(Catatan Opini) : Menyikapi Save Maryam


Di bulan Ramadhan nan mulia ini, saya mendapat informasi dan berita yang cukup menghebohkan khususnya di alam maya, yakni soal gerakan SaveMaryam dengan videonya yang menggegerkan. Saya bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang terjadi kok sampai begitu heboh, sampai saya melakukan pengecekan di beberapa sisi. Angka-angka yang ditunjukkan dalam video dan lapak SaveMaryam sangat fantastis. Saking fantastisnya sampai saya sendiri tidak percaya, apa benar setiap tahun sampai 2 juta Muslim Indonesia murtad ? Ditambah lagi jika kita tidak menelaahnya dengan baik pasti serta merta akan emosi. O-ho…tunggu dulu. Itu prinsip saya saat ini dalam menyikapi suatu informasi, dan setelah baca sana baca sini, cari informasi kesana dan kemari barulah saya memberanikan diri menulis disini sesuai dengan pemahaman saya.

Kalau saya perhatikan baik-baik, memang banyak kejanggalan yang ditemui dalam video SaveMaryam ini. Sosok Maryam yang digambarkan disana seolah mewakili seluruh remaja di Indonesia. Tapi, tidak semuanya begitu kan? Masih jauh lebih banyak remaja negeri ini yang ghiroh agamanya sangat kuat. Cara penyampaian video itu terus terang juga membuat saya sangat jengah, karena dimata saya sangat menohok sekaligus mempertanyakannya. Saya tahu pasti ada orang yang berpindah agama dari agama satu ke agama lainnya, tapi tidak mungkinlah jumlahnya bisa sefantastis itu, apalagi mereka cuma mengambil satu sumber catatan kaki dari International Global Crisis (IGC) yang juga akhirnya diprotes oleh organisasi bersangkutan.

Perdebatan soal SaveMaryam ini terus berlanjut, hingga pada satu titik pimpinannya menulis status ini  di lapak FB-nya yang berinti seperti ini:

Very strange world we live in. A person has been writing articles against Save Maryam by the name of Maulana and all this time we have been thinking he is a respected Islamic authority in Indonesia due to his name ‘Maualana’. Today someone tells us, he is actually a musician. Wallahi strange world we live in!

Dari situ saya bisa menarik kesimpulan kalau ternyata orang-orang yang ada dalam SaveMaryam ini (yang berbasis di Inggris) sangat kurang pengetahuannya tentang Indonesia, khususnya masyarakatnya. Semuanya dianggap sama seperti di negeri asalnya (notabene Pakistan – maaf kalau sebut nama negara) dan nampaknya yang bersangkutanpun tidak paham kalau nama ‘Maulana’ merupakan salah satu nama yang lazim dipakai sebagai nama orang di negeri ini. Sementara disana, Maulana merupakan gelar sama seperti Syeikh, Habib atau Maulvi (kalau di anak benua India). Dan tentu saja status ini mengundang reaksi baik yang mendukung maupun menentang. Mereka harus belajar lagi.

Soal perpindahan agama, itu memang tidak bisa dinafikan sekali lagi. Akan tetapi cara penyampaian video SaveMaryam ini benar-benar membuat saya khawatir, karena akan menimbulkan konflik antara sesama warga Indonesia dan bisa-bisa jika dibiarkan akan mengakibatkan sikap saling curiga bahkan antar tetangga sendiri. Mungkin maksud dari SaveMaryam itu baik, hanya saja cara yang digunakan dan data-data yang didapat menurut saya sangat berlebihan yang mana akibatnya akan sangat tidak baik bagi kehidupan bermasyarakat di negeri ini. Malahan kok rasanya seperti mengecilkan peran para ulama dan dai yang rela blusukan sampai ke pedalaman negeri untuk menebar kalimah-Nya? Kasihan..hargailah usaha para ulama lokal. Seperti yang digarisbawahi oleh Irfan Amalee di situs mizan seperti berikut yang saya sederhanakan intinya begini : memang hal itu tidak bisa dinafikan, tapi apakah kita harus mencari kambing hitam?

Perlu diingat juga, agama Islam masuk ke Indonesia ini menggunakan pendekatan yang sesuai dengan pola pikir, adat istiadat serta perilaku masyarakatnya. Seperti contoh di Jawa, kenapa para wali sukses menyebarkan agama Islam di kalangan masyarakat Jawa? Karena mereka menggunakan pendekatan budaya, seperti dalam bentuk wayang kulit ataupun gamelan dimana pada masa itu kedua seni ini benar-benar menjadi sarana hiburan yang paling digemari. Musik juga menjadi sarana dakwah yang sampai sekarang oke bukan? Bahkan grup-grup underground seperti Tengkorak misalnya juga membawa pesan-pesan dakwah lewat lagu-lagunya meski alirannya super duper keras. Lantas bagaimana dengan Zapin? Hadrah? Jidoran? Nasyid? dan kawan-kawannya, bukankah mereka semua sarana dakwah tapi lewat musik bukan? Kemudian bagaimana dengan Gamelan Kyai Kanjeng? Sama bukan? mereka menyebarkan kalimatullah dengan metode yang sesuai dengan kebudayaan setempat.

Musik bisa jadi sarana dakwah…

Bila ingin masuk ke dalam suatu kaum, belajar bersikap seperti kaum tersebut, jika ingin masuk ke negeri Romawi, bersikap seperti orang Romawi. Dalam salah satu komentar saya di status pimpinan MM itu saya juga menegaskan kalau mau bertindak, lakukan dulu cek dan ricek khususnya tentang data statistiknya, pelajari terlebih dahulu situasi dan kondisi masyarakat di Indonesia, termasuk aspek budaya yang memang banyak berbeda dengan orang-orang di Mercy Mission Inggris sana (yang mayoritas keturunan Pakistan) seperti kekagetan pemimpin Mercy Mission dengan nama ‘Maulana’ tadi. Belum lagi nama-nama Muslim di Indonesia tidak selalu berbau-maaf-Arab/Islam, banyak yang menggunakan nama Jawa, Sunda, ataupun nama-nama dari budaya lainnya. Saya sarankan, pelajari cara penamaan orang Indonesia.

Bila perlu datang ke Indonesia, tinggal disini selama beberapa waktu, berinteraksi dengan masyarakatnya yang majemuk dari segi agama, bahasa, budaya serta kebiasaan dan dekati ulama-ulama lokal yang jauh lebih mengerti kondisi masyarakat yang jadi binaannya sehingga mereka akan terbuka matanya, bahwa masyarakat Indonesia itu berbeda dengan mereka dan dari situ mereka akan tahu bagaimana mengelola organisasinya dengan lebih baik dan bijak tanpa melebih-lebihkan. Plus sudah tentu mereka lebih mengerti budaya kita.

Jadi pendekatannya harus sesuai dengan masyarakat setempat. Kalau mau dekati orang Jawa ya belajarlah gamelan sekalian pada Kyai Kanjeng. Jika ingin dekati anak mudanya, ya gunakan bahasa anak muda yang gaul seperti yang dilakukan banyak kyai/ustad/ulama lokal selama ini. Lain lubuk lain ikannya, lain ladang lain belalangnya. Lain negara, lain pula pendekatannya.

Bagaimanapun dakwah, bila disampaikan dengan cara santun dan bijaksana seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW sendiri. Cara-cara yang keras justru akan membuat orang menjauh. Bila menerima suatu informasi, mari lakukan cek dan ricek atau tabayyun agar bisa menemukan apakah informasi itu benar atau tidak. Dan bukankah cara-cara yang santun tanpa manipulasi data-data itu lebih indah?

Bambang Priantono
3 Agustus 2012
Semarang

*No OOT please*

Silakan juga dishare dilaman anda masing-masing, saya persilahkan. Semoga bisa jadi penyadaran dan pencerahan bagi semua..terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s