(Kembang Lambe Pagi) : Perjalanan antara Pringapus-Gondosuli (1)


GambarTanggal 11 Agustus 2012 adalah perjalanan saya keluar kota yang pertama di bulan Ramadhan kali ini. Sebenarnya saya akan berkunjung ke Wonosobo untuk mengunjungi kawasan Dieng sekali lagi (entah kenapa saya begitu senang pergi kesana), namun berhubung teman yang dikunjungi baru bisa dikunjungi hari Minggunya karena ada acara, dan saya sudah ada di tengah jalan, akhirnya saya putuskan berhenti saja di kota Temanggung. Sekalian untuk menikmati suasana kota yang berjarak sekitar 2 jam dari kota Semarang ini. Sekitar pukul 17.00 WIB saya mencari penginapan dulu yang ternyata jaraknya 2 km dari pusat kota yakni Hotel Candra dengan biaya 100 ribu per malam. Cukup murah untuk 2 tempat tidur dan televisi plus kamar mandi dalam. Malamnya saya habiskan dengan jalan-jalan ke alun-alun kota Temanggung sambil menikmati bakso lombok uleg yang merupakan ciri khas Temanggung.

Gambar

Nah, disepanjang perjalanan itu saya terpikir, kenapa tidak sekalian saja jalan ke Candi Pringapus dan Gondosuli selagi masih di Temanggung. Kadang hal-hal seperti ini baru terlintas ketika rencana satunya belum terlaksana. Okelah, saya akan pergi ke Candi Pringapus dan Gondosuli untuk cari tahu seperti apa candi-candinya. Candi Pringapus dari Temanggung kota berjarak 29 km, sementara Candi Gondosuli berjarak 12 km saja, jadi ada perbedaan 17 km antara kedua candi ini. Malampun saya habiskan dengan tenang sentosa di Temanggung, kota yang sepi dan terkenal dengan tembakaunya. Saya sempat juga bertanya-tanya soal jalan ke Pringapus dan Gondosuli, namun sayangnya petugas hotelnya kurang paham dengan lokasi tersebut. Yeah..sedikit kecewa juga. Tapi bukan saya dong kalau menyerah.

Keesokan paginya sekitar pukul 07.00 WIB, saya check out dari hotel dan naik angkot arah barat. Saya tanya lagi kalau ke Pringapus naik apa. Beberapa penumpang menyarankan saya naik bis ¾ jurusan Sukorejo karena Pringapus terletak di Ngadirejo. Berarti arah Weleri kalau begitu. Melewati kawasan yang berbukit, persawahan, lahan tembakau dan membayar 5000 perak untuk menuju Ngadirejo. Ketika sampai di BRI Ngadirejo, ternyata Pringapus masih 3 km lagi dari jalan utama Parakan-Sukorejo dan dari situ tinggal pilih, mau ngojek atau jalan kaki. Singkat ceritanya dengan ojek saya sampai di kawasan Candi Pringapus yang berada di desa Pringapus, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung. Berada di lereng Gunung Sindoro dimana bila kita teruskan perjalanan akan tembus ke Perkebunan Teh Tambi dan lumayan dekat dengan Tuk Jumprit yang jadi Hulu Sungai Progo.

Saya tiba di Candi Pringapus sekitar pukul 08.30 WIB. Hanya ada satu candi, sementara di pinggir-pinggirnya merupakan runtuhan yang mungkin merupakan bangunan candi dan tidak bisa dibangun lagi karena sudah termakan usia. Sepi dan kata tukang ojek yang mengantar saya (dan saya rela saja bayar 50 ribu) petugasnya mondar mandir antara Pringapus dan Prambanan. Saya sempat berlama-lama berada di Candi Pringapus ini sembari menghayati apa yang saya lihat.

Pada tahun 1819 ditemukan prasasti dikawasan itu yang berangka tahun 772 Saka atau 15 Juni 850 Masehi, dan dinamakan Prasasti Tulang Air yang beraksara dan berbahasa Jawa Kuno. Isi prasasti itu berisi penetapan Sima oleh Rakai Pikatan Pu Manuku untuk sebuah bangunan suci di desa Tulang Air yang merupakan desa Pringapus sekarang ini. Sedang Rakai Pikatan Pu Manuku sendiri adalah pejabat pemerintahan Mataram Hindu dibawah kekuasaan Rakai Pikatan (sesuai dengan toponim di Temanggung yang memuat nama Pikatan).

Sementara informasi Candi Pringapus sendiri pertama kali dikenal dari tulisan peneliti asing seperti Junghuhn (1844), Happermans (1865) dan Veth (1878). Kemudian deskripsi yang agak lengkap ditulis oleh Knebel pada tahun 1911-1912, dan di tahun 1930 dilakukan pemugaran oleh Dinas Kepurbakalaan Hindia Belanda.

Menilik dari strukturnya, Candi Pringapus termasuk dalam candi berlatar belakang Hindu, dan terbuat dari batu andesit sebagaimana candi-candi di Jawa Tengah pada umumnya (dan sebagian Candi Jawa Timur). Dibagian dalam candi terdapat patung Nandini alias sapi tunggangan para dewa, dan dibagian atasnya serta di runtuhan2 sebelahnya ada motif Kala yang serupa dengan di candi-candi Dieng. Namun tidak ditemukan di candi-candi kawasan selatan seperti Prambanan dan justru ditemukan lagi di motif candi-candi Jawa Timur. Corak yang lebih mirip Banaspati kalau saya bilang. Sedang motif hias pada dinding candi berupa sulur-suluran (terutama di belakang) yang dikombinasi dengan motif manusia kerdil dan kinara-kinari (makhluk bertubuh burung dan berwajah manusia yang bermain musik). Sementara disisi depan terdapat ukiran berupa sepasang lelaki dan perempuan serta seorang lelaki yang membawa sesuatu (serupa karangan bunga).

Di sekitaran Candi Pringapus juga terdapat beberapa arca yang berserakan. Mulai dari Dewi Durga, sampai Nandini tanpa kepala yang tergeletak di pertigaan menuju Pringapus. Tepat di tengah jalan beraspal dan sejak dulu katanya sudah ada disitu. Kapan sebenarnya Candi Pringapus ini dibangun juga masih misteri. Seperti yang dilansir oleh situs pemerintah kabupaten Temanggung ada yang menyebut tahun 850 , 852 bahkan 900 Masehi. Entah mana yang benar, yang jelas masih diperlukan penelitian lebih lanjut tentang usia sebenarnya candi Pringapus ini.

Meskipun digebuk 50 ribu oleh tukang ojeknya, tapi saya mendapat informasi yang melampaui 50 ribu itu sendiri. Perjalanan ke Candi Pringapus ini berakhir sekitar pukul 11.00 WIB sebelum saya lanjutkan kembali ke arah Parakan menuju Situs Gondosuli.

Bersambung

Bambang Priantono

28 Agustus 2012

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s