(Kembang Lambe Pagi) : Antara Candi Pringapus-Gondosuli (2)


GambarSetelah skandal 50 ribu di Pringapus itu, akhirnya saya putuskan langsung menuju Parakan yang berarti balik ke arah Temanggung. Ongkos bis ¾-nya sekitar 3000 perak dan tidak ada 15 menit saya sudah tiba di terminal Parakan. Saat saya tanya Gondosuli, kernet bis mengatakan jalan kaki dulu ke Rumah Sakit lantas ketemu pertigaan arah Bulu. Cuaca Parakan saat itu panas sekali, apalagi dibulan Ramadhan yang memang membakar. Saya bertanya beberapa kali ke beberapa orang yang saya jumpai mulai dari Bunderan Parakan sampai Rumah Sakit.

Gambar
Berhubung masih ‘trauma’ dengan gebukan bayaran 50 ribu di Pringapus dan alhamdulillah saya pas bawa uang, akhirnya tawaran-tawaran tukang ojek selalu saya tolak. Saya memilih berjalan kaki, meskipun harus berpanas-panas di jalanan antara Parakan sampai Bulu, karena Gondosuli berada di kecamatan Bulu dan 3 km lagi dari pusat kecamatan Parakan. Biarpun matahari membakar dan dalam kondisi berpuasa, saya tetap terus berjalan menyusuri jalan aspal yang kadang sedikit menanjak dan melewati kebun-kebun tembakau. Setelah sampai di wilayah Gondosulipun saya harus belok kanan kalau ingin menuju situs Gondosuli itu. Saya sempat duduk-duduk sejenak melepas lelah sembari melihat aktivitas warga yang sedang menyortir daun tembakau yang sudah mengering. Eh, ada pengemudi motor yang membawa sekarung besar tembakau melintas didepan saya, dan bawaannya jatuh. Saya langsung berlari kearahnya untuk menolong. Pas saya angkat karung itu. Masyaallah! Berat banget! Tapi tetap saya bawa meski sebenarnya energi mau habis. Saya bantu sedikit dengan mengikat karung itu di belakang.
Setelah itu si pengemudi motor tersenyum pada saya sebagai tanda terima kasih. Itu saya membuat saya senang, meski beberapa meter kemudian karung itu jatuh lagi. Hehehehehe. Saya malah dapat petunjuk lokasi Situs Gondosuli yang sudah tidak jauh lagi. Dengan setengah berlari saya meluncur ke arah sana. Pemandangan pertama saya yang saya lihat adalah Papan petunjuk Situs Gondosuli yang ada ditengah hamparan tembakau yang dikeringkan. Tidak jauh disitu terdapat sebuah petilasan yang didalamnya terdapat prasasti Gondosuli (sesuai dengan nama desanya). Disitu juga ada petunjuk sebagai berikut :
1.    Prasasti  Gondosuli ini berukuran 50 x 117 cm
2.    Berbahan batu andesit
3.    Berhuruf Kawi (Jawa Kuno) namun berbahasa Melayu Kuno
4.    Jumlahnya 14 baris
Sementara isinya lebih kurang menyebutkan tokoh Dang Parayan Pu Palar, mendirikan bangunan suci Sang Hyang Wintang (Candi Gondosuli), Sengkalan di Sangaha Alas Partapan (tahun 754 Saka atau 832 Masehi) dan menyebutkan kalau kekuasaannya luas serta bersaudara banyak.  Ketika saya baca ‘Melayu Kuno’, saya jadi teringat dengan prasasti-prasasti di Sumatera, juga Sojomerto (Batang) dan Dieng yang gunakan bahasa Melayu Kuno. Ketika saya cari-cari lagi di beberapa situs internet, termasuk situs pemerintah Temanggung dimana saya temukan baris pertama prasasti Gondosuli tertulis seperti ini :
Nama Syiwa Om Mahayana, sahin mandangar wazt tanta pawerus darma (Bakti kepada Syiwa, Om Mahayana (maha besar) disemua batas hutan pertapaan , tua muda, lelaki-perempuan, mendengarkan hasil pekerjaan/perbuatan yang baik).

Gambar
Ini juga jadi bukti kalau bahasa Melayu Kuno dulu menyebar bahkan sampai kawasan pedalaman Jawa khususnya hingga wilayah Gunung Sumbing dan Sindoro.

Tidak jauh dari prasasti Gondosuli, terdapat  candi yang sudah tidak utuh lagi. Hanya berupa reruntuhan dengan patung Nandini yang sudah tak utuh, dan batu-batu yang masih memperlihatkan ukiran yang nyaris kabur ditelan masa. Dari karakternya, tentunya candi Gondosuli dibangun satu jaman dengan candi-candi sekitarnya seperti Dieng, Gedong Songo, Pringapus atau bahkan candi Ngempon. Namun sayangnya sebagian bangunan candi tadi sudah dibangun pemakaman umum yang ada disebelahnya, dan bahkan ada makam Kyai Rofii yang dikeramatkan masyarakat setempat. Saat kesana, suasana memang sangat sepi. Mungkin warga lebih suka berdiam didalam rumah, terlebih dibulan Ramadhan yang panas ini. Tapi dari situ saya dapat pelajaran satu lagi, bahwa bahasa Melayu Kunopun menyebar hingga ke jantung pulau Jawa di masa silam dan Mataram Hindu masih ada kaitan dengan Sriwijaya.
Meski berupa reruntuhan, ada baiknya situs ini tetap dipelihara dengan baik. Sebagai pembelajaran akan masa silam bangsa kita yang ternyata sangat kaya.
Wallahualam

Bambang Priantono

28 Agustus 2012

6 Comments Add yours

  1. nunut mampir sik ing WPne mas Bambang hehehe

  2. dilanjutin yee tulisan candinye di sini, jgn diputus2 lagi. dan passwordnya diinget tuuh 😛

  3. tulisan2 candi neng MP meh kok dekek ngandi mbang?

    1. Sementara nang kene sik Yo…
      Mengko tak dadikke buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s