(Kembang Lambe Pagi) : Why Do I Love Cooking?


Memenuhi permintaan Yu Sum yang keheranan kenapa kok saya suka posting resep dan doyan masak, baiklah akhirnya saya harus berbagi cerita lagi tentang mengapa saya sangat menyukai kegiatan satu ini. Memasak? Kegiatan ini sepertinya diidentikkan dengan pekerjaan para wanita, sementara para lelaki mengerjakan tugas yang berat-berat, yang macho begitu. Tapi seiring dengan waktu, kian lama kian banyak cowok yang jago masak sementara banyak kaum wanita yang justru tidak suka atau tidak bisa memasak.

Saya sering diledek kalau menyebut hobi saya itu. Ledekannya : “Masak air ya.” Hahahaha. Saya santai saja dengan ledekan itu, karena tidak kelihatan dan jarang-jarang saya bilang.

Sejak kapan saya suka memasak? Sebenarnya sedari kecil saya suka memperhatikan ibu, budhe, tante dan pembantu rumah memasak. Pastinya saya lihat bagaimana mereka merajang bumbu, membuat tumis-tumisan dan lain sebagainya. Cuma namanya anak kecil, pasti kerjaannya ngrusuhi hahahahaa. Tapi jelasnya saya sangat suka makan. Praktek pertama masak saya sebenarnya sederhana. Waktu kelas 5 SD saya buat sambel tempe sendiri dengan sepupu-sepupu. Jadi kami berempat (2 sepupu dan adik) ambil cobek kecil, siapkan bumbunya gak peduli keasinan atau kurang asing, dan penyetkan tempe panas-panas, jadilah hahahaha.

Sementara praktek kedua adalah ketika saya masih SMP. Waktu libur sekolah saya ingin buat sop. Beli bahan-bahannya di pasar dan beli juga dua paha ayam untuk kaldunya. Saya baru ngeh kalau salah satu paha ayam yang saya beli ternyata sudah kebiru-biruan. Kurang asem! Belum ditambah saya tambahin tepung maizena, walhasil bukan sop yang dibuat justru hasilnya lebih mirip capcay. Hahahahahaa.

Intinya kalau buat oseng-oseng, sup atau masakan berbahan dasar nasi, insyaallah saya sudah bisa melakukannya. Saya memasak sesuai dengan apa yang saya baca dan lihat, baik di buku resep ataupun program acara televisi yang berbau kuliner. Ada cerita lucu saat saya membuat burger tahu tempe kala usia saya 20 tahun. Saya buat bahannya dengan bantuan ibu, eh malah saya tinggal tidur dan akhirnya ibu yang gorengkan burger itu. Rasanya lumayan, daripada lumanyun. Masak seperti obat stress buat saya. Setiap ada resep baru dan menarik buat saya, pasti akan saya coba meski rasanya kadang kurang maksimal.

Kebiasaan masak itu selalu saya lakukan meski di kos-kosan Semarang tidak mungkin dilakukan karena tidak ada dapur. Baru kalau pulkam, hobi itu langsung saya salurkan serta merta.

Keluarga dirumah paling senang kalau saya pulang. Kenapa? karena isi kulkas yang biasanya mubazir karena tidak termakan atau terpakai sampai sayur dan buahnya kisut berkurang dengan drastis. Bawang putih, bawang merah dan bombay? Selalu cepat habis kalau saya datang. Semua bahan di kulkas selalu saya pakai sampai habis. Minimal turut membantu membersihkan kulkas daripada mubazir. Hahahahahaa. Terus, momen yang paling membahagiakan buat saya adalah tahun 2011 ketika ibu saya ulangtahun. Sengaja saya tidak beritahu kedatangan saya, dan hanya pesan secara rahasia ke adik untuk siapkan jahe yang segar. Itu untuk saya buat ayam masak jahe sebagai salah satu kado ulangtahun buat beliau. Serta Hari Raya kemarin dimana saya masak beberapa menu selama liburan plus aneka omelet yang saya modifikasi sendiri. Hehehe.

Lantas?
Kalau membuat kue, saya pernah nyoba. Tapi selalunya hasil bantat dan ibu saya suka ngomel-ngomel kalau saya sedang membuat kue, katanya kurang kencang mixernya, kurang ini dan kurang itu. Saya cuma manut saja meski akhirnya menghasilkan kemubaziran karena tidak termakan. Yeah, kalau tidak pernah gagal ya tidak belajar dong. Malah yang paling sukses justru saat membuat kue donat. Tidak perlu mixer, cuma diuleni sampai kalis meski capek banget. Hahahaha.

Biarpun kata orang rumah masakan saya aneh-aneh, toh saya tetap suka membuatnya. Andai ada waktu saya ingin kursus memasak terutama masak yang kelas atas. Saya sangat terinspirasi dengan Master Chef meskipun kalau disuruh seperti mereka saya gak akan bisa karena saya bukan orang yang suka dikejar-kejar tenggat hehehehe. Hasil tidak penting, tapi prosesnya. Memasak dengan segenap perasaan. Malah saya lebih suka disuruh masak saja daripada disuruh memperbaiki mobil atau membetulkan atap rumah. Beneran itu! Seperti kenapa saya tidak suka sama sekali dengan yg namanya sepakbola.

Semoga cerita kenapa saya suka masak ini bisa jadi penjelas buat siapa saja. Minimal tahulah kalau memasak itu salah satu hobi yang paling saya sukai selain membaca dan menyanyi (preeet). Hahahaha.

Bambang Priantono
30 Agustus 2012
Semarang

9 Comments Add yours

  1. ayanapunya says:

    saya masak cuma kalau ibu lagi nggak ada di rumah 😀

      1. ayanapunya says:

        ya, klo ibu ada di rumah ya ibu yang masak. soalnya masakannya lebih enak masakan ibu
        klo ibu pergi nginap kemana baru deh saya yang masak sesukanya 😀

      2. ayanapunya says:

        iya klo ibu nginap di rumah nenek, saya jadinya masak buat orang rumah 😀

      3. Biasanya masak apa neh?

  2. I love cooking, and I cook with love
    that’s me

    soal resep, pake feeling lebih asyiiiik, tul ngga Mas ?

    1. Bener banget..pake feeling akan lebih terasa bumbu2nya. Makanya aku gak suka nakar dan menganut aliran terjun bebas kalau masak. Hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s