkan dengan soal parkir. Tukang parkirnya lemot banget, padahal di depan ada tempat kosong untuk parkir, eh malah yang bersangkutan mengarahkan ke tempat yang lebih merepotkan. Ya sudah, akhirnya dengan sedikit ngeyel, adik ipar sayapun memasukkan mobilnya ke tempat yang kosong tadi.Omong-omong, ternyata saya baru tahu kalau karcis masuknya berkisar 15 ribu perak. Ini belum masuk ke wahana lain-lain lho, jadi masih harus bayar lagi bila ingin masuk ke wahana-wahana tersebut. Sebelum masuk ke wahana-wahana itu, kami harus melewati pujasera (yang menggunakan sistem kartu untuk pembayaran dengan memberi deposit minimal 25 ribu rupiah), kemudian gerai-gerai souvenir yang menjajakan aneka barang mulai dari kaos sampai mainan yang tentunya diberi label Batu. Setelah itu barulah kami sampai ke zona wahana permainan yang jadi ciri khas Batu Night Spectacular.

Suasana BNS sangat padat. Saking padatnya sampai setiap wahana antriannya mengular. Saya malah tertarik ingin bermain kursi terbang yang tepat berada ditengah-tengah. Namun sepupu-sepupu langsung ajak ke Taman Lampion. Hampir setiap kesempatan, tak lupa edisi narjis-narjis ria (narsis wal najis..hahaha) terlebih sepupu yang dari Jakarta ini. Selalu minta difoto sampai capek sendiri saya…tapi ya sama saja, semuanya jadi banci kamera kecuali ipar saya yang tetap kelihatan cool meski dijepret bagaimanapun situasinya. Taman Lampion memang sangat cantik, dihampir setiap sudut lampion, tak lupa acara jepretan narsis selalu ada. Sampai baterai kamera masing-masing pada jebot. Kecuali yang pakai BB yang langsung diunggah di Pisbok. Plus minta foto untuk pose keluarga bahaya-eh-bahagia. Entah sampai berapa lama bernarsis ria di Taman Lampion tahu-tahu sepupu dari Jakarta yang sebut saja Sukma bilang “Ayo nyobain Crazy House.” Awalnya sih saya deg-degan juga antara takut dan berani. Tetangga saya tidak ikut karena takut, jadi hanya kami berlima yang naik Crazy House.

Crazy House adalah seperti rumah-rumahan yang digoyang-goyang dan diputar-putar. Cuma lima menit, dan tidak segila namanya..jadi yah ecek-ecek aja. Sampai banyak yang bilang “Wah, kurang seru nih! Kurang adrenalin.” Sejurus setelah turun, adik, ipar, dan dua sepupu pergi ke wahana Orbiter. Sementara saya pergi sendirian ke kursi terbang. Saya asli deg-degan tuh waktu mau naik kursi terbang. Apalagi sempat bolak-balik saya agak panik karena kunci dudukannya kurang pas sehingga minta tolong petugasnya. Belum selesai rasa deg-degannya, tiba-tiba kursi terbangnya berputar dengan kecepatan yang sulit dibayangkan. Saya awalnya takut tiba-tiba jantungan sempat nyaris lemas. Tapi berhubung disuruh teriak, akhirnya saya teriak-teriak tidak karuan. Beban rasanya seperti lepas dan kembali jadi anak kecil yang menikmati permainan yang ada.

Pusing? Iya! Tapi menyenangkan.

Beda dengan adik saya yang kelihatan teler setelah main orbiter. Meski sempoyongan saya tetap senang. Hahahaha…seperti terlahir kembali rasanya. Di pujasera alias food court, hanya si Sukma yang makan. Lainnya hanya beli minuman hangat saja, karena setengah sempoyongan plus agak mual karena dikocok-kocok dalam orbiter tadi. Hahahahaha.

Tapi bagaimanapun, meski personilnya berkurang, kumpul sepupu ini tetap asyik. Tanpa ada yang tua-tua (yang paling tua saya hahahaha, tapi gaya tetap seperti remaja banget). Kami duduk-duduk di pujasera BNS sampai pukul 22.30 WIB alias ketika live music-nya sudah habis, dan setelah itu baru kami pulang.

Pemandangan disekitar BNS juga sangat cantik. Bahkan Sukma berkata jauh lebih keren dibanding Dago. Sayang kamera masing-masing tidak mendukung untuk pemotretan di malam hari jadi terpaksa hanya menikmatinya dan menyimpannya dalam hati (jiah).

Semoga tahun depan bisa terulang lagi momen gila bersama saudara-saudara ini meskipun usia terus bertambah.

Bambang Priantono
10 September 2012

Tinggalkan komentar

Filed under Kisah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s